
pov Nera
Malam ini aku masih menunggu kepulangannya dari Jakarta, tapi anehnya tak ada sedikit pun kabar tentang dia, entah sms ataupun telepon.
Ku coba menelponnya, tapi tak pernah dia mengangkatnya.
Hatiku berkecamuk perih, tiba-tiba airmata ku meleleh, entah kenapa hatiku berdetak khawatir?
Ada apa dengan dirimu wahai suami terkasihku?
Aku merindukan dirimu, dalam rentetan malam penuh gemintang.
Apakah kau marah padaku?
Anto pun sudah meminta maaf atas sikap genitnya padaku akhir-akhir ini.
Dia juga akan berangkat ke Mesir untuk urus-urus kepindahan kuliahnya. Dia sadar bahwa kelakuan genitnya bukan jati diri aslinya. Dia hanya ingin menghilangkan rasa kecewa, rasa kehilangan.
Tapi toh sekarang dia sudah benar-benar melepasku.
Dia berjanji akan sewajarnya padaku layak kakak dan adik.
Dia hanya ingin terbiasa bercanda dengan ku agar nanti tidak kikuk karena ada ganjalan hati.
Hemm terima kasih bang Anto, kau selalu memahami kondisiku.
Malah dia berharap aku tinggal di rumah ini, jika bang Dya berangkat ke Maroko.
Tak ada rasa marah lagi aku padanya, malah justru aku semakin merasa bersalah pernah meninggalkan nya.
Tapi itu taqdir.
Giliran masalah sudah selesai dengan bang Anto, kenapa bang Dya sama sekali tak mengabariku.
Aku berharap bulan ini, mudah-mudahan aku telat datang bulan, mungkin bang Dya bisa senang dan semakin menyayangiku.
Aku mulai jatuh cinta padamu bang Dya, semoga kau pun sama padaku.
Pernikahan ini baru seumur jagung dan semoga ujian rumah tangga itu akan selalu bisa aku atasi.
Bang Dya, aku berazzam diri, aku akan menjadi istri terbaik mu, wanita shalihah mu, wanita yang bisa membahagiakan mu.
pov Author
Nera tadi sore menumpahkan sup dan mangkuk sup pecah.
Umi dan Bi Minah, terkaget melihat Nera kepanasan karena sup yang jatuh itu air panasnya mengenai tangan Nera dan kakinya.
Sontak Nera teriak kepanasan.
" Neng, enggak apa-apa? " kata Umi memegang tanganku khawatir.
__ADS_1
Bi Minah sibuk mencarikan odol untuk pengobatan pertama luka Nera.
Entah mengapa pada saat itu Nera histeris menangis, ada nada kekecewaan dalam tangisnya. Memendam rasa khawatir yang sedari malam kemaren kepada suaminya.
Nera kecewa, Dya masih belum mengabarinya. Sedang ibu mertua dan kakak iparnya dia kabari.
Kesempatan untuk mengaduh dan menangis meluapkan kekecewaan pada saat sup panas itu mengenai sebagian anggota badannya.
Menangis sejadi-jadinya, di pikirnya toh tak akan ada yang tahu apa yang Nera tangisi, paling mereka akan beranggapan Nera menangis karena kepanasan.
Nera merasakan ke khawatiran yang sangat, padahal di pikiran logisnya suami nya hanya pergi ke Jakarta dan akan pulang lagi nanti malam. Entah pukul berapa?
Dikamar, dia sendiri menunggu Dya, berharap Dya lekas tiba dan memberikan penjelasan.
Dirinya berjanji, tak akan marah atau menangis. Yang Nera ingin saat ini, suaminya itu memeluknya pada saat emosi dan curiga.
Entah apa yang dicurigai oleh Nera, tapi itu yang dirasakan saat ini.
Sesekali dia mencoba menelpon suaminya, tapu tak kunjung dia mendapat respon.
sms berduyun pun tak ada balasan apapun yang diterima.
Nera menangis, luka ditangan dan kakinya yang perih bisa dia atasi, berbanding jika suaminya tak mengabari itu lah yang membuat dia prustasi.
************************
Yaser.
" Nulis saja, gitu doang" jawab Anto singkat sambil menonton televisi judulnya Tersayang.
" Diiih, abang waktu sama teh Nera kan surat-suratan, abang mah pelit banget deh! " kesal Yaser.
" Ya elah, pan nanya kirim surat ke cewek bagaimana? abang jawab nulis dulu, terus kirim deh, sudah. Terkirim pan?" goda Anto cengengesan
Yaser sebel lalu menindih abang nya, dan adik kakak ini saling ledek-ledekan dan tertawa satu sama lain.
Datang Idam, melihat kakaknya sedang bercanda akhirnya Idam ikut menindih kedua kakaknya, adik kakak itu saling bercanda satu sama lain.
Umi pun dan Bi Minah ikut berbahagia melihat keakraban mereka.
" Minah, Umi mau lihat Nera dulu di atas. Mau lihat luka bakarnya. Takut melepuhnya gede-gede " Kata Umi Syifa.
" Kenapa yang kena luka bakar, Mi? "
tanya Anto yang tiba-tiba ke dapur mau ambil minum.
" Nera. Kena kuah sop yang baru di angkat. Masa kamu enggak denger pas dia nangis sambil teriak histeris ?" tanya Umi Syifa.
" Ouh iya?" tanya Anto kaget dan cemas dengan keadaan Nera.
" Terus apa saja yang kena? tanya Anto lagi.
__ADS_1
"Tangan terus rok pas bagian paha dan kaki , umi khawatir ada lepuhan. Habis tadi mau tak umi lihat dianya malah enggak usah, sekarang lagi di kamar, Umi mau lihat dulu ya "
******************
" Neraaa... " sahut Umi Syifa dibalik pintu.
" Masuk Umi, tidak dikunci " jawab Nera yang masih terbaring di kasur.
Umi Syifa masuk, membawa salep dan makanan.
" Ndoo, kamu belum makan. Umi khawatir kamu demam. Boleh ya umi lihat lukanya? " pinta Umi Syifa pada Nera.
" Iya, Umi boleh " jawab Nera ragu.
Nera langsung membuka sarung yang dipakainya untuk menutupi luka bakar nya.
Umi Syifa terkaget, karena luka bakarnya cukup besar dipaha Nera. Begitupun di kaki.
" Ndo, kita kerumah sakit yuk ! iki kayane sakit banget" ajak Umi Syifa.
" Enggak apa-apa mi, paling di obat bakar saja, terus entar saya usahain luka yang melepuhnya jangan sampai lecet atau terbuka, maaf ya umi sudah direpotin oleh Nera"
Kembali Nera terisak, kemudian Umi Syifa memeluknya.
" Ndo, bilang ae sama Umi, ada apa? kamu tuh kaya yang lagi banyak pikiran, sok curhat ae sama umi, ora isin-isin !" Lirih Umi Syifa.
" Nera sedang takut Umi, Nera juga enggak tahu, hati Nera tiba-tiba serasa kecewa dan sesak, ditambah Bang Dya belum pulang. Intinya Nera pengen segera ketemu sama Bang Dya. Pengen melukin bang Dya " jawab Nera terisak.
" Tadi abah mengabari, kalau mereka sedang menuju pulang, paling tengah malam nyampenya. Tahu kan Jakarta macetnya seperti apa? sabar ndoo semuanya baik-baik saja. Rasa was-was dan cemas itu berasal dari syaitan. Lebih baik kamu berdzikir dan berdo'a " nasehat Umi Syifa lembut pada Nera.
Umi Syifa keluar dari kamar, setelah Nera ditenangkan.
Anto menghampiri ibunya..
" Kondisi Nera bagaimana Umi? "
" Pahanya melepuh begitu pun kakinya, diajak ke dokter enggak mau Neranya. Dia lagi banyak pikiran kayaknya, tadi juga nangis terus. Cuman kalau mau jujur, umi juga lagi enggak enak rasa, tapi entahlah, apaaa itu ya, To? " jawab ibunya .
" Yaa, sudah. Semoga bukan firasat apa-apa. Bismillah. Semoga Abang dan Abah selamat sampai tujuan, teh Nera sehat, dan Umi juga jangan banyak pikiran " kata Anto menenangkan ibunya.
Suara bel berbunyi.
" ting.. tong.. assalamualaikum "
Bi Minah dengan segera membuka pintu.
" Eh pak Kiai dan jang Dya " sapa bi Minah.
" Assalamualaikum, Minah, Umi Syifa, mana? " tanya Kiai Hasan sambil masuk ke rumah begitupun Dya yang sudah kelelahan.
bersambung
__ADS_1