Berjanji Dan Merajut Asa

Berjanji Dan Merajut Asa
98. Umi Syifa cemburu


__ADS_3

" Kata si Dede, Dito mau nikah eh tahu melamar, ya gitu deh. Si Dito di Arabnya jadi juragan baso, kalau ada orang Indonesia yang umrah atau berhaji, warung baso si Dito laku. Karena disana katanya ada deret warung jajanan kaya mirip-mirip emol, gitu. Menurut cerita tetangga ya, Ner. Si Dito sudah beli mobil sama sawah satu hektar buat dijadikan pertanian bapaknya plus mau buat peternakan entah sapi atau kambing." Ibu Siwi mulai bergosip.


" Urusan Nera apa, emang?" Jawab Nera dingin, yang masih tertusuk selang infus ditangannya.


" Dikira ibu, kamu tuh deket sama si Dito. Ibu sama bapa suka nerima pesan dari Dito. Perhatian banget dia sama kita. Terus kalau mau jujur nih ya, tapi jangan marah!" jelas Ibu Siwi pada Nera.


Nera memandang ibunya dengan kerutan di dahinya, penasaran.


" Apa emangnya ibu? kok Nera jadi degdegan!"


" Emhh bapa dikasih pinjem Rp. 20 juta oleh Dito, buat suntikan modal. Ibu mau minta kamu, malu. Lagian kamu juga pasti enggak punya uang Rp. 20 juta tersebut. Sedang bapa harus bayar kontrakan kios sama puter modal. Pan jualan sayur mah untung-untungan, kalau ruginya pas takut keburu busuk, bapak jual murah malah tekor." Celoteh ibunya dengan berat hati menyampaikan pada Nera.


" Nera pusing Ya Allah. Emmh ibu kenapa baru bilang?" lirih Nera sambil memijit tengah keningnya yang pusing dengan tingkah ibu bapaknya.


" Kapan mau dibalikinnya?" tanya Nera sambil mengernyitkan dahinya.


" Kata Si Ditonya, sepunya nya saja. Baik banget ya!" Lirih ibunya lagi.


" Hape Nera mana, Bu? Nera mau telepon Dito." kata Nera menyimpan kekesalannya.


Ibu Siwi segera memgambil tas miliknya dan memberikan hape yang diambil oleh dirinya di dalam tas kepada Nera.


〰️〰️〰️〰️〰️


Nera memgsms.


Gimana sudah siap melepas masa lajang


hihihi.


Dito yang sedang bersantai pun membalas dengan cepat.


Apa dirimu mau daftar jadi yang kedua?


Nera membalas.


Maaf, masih ingin layaknya Khadijah anaknya Fatimah, saya tak sekuat A'isyah.


Kapan lamarannya? oh atau nikahnya?


Dito membalas.


Kamu ingin aku lamar? Masih berdo'a kok aku sama Allah, semoga kamu masih bisa menjadi jodohku. Aamiin.


Walau tidak yang ke satu tapi bisa yang ke dua. hahaha


Nera membalas lagi.


Isk serius, kapan?


Dito membalas.


Dua bulan lagi.


Nera membalas.


Congrat. Aku turut bahagia.

__ADS_1


Dito membalas.


Bohong! Padahal belum rela, kan, melepasku, hahaha ? Kalau berubah pikiran aku masih mau. Tapi jadi yang ke dua ya? Karena aku tak mungkin menyakitinya. Walau sebenarnya aku tetap ingin kamu. Cepatlah menikah biar aku tak selalu memikirkan mu dan tak mengejarmu lagi!


Nera tak membalas pesan singkat dari Dito lagi. Biarkan dia fokus pada pernikahannya, biarkan dia bahagia dengan calon pengamtinnya.


Ini keputusan Nera untuk tak menerima cinta Dito.


Dua bulan setelah kejadian memilukan antara dirinya dan Laras. Kiai Hasan sering memanggil Nera, berharap Pesantren dan sekolah boarding miliknya itu diurus Nera. Kemudian Umi Syifa berharap banyak agar dirinya tetap menjadi menantunya.


Itu artinya Umi Syifa berharap Nera tak menikah dengan laki-laki yang masih ada kaitan dengan keluarga Kiai Hasan.


Umi sering sekali bercerita pada Nera. Ke khawatiran jika Nera menikahi laki-laki yang bukan dari keluarga Kiai Hasan, Nera akan jarang mengunjunginya.


Begitupun Kiai Hasan, beberapa kali meminta Nera untuk segera memutuskan, dengan siapa dia akan menikah?


Tapi Nera, punya keyakinan untuk tak menikah di tahun-tahun ini. Kecuali memang taqdir harus ada yang lahir dari dirinya.


Hakikatnya seorang pasangan terjadi pernikahan karena nasib keduanya yang berjuang, selebihnya adalah taqdir akan ada seorang manusia lahir dari pasangan tersebut.


Nera sejenak meminta waktu untuk memikirkannya. Anto, dia sudah tak peduli dengan pernikahanya. Dia fokus denga study dan pekerjaannya sebagai jurnalist dan terkadang dia harus touring ke suatu tempat dan sering tak pulang beberapa hari.


Kini Anto pun jarang bertemu dengan keluarganya karena Anto pun sudah pindah rumah semenjak hakim ketuk palu.


Anto lebih cenderung meleburkan dirinya pergi menjauh dari hingar bingar kenyataan dan ke terpurukkannya membangun cinta.


Entahlah yang dipikiran Nera, apa yang dikatakan Kiai Hasan padanya selalu saja menjadi acuan yang hatus dipikirkan.


Begitupun keinginan Umi Syifa yang selalu membuat hatinya luluh.


Tapi, tidak dengan hati Nera dia masih teguh hanya menganggap Dito sahabat saja tidak lebih.


Akhirnya satu persatu Nera sudah urai, kali ini laki-laki yang bernama Rudi selalu memberinya perhatian. Dan sekarang hatinya mulai tersentuh api asmara, tapi masih terkendali. Kepolosan wajah Rudi dan lembutnya saat berhadapan dengan dirinya. Rudi bisa membuat hati Nera berguncang pula. Tapi bukan Nera, dia memang pandai menata hati dan kuat pendirian.


Dia selalu berpikir, bahwa rasanya ke Rudi hanya sesaat.


Kali ini dia tumbang, di rawat di rumah sakit.


Tak dipungkiri, Kiai Hasan melamar Nera untuk Anto.


Sedangkan Akreditasi Sekolah, Umrah jam'aah, dan sidang skripsi di depan mata.


Nera memang dibuat stres, sampai dia tak bisa tidur dengan normal, makan yang asal dan pikiran terkuras. Nera bingung harus memberikan jawaban apa, sementara ibu dan bapaknya belum tahu kalau Kiai Hasan memintanya kembali untuk menjadikan dirinya menantu. Itu yang menjadi beban Nera.


Umi Syifa khawatir tentang Anto yang semakin sibuk diluar tanpa ingat pulang. Khawatir kesehatannya terganggu seperti Dya lagi.


Nera tak pernah menghubungi Anto semenjak kejadian itu. Dia terkesan menutup akses komunikasi dengan Anto. Nera khawatir keputusan dia ingin bercerai akan terpusat pada dirinya. Dan Laras akan selalu menyalahkan Nera atas kehancuran rumah tangganya.


〰️〰️〰️〰️


Tiba-tiba Umi Syifa, Kiai Hasan dan Nisa datang menjenguk.


" Assalamu'alaikum" ucap mereka sembari masuk.


" Aduh, anak Umi sakit. Maaf baru nengok " kata Umi Syifa sambil menghampiri Nera dan mencium keningnya. Disusul Nera mencium tangan Umi Syifa dan Kiai Hasan.


" Bu Siwi, sakit apa katanya?" tanya Umi Syifa.

__ADS_1


" Kurang darah dan tipes. Kata dokternya efek kecapean dan stres. Insyaa Allah besok sudah boleh pulang, paling Nera harus banyak istirahat." jawab bu Siwi.


" Mau pulang kemana?" Ucap Umi Syifa lagi


" Sepertinya ke rumah saya, nanti saya enggak kepasar dulu, mau rawat Nera." jawab Ibu Siwi.


" Mau dirumah Umi? biar besan nanti bisa jualan dipasar." kata Umi Syifa menawarkan diri.


" Emhh, gak usah Umi. Malu atuh merepotkan." pungkas Bu Siwi.


" Kan ada Nisa dirumah juga, dia bulan depan katanya mau daftar kuliah, sambil nunggu Yaser dari pelatihan dan pendidikan militernya. Emh mungkin Nisa nanti Umi mintai jagain Nera di rumah besan saja gitu?" ucapnya memberikan pendapat.


" Mungkin itu lebih baik, biar saya tidak kepikiran Umi capek menjaga Nera." jawab Ibu Siwi.


Nisa yang terduduk di sofa sambil memotong buah kiwi untuk Nera. Hanya mengangguk mengiyakan untuk pulang ke rumah ibunya menjaga sang kakak agar cepat pulih.


Tiba-tiba pintu kamar ruangan Nera ada yang mengetuk lagi.


Kini Rudi yang datang, seperti biasa membawa buah tangan. Setiap haRi selama 4 hari ini Rudi intens menjenguk Nera.


" Nak Rudi?" sapa Umi Syifa.


" Iya, Umi. Sehat?" jawab Rudi lirih sambil menyimpan kedua tangannya bersidekap di dadanya mengatakan salam.


" Oh. Nak Rudi yang membawa Nera dan intens jenguk Nera lho Umi. Kadang saya malu." ucap Bu Siwi


" Terimakasih dan maaf ya, Nak Rudi sudah merepotkan!" ucap Bu Siwi lagi.


Mendengar itu Umi Syifa terasa terbakar dan cemburu pada Rudi.


Umi Syifa langsung berujar,


" Emmh Anto sekarang ada di Lombok, belum pulang. Maaf ya Nera, Anto belum bisa jenguk kamu." ucap Umi Syifa meminta maaf atas nama Anto.


" Nera, semuanya saya pamit dulu. Ada salam dari Sarah maaf belum bisa kesini, lagi sibuk juga karena anaknya lagi sakit. Nera saya harus ke kantor lagi, cepat sehat ya!" ujar Rudi sambil berlalu.


Entah situasi hatinya kini berubah menjadi cemburu dan tak enak hati. Umi Syifa kembali duduk di sofa dan mencoba menghubungi Anto namun selalu saja jawaban dari operator adalah di luar jangkauan.


Kiai Hasan melihat kegelisahan istrinya. Khawatir menantu kesayangannya itu, jatuh cinta pada laki-laki lain.


Umi Syifa seperti yang mulai kesal kepada Anto. Kenapa nomer hape anaknya itu sulit untuk dihubungi.


bersambung


〰️〰️〰️〰️〰️


Insyaa Allah besok Up 2 bab lagi.


Terima kasih reader.


Jangan lupa vote biar saya merasa tulisan saya bermakna dihati kalian semua.


Jangan lupa like dan love nya


Terima kasih dengan komentar-komentar yang positif serta membangun.


Terima kasih semuanya.

__ADS_1


__ADS_2