
Di dalam taxi , Nera masih menatap Nanar situasi.
Nera melamun jauh tentang pertama kali dia jatuh cinta.
Mengingat wajah Anto, mengucapkan rasa sukanya pada Nera.
Ada tatapan sembari tersenyum ke arahnya, Nera masih terpaku dan muncul rasa bersalah besar dalam dirinya.
Nera mengusap tangisnya, kalau masih saja Nera harus menunggu, kenapa tak sekalian saja dirinya menunggu kepulangan Anto dan menggapai cintanya.
Pov Nera
Seandainya kemarin aku menolak Dya, aku tak akan terjebak dalam pernikahan ini.
Oh, Nera.
Pikirkan apa saja kebaikan Dya padamu?
Hitunglah semua kebaikannya..
Kamu tak pernah sebodoh ini.
" Aku tak akan pulang, aku belum sanggup bertemu dengan Dya dan segala penjelasannya. Apalagi pengakuannya, aku akan mempersiapkan diri" keluh dalam hatinya.
Nera, mengambil hapenya.
Dan dilihatnya notif sms dan telepon yang tak masuk. Dan Nera tak bergeming dengan semua itu.
Ada nama Dya dan Anto.
Nera sudah tak peduli.
Nera memberikan sms pada Nisa.
" Jangan cari teteh, bilangin ke ibu dan bapa. Teteh ada di rumah teman. Cuman jangan bilang pada bang Dya atau Anto apalagi Yaser. Teteh baik-baik saja. Ibu dan bapa tenang saja. Teteh ingin , menenangkan diri dulu. Kalau nanti Teteh sudah tenang. Teteh pulang. Teteh akan ganti nomer. Jangan hubungi nomer ini lagi ya!"
〰️〰️〰️〰️
Hari berganti hari.
Umi Syifa sudah ada dirumah, Umi Syifa masih belum tahu kejadiam antara Nera dan Dya.
Umi hanya tahu Nera sedang ada tugas kampus keluar kota.
Dan disana tak ada sinyal.
Dya masih mengamati handphonenya. Berharap Nera menghubunginya.
Dya semakim gusar, ada rindu, ada penyesalan dan bersalah.
Dikamar, Anto masih berjibaku telepon sana dan sini . Mencari informasi tentang Nera.
Anto terkadang lupa makan, sampai izin untuk tidak hadir di kelas perkuliahannya.
〰️〰️〰️〰️〰️
Sekarang hari ke lima Nera belum pulang semenjak penamparan Nera oleh Dya di bandara.
Anto sama sekali tak menyapa Abangnya itu saat sudah sampai dirumah.
Dya, sesekali menyapa Anto.
Namun Anto hanya menjawab ketus dan memberikan ekspresi dengan wajah menekuk.
Yaser, menanyakan keberadaan Nera beberapa hari ini yang tak kunjung terlihat.
Dya, meminta Yaser untuk tak banyak cerita pada Umi mereka. Karena khawatir Umi kepikiran kasus Dya dan Nera.
Sepulang dari bandara, Dya pikir Nera pulang ke rumah orangtuanya.
Namun Dya tak menemukan Nera disana.
Hanya saja Bapak dan ibu Nera sudah menyampaikan jangan khawatir.
Nera hanya butuh waktu untuk menenangkan pikirannya.
Dya menjelaskan duduk permasalahannya, Dya sudah meminta maaf dan mengakui kesalahannya.
Dya, duduk lama dengan kedua mertuanya.
__ADS_1
Pak Edo hanya mengangguk-angguk seperti memahami apa yang dijelaskan Dya.
Bu Siwi hanya terisak dan sesekali mengatakan minta maaf pada Dya.
Pak Edo, memohon Dya untuk bersabar dan memaklumi Nera pada Dya.
Bagaimana bisa seorang istri pergi dari rumah tanpa ridho suaminya?
Tapi, Bu Siwi meminta agar Dya bisa menjelaskan masalah ini dengan kepala dingin. Dan memohon semua ini bisa menjadi pengalaman dan pembelajaran dalam rumah tangga mereka.
〰️〰️〰️〰️〰️
Anto mendatangi rumah Jhodi.
" Lesu amat sih ,To?" tanya Jhodi.
" Lagi nyari Nera, hampir mau seminggu dia pergi, dan entah dia pergi kemana? Gua lagi khawatir akut" jawab Anto lirih dan tak bersemangat.
" Pergi ama lakinya kali?" jawab Jhodi.
" Habis di gampar ama abang gua" jawab Anto.
" Wooooow, wanita semanis Nera di gampar? salah apa dia, kok denger nya gua emosi , To!" keluh Jhodi kesal.
" Gua juga, kesal. Kalau ada apa-apa sama Nera, awas saja tuh " jawab Anto emosi.
" Hemmmh, Nera itu cantik, manis, ceria. Aaaaah pokoknya dia ferfect deh untuk jadi seorang ibu dan istri. Kalau dia dulu kaga deket sama Elu nih, tadinya mau gua ajakin kawin. Tapi gua ngalah, demi Lu. Ehh tahu sama Elu kaga jadi kawin, suah Gua hantam duluan deh ah " kata Jhodi kesal.
" Tahu, enggak Dhito juga masih naksir Nera. Dia jadi TKI pengen nyari uang buat Nera, biar enggak kekurangan apapun? Noh , di daerahnya ada rumah yang baru dibangun, lumayan luas, dan ternyata rumah si Dhito. Dulu ya, si Dhito curhat, pengen nikahin si Nera. Nera itu idaman laki-laki, To. Pacaran kaga, cantik iya, sederhana, ceria, ngajar anak-anak. Emmhh sering dah gua mimpiin dia ampe basah " seloroh Jhodi.
Mendengar ocehan Jhodi tentang Nera sampai mimpiin Nera sampai basah.
Anto melotot ke arah Jhodi.
" Untung masih alam mimpi, alam nyata habis lu Jhod!" gertak Anto sambil melotot.
" Kira-kira kamu tahu enggak , Nera pergi kemana?" kesal Anto putus asa.
Jhodi menggelengkan kepalanya.
〰️〰️〰️〰️〰️〰️
" Dya, Nera sudah dijenguk belum? Umi kangen Nera . Mudah-mudahan sehat terus. " tanya Umi Syifa di meja makan.
Anto baru pulang. Dan langsung naik ke atas , ke kamarnya.
" Anto, enggak makan dulu kamu nak? " tanya Ibu dengan sedikit suaranya dikeraskan.
Anto berhenti sejenak, " Enggak Mi, maaf tadi habis dari rumah Jhodi, sudah makan Mi , Anto permisi tidur duluan, ngantuk ya Mi, Bah, dan semuanya" Anto pun berlalu.
" Dya, nasinya tambahin. Dari kemarin Umi lihat wajahmu itu putih atau pucat , Dya ? kok ibu khawatir" seloroh Umi Syifa.
" Dya baik-baik saja Mi. Mi , Bah, Dya izin ke atas ya, Dya serasa sudah ngantuk banget. Pengen rebahan" seloroh Dya.
〰️〰️〰️〰️〰️〰️
Tok..tok..tok..
Suata pintu Anto diketuk.
Anto membuka pintu,
" Abang ? masuk bang !" ajak Anto dikamarnya.
" Enggak Abang cuman mau ngasih buku harian kamu, ini ada di meja rias Nera " Dya memberikan diari itu pada Anto. Dya melengos.
Deg...
Anto merasakan tidak enak.
Anto menyimpannya dan kemudian keluar dari kamar mengejar abangnya
" Bang , Anto bisa jelasin" Anto mengikuti langkah abangnya.
" Jelasin apa?" jawab Dya datar.
" Aku dan teteh " lirih Anto mengiba.
" Abang tak peduli" jawab Dya dingin.
__ADS_1
" Abang, Nera tidak bersalah " lirih Anto lagi.
Dya masih menghadap kedepan dan tak mau berbalik badan ke arah adiknya.
Wajah Dya sudah merah padam, menahan amarah. Namun Dya masih sanggup menahannya.
" Menikahlah, biar kau tidak terobsesi pada istri abangmu. Nera istriku, dan jika aku mati ku persilahkan kau menikahinya" jawab Dia dingin , masuk ke kamarnya dan menutup kamarnya.
Anto mematung di depan pintu kamar Abangnya.
〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️
Pov Dya.
Aku masih menunggu dirimu.
Aku merindukan mu.
Kenapa kau tak percaya padaku?
Kenapa ada buku diari itu dikamar kita?
Sebusuk apa aku dipikiranmu?
Kenapa kau meragukan kesetiaanku?
Kenapa kau tak menanyakannya padaku?
Ku meminta kau bertanya langsung padaku?
Kenapa kau berpikiran berlebih dengan kesetiaanku?
Nera , aku sakit melihat diari itu.
Nera , aku bukan laki-laki seromantis itu.
Yang bisa menunjukkan sisi lembut yang kamu mau.
Aku masih belajar dan aku akan berusaha mencintaimu sebisa aku.
Dimana kamu sayang?
〰️〰️〰️〰️〰️
Pov Author
Anto mengetuk pintu kamar lagi Abangnya.
Keluarga kiayi Hasan tak mungkin anak-anaknya saling marahan.
Karena mereka terbiasa akur, jadi ketika mereka marahan. Maka diantara mereka harus ada yang mengalah meminta maaf
Dya membuka pintu kamarnya,
" Ada apa?" tanya Dya.
" Saya ingin ngobrol " jawab Anto.
" Terkait Nera"
Dya dan Anto berunding dan berbicara antara dua laki dewasa.
Mereka bukan tipikal adu jotos antar saudara tapi lebih ke ngobrol santai.
" Apa, Yaser, Umi dan Teh Maryam? Bahas pernikahan perkara Sarah ingin jadi istri ke dua?" kata Dya terkejut, saat Anto coba menjelaskan mengapa Nera begitu marah pada Dya.
Dya men sms Yaser supaya ngumpul dengan mereka berdua.
Yaser pun akhirnya turun dan kumpul dengan abang-abangnya.
Yaser terkejut, kalau Teh Nera ternyata telah mendengar obrolan tentang Abangnya, dengan Umi Syifa.
" Astagfirullah, pantes saja dia begitu cemburu dengan Sarah" gerutu hati Dya bersedih.
" Aku harus nyari kemana?" tanya Dya tak bergeming.
bersambung...
〰️〰️〰️〰️
__ADS_1
Jangan lupa like, koment, dan jangan lupa vote. Terima kasih.