Berjanji Dan Merajut Asa

Berjanji Dan Merajut Asa
92. Kenapa kamu melukai ku lagi?


__ADS_3

Hari pernikahan Yaser dan Nisa, dimeriahkan di rumah orangtua Nisa.


Sederhana namun terlihat seperti gaya klasik.


Kini Nisa dan Yaser sudah sah menjadi sepasang suami istri.


Nera, pergi ke belakang rumah.


Dimana dibelakang rumah tak begitu banyak riuh tamu dan saudara serta kerabat yang datang.


Nera duduk disebuah kursi usang, yang sejajar dengan pohon kenari.


Kembali rasa rindu terhadap Dya menyengat ulu hatinya. Bulir-bulir di ujung matanya kini membasahi pipi yang tertutup niqab.


Menangis, mengenang momentum ketika dirinya pertama mengikrarkan janji suci dengan Dya.


Masih teringat jelas, bagaimana pertama kali tangan Dya menyentuh tangannya?


Bagaimana Dya, mencium pucuk kepalanya dengam malu-malu?


Bagaimana Dya, memperlakukan dirinya saat tidur bersamanya? Semuanya lembut dan baik.


Nera terisak dan tersedu,


" Bang Dya, kenapa enggak ajak Nera bersamamu, Bang? Nera kangen? Tak ada yang sebaik Abang, kenapa Abang ninggalin Nera sendirian? Nera kangen !" ucapnya lirih hanya angin yang menjadi teman bicaranya.


Nera masih terisak, Nera masih melamun di kursi dekat pohon itu.


Sosok berjega di belakang tubuh Nera, dan memberikan sapu tangan berwarna coklat.


" Ini! usaplah!" ucap Dito sambil ikut duduk disamping Nera dan sedikir berjauhan.


" Abang. Nagapain kesini? Sana perasmanan dulu! Pasti kangen deh dengan makanan hajatan orang Sunda. Sana!" kata Nera sumringah sambil mengusap wajahnya.


" Ner, ajakan aku tempo hari, bagaimana?" tanya Dito sambil memeluk pohon kenari yang tumbuh di dekat kursi yang Nera duduki.


" Buru-buru banget si, Bang! Santai saja!" jawab Nera datar.


" Aku, sudah tua. Sebentar adik perempuanku juga nikah. Masa aku dilangkahi nikah sama adik-adik aku terus? Malu atuh Ner !" jawab Dito berharap keluhannya di dengar Ner.


" Abang, Nera itu janda. Sedang Abang bujang.


khawatir orang tua Abang tak merestui" jawab Nera.


" Ish, sudah tahu kali ibu aku mah sama kamu. Malah disuruh cepet-cepet lamar kamu. Kata ibu, kamu itu menantu idaman. Apalagi ibunya Anto muji kamu itu sampai ke akar-akarnya.


Pengen tahu mah, ibunya Anto ingin kamu itu tetep jadi jodoh anaknya. Curiga deh jadinya?" pungkas Dito.


" Curiga apa?" tanya Nera.


" Dia pernah meninju aku, ketika aku lagi ikut latihan gabungan ama bocah-bocah. Anto juga baru datang banget. Aku cuman jawab pertanyaan anak bocah. " Abang sudah pu


nya Istri?" . Ya aku jawab " belum ".Terus anak


anak nanya " punya pacar, dong?" , ya aku jawab, " enggak . Paling calon istri!" Yaelah, dia hantam muka aku, ya sudah aku hantam balik!"


" Aku tanya kenapa, tiba-tiba mukul aku? Si Anto malah bogem mentah aku lagi kan ***. Dia malah berang sambil ngomong nyerocos ke aku, kalau kamu calom istrinya. Haaah, GILA! padahal kata kamu Anto sudah nikah, terus mau moligami kamu gitu, sudah turun ranjang plus poligami. Ouh Nera, kamu itu cantik, kok mau-maunya sama laki-laki yamg punya suami?"

__ADS_1


Tiba-tiba Anto datang sambil memotong pembicaraan Dito.


" Menggombal itu jangan sampai bohong, ketahuan malu lho!"


" Datang juga?" sindir Dito.


" Apa sih kalian? kok ke kanak-kanakan begini sih? " lerai Nera mencoba mendamaikan mereka.


" Saya sebentar lagi du-da, jadi wajar kalau saya itu sama Nera! Lah elo, bujangan! cari gadis masih banyak!" ledek Anto.


" Bang Anto, kok ke kanak-kanakkan gitu sih, Bang? Abang biasa kalem kenapa jadi kaya gimana gitu. Dari dulu kalian itu enggak pernah mau menang, terus saja bersitegang seperti sekarang. Ini itu alam nyata bukan dunia pertandingan."


" Bang Dito. Nera juga sedikit khawatir dengan status aku sendiri, Abang bujang, yang menikahi seorang janda kembang, apa kata orang?"


" Untuk Bang Anto. Nera khawatir kita menikah orang beranggapan Abang selingkuh sama Nera, apalagi Abang sekaramg prosesi cerai. Nera khawatir itu kabar tak sedapnya kedengar oleh Umi dan Abah. Kalau sebuah fakta is ok. Tapi kalau bukan fakta, bagaimana?" jelas Nera khawatir.


" Kita enggak selingkuh, tapi dari dulu kita saling punya rasa, iya,kan?" tukas Anto memastikan.


" Hallah, kalau digantungin kayak mancing tanpa kail mah, anak kecil juga bisa. Tanpa kejelasan yang pasti, jagain jodoh orang itu namanya, makanya diembat duluan deh sama Abang lo!" timpal Dito kesal.


" Ish, kalian itu lelaki dewasa! isk ill feel banget aku lihat kelakuan kalian. Maaf Nera permisi pergi, enggak baik juga berikhtilat ( campur baur dengan bukan makhram ) ." Nera berlalu meninggalkan mereka.



Nera masuk ke acara nikahan Yaser dan Nisa lagi.


Terlihat Rudi, Mr Chang dan Sarah. Nera menghampiri mereka.


" Selamat menikmati, maa syaa Allah anaknya endut" sapa Nera sambil memeluk Sarah.


" Nera, kayak kamu yang mempelai wanitanya. Hahaha, maa syaa Allah cantik banget." Seloroh Sarah yang terkesima melihat Nera.


Mendengar ucapan Sarah dihadapan Nera langsung.


Rudi semakin salah tingkah, air mukanya berubah menjadi merah padam.


Nera pun langsung tertunduk.


Tapi kelihatan sekali Rudi semakin kikuk dan salah tingkah.


Rudi izin pergi ke toilet sebentar, meninggalkan kursi tamu.


Nera masih terduduk bersama Sarah dan Mr.Chang.


Sarah menceritakan tentang pertemanan Rudi dan Dya zaman Dya masih hidup.


" Dya itu percaya sama Rudi, Rudi pun begitu. Kalau dicontohkan nih sudah kaya persahabatan nabi Muhammad dan Abu Bakar Ashidiq, soliiiiid banget. Satu sama lain saling melindungi. Kadang orang mah nyebut mereka guy hahahaha."


" Sepeninggalnya Dya, Rudi susah percaya sama yang lain. Dia pernah curhat, saking sayangnya sama Dya, kalau Rudi ingin sekali menikahi kamu. Bukan apa-apa, Rudi takut kalau kamu nanti dapat laki-laki yang nyebelin dan enggak sayang sama kamu. Rudi sempet bilang ke tante, kalau boleh enggak dirinya nikahin janda?. Ya jelas tante tahulah janda yang dimaksud Rudi itu siapa? pasti istrinya Dya. Tante sudah setuju, lampu hijau sudah didapet. Tapi tidak tahulah, dia emang pemalu orangnya, enggak pernah juga dia curhat siapa saja yang dia taksir. Tapi kali ini, nekat aja gitu, bilang ke tante kalau dia ingin nikahin kamu. Cuman nunggu lampu hijau dari kamu, Ner?" jelas Sarah.


Nera menelan saliva nya setelah Sarah mendengarkan obrolan Sarah.


" Rudi baik banget, Rudi orang setia, matanya enggak jelalatan kalau lihat itu perempuan. Agamanya bagus, seperti itu Dya." Timpal Mr.Chang dengan aksen logat tiongkoknya.


Nera semakin pusing dengan racauan orang-orang yang ingin meminangnya.


" Saya belum siap nikah. Saya ingin sendiri dulu. Akhir-akhir ini saya sibuk. Saya tak tahu kalau saya menikah, khawatir tidak terurus dan apalagi kalau hamil. Saya akan fokus dulu menyelesaikan beberapa satu hal dan lainnya. Ada amanah yang harus saya tunaikan dulu. Sebentar lagi dibuka pendaftaran pertama SDIT sampai SMAIT pertama di Bandung, dan itu saya yang urus. Saya takut kalau tidak bagus programnya, itu bisa memgecewakan Abah. Kedua mengembangan travel tour haji dan umrah, dan kuliah saya. Satu tahun lagi insyaa Allah kelar. Mohon do'anya ya, Sar!"

__ADS_1


jelas Nera.


" Hemmh, kayaknya Rudi mah siap-siap saja kapan pun itu." Kata Sarah lagi.


" Carilah wanita lain, saya takut saya mengecewakan!" lirih Nera.


" Hahaha, manusia itu bukan mahluk sempurna, kalau sempurna enggak melakukan kesalahan jatuh nya malaikat. Dipikir-pikir dulu, deh , Ner. Yang fokus ya!" nasihat Sarah pada Nera.


Rudi baru muncul setelah tadi izin ke kamar mandi.


Nera tak sengaja bersitatap dengan Rudi, kembali Rudi kikuk jika teringat Mr.Chan dan Sarah menggodanya.


Nera pun, pamit pergi karena Nera khawatir, Rudi akan semakin kikuk jika dirinya ada terus di sampingnya.


Nera izin kepada orangtuanya, untuk pulang ke rumahnya duluan.


Nera lelah seharian ini ada di acara pernikahan adiknya. Senang tapi Nera masuk angin.


Nera kemudikan motornya, sesekali dia menguap. Matanya rasa ngantuk, sehabis sampai rumah dipikirnya ingin langsung mandi air hangat dan kemudian tidur.


〰️〰️〰️〰️〰️〰️


Sesampainya dirumah, dengan mata yang mengantuk. Nera menemukan sesosok laki-laki dan sosok perempuan diteras rumahnya.


Nera menyapa mereka setelah sampai teras.


Hanya saja, si lelaki menghampiri Nera dengan tatapan marah.


Si lelaki itu melepas paksa cadar Nera dan Menampar pipi kiri Nera, sampai di susut sisi kiri wajah Nera berubah merah.


Nera terjatuh, bulu mata lentik dan bola mata itu memandang lelaki yang tak pernah ia jumpai sama sekali.


Kenapa dia menampar Nera, padahal dirinya tak pernah berbuat jahat padanya. Bagaimana berbuat jahat? dirinya pun tak kenal.


Sosok perempuan itu melerai kakaknya, saat kakaknya akan menendang Nera yang sudah terjatuh ke lantai.


" Sudah, Bang, cukup !" pinta perempuan itu.


" Pantesan saja, Anto gila mata pada dirinya? Toh perempuan itu begitu cantik. Bagaimana mungkin dia menjadi perempuan penggoda, padahal dia berniqab?" gumam lelaki yang memukul Nera.


Nera menangis, sakit hati, marah, kecewa tapi tak mampu membalas.


" Kalian mau apa kesini?" ucap Nera sambil menutupi wajahnya dengan krudung bagian pinggir.


" Suruh Anto, supaya menyesal dan minta maaf ke kami!" jawab si lelaki itu.


" Emang salah Anto apa pada kalian? kenapa enggak hubungi langsung ke dia. Kenapa ku?" tanya Nera.


" Kamu yang salah! kalau sadar laki orang itu kesemsem sama kamu, harusnya sadar diri. Dari dulu kamu itu menyebalkan, harusnya kamu tak serumah dengan Umi, dasar munafik!" kata siperempuan yang sedang marah padanya.


bersambung.


〰️〰️〰️〰️〰️


🙏 maaf reader saya telat up, karena author seorang ibu.


Qadarullah anak kami kemarin2 demam dan rewel. Jadi saya enggak fokus ngetiknya semoga hari bersama keluarga itu menjadi hal yang lebih baik.

__ADS_1


Jangan lupa vote,like, love, koment.


Maaf telah menunggu lama.


__ADS_2