Berjanji Dan Merajut Asa

Berjanji Dan Merajut Asa
73. aku lelah


__ADS_3

Budayakan like, koment, vote dan sopan.


〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️


Di dalam mobil, Nera masih tidak bergeming.


Anto menggoda Nera lewat Idam.


" Dam, di depan Dam. Nanti kata orang Abang sopir keluarga"


Nera masih cuek, entah apa yang membuatnya marah pada Anto? Tiba-tiba judes dan enggak mau ngomong.


Nera mengambil handphonenya , dan memencet nomer kontak suaminya.


Tuut...tuuuut....tuuuut..


Suara hape Nera bersuara, menunggu Dya mengangkat teleponnya.


" Assalamu'alaikum, Abang " sapa Nera ketika teleponnya di angkat oleh Dya.


" Alaikumussalam warahmatullah, sayaaaang ku yang cantik, apa kabarnya?" jawab Dya di balik telepon itu.


" Alhamdulillah sehat, Abang disana sehat?" kata Nera sumringah, dan mencuekin Anto yang sedari tadi menggoda Idam.


" Iya , sayang, alhamdulillah sehat juga. orang tua kita apa kabar?" kata Dya lembut.


" Semua pada sehat, Umi masih diruang ICU. Mudah-mudahan segera membaik" jawab Nera.


Anto cemberut sambil menjalankan mobil,


" Sayang ,sekarang disana kok rame, kamu lagi dijalan?" tanya Dya.


" Iya, Nera mau nengok umi ke rumah sakit"


Dibalik telepon Dya, ada suara selain Dya,


" Bang Dya sudah beres packingnya?, Sarah enggak kuat dengan ngidam ini, apalagi kalau harus naik mobil yang ada pewanginya. Sarah bisa mual. Sarah keluar dulu , Siaw Chan sudah menunggu diluar" Ucap Sarah di balik telepon Dya.


Mendengar suara Sarah ditelepon Dya, Nera mematikan teleponnya.


Nera menatap kedepan dengan tatapan kosong, Anto melihat dari kaca spion kecil di dalam mobil.


Nera meneteskan air mata, dan mengusap lagi. Sesekali Nera terisak.


Anto merasa khawatir pada Nera, begitupun Idam.


" Teteh kunaon , naha bet nangis ?( Teteh kenapa , kenapa tiba-tiba menangis? )" Idam mengguncangkan tubuh Nera yang sedang terduduk dan terisak.


Akhirnya, Anto pun menyerah,


" Kenapa Teh, ada apa?" tanya Anto penasaran dan khawatir.


Nera menggelengkan kepalanya, namun sesekali isaknya terdengar.


" Aku siap mendengarkan , jika kamu mau cerita " ujar Anto.


〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️


Sudah sampai Rumah Sakit.


Anto menuntun Idam, sedang Nera masih lunglai saat berjalan.


Dia teringat ucapan Sarah di balik telepon itu.


" Aku ngidam, Sarah bisa mual "


Kata-kata itu bikin hatinya patah, lemah dan tak berdaya.


Dipandang lekat punggung Anto yang berjalan didepanya.


Kembali buliran-buliran itu berjatuhan.


Ingin rasanya hati berteriak, Dya pasti akan jujur jika Nera bertanya.


Tapi Nera belum siap menerima kenyataan jika ya , Sarah istri Dya yang kedua, dan madunya.


Nera meremas gamisnya denga merapatkan mulutnya, agar lirihnya tak terdengar orang.


" Sarah hamil " gerutu hati Nera sakit.

__ADS_1


" Aku belum juga hamil " kesalnya Nera pada dirinya sendiri.


"Apa aku mandul?" otaknya mulai meracau.


Anto berbalik badan dan melihat Nera, dipandangnya lekat, kenapa dengan gadisnya itu?


Nera begitu bermuram durja.


Tak ada satu kata pun yang keluar, setelah menutup telepon dengan Dya.


Sampailah di ruangan Umi.


Disana ada bang Musa dan istrinya.


Nera bercipika cipiki dengan istri iparnya dan saling bertegur sapa satu sama lain.


Umi kini sudah sadar, selang-selang yang awalnya terpasang sudah tak menempel lagi di tubuhnya.


Hanya , sekarang umi masih terlelap tidur.


Idam dan istri Bang Musa diluar ruangan, karena anak-anak tidak boleh berlama-lama di ICU.


Bang Musa meminta Anto untuk menjemput tamu mertuanya di Bandara, karena besok Bang Musa di minta Abah untuk masih menjaga Umi di rumah sakit. Lagian Bang Musa lelah, baru dari Jakarta harus ke Bandung dan balik lagi ke Jakarta dan langsung ke Banten mengantarkan tamu mertuanya. Sekalian ajak istri Bang Musa, biar ada teman Bang Musa minta Sarah ikut juga, biar Idam ada yang jaga pas diperjalanan. Karena Idam ternyata enggak mau pulang ke rumah kalau Nera enggak ada dirumah.


Akhirnya Nera juga ikut pun Idam. Kebetulan mobil yang dia bawa cukup lapang, pada zaman pertengahan tahun 2004-2005 an mobil AP* cukup luas dan besar.


Anto menyanggupi permintaan kakaknya itu.


Siang ini, Anto izin untuk tidak masuk kelas, sampai besok.


Akhirnya siang ini Nera, Idam, istrinya bang Musa dan Anto berangkat ke rumah Abangya yang di Jakarta.


Karena pada tahun-tahun ini jalan tol Cipularang masih dalam proses pembuatan makanya, dari Bandung ke Jakarta harus memakai jalur puncak Bogor, yang lumayan harus memakan waktu yang cukup lama daripada sekarang, yang sudah bisa lebih cepat dengan menggunakan tol.


Sepanjang perjalanan Nera masih sesak, tak ada yang bisa membuat semangatnya hari ini bangkit.


Sekarang dia sedang terpuruk, memikirkan pernikahannya dengan Dya.


Pikirannya sudah melayang jauh, Nera sedang tak mood di ajak bicara oleh siapapun. Dimobil dia berpura-pura tidur saja.


" Aku lelah " getirnya dalam hati.


〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️


" Nera, kamu sakit? dari tadi diaaaaam saja!" tanya Hanum tidak enak hati.


" Enggak Teh, cuman capek saja, hehehe pengen mandi " jawab Nera sambil tersenyum simpul.


Nera berlalu ke kamar mandi, tapi bingung dia tak bawa ganti.


" Teh, aku pinjem ganti ya, soalnya saya enggak bawa baju ganti" pinta Nera pada Kakak iparnya.


Rumah Bang Musa di Jakarta terlihat biasa-biasa saja, cuman kebun dan peternakannya cukup luas. Walau Teh Hanum dan Kiai Mahfud asli Banten, tapi ibunya asli betawi.


Tanahnya cukup luas, ketika tanah tetangganya kena penggusuran cuman tanah kiai Mahfud yang masih bertahan dengan ratusan hektar.


Sudah banyak para makelar tanah bolak-balik minta tanah Kiai Mahfud di jual.


Namun sayang, Kiai Mahfud tidak berniat tanah-tanahnya dijual untuk dijadikan lahan-lahan properti.


Di Banten Kiai Mahfud dan Kiai Hasan membangun pesantren bareng-bareng. Mereka sahabatan sudah lama, makanya anak-anaknya pada di jodoh-jodohin. Dan kebetulan Musa dan Hanum saling suka juga.


" Nera, nanti kamu di kamar tamu yang di sebelah kiri dekat ruang tamu ya, Teteh sudah sediain bajunya juga buat kamu ganti " kata Hanum berlalu.


" Iya Teh, terimakasih ya Teh, maaf merepotkan, hehehe jangan kapok ya" ujar Nera sambil masuk ke kamar dan Hanum berbalik ke arah Nera.


" Iyah Nera, kayak dengan siapa saja? kita kan keluarga? jangan sungkan !" jawab Hanum.


" Bibi Nera, Lukman pengen tidur di kamar bibi" kata Lukman anak Bang Musa.


" Eh, Lukman! iya sayang ayo !" sapa Nera.


〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️


Malam ini Nera masih tidak bisa tidur, akhirnya dia putuskan keluar mencari angin di taman depan rumah Hanum.


Nera terduduk di bangku taman yang berhadapan ke arah kolam ikan.


Nera masih memikirkan luka-luka yang ada.

__ADS_1


Luka yang tadi siang ingin langsung Nera tanyakan pada Dya.


" Siapa Sarah? kenapa ada di Maroko bersamamu? Dia hamil? hamil anak siapa?" semua itu bergelayut di otak Nera.


Nera menangis lagi, dia belum siap menerima kenyataan kalau dia bertanya pada Dya tentamg Sarah.


Nera tak sanggup jika dirinya benar-benar di duakan.


Nera, tak akan mampu dan tak akan bisa.


Nera terisak.


Tapi Dya pernah mengatakan, harus saling percaya dan selalu bicarakan.


Tapi sekarang Nera ragu, Nera takut, Nera lelah.


Tiba-tiba Anto datang dan berdiri di hadapan Nera.


" Kamu itu kenapa? semenjak habis menelpon dengan Dya, wajahmu kusut. Perlu, aku setrika?" tanya Anto.


Nera malah semakin terisak.


" Laaaaah, ada apa dengan Dya?" tanya lagi Anto mendesak.


" Aku lelah... aku menyesal" jawab Nera lirih.


" Kenapa?" jawab Anto lagi


" Apa Abang masih mencintai aku?" tanya Nera sambil tertunduk menahan tangis.


" Dulu sudah aku jawab, dan aku tak biasa menjawab pertanyaan yang sama " jawab Anto.


" Apa saya ada kesempatan untuk kembali?" tanya Nera getir.


" Jangan gila! itu pertanyaan bodoh , kamu kenapa ?" jawab Anto mulai mengepalkan tangannya.


" Aku tidak apa-apa. Bolehkah aku menyesal ?" getir Nera kembali.


" Kamu lelah Nera! Aku masuk ke dalam, aku sudah ngantuk " jawab Anto berlalu.


Namun satu tangan Anto sudah digenggam dan ditahan oleh Nera.


Anto terbelalak melihat kelakuan Nera, terkejut dan kaget. Kenapa Nera berani memegang tangannya?


Anto langsung berbalik, tak terasa mata Anto pun sendu dan menitikkan air mata.


Anto tak mau terlalu larut dengan keadaan ini.


Anto melepas genggaman tangan Nera.


" Tak baik, kau seperti ini!" kata Anto lirih sambil melangkah untuk pergi.


Nera terisak,


" Aku sekarang terluka, terluka oleh curiga ku yang begitu dalam. Dan nyatanya aku masih mencintai kamu, aku takut kehilangan kamu. Dan gilanya ini dosa yang aku tahu, dan sekarang aku putus asa dengan keputusan ku sendiri " .


Anto mematung, dan masih mendengar racauan jerit hati Nera.


" Kau selalu aku tunggu dan aku rindu, tapi kau tak pernah ada untuk aku. Saat aku merindu kehadiran dan kepastian darimu, kenapa harus muncul Dya, kenapa Dya yang menjadi obat rinduku terhadapmu? Tapi giliran aku mencinta dan merindu pada suamiku sendiri, kenapa yang harus muncul kamu di hadapan ku? Dan aku terluka jika dirimu dan Dya ada yang memiliki. Dan sekarang aku putus asa, saat suamiku dicintai wanita lain" lirih Nera terisak.


" Aku sedih, aku kesepian, aku ingin dicintai, tapi aku bingung " Nera meracau terlalu dalam.


" Pernah kau berniat tidur dengan ku, Bang Anto? seperti apa yang dilakukan suamiku selama ini telah tidur dengan wanita selain aku ?" lirihnya dalam hati.


" Tidurlah sudah malam! " kata Anto dengan langkah yang berat meninggalkan Nera sendiri.


Anto meninggalkan Nera sendiri ditaman, namun dia masih memantau Nera dibalik jendela rumah.


Tanpa tersadari air matanya kembali mulai menetes.


Sekian lama dia tak menangis setelah kejadian pernikahan Nera dengan Dya. Sekarang Anto mulai merasa sesak lagi setelah Nera mengucapkan kalau dirinya masih mencintai Anto.


Sesekali Anto menyesali sikap bodoh di masa itu.


Anto berpikir, apa benar Dya sudah menikah dengan Sarah. Atau hanya Nera yang selalu curiga kepada Dya. Dasar apa sehingga Nera begitu curiga kalau Dya menikah dengan Sarah?


Jawaban yang paling tepat mungkin minta bantuan Teh Maryam dan Rudi?


Anto mulai mengambil handphonenya, dan satu-satu akan dia pecahkan masalah ini untuk membantu Nera.

__ADS_1


bersambung


〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️


__ADS_2