
Malam.
Sambil makan malam.
Kiai Hasan memulai obrolan.
" Nera, besok kamu bisa lihat rumahnya. Abah sudah bayar, tempatnya bagus. Masih wilayah perumahan sini, ada orang Jerman buat rumah, view nya bagus, arsitektur nya ciamik, cukup berkelas. Rumahnya hanya 10 tumbak, cukup besar, sedang tanah nya sama bangunan total setengah hektar. Bisa buat dijadikan kebun atau apalah. Dia enggak jadi menempatinya karena dia harus pindah tugas lagi di Jerman. Tadinya mau buat istrinya tinggal disini, tapi ternyata istrinya mau ikut juga. Nanti kalau mau beli mobil minta antar Anto. Sekalian cari tempat kursus nyetir mobil"
" Terimakasih Abah, Nera jadi enggak enak. Maaf, sudah merepotkan" Ucap Nera semangat dan terharu.
" Nanti, Umi dan Abah. Idam juga boleh main kesana ya Teh?" tanya Idam menyahut.
" Boleh dong, Dam. Kenapa enggak?" jawab Nera .
Suara isak tangis Umi terdengar.
" Kenapa Umi?" tanya Nera.
" Umi bakalan kangen, padahal Umi mah enggak apa-apa kamu tinggal disini juga. Dia anak Umi, kamu sudah jadi anak Umi juga. Walau nanti kamu nikah sama orang lain, kamu masih tetap menantu Umi dan Abah, karena gak ada hukumnya bekas menantu atau bekas mertua. Pada hakikatnya silahturahmi dengan mertua itu harus terjaga, entah budaya atau apa, terkesan menantu dan mertua itu bisa jadi mantan, padahal hakikatnya endak?" jawab Umi sambil menangis.
Nera berdiri dari tempat duduknya, dan menghampiri mertuanya, kemudian memeluknya.
" Umi sayaaaang " ucap Nera.
Melihat keromantisan yang diperlihatkan Nera dan Umi Syifa , Laras merasa cemburu.
Selama dia disini, Mertuanya tak seakrab ke Nera. Tidak semanis ke Nera.
Dengan dirinya, Umi Syifa hanya sekedarnya, dan ngobrol seperlunya.
" Sama Nera bisa seakrab ini? ahh aku juga harus kaya Teh Nera supaya Umi Syifa pun sayang sama Aku" gumam Laras.
" Kenapa harus pindah, rumah sebesar ini sayang kalau ditinggalkan ?" ucap Anto.
" Ada baiknya Nera memisahkan diri, ada hak waris Nera dari Dya. Daripada uangnya bingung mau dipakai apa? setidaknya dia selama menikahi Nera, Nera sudah dicukupi haknya, dari sandang, pangan dan papan. Yang kedua, memang untuk menjauhi fitnah, Nera harus menjauh dari bukan makhramnya. Yang ketiga hukum budaya, belum terbiasa menantu yang suaminya meninggal , rata-rata akan meninggalkan rumah mertuanya. Sudah menjadi budayanya seperti itu. Tapi, Abah pun khawatir kalau kamu tinggal sendirian, tapi kamu bisa ajak teman atau saudara kamu untuk menginap. Biar tidak sendiri. Ngajar pun, nanti akan semakin dekat ke madrasah" jelas kiai Hasan.
Wajah Anto kini, sudah menekuk, menyiratkan kekecewaan sekaligus kehilangan lagi untuk kesekian kalinya.
〰️〰️〰️〰️
" Iya , wa'alaikumussalam As?"
"..... ......."
" Malam ini, sudah malam atuh ?"
" ............"
" Baiklah , apa sih yang enggak buat kamu ?"
" ........"
" wa'alaikumussalam"
Nera menghampiri Umi Syifa.
" Umi, Nera mau keluar dulu sebentar. Di depan kan ada angkringan makanan, Soerabi dan bandrek. Nera di ajak Astuti buat malam mingguan nemenin dia jajan. Katanya jenuh, hihihi" Nera meminta izin sama mertuanya itu.
" Boleh, asal jangan pulang kelamaan, cuman satu jam saja, maksimal jam sembilan malam ya. Enggak baik anak perempuan keluyuran" jawab Umi Syifa.
Laras pun mendengar Nera mau main, Laras naik ke atas , ke kamar lagi.
__ADS_1
" Abang, aku ingin malam mingguan. Ke angkringan. Ada tempat surabi sama bandrek. Teh Nera mau kesana. Yuk Bang, aku kan jarang diajak malam mingguan sambil jalan-jalan sama Abang. Abang juga setiap hari sibuk kuliah sama kerja. Yah, Bang?"
" Iyah, Abang mandi dulu ya , Ras " jawab Anto lirih.
〰️〰️〰️〰️
" Astuti.." sapa Nera sudah sampai ditempat angkringan.
" Lamaaa, ih. Ngapain saja. Aku sudah disebut pacaran sama kakak aku" jawab Astuti .
" Kakak yang mana?" tanya Nera.
" Itu Kak Dimas. Yang dulu suka aku ceritain yang satu teman sepondok sama Bang Dya, yang satu yang kerja di pelayaran" jawab Astuti.
" Oooh ,yang lagi cari calon istri itu ya?" tanya Nera polos.
Tiba-tiba Dimas datang.
" Sudah Kak, ke toiletnya?" tanya Astuti.
" Kenalkan Kak, ini Nera. Istri Almarhum Bang Dya" ucap Astuti memperkenalkan Nera.
Dimas menyodorkan tangannya, Nera bersidekapkan tangannya di dada.
" Nera!" ucap Nera menundukkan pandangan.
Meja angkringan itu cukup panjang Nera duduk di sebelah kanan Astuti sedang Dimas berhadapan dengan mereka berdua. Mereka duduk di meja bagian ujung.
Di sebrang jalan sana ada angkringan makanan lain. Di sebrang jalan itu menjual makanan khas Sunda, tapi masih bertema angkringan.
Karena di jalan perkotaan kota Bandung, jalan-jalan itu , jika malam berubah menjadi tempat jajan anak muda yang sedang bermalam minggu.
Ditempat sate Anto melihat Nera dan Astuti. Tapi entah siapa laki-laki yang duduk membelakangi jalan itu?
Disebrang sana , Nera tampak bercengkrama dengan laki-laki tersebut.
Terkadang Nera tersenyum simpul malu-malu pada lelaki itu.
Darah Anto naik, penuh emosi.
Laras sedang asyik makan bala-bala ( gorengan khas Bandung ) sambil menunggu sate pesanannya matang.
" Abang , gorengannya enak! mau enggak ?" kata Laras menawari.
" Enggak, sok kamu saja. Abang masih kenyang" lirih Anto masih memandang ke arah angkringan dimana Nera dan Astuti duduk.
" Lihat apa sih, Bang. Khuyu amat?" tanya Laras sambil ikut mencari tahu, sebetulnya apa yang dilihat oleh suaminya itu?
" Kalau sudah mateng, kita pulang. Abang pusing !" ucap Anto dengan Nada sedikit kesal.
" Abang, sakit? iyah atuh, kita pulang saja!" ucap Laras berat , karena semakin malam ternyata semakin ramai. Tapi apa boleh buat, suaminya meminta pulang.
Anto pulang dengan muka masam, Umi melihatnya curiga ada sesuatu.
Anto terlebih dulu masuk kamar, sedang Laras dia pergi ke dapur untuk menuangkan satenya ke dalam piring.
Umi menghampiri Laras.
" Laras, Anto kenapa?"
" Oooh, bang Anto pusing katanya. Umi sini makan sate sama Laras!" ajak Laras pada Umi Syifa.
__ADS_1
" Watur nuhun, tapi Umi sudah kenyang. Yo wes tak tinggal , yo ndok" ujar umi Syifa sambil berlalu.
Setelah kenyang Laras pun naik ke atas, Laras ke kamar mandi untuk mensikat gigi. Namun setelah Laras keluar dari kamar mandi Laras tak menemukan Anto di kamar.
〰️〰️〰️〰️
Nera sudah sampai di gerbang, Anto sedang berjega di depan pintu rumah.
" Sudah dari mana, Teh?" tanya Anto mengagetkan Nera.
" Astagfirullah, kaget aku Bang Anto. Habis makan-makan di angkringan sama Astuti" jawab Nera sambil tersenyum.
" Ingat! Teteh itu janda, jadi jangan tebar pesona kesana kemari. Diam saja di rumah. Lagian sudah malam masih keluyuran!" kata Anto dengan Nada kesal.
" Apa sih, Bang? Nera juga sudah bilang ke Umi, dan Umi mengizinkan. Lagian Nera pulang enggak lebih dari jam sembilan. Maaf, Nera mau masuk?" jawab Nera sambil mengerutkan dahinya kesal.
" Lain kali, jangan cengengesan sama laki-laki lain, malam-malam lagi. Jelek!" kata Anto sambil memangkukan kedua tangannya di dada.
" Apaan sih Abang, kok sewot banget? awas Nera mau masuk! " Nera semakin di buat kesal dengan ulah Anto.
" Masa iddah kamu belum selesai, sudah cengengesan dan janjian sama laki-laki. Kegatelan itu namanya" ucap Anto tanpa pikir panjang dengan apa yang diucapkannya karena sudah diliputi cemburu.
" Apa, Bang? Nera kegatelan? sok Bang, ucapin lagi kalau Nera kegatelan? awas aku mau masuk!" ucap Nera sambil mendorong tubuh kekar Anto. Tapi Anto tetap tak bergeming di masih berdiri mengahalangi pintu.
Nera terduduk sambil menangis dilantai.
" Abang , atuh malu. Nanti Umi melihat apalagi Laras, aku enggak enak. Abang, awas Nera mau masuk!" pinta Nera sambil terisak.
" Aku , benci melihat seorang janda jalan-jalan malam-malam!" ucap Anto lagi geram.
" AKU SUDAH BILANG, AKU SUDAH IZIN UMI. Abaaang , buka!" Nera naik pitam.
Pintu itu di buka oleh Laras.
Nerapun masuk, dengan terisak, dia berlari menuju kamarnya. Lupa tanpa mengucapkan apa-apa pada Laras.
Anto dengan muka masamnya pun naik ke kamarnya.
Dia langsung menjatuhkan tubuhnya ke kasur.
Laras, dengan cablaknya
" hak Abang , ke Teh Nera apa? Memang benar kok Teh Nera sudah bilang minta izin ke Umi. Dan Umi mengizinkan.
Apa salah, Teh Nera ingin pergi sama temannya. Teh Nera sudah dewasa kali Bang, bukan remaja, yang harus di awasi?"
" Sudah tidur, enggak usah ngomong kalau enggak tahu apa-apa!" ucap Anto kesal sambil terpejam.
bersambung
〰️〰️〰️〰️
Jangan lupa dahulukan dulu klik love, like, koment dan vote.
15 episode terakhir.
Semoga tidak jenuh membacanya..
trima kasih readers..
love u all
__ADS_1