
pov Anto
Sepertinya setan tak mau aku menjadi manusia penghuni surga. Dia tahu sekali kelemahanku, sudah semaksimal mungkin ku menjauh dari dirinya. Bersikap acuh tak acuh. Tapi kenapa, selalu saja ada godaan untuk bisa dekat dengannya.
Yah, bang Dya memintaku untuk mengantar jemput Nera. Karena besok dia mulai masuk kuliah lagi setelah libur semester. Dya tak mau Nera berdesak-desakan di mobil umum. Atau mungkin dia kemalaman karena sulitnya mendapatkan mobil umum untuk pulang.
Haaah cuman dua minggu ini, semoga aku bisa melalui nya, tidak tergoda dan tidak ceroboh.
Ditambah hari ini aku disuruh nganterin Nera untuk membeli handphone, biar Dya dan Nera bisa smsan atau telponan dimanapun mereka berada .
Hemm baiklah, aku akan bilang Nera untuk siap-siap.
*********
pov author
Pagi ini semua sarapan di meja makan.
"Bah, tadi bang Dya sms Anto, minta tolong anterin Teh Nera beli handphone. Uangnya hehehe minta pinjem dulu ke abah, hahahahhaa, nanti pas pulang dari Mekkah abang bilang akan diganti " celetuk Anto minta izin.
" Hadeeeuuh bos travel nya kere, hahahahaha " tambah Yaser bercanda.
" Hush , ya kalau mau pakai wesel juga ribet, mungkin lebih baik pakai uang abah saja dulu. Lagian mungkin kalau pakai telepon rumah sekarang sulit untuk menyesuaikan waktunya. Kalau smsan kan bisa kapan saja di balesnya, yang penting ada kabar " sahut kiayi Hasan.
Sebetulnya kiai Hasan paham, Nera masih malu untuk memakai telepon rumah.
Langkah membeli telepon genggam itu bisa meminimalisir komunikasi yang sulit saat dengan Dya di luar negri.
Apalagi selepas walimahan nanti Dya harus berangkat lagi ke Maroko, untuk menyelesaikan S2 nya.
" Mau jam berapa berangkatnya ? sebetulnya Nera harus di ikuti mahramnya, kalau sama Dya masih bukan mahram, tapi abah harus pergi ke undangan teman abah, hemmh " tandas kiai Hasan.
" Diih, abah insyaAllah baik. Lagian kalau naik angkot sendirian ada teh Nera sama supir saja, berdua-duaan itu malah lebih berbahaya" timpal Yaser.
" Justru ipar lah sangat berbahaya, disana rentan fitnahnya" potong kiai Hasan.
" Umi mau temenin Anto dan Nera enggak? " Ajak Anto pada ibunya.
__ADS_1
" Umi lagi enggak enak badan, yoo wes jaga jarak saja, Anto di depan Nera di belakang. Toh ini urgent abah, tak ada lagi mahram diantara kita, sendirian umi malah sangat khawatir, antar saja ya Anto! " saran umi Syifa .
Nera hanya mengikuti arahan keluarga saja, semua sepakat agar Anto mengantar Nera membeli handphone.
Di dalam mobil Anto dan Nera sudah seperti sopir dan tuannya.
Didalam mobil hening tak ada percakapan apa-apa.
Padahal Nera sudah berharap Anto untuk mengawali pembicaraan apa saja.
Karena kesal tak ada suara yang keluar, Nera punya kesempatan untuk meminta maaf pada Anto.
" Abang " kata Nera parau.
" Hmmm " jawab Anto dingin.
" Nera minta maaf atas semuanya yang telah terjadi" kata Nera lirih.
Anto terbelalak melihat kaca mobil yang mengarah pantulan kepada Nera.
Setelah mendengar permintaan maaf Nera, bukannya membalas kata maaf itu, Anto malah mengebut mobil yang dikendarai nya .
" Abaaang, Nera takut abang, jangan ngebut! Abang awas itu ada truck! abaang aaaaaaaaa... abang Nera minta maaf jika Nera banyak kecewain abang" Nera teriak karena takut, Dya sudah salip mobil sana dan sini.
Nera menutup mata sambil berpegangan tangan. Sambil komat-kamit berdo'a sedang Anto masih menuangkan kekesalannya.
Tiba-tiba mobil berhenti, kepala Nera terpentok kursi jok depan.
Seketika Anto turun dari mobil, yang terlihat adalah sebuah bukit dengan rerumputan hijau bak karpet permadani panjang membentang. Harum segar dari pohon-pohon yang rindang tersibak angin sepoi-sepoi.
Nera memberanikan diri keluar seperti halnya yang dilakukan Anto terlebih dahulu.
Terlihat punggung Anto yang sedang berdiri menyimpan kedua tangannya dipinggang kanan dan kiri.
Nera mencoba menghampiri Anto yang sedang kesal.
" Abang, Nera minta maaf abang " ucap Nera kesekian kalinya.
__ADS_1
Anto berbalik ke arah nya,
" Apakah kamu pikir dengan mengatakan maaf, semuanya selesai dan impas? Aku sengaja membawa mu kesini untuk menyelesaikan hal yang belum kita selesaikan. Aku ingin kita satu sama lain jujur dan setelah itu kita lupakan semuanya. Mungkin setelah ini aku akan menutup semua harapan dan semua kenangan kita, dan menganggapnya tak pernah ada, dan aku akan menerima mu hanya sebatas seorang istri dari kakakku" kata Anto gemetar.
"Aku hanya ingin tanyakan beberapa hal padamu.
Yang pertama, pernahkah kau mencintaiku? " Anto mulai menitikkan air mata.
" Kedua, pernahkah kau bermimpi untuk hidup bersamaku? "
" Ketiga, Apa kau pernah menungguku? "
Anto mengungkap semua isi hati yang selama ini dia ingin tanyakan pada Nera.
Mendengar itu semua, Nera lemas dan terduduk.
Nera pun rapuh dan terisak menangisi semua yang telah ia lewati.
" Aku masih mencintaimu, dan aku pernah bermimpi hidup bersamamu, dan aku selalu menunggu, tapi ceritanya lain. Jika itu menyangkut harga diri keluarga ku, dengan status aku seorang kakak yang dilangkahi adik perempua, bapak takut aku menjadi perawan tua. Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa selain taat pada orang tuaku. " jawab Nera terisak.
" Kenapa kamu tidak katakan saja bahwa kau sudah mencintaiku, dan aku akan menikahimu? kenapa kau diam saja? aku akan kuat jika kau menikah bukan dengan kakakku, jika dengan orang lain aku akan mudah mencaci maki kamu, Nera! " Kata Anto putus asa.
" Taqdir aku berjodoh dengan bang Dya, dia lebih cepat memutuskan untuk menikah denganku, dia begitu baik dan sayang padaku, aku tak mungkin memghianatinya bang, walau jujur aku belum bisa mencintainya seperti aku mencintai kamu"
Ucap Nera berat sambil terisak.
" Bertemanlah dengan ku, mari kita menjadi sahabat ! Aku akan kehilangan mu sangat, jika kau menjauhi dan dingin padaku, bang Anto aku bahagia kenal dengan mu " kata Nera penuh harap pada Anto.
" Tidak kau sudah menjadi bagian keluargaku, tak mungkin kau menjadi sahabat atau teman, kau sudah menjadi kakakku. Tapi untuk sehangat yang dulu aku tidak tahu, bisakah? mungkin aku akan mencari pengganti mu, dan menikah seperti dirimu. " jawab Anto lirih.
" Menikahlah walau rasanya sungguh memekakan gendang telingaku, semoga kau bahagia, perlukah aku carikan wanitanya? "
goda Nera terisak.
" Mari bersahabat dengan taqdir, aku masih punya asa kita masih bertaqdir untuk hidup bersama walau aku sendiri tak tahu bagaimana jalannya" tambah Anto meyakinkan.
" Benar! pada dasarnya kita sudah bersama tapi dengan cerita hidup yang berbeda, kamu adik iparku"
__ADS_1
" Aku masih menunggu taqdir itu datang padaku " kata Anto lirih pada Nera, sambil berlalu memasuki mobil, dan di ikuti oleh Nera.