
" Yu makan - makan bareng teman, yang penting jangan berdua-duaan " ajak Nera mengalah pada Anto.
" Kita juga enggak akan ngapa-ngapain, cuman makan. Aku ngajak yang lain itu, bukan hanya sudah kangen sama kamu saja, tapi pada teman - teman disini juga. weeee " ledek Anto menjulurkan lidahnya pada Nera.
" Jahatnya..... " gerutu Nera ditinggalkan Anto.
****
Ditempat batagor gojali yang mashyur itu, kita makan di meja panjang berhadap - hadapan, terdiri dari sahabat latihan kami 30 orang.
Anto duduk bersebelahan dengan Jhodi disebelah kiri, Rangga dan Yaser disebelah kanannya.
Sedang Nera, Winda, Indah duduk berhadapan dengan mereka.
" Ner, gimana kabar Dito di negri Arab? " tanya Jhody penasaran.
Nera tersedak mendengar pertanyaab Jhody pada dirinya tiba - tiba menanyakan Dito.
" Kok, ke aku si bang? ya mana tahu? " tolak Nera kesal.
" Sebagai calon istri, masa Dito enggak ngabarin sih? " goda Jhody pada Nera.
" Oh, bu ustadzah,sudah mulai nakal ya? sudah punya calon imam " sahut Anto kesal sambil memasukkan batagor ke mulutnya.
__ADS_1
" Apaan sih, enggak lucu ah. Orang temen biasa juga. Calon istri itu nih ya Nera kasih tahu, dia itu datangin orang tua Nera, tanya Nera mau atau tidak, terus ibu sama bapak menyetujuinya. Cukup. Tentukan tanggalnya. Baru itu disebut calon istri. Nera sudah kenyang. Nera izin pamit " sambil pergi dengan kesal, meninggalkan Anto dan sahabat - sahabatnya.
" Ner, jangan marah dong! kan becanda " Teriak Jhody pada Nera yang sudah keluar daru tempat makan.
Anto mengejar Nera.
" Bu ustadzah gitu saja marah !" godanya berjalan cepat mengejar Nera.
" Jangan bilang aku Nakal !"
" Jangan bilang aku ustadzah! "
" Jangan bilang aku calon istri siapa pun, selama mereka belum mendatangi orang tua ku " jawab Nera dengan wajah kesal dan menghentikan jalannya, saling berhadapan memarahi Anto.
" Iya ! wanita perlu kepastian bukan manis dimulut lain dihati. Laki - laki itu racun, hanya nya gombal , ya akan meminang tapi entahlah buktikan! " jawab Nera tegas menyentil hati Anto.
Anto menghadang jalan Nera dan berdiri di depannya.
" Seminggu lagi aku pulang ke Kairo ,peganglah kata - kata ku kalau aku akan meminangmu. Ijinkan aku menyelesaikan tugas amanah dari orang tuaku terlebih dahulu. Setelah itu aku akan datangi orang tuamu. Ku mohon bersabarlah! tunggu dua tahun lagi ,ku mohon, doakan lah semoga Allah mudahkan! "
Lirih Anto menjelaskan.
Nera menundukkan pandangannya, dan mendengarkan penjelasan Anto mengatakan kepastian dari hatinya yang paling dalam.
__ADS_1
" Abang balik dulu keteman - teman, kamu mau pulang bareng kami atau sendiri? " tanya Anto pada Nera.
" Aku sendiri saja bang! saya duluan ya bang !"
Mereka pergi berlawanan arah, sedikit lega mendengar kepastian Anto.
Walau tak ada cinta terucap tak ada hal apa-apa untuk dibuktikan. Tapi dengan kesungguhan ketegasan Anto, Nera percaya apa yang di janjikan Anto adalah kebenaran dan ketegasan seorang Anto.
Ini kisah kami.
Berawal dari janji Anto untuk merajut asa, dan saling setia untuk saling menunggu sampai saatnya tiba.
Entahlah, kadang manusia yang berencana tapi Allah yang menentukkan ketentuannya.
Manusia hanya bisa berikhtiar dan berharap semoga apa yang kita Inginkan dapat terlaksana dengan baik.
Nera berharap berjodoh dengan Anto begitupun sebaliknya. Walau jarak yang memisahkan ,semoga ujian krikil itu bisa dilalui dengan indah.
Tapi namanya manusia hidup, pasti saja ada intrik yang harus mengoyak emosi.
pertahanan kesetiaan kami mulai terusik
**********
__ADS_1
next