
" Ade mau kemana? "
tanya Dya sambil memegang tangan istrinya.
Dya, menciun tangan istrinya, berdiri lalu memeluk istrinya itu.
" Abang kangen ade, 'gak apa-apa kan, abang peluk ade? boleh abang cium ade kaya ade cium pipi abang? " rayu Dya memeluk Nera dengan erat.
Nera menelan salivanya, wajahnya memerah merona, mata yang asalnga terisak kini mulai menampakan wajah canggung dan malu-malu.
Nera menjawab pertanyaan suaminua dengan anggukan.
Masih dalam pelukan Dya, Nera melepas kerudungnya perlahan . Yang selama ini Nera belum pernah membuka bagaimana rambutnya tergerai didepan suaminya.
Kini Dya meminta bukan hanya memeluk nya saja. Tapi meminta izin untuk mencium bibir indah istrinya itu.
Lagi-lagi,Nera mengangguk. Entah berapa kali laki-laki itu menggigitnya. Sesekali Nera meringis kesakitan, karena ini adalah ciuman pertama kalinya.
Dada kedua manusia ini berdetak hebat, karena sama-sama baru merasakannya.
Mereka masih asyik menikmati dan mencurahkan rasa kangennya.
Tapi apa daya, ketukan dibalik pintu mengganggu keasyikan mereka.
" tok.. tok... tok"
" Dya, kata abah ditunggu dibawah, sebentar! " kata umi di balik pintu.
" Iya,umi. Sebentar lagi Dya ke bawah "
jawab Dya tanpa membuka pintu kamarnya.
Kedua anak manusia itu saling melempar sanyuman dan malu-malu.
__ADS_1
Mereka menghentikan acara kangen-kangennya dulu, karena abah sudah memanggil.
Dya izin dulu ke bawah, dan menyuruh Nera jangan pulang dulu ke rumah orangtuanya.
" Jangan pulang dulu, awas ya! " goda Dya pada Nera, mengedipkan satu mata dengan genit.
Nera tersenyum ,bahagia, ternyata untuk membuat hati suaminya luluh dari marahnya hanya dengan kecupan saja.
Nera menutup wajahnya, saat mengingat kejadian dirinya dengan suaminya tadi.
Dia, tak percaya bahwa hal itu akan dia alami. Apa dengan ciuman dibibir bisa menjadikan dirinya hamil.
Dia kembali tersenyum malu lagi, kenapa dia begitu berani mencium pipi suaminya tadi.
Dia merasa menjadi wanita murahan, saat pertama kali mencium pipi suaminya dalam seumur hidupnya.
Dia pun merasa mimpi kalau dirinya sudah berciuman dengan laki-laki.
Dia masih membayangkan aroma ciuman bersama suaminya itu. Bagaiman terasa kangen suami terhadap dirinya. Dia merasakan pelukan hangat penuh gairah, desahan nafasnya penuh harap balasan cinta dari istrinya.
Kini Nera sedang berbunga-bunga merasakan masa-masa baikan dengan suaminya itu.
Saat ini Nera merasakan ingin kembali lagi merasakan pelukan hangat suaminya.
Ingin rasa cinta itu mendekat, ingin mulai berbakti jadi istri yang baik.
Begitu pun dengan Dya, saat ngobrol dengan abah nya, wajah Dya sumringah tak seperti biasanya.
Dia begitu semangat dalam berbicara dengan abahnya.
Abahnya pun merasa terkesan, tak seperti biasanya anaknya ini begitu sumringah dan semangat.
Mungkin karena Nera, dan sudah bertemu istrinya, dia mulai berubah. Itu pendapat Abahnya.
__ADS_1
" Dya tong marahan wae sama istri itu, sok didik yang bener. Masalah cekcok dalam rumah tangga itu mah biasa. Awas abah nitip, kamu laki-laki jangan bermudah-mudah menalak atau menjatuhkan talak. Yang sabar dalam berumah tangga, kalau mau pergi-pergi teh izin ke istri, kasihan nunggu. Jangan diulang lagi, ya! " nasehat abah kepada Dya.
Dya mengangguk mengiyyakan.
Dya akan berusaha menjadi suami yang baik dan bertanggung jawab.
Dya mulai faham, dalam hal rumah tangga hal kecil juga pasti marahan, sekarang dia akan lebih berusaha untuk berkomunilasi yamg baik, menjadi pendengar yang baik dan perhatian.
Dya kembali ke atas, menghampiri Istrinya lagi yang ada di kamar..
Nera, sedang baca buku di kasur sambil rebahan.
Dya datang menghampiri Nera, dibawah kasur.
Dya mengambil buku yang dibaca Nera, dan menyimpan nya dibawah lantai.
Dipegang nya pundak Nera, dan kembali bermesraan lagi.
Namun suara adzan ashar berkumandang, Nera dan Dya kembali tersadar. Dan akhirnya menghentikan dulu kemesraan yang sedang terjalin.
" Abang, kenapa? " tanya Nera melihat Dya berjalan membungkuk.
" Adik abang, dibalik celana berontak de, pengen keluar" jawab Dya, meringis.
" Harus digimanain gitu, bang? " tanya Nera bingung.
" Ihh ade, masa enggak faham, nikah itu buat nyalurim syahwat, nyalurinnya ya ke istri" jelasnya gemas pada Nera.
" Ade, siap enggak kalau abang pengen dede bayi ?" tambah Dya menggoda Nera.
Wajah Nera memerah padam seperti udang rebus. Dia mengambil wudhu dan setelah itu dia menyiapkan baju suaminya untuk pergi ke mesjid.
" De, nanti malam yuk. Buat dede bayi, yah? " Celetuk Dya sebelum berangkat ke mesjid pada Nera.
__ADS_1
Nera mendorong suaminya segera keluar pergi ke mesjid.
bersambung.....