
Setalah membersihkan pecahan kaca gelas, Nera menangisi perlakuan dingin Anto padanya.
Di balik dinding Anto mengamati Nera yang sedang menangis.
Sebenarnya Anto melakukan itu tidak sengaja. Anto terdorong emosi, kenapa Nera tidak jujur pada semua bahwa, Anto mencintainya. Dibalik dinding itu Anto pun meneteskan air matanya, dan sesekali memukul tembok dengan penuh emosi.
Hati kecil Anto ingin sekali dia meminta maaf dan mencoba hangat pada Nera.
Tapi Anto mengurungkannya karena banyak sekali kekecewaan yang Nera buat untuknya.
Anto mengambil kunci mobil dan t-shirt dan berlalu meninggalkan rumah.
*************
Kini Anto ada dirumah Jhodi sahabat sekaligus pelatih teman latihannya di taekwondo ketika masa SMA.
" Tumben lu bro, kapan pulang ke indo? " tanya Jhodi.
" Sudah hampir mau dua minggu, bang " jawab Anto lemas.
" Lemes banget lu,To. Lu lagi puasa sunnah? " tanya Jhodi menelisik.
Anto menggelengkan kepalanya. Tatapan Anto kosong, pada dasarnya dia pergi ke rumah Jhodi hanya ingin berbagi kisah ( curhat ) . Siapa tahu Jhodi bisa memberikan saran.
" Bang, gua mau curhat bang. Gua lagi pusing bang " lirihnya pada Jhodi.
" Anjiiir, ustad bisa juga curhat " ledek Jhodi pada Anto.
" Siapa yang ustad ? , wajar enggak sih laki-laki kayak gua itu merana kalau ditinggal nikah cewe yang di suka?" tanya Anto serius.
" Manusiawi bro, memangnya laki-laki itu robot?, ya sama kaya yang lain, malah kalau masalah cinta laki-laki lebih rapuh daripada perempuan. Banyak teman-teman gua sampai mabok-mabokan, ke dukun, atau kadang maksa nidurin ceweknya demi bisa nikahin cewenya itu. Tapi untungnya lu ustad, hahahahaha " canda Jhodi.
"Gua ditinggal nikah sama Nera, yang paling menyayat hati gua, sekarang gua serumah sama dia. Abang gua yang nikahin Nera" Lirih Anto menceritakan semua nya pada Jhodi.
__ADS_1
Jhodi yang awalnya menggoda Anto, sekarang dengan seksama mendengarkan curahan hati Anto.
Sesekali Anto menahan tangis dengan menahan getar suaranya.
" Menangislah, laki-laki juga manusia. Terkadang dengan menangis ganjalan di hati bisa hilang, dan mungkin sedikit melegakan " nasehat Jhodi pada Anto.
" Hari ini, aku kembali menyakitinya dengan melempar gelas dan akhirnya pecah, dia memunguti setiap serpihan gelas itu, dia menangis Bang" cerita Anto.
" Kenapa seperti itu? padahal cukup elo diamkan saja Nera. Dan mencoba berdamai dengan situasi. Dia kini sudah menjadi bagian keluarga besar mu, apalagi dia kakak iparmu. Apa elo tahu alasan kenapa dia mau nikahin abang elo? cobalah berdamai dengannya, jika berdamai dan melatih menerimanya, elo bisa gampang move on, bro! " jelas Jhodi.
" Gua yakin, Nera pun tidak nyaman dengan sikap elo seperti itu. Coba elo selesaikan hati kalian berdua, nyatakan dengan pasti. Diantara kita tak ada lagi hubungan cinta dan merajut asa seperti dulu yang kalian impikan. Selesaikan secara laki-laki dan gentle. Gua yakin Nera pun memiliki alasan kuat, kenapa dia nerima abang elo? wanita mana yang sanggup serumah dengan mantan kekasihnya, mungkin bukan mantan tepatnya masih kekasihnya! ?" tambah Jhodi perlahan.
" Gua belum sanggup, ego gila gua masih belum rido dia nikah sama abang gua. Kadang gua ingin merebut Nera lagi dari abang gua, tapi tidak mungkin. Abang gua terlalu baik untuk gua sakiti. Lagian gua sadar, itupun dosa besar. Antara ego dan hukum agama. Kalau sudah tak ada iman, mungkin gua beringas bang" ceritanya sambil mengacak rambutnya sendiri.
" Hahahahah, ustad juga bisa emosi!" gelak tawa Jhodi.
"Sekarang elu, harus fokus Nera sekarang itu kakak ipar elu, coba berdamai dengan situasi, masa iya elu akan merebut bini abang elu? Yakinkan diri bisa mencintai wanita selain Nera. Yang terakhir, yang harus dilakukan temui Nera dan ajak berdamai, minimal elu sendiri yang bilang cerita lu pada sudah end. Minta emak lu, untuk cariin bini biar elu fokus, sakit ama cewe obatnya cewe lagi, bro! " saran Jhodi.
Setelah lama curhat dengan Jhodi. Anto pulang ke rumah.
" Bi, umi dan abah belum pulang? " tanya Anto sama bi Minah.
" Belum ujang, Kayaknya umi sama abah lagi ngurusin undangan walimahan buat neng Nera sama jang Dya, kan acaranya tiga minggu lagi" jelas bi Minah pada Anto.
Disudut ruangan keluarga, Nera sedang asyik memantengi televisi.
Nera melihat ada Anto melewat akan menuju kamarnya. Nera memberani kan diri menyapa Anto basa basi.
" Sudah pulang, bang? sudah makan? Nera tadi sudah masak, mudah-mudahan suka" .
Nera tersenyum ke arah Anto.
Anto sejenak mematung di tangga, mendengar sapaan Nera. Hatinya merasa tidak karuan. Kenapa dia bisa seramah itu, padahal dirinya siang tadi sudah kasar padanya.
__ADS_1
" Umi tadi ke rumah ibu saya, buat urus-urus acara walimahan. Kalau abang mau makan, biar Nera siapin ya bang? " sapa Nera mencoba baik kepada Anto, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.
Anto tak menjawab semua sapaan Nera, dia berlalu menaiki anak tangga. Dan pergi ke kamarnya.
Nera, walau sedikit kecewa tapi dia berusaha untuk membiarkan rasa kecewanya.
Menurutnya, dia pantas mendapatkan perlakuan dingin Anto.
Nera, hanya akan berbesar hati menerima sikap dingin Anto padanya.
Mungkin lambat laun suatu saat nanti, Anto akan melunak dan akan menerima dirinya, setidaknya menerima dirinya sebagai kakak ipar, istri dari kakaknya.
Walau kenyataan tak berpihak, mengingat asa yang pernah di rajut hilang hanya dengan status lima huruf, ya istri. Tapi bukan istri Anto, yang dia harapkan. Melainkan istri seorang kakak dari orang yang ia harapkan dan damba.
Sudah hampir dua minggu Nera tak pernah menelpon suaminya, ketika sedang menelpon Nera sedang sibuk di kamar mandi, jika Nera yang menelpon Dya sedang sibuk dengan jama'ahnya.
Nera hanya berjibaku dengan rasa kehilangan sosok Anto yang hangat seperti dulu.
Nera menangisi semua, kadang ketika sendirian dia begitu menyesali pernikahannya. Tapi dia pun tak mau berkubang kesedihan, dia faham suaminya pun lebih baik dan mencintai dirinya.
Ego dan Nafsu saat ini menguasai hatinya.
Nera menangisi kesedihanya dan teriak sambil wajahnya di bantal, agar suaranya tak bisa di dengar oleh siapapun.
pov Nera
" Aku mencintai mu bang Anto, tapi aku tak kuasa. Aku mendambamu, tapi aku akan berdosa. Mungkin setelah walimah aku akan meminta pisah rumah saja, dan fokus membangun mahligai cinta dengan Dya, dan menua dengan Dya "
pov Anto
" Kenapa kamu selugu itu Nera, padahal aku selalu mencuekan mu, aku ketus padamu. Kau memang selalu membuatku luluh. Aku sayang kamu "
🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
bersambung