
Dya membalas sms Nera,
Abang sedang marah.
Abang pun punya alasan kenapa abang tak mau sering-sering menghubungi adek?
Sebagai pembelajaran , menurut kawan-kawan abang, komunikasi lewat hape itu, yang asalnya adem ayem suka tiba-tiba jadi masalah.
Abang tak tahu harus mengutarakan apa baiklah kalau adek maunya seperti itu?
Untuk beberapa hari kedepan abang tidak akan mengaktifkan nomer hape dulu.
Terserah apa mau adek, abang percaya adek cuman lagi sensi , orang sensi pasti pikirannya sudah ditutupi hal-hal negatif, mendekat su'udzon. Karena memang manusia itu tempatnya salah faham?
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Nera , semakin dibakar emosi setelah suaminya menyatakan kalau dirinya akan menonaktifkan hapenya.
Nera, keluar dari kamarnya sambil berderai air mata.
Bapak Nera kebetulan ada di ruang tamu, karena kamar Nera berpinggiran dengan ruang tamu.
"Sini, bapa mau ngobrol dulu !" kata bapa menyuruh Nera duduk.
Dan Nera duduk di kursi berhadap-hadapan.
" Iya pak, ada apa, Neraau berangkat ke kampus?"kata Nera dengan mata sembab.
" Lelaki itu tak mau melihat istrinya sedih, kadang sebisa mungkin suami menutupi masalah-masalahnya oleh dirinya sendiri. Bapa tadi denger dari ibu kalau kamu jarang dibalas sms nya sama suami kamu. Menurut bapa wajar, karena tiap laki-laki memiliki watak yang berbeda-beda.
Kalau Dya, bapak perhatikan dia bukan yang selalu menunjukkan kalau dirinya cinta atau ingin di cap baik. Dya lelaki yang selalu senyap. Bapa mengakui kebaikan Dya.
Setelah beres resepsi, suami kamu ngasih bapa uang Rp.50 juta buat benerin rumah, sekarang bapa baru beli bahan bangunan ini.
Perlu kamu ketahui, Dya selalu kesini dan meminta nasehat dari bapak sama ibu, bagaimana cara membahagiakan kamu, apa yang kamu suka dan apa yang kamu tidak suka. Dia juga sudah bayarin SPP adik-adik kamu sampai akhir tahun pelajaran. Dia juga ngasih uang buat belanja bulanan, katanya nanti kalau butuh apa-apa bilang saja.
Malah suami mu menyuruh bapak supaya berhenti dagang saja di pasar, soalnya dia khawatir kesehatan bapak.
Jangan banyak di curigai suami mah , jangan banyak menuntut ini itu, kalau suami masih mencukupi dan memperlakukan kamu dengan baik.
Tipe laki-laki itu tak sama, ada yang cuek kayak yang enggak cinta, tapi dibalik cuek itu menyimpan kepedulian dan cinta yang besar untuk istrinya. Ada yang romantis, dan menunjukkan cintanya secara terang-terangan.
Ada yang judes dan malah bicaranya datar, tapi dia sangat menjaga pasangannya. Rupa-rupa Nera, apalagi kamu nikah baru hitungan bulan, wajar jika sekarang adalah masa perkenalan yang kadang kala pasti kaget, apalagi kamu boro-boro pacaran, kami yang dulu pacaran dulu , tetep saja habis nikah salah faham nya banyak, bertengkar dan musuhannya sering.
Itu mah wajar, jangan dimasukkan hati. Ini nasehat dari bapa, kalau sudah rumah tangga jangan satu sama lain egonya tinggi, harus ada salah satu yang mau mengalah " nasehat bapak pada Nera.
Nera, menitikkan airmatanya, sekarang Nera merasa bersalah.
Dipikirnya Dya tidak punya adab ketika akan berangkat ke Maroko , tidak izin atau pamitan dulu pada orang tua Nera.
__ADS_1
Tanpa Nera ketahui ketika dirinya masuk kuliah, Dya selalu menyempatkan berkunjung kepada mertuanya itu.
Nera merasa bersalah telah salah sangka, semanis itu Dya di belakang Nera.
Sempat-sempatnya menanyakan hal- hal apa yang Nera suka dan tidak ia sukai?
Nera bergumam dalam hati,
" Kenapa tak menanyakan langsung padaku? aku akan bahagia menjawabnya? "
Sambil berderai air mata Nera mulai melangkah kan kaki pergi ke kampus.
Nera naik angkot.
Di dalam angkot mata nya begitu sembab.
Dia terus memikirkan Dya, ada rasa kangen berkecamuk. Begitu manisnya Dya memperlakukan keluarganya.
Nera pun tak pernah sedikit pun dikasari Dya, hanya saja Dya bukan tipikal banyak bicara, ketika bersama Dya , Nera selalu mendapatkan perlakuan lembut. Tak pernah mengatakan hal-hal jelek atau marah secara frontal.
Di dalam angkot Nera mencoba merenungi sikapnya pada Dya. Dan mencoba merenungi apa kesalahan Dya padanya? Ternyata tak ada. Nera hanya menuntut agar Dya terbuka padanya.
Pov Nera
Bang Dya ,
Kau begitu romantis, menanyakan hal apa saja apa yang aku sukai dan apa yang tidak aku sukai?
Abang, kenapa kau tak bilang apa-apa yang sudah kamu lakukan pada keluarga ku.
Aku malu abang, kejutan apa lagi yang aksn kamu berikan?
Sehingga aku selalu salah sangka padamu.
Tapi bagaimana dengan Sarah, hotel , parfum dan bros itu?
Aku masih marah dan cemburu.
Aku pun masih kecewa karena kamu tak mau terbuka.
Tapi benar kata bapak , pernikahan kita adalah pernikahan dengan jalur ta'aruf satu sama lain tak kenal, dan kamu sudah bersedia menikah denganku pun adalah hal anugrah.
Benar kata bapak, kita masih tahap kenalan satu sama lain, jadi wajar kalau kita belum memahami satu sama lain.
Kata Bapak, kalau pernikahan ini ingin awet, ego satu sama lain harus ada yang mengalah.
Baiklah abang, Nera akan mengalah.
Tapi Nera akan cari jawaban sendiri tentang parfum, bros dan hotel.
__ADS_1
🍫🍫🍫🍫🍫🍫🍫🍫
Pov Author
Sesampai di kampus.
Nera ketemu Astuti,
" Ner, mertua kamu nanyain kamu, wajah nya sedih banget. Katanya kamu enggak bales dan angkat telepon. Sepertinya mertua kamu khawatir sama kamu karena kamu enggak pulang?"
" Wah , serius As?" tanya Nera terkejut , enggak enak hati kepada mertuanya.
" Ish masa aku bohong?, ouh iya kamu di tunggu dikantin, ada Bang Rudi nungguin kamu dari tadi " kata Astuti memberitahukan bahwa sebelum Nera datang ke kampus , Rudi sudah menunggu nya.
" Ada apa ya? " tanya Nera pada Astuti.
Astuti mengangkat kedua bahunya , menyatakan ketidak tahuannya.
Nera pun keluar dari kelas, menemui Rudi ditemani Astuti. Karena kebetulan dosen belum datang.
Sepanjang jalan, Nera berpikir,
" apa ada hubungannya denga pertengkaran dirinya dan suaminya di telepon. Jadi Dya meminta bantuan Rudi untuk mendamaikan kami? haaaah "
Bertemu dengan Rudi.
" Abang mencari saya?" sapa Nera mengejutkan Rudi yang sedang membaca sms dari hape.
" Eh iya, assalamu'alaikum Nera" jawab Rudi ramah.
Nera dan Astuti duduk di bangku kantin.
" Ada apa yang bang, jadi kaget? " tanya Nera penasaran.
" Enggak , saya di minta Dya untuk memperlihatkan kantor cabang travel saya, ke Teteh. Ada ruang khusus buat Dya, nah Dya minta Teteh yang menilainya, kira-kira bagus atau enggak? biar Dya nanti mau diskusikan perihal pekerjaan nya di kantor cabang di Bandung dengan Teteah. Kan biar Teteh tahu, jadi harus diperlihatkan dulu ke Teteh, terus saya menerangkan kerja Dya di kantor cabang aku yang di Bandung. Karena Dya enggak mau, kalau tanpa seizin istrinya, begitu Teh" jelas Rudi memaparkan.
Nera dibuat tersanjung dengan perlakuan Dya padanya kali ini. Nera menelan salivanya terkejut.
" Sepenting itukah, masalah pekerjaan kini dia meminta saran dan nasihatku? Dia bilang , dia enggak mau kalau aku tak izinkan?" Gumam Nera dalam hati.
" Kapan saya kesananya?" tanya Nera antusias.
" Mau hari ini atau hari libur kampus,terserah saya mah ?" jawab Rudi.
" Ya sudah hari libur saja , nanti di kontak saja ya " jawab Nera.
" Maaf ya Bang, saya ada kelas, takut dosen sudah masuk, saya izin pergi duluan" kata Nera sambil berlalu, di ikuti anggukan Rudi menyetujui.
bersambung
__ADS_1