
Pulang ke rumah.
Nera seperti biasa membereskan pakaian kotor di kamar mandinya.
Entahlah, setan apa yang tiba-tiba datang?
Baju kemeja Dya, biasanya khas wangi farpum Dya , yang sering dipakainya.
Tapi , kali ini ada wanginya berbeda, ditambah pas merogoh saku kemeja, ditemukan bros kecil berbentuk bunga bermata swaroski.
Dan secarik kertas bertuliskan angka, mungkin nomer telepon.
Nera mengamankannya, walau ada hal lain yang mengganjal dihatinya.
Ya, farpum.
Apakah suaminya mengganti varian wangi farpum nya?
Sesekali Nera mengulang berpikir untuk berpositif thingking pada suaminya.
Walau Nera menggebu-gebu ingin menghubungi suaminya via telepon dan segera menanyainya.
Tapi, mungkin itu tidak bisa terjadi, karena mungkin pada saat ini Dya masih dalam penerbangan.
Nera ke bawah sambil membawa baju kotor.
" Neng, punten ini sisa obat punya siapa ya? takut ada yang lupa nyimpen obatnya, khawatir nyariin" tanya bi Minah pada Nera.
" Punya umi bukan bi? " tanya balik Nera pada bi Minah sambil melihat dan memegang obat tersebut.
" Simpan saja di tempat semula, siapa tahu entar ada yang ngambil" Kata Nera sambil pergi berlalu.
*********************
Rumah Kiai Hasan sepi kembali, karena Maryam dan Musa sudah pulang kerumahnya masing-masing.
Sedang dua pemuda kiai Hasan pergi ke luar negri.
Dirumah hanya anak dan menantunya, ada Nera, yaser, dan Idam saja.
" Neng, bibi kemarin nemu di lemari kitchen set, ada sisa bungkus obat, masih banyak, punya siapa ya? " kata Bi Minah sambil memberikan seplastik obat dengan berbagai macam jenis obat di dalamnya.
" Punya siapa ya Bi? kalau punya Umi kan enggak mungkin, Umi paling anti obat, sakit apapun umi pasti herbal dan bekam, Abah juga enggak mungkin, abah juga sekarang lagi sama akupunktur reumatiknya " jawab Nera pada Bi Minah, mengernyitkan dahinya mencoba menebak siapa yang jadi pemilik obat tersebut.
" Kemarin yang dirumah kan ada Teh Maryam, Bang Musa. Apa milik mereka gitu, Bi? Kalau lihat Bang Anto dan Bang Dya, enggak mungkin deh, toh mereka sehat bugar deh Bi? Yaser, ah masa juga? obat sebanyak ini, gimana makannya? " gumam Nera pada Bi Minah.
" Nera... Nera... Nera! " Suara Umi Syifa memanggil.
" Neng, Umi manggil " kata Bi Minah pada Nera.
" Iya, Bi" Nera bergegas menghampiri Umi Syifa yang ada di kamar nya, " Iya, Umi".
************************
Dikamar Umi Syifa.
" Ada apa Um? " kata Nera lirih pada ibu mertuanya itu.
__ADS_1
" Neng, Umi perlu beliin beberapa herbal, ke apotek China sama madu" kata Umi Syifa lemah.
" Umi, ke dokter saja, yuk! " ajak Nera, duduk disamping ibu mertuanya.
Umi Syifa menggelengkan kepalanya, menolak.
" Neng, Umi merasa banyak salah sama Anto dan kamu. Umi malu, kenapa Umi begitu egois, menjodohkan kamu sama Dya? "
" Jangan begitu Umi, itu mah sudah taqdir, memang wasilah saya berjodoh dengan Bang Dya itu Umi, saya juga bahagia kok Mi hidup dengan Bang Dya, dengan Bang Anto anggap saja perkenalan sebagai adik ipar, hehehe jagain jodoh kakaknya, hahaha " jelas Nera sambil bercanda.
" Masih ada perasaankah dengan Anto? " tanya Umi Syifa.
" Ada " jawabnya terputus, Umi Syifa membulatkan matanya terkejut.
" tapi sebagai saudara dan teman. Umi jangan khawatir, kami sudah dewasa, tahu mana yang harus kami hindari sesuai norma agama, walau awal-awal kami pun harus beradaptasi dengan perasaan kami. Tapi percayalah Bang Anto, orang yang baik" Hibur Nera pada ibu mertuanya.
Umi Syifa, mengelus punggung tangan Nera.
Sambil berderai air mata.
" Kalau bolehlah Umi berandai, seridaknya Anto bilang pada Umi kalau ada wanita yang dia tunggu untuk dia sunting, Umi pun akan menjaganya, dan membiarkan kalian menikah. Tapi Umi, tak pernah tahu. Dan andai jika kamu menolak perjodohan ini, dan mengatakan kalau kamu sedang menunggu laki-laki lain, maka Umi akan menghentikan perjodohan ini. Jika toh wanitanya itu adalah kamu" kata Umi Syifa kemudian memeluk Nera.
" Kau mencintai Dya? " tanya Umi Syifa memastikan.
" Sangat Umi, aku mencintainya. Dengan segala kebaikannya dan tulusnya menyayangi saya, terima kasih telah mengenalkan saya dengan Bang Dya, terimakasih sudah melahirkan Bang Dya " jawab Nera sambil. berkaca-kaca.
*************************
Hari Senin.
" Ckk, gak ada angkot, hemm masa harus naik ojek sih, kan mahal?" gerutu Nisa sambil terus melihat jam tangannya.
" Duuuh, telat ini mah, pasti sama pak Husein aku kena hukum lagi"
" te...teeeet" Suara klakson motor.
Nisa berbalik pada suara klakson itu,
" Kang Yaser ?"
" Enggak takut kesiangan kamu, Nis? " tanya Yaser sambil membuka kaca helm.
" Yaa, takut atuh Kaaang, boleh nebeng ?" tanya Nisa.
" Boleh, untung bawa dua helmnya, qadarullah" sambil memberikan helm yang tergantung di stang motor.
Nisa buru-buru memakai helm tersebut, dan kemudian naik dibonceng Yaser.
*************
Sampai parkiran sekolah, semua orang terbelalak, melihat Nisa dan Yaser berangjat barengan.
" Woooow, bentar lagi bakal ada gosip menyebar nih kang, siap-siap aku kena damprat , dari para fans mu" keluh Nisa pada Yaser.
Yaser, melihat ekspresi wajah Nisa merasa bahagia. Entahlah apa yang dipikirkan Yaser pada Nisa.
" Yuk, jalan bareng saja, biar mereka tambah panas! " kata Yaser sambil berjalan berbarengan dengan Nisa.
__ADS_1
" Isk, sakit-jiwa " jawab Nisa mengerlingkan matanya.
Mendengar ocehan Nisa, Yaser tersenyum senang.
Mereka berdua melewati ke ruang basket basket sebelum menuju ke lapang upacara, diruang basket ada Boim yang sedang males-malesan rebahan di kursi.
" Eh im, lo enggak ke lapang upacara? " sapa Yaser pada Boim.
" Ayok, Nis masuk, simpen saja tas nya disini, nanti pas beres upacara ambil saja ke sini, enggak apa-apa, aman kok, ada boim yang jagain " kata Yaser pada Nisa.
Boim mendengar ada nama Nisa, langsung terperanjat bangun.
" Wooh ada Nisa toh, Yaser lo pacaran, ya? " tanya Boim pada Yaser.
" Menurut lo, gua pacaran, apa kaga? " tanya balik Anto pada Boim.
" Kang, ayo. Nanti kita telat! " ajak Nisa.
Boim memandang Nisa dengan dalam,
" Jalan sendiri saja, Yaser mau di sini dulu bareng gue " jawab Boim ketus.
" Nis, duluan saja, nanti akang nyusul " kata Yaser lembut.
" Nanti, kalau Nisa ada yang mendamprat gimana? " manja Nisa pada Yaser.
" Entar, Nisa ngadu ke Akang, biar Akang datengin " sahut Yaser pada Nisa lembut.
" Emang siapa yang suka ngedamprat kamu, Nis? " tanya Boim pada Nisa.
" Kamu! " jawab Nisa judes.
" Diih, kok aku, ditanya baik-baik malah sewot?" kata Boim kesal.
" Iya lah judes, pakai narik kunciran aku, kalau suka ngomong! sok ganteng, sok playboy " kata Nisa sebal.
" Diiih, emang gue ganteng, banyak yang ngantri mau jadi pacar gue, lo punya tampang pasaran saja sombong, laga lo tu sok kecantikan " ledek Boim sebal.
" what ? awas lo kalau naksir ya! " kata Nisa sinis.
" Sudah-sudah, kalian itu ya !" lerai Yaser pada Nisa dan Boim.
" Nis, entar Akang susul kamu ya, gih sana! " kata Yaser lembut.
Nisa pun berlalu tanpa Yaser menuju lapang upacara.
bersambung.
****************
😇 sahabat reader ku yang baik-baik.
terimakasih atas like, coment dan votenya.
Ayo, ditambah lagi like, vote dan koment nya, biar saya semangat up, berharap sehari itu ada like 200 gitu.. hahahahha
love u all reader.. 😍😘
__ADS_1