Berjanji Dan Merajut Asa

Berjanji Dan Merajut Asa
82. Kesedihan


__ADS_3

Keluarga Kiai Hasan sedang berduka.


Apalagi dengan Nera.


Semenjak setelah dimakamkan, Nera hanya mengurung di kamarnya.


Tak ada obrolan ceria di wajahnya.


Setiap keluar dari kamar, melepas penat.


Wajahnya tergambar kesedihan tak ada semangat hidup.


Saat makan malam, Anto ingin mengenalkan istrinya kepada saudara-saudaranya yang semuanya sedang kumpul.


Dimeja makan yang panjang dan lebar itu, Anto berdiri persis sang istri duduk disebelah kursi Anto.


" Kakak dan adik serta ipar-ipar mohon perhatiannya. Anto mau kenalin Laras. Laras sudah syah jadi istri Anto. Insyaa Allah dua bulan lagi, akan diadakan resepsi pernikahan kami. Mohon maaf, saya mengumumkan Laras sebagai istri saya, di saat kita masih berkabung kehilangan Bang Dya"


Semua saudara-saudara menyahut, sambil menggoda Anto.


Riuh dan ramai canda tawa sampai melupakan sejenak masa berkabung pada saat makan.


Hanya Nera yang masih terdiam.


Nera memohon izin pamit duluan.


Tubuhnya semakin kurus, wajah Nera semakin tirus.


Dikamar dia kangen pada Dya, Nera hanya bisa menjerit dan memanggil nama Dya , sambil mendekap suaranya ke bantal. Agar tak terdengar oleh orang serumah.


Nera, memandangi jendela menuju taman rumah. Menatap kosong tanpa gairah, sesekali dia menyeka lelehan air matanya.


Saat ini, dia hanya ingin Dya kembali. Tapi tak mungkin, jasadnya telah tertanam ditanah.


Yang ada hanya kelebatan bayangan masa-masa bersama. Senyuman manis, pelukan hangat, serta jamahan romantis penuh cinta.


Pernikahan yang belum satu tahun ini, menjadikan dirinya janda tanpa anak.


Jiwanya mulai tergoncang, saat teringat manakala penyesalan dirinya tak mempercayai suaminya dan pergi tanpa izin suaminya.


Tanpa disadari saking emosi dan menyesali semua kebodohannya.


Nera menonjok jendela di kamarnya sampai pecah sambil menjerit keras.


Jeritan dan suara pecahan kaca terdengar sekeluarga.


Semua berlarian menuju kamar Nera.


Termasuk Anto yang lebih sigap.


Dan mendobrak pintu kamar, karena pada saat itu , pintu kamar telah Nera kunci.


Pas pintu sudah terbuka, Anto melihat Nera tangannya sedang berlumuran darah.


Yaser langsung membersihkan kaca-kaca yang sudah berserakan.


Maryam lari ke bawah untuk mencari P3K.


Nera terduduk lemas bersandar di tembok tanpa krudung.


Umi berlari, dan membuka krudungnya untuk menutupi rambut Nera sambil memeluk menenangkan Nera.

__ADS_1


" Sayang , anak umi. Istighfar. Jangan seperti ini , nak!"


Nera masih menatap lurus kosong, tak peduli sekitaran .


Namun dipelukan ibu mertuanya itu, Nera menangis sejadi-jadinya.


Anto melihat Nera tak kuat, dia pergi keluar dari kamar Nera.


Dia masuk ke kamar mandinya, dan mengunci kamar mandinya. Agar Laras tidak tahu. Anto mengucurkan air , seperti sedang mandi.


Di kamar mandi, Anto pun menangisi nasib Nera.


Melihat wanita yang dicintainya sekarang tak berdaya. Lemah dan mengkhawatirkan.


Anto, bingung harus berbuat apa, dia tak bisa bebas seperti dulu lagi . Karena sekarang ada hati yang perlu dia jaga, ya dia adalah istrinya, Laras.


Laras, dia datang waktu pemakaman dia bersama keluarga.


Kiai Hasan meminta Laras tak usah pulang, dan lebih baik tinggal di Bandung bersama Anto. Toh tak baik, jika pengantin baru berjauhan.


Akhirnya , keluarga Laras menyetujuinya.


Begitupun dengan Laras sendiri.


Laras sejak awal pertama di perlihatkan foto Anto, memang sudah jatuh cinta.


Apalagi Anto yang begitu ramah dan tampan , wanita mana yang tak suka padanya.


Laras merasa bangga bisa dipersunting Anto.


Laras, tambah cinta saat Anto mengumumkan dirinya adalah istrinya didepan saudara-saudaranya.


〰️〰️〰️〰️〰️〰️


Kebetulan Anto bertepatan Anto keluar dari kamar mandi.


" Abang, habid mandi?" tanya Laras malu-malu sambil menundukkan pandangan.


" Iya" jawab Anto canggung.


" Abang, perlu Laras siapin apa?" tanya Laras .


" Enggak perlu, bisa abang lakukan sendiri ko. Santai saja, tak usah repot-repot, nanti cape, terus sakit, ya!" ucap Anto lembut.


" Abang izin dulu, mau lihat Teh Nera dulu"


" Iya. Abang" jawabnya lembut juga.


Dikamar Nera.


Ada Maryam, Umi dan istri bang Musa.


Nera sudah diperban tangannya, Yaser sedang menutupi bolong jendela dengan triplek dibantu bang Musa.


Nera tertidur di ranjangnya. Umi terus mengelus kepala Nera penuh kasih.


Dilihatnya Nera dengan lekat oleh Anto.


Entah paku apa yang menancab di dada Anto, kenapa matanya begitu perih lagi.


Rasanya Anto ingin memeluk Nera dan mendamaikannya.

__ADS_1


Rasanya, dia ingin mengatakan hal yang sama padanya seperti tempo di taman rumah bang Musa malam itu.


Anto menarik napas dalam dan menanyakan keadaan Nera pada ibu dan saudara-saudaranya.


" Sebetulnya, apa yang terjadi dengan Teh Nera, Umi?" tanya Anto khawatir.


" Nera lagi merasa kehilangan yang sangat, sudah mah berpisah selama berbulan-bulan, bertemu pada waktu yang tidak tepat. Mendapat pelukan dari suami yang dirindukan malah tragedi yang dia dapatkan. Umi kalau jadi Nera , pasti syok dan menyesal" jawab Umi ikut merasakan..


" Teteh, merasa ikut andil dalam hal ini, seperti berdosa tingkat dewa. Kenapa juga Teteh bilang ke Umi, kalau-kalau tanpa tak disengaja akhirnya Nera juga jadi tahu, dan akhirnya salah faham terjadi" pungkas Maryam bersedih .


" Husssh, sudah qadarullah, jangan mengandai-andai, dosa. Yang sudah terjadi biarlah terjadi. Ajal itu pasti, bukan disebabkan penyakit atau pun tragedi. Memang sudah ajal, kematian mah" ujar Musa , ikut nimbrung pembicaraan saudara-saudaranya.


" Kami menyayangi Nera, Dya sebelum pulang sudah membeli rumah di perumahan B, dia tadinya pas pulang itu ngasih kejutan ke Nera. Tapi Dya nya meninggal, paling itu jadi rumah Nera, enggak usah kalian minta hak waris ya, kasih saja ke Nera.Ya!" Ucap Umi memelas.


" Apaaa, enggak dong Mi, kita tahu kok. Itu punya adik, bukannya ngasih malah minta, enggak malah Maryam sudah minta izin ke suami, agar Nera bisa jadi madu aku!" ucap Maryam.


" Teteh, isk ngomong teh di jaga Teh! kedengaran Nera , tersinggung lho?!" pungkas Musa sambil mengernyitkan dahi kesalnya.


" Wes, sudah ngobrolnya jangan disini, Nera sudah pulas. Yok kita turun, nanti Nera ke ganggu" ajak Umi sambil melangkahkan kaki dari kamar Nera dan disusul anak-anaknya.


Diruang keluarga.


Maryam masih melanjutkan bahasan yang dirinya berkeinginan, menjadikan Nera menjadi madunya.


Karena, Maryam ingin sekali mencarikan madu untuk suaminya.


Maryam memang sudah berniat dari dulu, hanya saja belum menemukan calon yang cocok, dilihat dari bibit dan bebet serat bobot calon madunya.


Nah , sekarang dia menemukan janda adiknya, daripada berlepas kekerabatan lebih baik menjadikan Nera menjadi bagian keluarganya lagi.


Ingat ya tak ada mantan mertua atau menantu dalam islam. Mereka masih otangtua dan anak. Tapi Marya merasa sayang kalau nanti Nera dinikahi lelaki lain. Masalahnya takut di bawa pergi jauh, sedang keluarga sudah terlanjur sayang pada Nera, apalagi Umi.


Tapi tentu saja ada yang menepis dengan tegas Anto.


" Enggak Teh, jangan gitu Teh. Orang lagi baru kehilangan, ini punya ide jodoh-jodohan, apalagi madu-maduan. Masa idah kematian juga belum, jauh Teh, jauuuuh !" jawab Anto kesal.


" Heuuu, cemburunya biasa saja kalii!" jawab Maryam kemudian terdiam.


" Bukan masalah cemburu, Teh! Tapi enggak suka mau dijadiin madunya" jawab Anto.


" Oooh curiga. Kamu ingin poligami ya, sama Nera. Sok saja sih Teteh mah, sama Teteh kamu mendapat hal-hal bagus dan terlihat cocok" jawab Maryam.


" Apa sih Teh, orang serius juga ?!" jawab Anto kesal.


" Teteh serius, ini kesempatan emas untuk dapatkan Nera kembali kepelukan kamu!" jelas Maryam.


" Teeeh!" serius Anto kesal sambil pergi berlalu. Entah diledek atau ditemoelen .


bersambung


〰️〰️〰️〰️〰️〰️


Maaf reader, insyaa Allah mulai besok akan up satu kali. Karena sebentar lagi novel ini tamat.


Semoga Reader tidak lupa klik love, like, vote dan koment positif ya.


Jazakumullah khairan katsiir.


Jangan lupa mampir di novel terbaru saya.


REALYA , baru bab 1 sih...

__ADS_1


insyaa Allah setelah peekenalan nama judul baru semoga Allah berkahkan.


aamiin


__ADS_2