
Annisa membelalakan bola matanya.
Dibalik tirai kaca, yang disibaki.
Seorang laki-laki tampan menekan bel rumahnya.
pov Annisa
Ada ya, manusia setampan itu?
Ibu, bapaknya makan apa?
Wajah bak pangeran-pangeran di negri dongeng. Tubuh atletis tinggi-tinggi, muka sudah kaya artis-artis di tv. Adam jordan dan Primus Yustisio lewat.
Kok bisa ya, kakak adek pada ganteng?
Teh Nera sudah dapat bang Dya, bisa enggak sih nawar adek nya buat aku?
*************
pov Author
Nera mempersilahkan masuk, dan membuka pintu.
Anto tersenyum ramah pada Annisa.
Senyuman Anto membuyarkan konsentrasi Annisa, menurutnya senyuman Anto manis, dan membuatnya deg-degan.
" Assalamualaikum Annisa, bang Dyanya ada? " Sapa Anto ramah.
" Eh, wa'alaikumussalam, aaaa... ada abang, masuk! " jawab Annisa terbata.
" Yas, keluar dong! maen hape mulu, maen ular-ularan ya? " ajak Anto pada Yaser.
Keluar Yaser dari balik dinding luar garasi Annisa, sambil memasukkan hapenya ke saku celananya.
" Eh, Nisa. Assalamualaikum " sapa Yaser pada Annisa.
Annisa kembali melotot, ternyata ada kakak kelasnya yang sangat populer.
Bagaimana tidak populer, Yaser adalah senior paskibra dan atlet taekwondo di sekolahnya. Sebentar lagi Yaser akan serah terima jabatan sebagai ketua OSIS. Karena akan fokus ke EBTANAS.
Banyak teman dan kakak kelasnya yang ngefans sama Yaser.
Malah disekolah ada adik kelas dan teman sekelas di labrak sama kakak kelas. Akibat ketahuan nulis dan kirim surat cinta sama Yaser.
Tapi enggak pernah dengar sih kalau Yaser punya pacar apalagi pacaran.
Makanya pada ngantri kepingin dapatin hatinya Yaser.
Annisa memang suka, sebatas suka saja karena dia sadar, saingan nya adalah kakak kelas nya yang cantik-cantik, kaya-kaya dan yang pasti takut dilabrak.
Apa kabar, kalau semua orang tahu kalau Yaser ke rumah Annisa ?
Pasti, kakak kelasnya akan melabraknya disekolah.
Annisa mempersilakan masuk Yaser dan Anto.
__ADS_1
Yaser bersitatap dengan Annisa, dan Yaser salah tingkah.
Hahahaha , Yaser semakin berkeringat dan menelan ludahnya saat kebetulan tatapan saling searah pada diri masing-masing.
Sampai Yaser, mau menduduki paha Anto yang telah lebih dulu duduk.
" Woyy, lihat dong! " Cegah Anto pada Yaser yang akan mendudukinya.
Annisa berlalu ke dapur, sambil menertawakan kelakuan Yaser.
" Maaf, bang. Enggak sengaja. Aku nervous bang, seperti yang enggak pernah saja lah abang ini" kata Yaser membela diri.
" Nervous sih nervous, tapi fokus juga kali" Kata Anto sambil menoyor kepala adiknya itu.
" Iya bang. Bang dulu pantes saja abang cinta mati sama teh Nera. Adek nya saja, bikin aku kembang kempis, bang. Maa syaa Allah nih turunan-turunan bidadari apa ya? " jelas Yaser memuji.
" Sssssst, awas lo ya kalau bawel " kata Anto mengancam.
Tiba-tiba Dya datang dengan Nera, dan mereka menyapa adik-adiknya.
Dya sambil menggenggam tangan Nera, dan duduk bergelendot pada Nera.
" Sudah lah bang, Yaser kan di bawah umur, jomblo lagi. Skip dulu napa? " celetuk Yaser.
Dya ketawa, " nikah makanya, enak lo, Ser !"
goda nya.
Tanpa sepengetahuan Dya, Anto diam-diam menatap Nera. Sesekali Nera pun bersitatap dengan Anto, Anto hanya tersenyum simpul ,menandakan dia senang melihat Nera.
Nera membalas senyum simpul Anto pula, di saat suaminya lagi menggoda Yaser.
" Iya sayang " jawab Dya masih bercanda dengan Yaser.
Nera berlalu menuju dapur.
Anto, berseloroh meminta izin ke kamar mandi.
" Bang, mau izin ikut ke kamar mandi dong, dimana ?"
" Itu di dapur, nanti tanyain saja sama Nera ya " jawab Dya masih fokus bercanda dengam Yaser.
Anto berjalan menuju dapur, Nera kira yang mengikutinya di belakang adalah Dya.
Lalu Nera, tanpa melihat ke belakang menyentuh tangan Anto dan menggenggam nya. Tanpa sadar Nera menuntunnya ke dapur.
Anto tak menolak ataupun bersuara, dia membiarkan Nera menggenggam tangannya sampai ke dapur.
Setelah sampai di dapur, Nera berbalik.
Nera terkejut, tangan yang sedari tadi dipegangnya bukan tangannya Dya, melainkan tangan Anto.
Dengan sigap Nera melepas genggannya.
" Astagfirullah "
Anto terkikih melihat wajah terkejut Nera.
__ADS_1
" Abang, kenapa enggak ngomong atau lepas ke genggaman Nera? " kata Nera emosi namun masih berbicara pelan.
" Kapan lagi, aku bisa bergandengan tangan dengan kamu coba? " jawab Dya senyum tengil.
" Abang mah, jangan gitu lagi! " pinta Nera.
" Aku mah tidak melakukan apa-apa, kan kamu yang duluan? " jawab Anto menyalahkan.
" Sehat ? Seminggu enggak lihat kamu, aku kangen. Syukurlah ternyata kamu lagi bahagia dan ceria. Iri lihatnya, apalagi di leher Dya banyak sekali cap ciuman nakal kamu" kata Anto.
" Ouh ya, kamar mandi sebelah mana, sayang? " tanya Anto menggoda Nera.
Nera menatap lemah pada Anto tak berdaya sambil menunjuk arah kamar mandi.
" Hahahah, tatapan menyebalkan, iya teh Nera, tapi pake sayang " kata Anto sambil tertawa. Dan berlalu masuk ke kamar mandi.
************
" Bang Dya kemana teh? " tanya Annisa pada Nera.
" Ikut sama adik-adiknya, uminya lagi kangen sama bang Dya. Apalagi seminggu lagi bang Dya berangkat ke Maroko, kayaknya mereka mau jalan-jalan dulu. Khusus anak-anaknya Umi dan abah" jawab Nera.
" Kan teteh juga istrinya, menantu gitu, masa enggak di aajak sih? " tanya Annisa.
" Kan mereka juga punya privasi keluarga juga dong, Nis. Enggak bisa gitu. Biarkan bang Dya bersama dengan ibu dan saudra-saudaranya dulu. Kita istri enggak melulu harus selalu saja nempel, apalagi umi itu mertua the best deh, lagian sudah habit umi, suka ngajak diner anak-anaknya supaya bisa curhat dari hati ke hati antara anak yang satu dengan anak yang lainnya. Kalau ada istri atau ada suami dari anak-anaknya, yaa bagaimana mereka mau curhat. Itu strategi umi supaya anak-anaknya selalu dekat dan akur" jelas Nera pada Annisa.
" Ouh" Angguk Annisa.
" Teh, boleh nanga enggak? " tanya Annisa pada Nera.
" Apa? " jawabnya.
" Bang Anto, sudah punya calon belum ya? " tanya Annisa pada Nera.
Nera langsung terkejut dan memasang muka masam pada adiknya. Tiba-tiba Nera menjawab dengan intonasi orang lagi marah.
" Emang, kalau belum punya calon, kamu mau ngapain? "
" Anak kecil, belajar sana, sekolah yang bener! " jawabnya dengan ketus.
" Sana-sana keluar, teteh mau tidur! " kata Nera lagi-lagi dia ketus.
" Isk, cuman nanya juga, emang enggak boleh, diiih teteh mah pelit, dasar! " jawab Annisa sebal sambil berlalu meninggalkan kamar Nera.
Pov Annisa
Gitu saja marah, emang dia saja yang harus dapet yang ganteng?
Apa bang Anto itu lebih tampan dari bamg Dya. Jadi si teteh marah, dianggap si teteh aku saingan gitu?
Isk, bang Anto ganteng banget siiih.
kayaknya aku naksir.
Tapi aku tahu sih, keluarga anak kiai Hasan enggak akan pacaran.
Datang saja gitu ke umi Syifa, daftad jadi calon istri bang Anto?
__ADS_1
bersambung