Berjanji Dan Merajut Asa

Berjanji Dan Merajut Asa
27. masih marah


__ADS_3

kriniiiing.... kriniiiiiing...kriniiing...


Suara bunyi telepon rumah, umi Syifa mengangkat gagang telepon.


"Halo, assalamualaikum. Dya , kamu itu dimana? istrimu menunggu semalaman. Kok enggak kasih kabar? "


" Maaf mi, Dya sekarang lagi di Jakarta di rumah Rudi nginep. Sekalian ngurusin visa dan tiket buat berangkat ke mekkah sama pihak agen travel sekalian ngurusin berkas juga wat balik ke maroko, mi " jawab Dya di balim telepon.


" Ooh , kamu mau ngobrol sama Nera? " tanya Ummu Syifa pada Dya, Nera sedari tadi disamping mertuanya mendengar percakapan suaminya itu.


" Enggak usah mi, biar Dya entar ngobrol langsung ke Nera. Salam pada semuanya ya mi. Sudah dulu ya mi, assalamualaikum " tutup Dya mengakhiri obrolan di telepon.


Nera, hanya menulan ludahnya setelah suaminya tidak mau berbicara padanya walau secara halus dia menolak tawaran ibunya.


Karena kecewa, bulir-bulir ait mata kini jatuh menetes di kedua pipi putihnya..


Memerah hidungnya, dan mulai terisak perlahan. Nera berlari menuju kamar tanpa permisi kepada ibi mertuanya itu.


Nera mengunci diri di kamar, dia menyesali dengan kedatangan surat yang di baca suaminya itu.


Umi Syifa ,mengetuk pintu dan memanggil - manggil nama Nera, namun Nera ternyata tertidur saat menangis tadi.


*********************


Sudah tiga hari Dya belum pulang juga, Nera tak henti-hentinya murung dan tak ceria seperti biasanya.


Dia mulai gak enak tinggal di rumah mertua tanpa suaminya.


Dia menghampiri ibu mertuanya, dan meminta izin untuk pulang dulu ke rumah orang tuanya.


" Jangan ke umi minta izinnya, tapi ke suami mu Nera, ini nomer hape dia. Sana hubungi sama kamu " kata Umi Syifa.


" Dya ada di mesjid, tadi abah ketemu Dya. Baru sampai dari Jakarta, jadi sekalian shalat dzuhur dulu di mesjid. Dya lagi rebahan. Sana susul Nera " kata abah memotong obrolan Nera dengan Umi Syifa. Beliau baru pulang dari mesjid, habis shalat dzuhur.

__ADS_1


Beliau sudah tahu, kalau anaknya lagi marahan sama menantunya dari umi Syifa.


Abah berusaha untuk mengakurkan lagi Nera dan Dya. Menurut orangtua ,wajar kalau dalam pernikahan ada cekcok kecil, biasanya sudah baikan itu akan semakin romantis.


Nera pun pergi menyusul suaminya ke mesjid.


Sesampainya di mesjid , Nera melihat Dya sedang mengaji. Nera menghampiri suaminya sambil tersenyum dan sun tangan.


Dya, menerima senyuman dan sun tangannya Nera, hanya saja dia tak sehangat seperti biasanya.


Dia bersikap dingin, cuek dan tak menampilkan wajah peduli seperti saat pertama Nera kenal.



" De, kita pulang dulu ke rumah! ", ajak Dya datar.


Nera dan Dya masuk mobil , di mobil mereka tak bicara sepatah kata pun.


Tapi Dya sedikitpun tak mengajaknya berbicara, sampai akhirnya mereka tiba di rumahnya.


***************


Nera mengikuti langkah suaminya ke kamar,


Dya berbaring di atas kasur tanpa mengindahkan Nera yang sedari tadi mengikuti dirinya kemanapun melangkah.


" Abang, ini minum dulu " kata Nera lirih menawarkan minum. Dya bangun dari rebahannya dan duduk mengambil minuman yang ditawarkan istrinya.


" Abang mau makan? Ade ambilkan ya atau abang mau makan di bawah? "


kata Nera menawarkan lagi, berharap suaminya mau berbicara padanya. Namun apa daya pertahanan Dya begitu kuat. Setelah minum Dya berbaring lagi, dan menutup matanya dengan bongkahan tangan berbulu nya. Tak menjawab tawaran Nera, masih diam tak bergeming.


" Abang mau ngemil? ini ada cemilan, ini dodol bang, enak lho! " goda Nera pada suaminya berharap suaminya merespon. Alih-alih menjawab tawaran Nera, Dya malah balik badan memunggungi Nera yang sedari tadi merayunya agar suaminya luluh.

__ADS_1


Nera bingung harus apalagi,


apakah laki-laki seperti ini kalau lagi merajuk ? . Abang, kalau terus di diemin gini kapan ade menjelaskannya?. Kamu pengen aku seperti apa? Nera kesal dan sudah tak bisa menahan kesabaran nya. Dia tidak tahan kalau terus - terusan di diamkan.


" Abang bilang dong, jawab atau apa gitu. Biar Nera teh enggak kaya orang gila? Nera mau jelasin gimana kalau abangnya diemin Nera kaya gini. Ini nyiksa abang " kata Nera terisak, walau Nera terisak Dya masih tetap tak bergeming, Dya masih diam saja tak peduli.


" Ya sudah, kalau abang gitu terus. Ade mau minta izin pulang ke rumah bapak dan ibu, yaaah !" Kata Nera terisak.


Nera merengkuh jari jemari tangan Dya yang terkepal diantara ujung mata dan kepala Dya.


Nera mencium tangan suaminya, namun sekarang untuk pertama kalinya sambil nangis dia mencium pipi dan kening suaminya dengan lembut sambil berkata


" maaf, belum bisa jadi istri yang baik"


Nera berbalik ,untuk pergi ke rumah orangtuanya.


Tangan Nera ditarik Dya,


" mau kemana? "


***************


bersambung reader..


hahahaha teman-teman gak ada yang komen, like, apalagi vote ya


hihi mungkin enggak menarik ya ceritanya .


Maaf ya, ceritanya bertele-tele.


Biarlah kalau enggak ada yang baca juga, yang penting hobbi tersalurkan...


Terima kasih..

__ADS_1


__ADS_2