
Suasana sore hari yang sendu di iringi rintik hujan dan angin sepoi-sepoi membuat manusia yang berdiri disana merasakan dingin.
Dedaunan berjatuhan tersibak angin yang berayun.
Begitupun dengan kerudung yang dipakai Nera, sedikit -sedikit mulai terbasahi oleh rintik hujan yang turun sedikiti demi sedikit.
Dua manusia itu masih berdiri dengan ego seorang laki-laki posesif.
Begitulah sangka Nera terhadap Anto. Cintanya kepada diri Nera semakin membutakan akal pikiran diri Anto. Sehingga Anto masih berpikir, Nera adalah wanita yang akan mencintainya. Walau Nera menikah dengan siapapun, Anto menganggap Nera akan selalu setia untuk dirinya.
Pandangan marah itu masih menyala di mata Nera. Setelah sebelumnya Anto memaki dan mengatainya.
Kini Nera yang tak bisa terima diperlakukan oleh Anto. Dia berbalik untuk menyudahi saja hubungan yang sudah dia anggap sudah berakhir saja.
Toh sebentar lagi, Dya pulang dan resepsi pernikahan mereka pun akan segera dilaksanakan.
" Lepas Anto! " Nera mengeraskan suaranya sambil menatap tajam mata Anto.
" Haaah, kamu sebut namaku langsung? " Tanya Anto sambil matanya melotot pada Nera.
" Iya, kata abang tak pantas lagi aku sematkan padamu. Aku muak, selalu saja membuat aku tak faham dengan sikap kamu yang selalu tiba-tiba marah, tanpa penjelasan dan menyebutkan apa salah ku. Ya, persis kakak-kakakmu pun seperti itu. Entah teh Maryam, bang Dya, dan kamu! Apa semua saudaramu seperti itu semuanya? Disini seolah-olah aku yang salah, aku disuruh menjauhi kamu, aku mencoba menjauhi kamu tapi kamu terus mendekat, aku mengalah kupikir kita akan berteman baik, tapi tidak, aku salah. Dan dulu bang Dya menyalahkan aku pemberi harapan pada laki-laki lain, dan marah sampai pergi tanpa kabar berhari-hari, aku terima. Sekarang kamu, marah-marah dan menghina aku tanpa aku tahu salahku dimana? Apa sekarang pun aku aku harus diam? Apa perlu aku minta talak, kepada Dya biar aku sekalian menjauh dari kehidupan kalian? Apa kalian pikir aku bahagia seperti ini? "
Nera berseloroh sambil berderai dan meluapkan unek-uneknya di dalam hati yang selama ini ia pendam.
Mendengar keluhan Nera, Anto perlahan mengurai genggaman kasar ditangan Nera.
Wajah emosi kini membulat seperti tak rela sang kekasih menanggung itu semua.
" Kamu pikir, aku tak stres saat mendengar kamu akan pulang? kau pikir aku wanita rakus? Kau tahu aku merana sendirian dirumah besar orangtua kamu, harus berjauhan dengan suamiku, ditambah bertemu orang yang aku cintai tapi tak bisa bersama. Kau tahu aku merana? kau tahu aku tersiksa, terkadang aku bahagia bisa dekat dengan kamu tapi aku istri abang kamu. Kau pikir aku iblis yang tidak takut dosa? Dan sekarang semua menyalahkan aku? Kalian egois! " Nera terus mengeluarkan unek-unek di dalam hatinya. Anto hanya terdiam mendengarkan lemah.
Anto melepas semua genggamannya pada Nera.
__ADS_1
Nera perlahan berbalik pergi meninggalkan Anto sambil berderai air mata dan mulai melangkah menuju parkiran.
Anto pun perlahan mengikuti langkah Nera penuh rasa penyesalan.
Tak ada kata yang keluar, hanya suara jangkrik dan tonggeret saling sahut-sahutan.
Wajah alam mulai meredup, sambil berjalan Anto menatap punggung Nera penuh rasa bersalah dan penyesalan.
Diri Anto pun sepanjang jalan hanya menyesali tingkah ke kanak-kanakannya terhadap Nera.
Tak pernah terpikir olehnya, selama di rumah Nera merasakan kikuk , terkungkung, tak bebas, dan harus selalu menjaga sikap di depan semua.
Tanpa ada Dya, dan Anto selalu menghantuinya. Terkadang untuk menjaga kehangatan di dalam rumah, Nera harus berkorban perasaan walau sebenarnya dirinya tak pernah nyaman.
Anto menyesali, andai saja dia bisa membuat Nera nyaman atau setidaknya dia tak membuat hal-hal kebodohan, seperti emosi sesaat.
Di dalam mobil,
Nera dan Anto masih saling diam.
Anto yang melihat kaca spion ke arah tempat duduk Nera di bangku belakang, merasa sangat bersalah atas sikapnya tadi.
Yang seolah-olah memojokkan Nera.
Anto memelipirkan mobilnya ke pinggir jalan.
Lalu dia keluar dan mengetuk pintu belakanh mobil pojokan Nera duduk.
Nera membukanya,
" Duduknya di depan" pinta Anto lirih.
__ADS_1
Nera masih terduduk, mengusap air mata yang masih berjatuhan. Nera keluar dan pindah ke depan mengikuti arahan Anto, Nera khawatir kalau dirinya menolak perintah Anto, Anto akan melakukan yang nekad.
Akhirnya mobil melaju.
" Maafin abang, abang lagi cemburu. Abang dapat kabar dari Jhodi , kalau Dito mau pulang. Dia katanya mau melamar kamu dan mau nagih janji kamu, bahwa kamu mau nunggu Dito. Abang kalap, seharusnya abang tadi tanya kamu dulu, hubungan kamu dan Dito apa? " Jelas Anto menanti ampunan Nera.
Nera terkejut dengan alasan Anto memarahi dan menghina dirinya disebabkan laki-laki yang masih sama, ketika suaminya pun memarahinya.
Ternyata adik kakak memang akan selalu menunjukkan kesamaan sifatnya.
Nera menghela nafas panjang, dan mencoba menjelaskan semampu dia.
" Itu Dito, memang dia pernah menanyatakan cinta waktu di SMA dulu, pas perpisahan. Aku enggak pernah bilang ya malah aku nyuruh dia nyari yang lain, tanya saja dia sendiri. Waktu itu jujur, aku masih menunggu abang, walaupun akhirnya tak pernah ada kepastian dari abang. Dan aku enggak pernah menjanjikan apapun. Iskkkk kenapa sih laki-laki itu kalau curhat lebay, melebihi wanita kalau curhat, walau baperan tapi realistis" jelas Nera pada Anto enggak peduli Anto mau percaya atau enggak.
" Ouuhh, kalau gitu aku minta maaf ya, sudah marah-marah enggak jelas sama kamu, aku janji enggak marah-marah lagi deh, aku akan percaya sama kamu" kata Anto masih berharap Nera mau berdamai dengannya.
" Jangan marah ya, kamu maafin aku kan? "
manja Anto sambil menyetir mobil.
Nera terdiam sejenak, tak mengeluarkan kata-kata setelah Anto meminta dirinya untuk memaafkan nya.
Nera saat ini tak akan pernah semudah itu memaafkan Anto atau siapapun saat menuduh dia tanpa meminta penjelasan dulu darinya.
Nera lelah selalu saja menjadi objek kesalahan dari hal-hal yang dia tidak tahu.
Sampai lah dirumah, Nera turun dari mobil dan Anto dengan sigap menghalangi Nera untuk masuk ke rumah.
" Kakak ipar, maafkan kata-kata kasarku, maafkan atas kecemburuan ku, maafkan atas kesalahpahaman ku" Anto masih memelas.
" Sudah malam abang, malu sama umi dan abah, kita pulang hampir isya. Sudahlah kita akhiri drama ini, aku sudah menganggap semua ini berlalu, seperti kesepakatan awal, mari kita bersahabat dan aku akan memulai untuk mencoba bersahat dengan kondisi kita saat ini, biar kita tidak merasa saling menyakiti lagi " pungkas Nera tegas.
__ADS_1
" Nera, aku menyesal, jangan seperti ini, ku mohon! " Anto masih memelas, kebingungan sambil mengacak rambutnya.
bersambung