
Tap..tap..tap..
suara derap langkah Maryam, Anto dan Nera menuju pintu masuk Rumah sakit setelah diparkiran.
Nera sudah tidak bisa membuka mulutnya pada saat di mobil, begitupun dengan ipar-iparnya.
Mereka terfokus pada Dya. Yang sampai detik ini belum sadar saja dari pingsannya.
Penyesalan demi penyesalan terlintas dalam pikirnya.
Seandainya dirinya tak usah pergi atau kabur beberapa hari menjauhi Dya.
Mungkin tidak akan seperti ini kejadiannya?
Nera merutuki dirinya sendiri, sesekali dia menyeka bulir air mata penyesalan itu.
Sedari awal, Dya selalu menyatakan "kalau ada ganjalan di hati, utarakan . Biar Abang yang jawabnya".
Ego Nera selalu saja khawatir, suaminya berbohong atau mungkin tak akan menjawabnya.
Tapi selalu saja pikiran itu selalu bergelayut, padahal semenjak pernikahannya dengan Dya di mulai, permasalahan yang sering mereka lewati adalah masalah salah paham.
Ya , salah paham. Tak ada masalah paling besar selain mereka membuat masalah itu seolah-olah besar.
Padahal, segala sesuatu permasalahan itu bisa di bicarakan.
Memang tergantung siapa yang mau memulainya. Tapi efek tak ada yang memulai, pasti kejadiannya fatal, walau mereka orang cerdas sekalipun.
Dada Nera semakin menggila debarannya.
Maryam dan Anto mendatangi recepcionist, menanyakan dokter siapa yang menangani Dya?
Mereka tampak ngobrol dengan serius, dan jujur Nera hanya menatap mereka dengan kosong.
Nera tak tahu apa yang sudah ipar-iparnya bicarakan. Yang Nera ingin sekarang adalah bertemu dengan Dya.
Nera mematung menunggu arahan dari kedua ipar-iparnya.
Nera dianter Maryam menuju kamar dimana Dya di rawat, sedang Anto mencari ruangan dokter yang menangani Dya.
Sesekali Nera meremas bajunya kesal, tak ada yang dia pikirkan dan harapkan selain Dya kembali sadar dan pulih. Nera akan menebus semua kekeliruannya pada Dya, dan akan setia mendengar apa yang Dya utarakan padanya. Walau itu mungkin sebuah kesakitan nantinya, Nera tak peduli.
Pov Nera.
Langkahku masih gontai, kenapa kamu sayangku?
Aku berjanji akan disampingmu, dab mohon maafkan aku, jika sakitmu disebabkan karena aku?
Sayangku.
Ya Allah, maafkanlah hamba.
Sungguh hamba telah berdosa besar, karena sudah melangkah keluar rumah tanpa seizin suamiku.
Aku faham, para malaikat telah melaknatku beberapa hari terakhir ini.
Selangkah hamba keluar rumah tanpa seizin suamiku, maka haram surga untukku.
__ADS_1
Dan para malaikat menjauhiku saat suami ku membutuhkanku, sedang aku sengaja menolak tak mau menemuinya, tanpa ada alasan yang jelas.
Ooh, Allah.
Jika pendosa ini meminta, agar suami hamba disehatkan kembali, akankah Engkau mau mengabulkannya?
Sungguh benar, penyesalan itu selalu datang belakangan. Saya akan mendengar ya Allah, dan saya akan belajar lagi menjadi istri yang penurut dan selalu mendengar.
Curiga dan cemburu ini membunuh dan menghancurkan rumah tangga kami yang baru seumur jagung.
Bang Dya, sadarlah.
Maafkan Nera, apapun penjelasan mu Nera akan terima.
Pov Author.
Nera sudah masuk di kamar ICU, dimana Dya terbaring tak sadarkan diri.
Di dalam ruangan itu, melihat suaminya di balik kaca ruangan, kaki Nera mendadak lemah tak bisa di gerakkan. Nera terduduk dengam wajah pucat pasi, terkejut sang suami tak sadarkan diri, dengan selang infus tertusuk ditangannya, entah jepitan apa yang terjepit dijari telunjuk suaminya itu , ditambah alat bantu pernapasan yang terpasang di mulutnya.
Nera menutup mukanya, dia menangis sejadi-jadinya tanpa suara.
Maryam, mencoba membangunkan Nera dengan kesulitan,
" Nera, cukup jangan ditangisi seperti itu, itu tidak menyelesaikan masalah !" ucap Teh Maryam menasehati.
Rudi menghampiri Nera,
" Sabar ya mba, ini ujian "
" Terima kasih " jawab Nera terisak.
" Baru sepuluh menit yang lalu" jawab Rudi.
" Sama siapa kesini?" tanya Maryam lagi
" Sarah, cuman dia lagi ke toilet dulu " jawab Rudi.
Rudi belum boleh masuk, kecuali keluarha terdekat.
Itupun harus bergantian satu orang satu orang tidak boleh lebih.
Nera mendengar kata Sarah ada disini, dirumah sakit dan ingin menemui suaminya juga.
Nera mengusap air matanya,
Nera mencoba mendiamkan diri, dan membuka wajahnya lagi. Dan berkode pada Yaser untuk gantian dengannya.
Yaser keluar sambil memberikan baju khusus pembesuk, Nera mencoba berdiri, dan menghampiri suaminya,
" A-a-abang, ini Nera " ucapnya lirih sambil terisak. Nera mencium kening suaminya dengan lelehan air mata yang tertumpah dipipi merahnya.
Nera kembali terjatuh lagi, serasa kaki tak bertulang. Nera kembali disudutkan jeritan hati yang mengoyak agar dia meneriakan segala apa saja yang telah ia sesali.
Nera menutup mukanya lagi, sekarang terduduk sambil memyandarkan punggungnya di tembok.
Terisak tak tahan melihat kabel dan selang infus terpasang di tubuh suami tercintanya.
__ADS_1
Suaminya masih tak bereaksi saat Nera menyentuh wajah dan tanganya. Masih terbaring seperti tadi.
〰️〰️〰️〰️〰️〰️
Maryam mengobrol dengan Rudi, perihal kejadian apa yang terjadi sebelum adik nya dirawat di rumah sakit.
Rudi pun sebetulnya sudah tahu ketika Sarah menceritakan penyiraman yang dilakukan Nera pada adik sepupunya itu.
Rudi ingin sekali mendamaikan dua wanita ini. Supaya tak ada lagi percekcokan atau saling curiga satu sama lain.
Rudi bercerita pada Maryam,
" Saya belum pernah, Dya mengeluhkan istrinya kepada teman-temanya, termasuk pada saya. Dya selalu memuji kebaikan ahlak Nera kepada kami. Dya selalu bilang bahwa dirinya sangat beruntung mendapatkan Nera yang begitu cantik dan penurut.
Dya ,begitu memuji Nera ketika sedang mengobrol dengan kami.
Kebaikan Nera dan kepintaran Nera selalu menjadi topic dirinya memulai obrolan.
Kami sebagai teman berpikir, maklum dia pengantin baru atau mungkin sedang rindu "
Maryam pun menitikkan air mata.
" Kejadian ini pun, mungki salah satunya saya yang tidak amanah pada Dya. Saya bilang kepada Umi, kalau Sarah meminta dirinya memjadi istri ke dua Dya. Dan mungkin Umi ngobrol di dapur sama Yaser, tanpa terduga terdengar oleh Nera tanpa disengaja. Saya pun kalau sebagai Nera, pasti syok. Suami deket di luar negri sama suaminya, sedang dirinya enggak diajak, bagaimana tidak syok? "
" Hahahaha, makanya Sarah mengajak saya nengok, sekaligus mau ngobrol sebagai sesama seoramg istri" jawab Rudi cengengesan.
" Yaser, tolong bilang sama Teh Nera gantian dulu sama kamu " pinta Maryam pada Yaser.
Nera yang masih memandangi suaminya, dengan layu dan tak bersemangat melihat Yaser memberikan kode, supaya Nera keluar dulu.
" Apa , Ser?" tanya Nera dibalik pintu.
" Teh, bang Rudi ada omongan tentang Bang Dya dan teh Sarah. Ditunggu di cafe, rumah sakit. Segera katanya!" Ucap Yaser.
" Iya, tunggu dulu atuh!" kata Nera berharap pengertiannya.
Nera dan Yaser kembali bergantian.
Nera dengan semangatnya melangkah untuk menemui Sarah.
Banyak hal yang ingin segera ia ungkap langsung dari mulut Sarah.
Salah satunya tentang pernikahan dan kehamilam Sarah deng Dya.
Langkah menuju pertemuan dengan dirinya dan Sarah di cafe serasa begitu landai dan lama.
Detak jantung seperti menolak untuk tak menemuinya, tapi otak terus penasaran.
Sarah pun begitu, kini Sarahpun bersiap sedia bertemu dengan Nera. Walau Sarah masih bingung, dari mana harus mengawali kata-katanya?
Nera akhirnya bertemu dengan Sarah, Rudi dan entahlah siapa satu laki-laki itu, sepertinya tak asing lagi, dia pernah melihat sekilas, tapi dimana ?
bersambung..
〰️〰️〰️〰️
Ayo jangan lupa vote, like , dan koment..
__ADS_1
Terima kasih para reader yang sering baca dan sering like, komemt dan pint,menu kesahatan.