Berjanji Dan Merajut Asa

Berjanji Dan Merajut Asa
56. keceplosan


__ADS_3

" Im, lepasin, kasihan, sakiteun " pinta Yaser pada Boim lirih. Dan Yaser berkata kepada Nisa sejenak,


" tunggu aku nanti dibangku lapang basket yang dekat pohon, kita pulang bareng "


Mendengar Yaser berkata seperti itu, Boim memandang Nisa bingung penuh tanya.


Mereka pun berlalu.


********************


Nisa masih menunggu Yaser yang sedang bermain basket di lapang, karena mereka janji akan pulang bareng.


Yaser menghampiri ke bangku Nisa,


" Akang, kapan selesainya, kesel tahu, aku teh? "


Yaser sebentar lagi,


" akang kalau diperhatiin, kamu teh kaya bang Anto ama bang Dya, ganteng. Tapi sayang kamu mah tak sesoleh mereka " celoteh Nisa dengan logat sundanya.


" Seseorang itu walau ade kakak tetap pasti ada bedanya. Sepeti teh Nera sholihah, berhijab, santun tidak petakilan kaya kamu. Kamu, rambut di ikat ekor kuda, baju kemeja sekolah dibikin pas, bibir pakai lipsglos, menggoda itu teh, bikin laki-laki seneng gangguin kamu " balas Yaser .


" Biarin dari pada akang, jomblo teroooos, enggak pernah pacaran. Minimal kaya bang Anto pernah nyatain cintanya sama teh Nera, isssk gentle dan romantis yah bang Anto itu, tapi sayang kenapa nikahnya sama bang Dya? " ledek Nisa lagi pada Yaser.


" Cari kaca wooy ! emang situ punya pacar apa? Nis, entar bahasan bang Anto pernah ngasih surat cinta ke teh Nera jangan sampai bocor, apalagi sama bang Dya, bisa ada peperangan dunia ke 4. yaah? " Nasehat Yaser sambil berlalu untuk bersiap latihan basket lagi.


Dipojok seperti biasa, ada Tita yang sedari tadi memperhatikan Nisa dan Yaser.


" Kok, tambah deket sih, apa mereka pacaran? " gerutu dalam hati Tita cemburu.


***************


Diparkiran motor, Yaser memberikan jaketnya ke Nisa.


" Nih buat nutupin paha kamu, maaf! " kata Yaser sambil menyodorkan jaketnya.


" kenapa sih, anak-anak kiai Hasan itu pada laki gitu, anak laki-lakinya. Sudah mah pada ganteng, kakak dan adek duuh, gak kuat wataknya itu, ke perempuan ngayomi banget " gerutu hati Nisa takjub pada perhatian Yaser tersebut.


Nisa naik, si dendang bagaimana seorang wanita diboceng naik motor. Awalanya demi menghargai Yaser, Nisa memegang body motor pegangan jok belakang, tapi karena takut jatuh akhirnya Nisa memegang pinggangnya.


Yaser yang merasa kaget tangan Nisa ada dipinggang nya, mencoba menepi jalan dan berhenti.


" Nis, aku minta kamu pegang ke tas gendong aku, maaf aku enggak fokus jika tangan kamu ke pinggang aku " ucap Yaser berharap Nisa memahami.


Nisa pun melepaskan pegangan nya.


Nisa malu kepada Yaser dipikirnya Yaser akan senang. Karena rata-rata pasti nyuruh wanita yang di boncenginya pegangan entah ke pinggang atau memeluk perutnya.


Tapi lagi-lagi tidak untuk anak-anak kiai Hasan.


Setelah turun dari motor dan sampai gerbang rumah kiai Hasan.


Nera memberikan jaket tersebut kepada Yaser lagi.


" Assalamualaikum " kata Yaser memasuki rumahnya.


" Wa'alaikumussalam, eh ada Nisa " sapa umi Syifa

__ADS_1


Nisa mencium tangan Umi Syifa, dia tersenyum.


" Maa syaa Allah ternyata ada yang lebih cantik dari neng Nera ya, jadi mantu umi saja lah " kata Umi Syifa menggoda Nisa.


Yaser mendengar celotehan ibunya tersenyum malu.


Nisa tersenyum, mengerlingkan mata ke arah Anto yang sedang duduk membaca koran.


Nera turun dari kamarnya,


" Eh, kamu Nis, tumben? " sapa Nera pada Nisa.


" Kata kang Yaser, teteh kena air panas, gimana air panas nya enggak apa-apa? " goda Nisa pada kakaknya.


" Ck, biasa saja kali, air panas nya dipakai buat sop, teteh aman! puas? " jawab Nera sebal.


" Teteh, lagi packing-packing buat bang Dya berangkat hari minggu ya?, kok sibuk apa sih teh? " tanya Nisa.


" Iya, besok bang Dya berangkat " jawab Nera lirih.


Tiba-tiba Umi Syifa sedikit nada berteriak,


" Anto, buat besok kamu sudah dipersiapkan nak, penerbangan pukul berapa kamu? "


Anto menyahut teriakan umi nya, sambil meghampiri,


" Ada apa umi ? Anto sudah dari kemarin persiapan dan beres-beresnya "


" Bang Anto, mau pergi kemana? " tanya Nisa sok kenal dekat.


" Mau ke Mesir"


" Kok sedih yah bang, denger bang Anto mau ke Mesir, sakit gitu di hati. Pantesan teh Nera nangis pas bang Anto pergi tanpa kabar, tahu-tahu teh Astuti ngasih kabar kalau bang Anto ke Mesir " celetuk Nisa di depan Anto , Umi Syifa dan Nera.


" Tahu enggak sih bang, keluar kamar teh Nera matanya bengkak? kerjaannya nangisin abang, tahu? " lanjut Nisa tanpa wajah berdosa.


Nera dan Anto menelan salivanya masing-masing. Sama- sama tak menyangka bahwa Nisa hapal betul dengan kisah asmara mereka berdua.


Umi Syifa menyimpan tangan kanan dimulutnya, terkejut dan kaget. Itu yang dirasakan mertua Nera tersebut.


Umi Syifa memandangi wajah anak dan menantunya bergantian.


Umi Syifa menggenggam tangan Anto dan mengajaknya kesuatu tempat.


Saat Umi Syifa dan Anto berlalu, Nera menghampiri Nisa dan menjitak kepala adiknya itu.


" Dek, kenapa sih mulutnya lemes banget? teteh malu tahu?" gerutu Nera pada Nisa.


" Iiih teteh, maaf Nisa keceplosan, Nisa kira Umi Syifa tahu, kalau teteh sama bang Anto pernah pacaran?" seloroh Nisa lagi.


" Pacaran apa sih, Dek? Ah tambah ngaco! " dengus Nera berlalu ke dapur dan di ikuti Nisa.


**********************


Umi Syifa berdiri di depan Anto yang tertunduk.


" Le, coba jelasken ke Umi, benar kah apa yang disampaikan Nisa tadi, kalau kamu sama mbak mu iku pernah saling suka satu sama lain, to le? "

__ADS_1


" Iya mi " jawab Anto tertunduk.


" Sejak kapan? " tanya Umi lagi.


" Sejak kelas 3 SMA, mi " jawab Anto lagi lirih.


" Sampai kapan? " Tanya Umi Syifa lagi.


" Sampai Dya menghitbah dan menjadikan Nera istrinya " jawab Anto bergetar suaranya.


Umi Syifa lagi-lagi terbelalak dengan ucapan Anto, dia terkejut dan sedih.


" Sejauh mana kalian pacaran? " tanya lagi Umi Syifa matanya mulai berkaca-kaca.


" Hanya lewat surat dan bertemu sejenak, dan setelah itu hanya janji untuk setia dan menggapai asa satu sama lain, untuk membuat orang tua kita bangga. Itu saja mi, tak lebih " jawab Anto mulai bergetar dan sedikit tercekat sendu.


" Siapa saja yang tahu, kalian suka satu sama lain selain kalian berdua? " tanya Umi Syifa lembut mulai sedikit terisak.


" Teh Maryam dan Yaser " jawab Anto dengan nada berat.


" Astagfirullah " Kata Umi Syifa sembari memeluk anaknya itu.


Umi Syifa memeluk anak bujang nya yang tinggi kekar, tak kuasa ia berderai air mata.


Umi Syifa sangat merasa bersalah sekali pada Anto.


Begitu teganya dia menyakiti hati anaknya.


Umi Syifa beberapa kali mengucapkan kata " maaf " pada anak bujangnya itu.


Dia tahu pasti, rasanya apa yang dirasakan anaknya tersebut.


Dia terluka tapi tak terucap, dia ingin berontak pada orang tuanya, tapi anak nya tak mungkin melakukan nya.


Apa rasanya, melihat yang dicintainya dan di damba nya itu di depan matanya harus beromantis ria dengan orang lain, dan ini kakaknya sendiri?


Sakit tapi tak berdarah, itu mungkin yang anaknya rasakan saat itu.


Anto pun menyapu deraian air mata, yang tak bisa lagi merubah keadaan.


" Umi, sudahlah, ini adalah taqdir. Do'akan Anto kelak mendapatkan wanita yang paling terbaik, berjodoh dengan Anto. Siapa pun itu! " gumam Anto memeluk ibunya mencoba menenangkan.


**********************


Hallo reader


jangan lupa like, koment dan vote ya..


ayo jarinya tinggal klik tanda jempol, komen dan krisannya..


itu yang bikin aku semangat up tiap hari..


makasih yaa untuk semua. atas partisipasinya..


love u all..


jazakumullah khairan katsiir

__ADS_1


__ADS_2