
Dua bulan sudah berlalu.
Kondisi Nera sudah mulai stabil.
flash back
Dua bulan yang lalu, Nera depresi berat.
Tak ada yang bisa menenangkannya.
Sering berteriak tiba-tiba.
Dan menangis sejadi-jadinya tanpa sebab.
Nera dilarang untuk pulang ke rumah orang tuanya. Karena Umi Syifa dan Kiai Hasan, khawatir Nera akan sendirian karena pak Edo dan Bu Siwi pasti akan berdagang setiap hari ke pasar.
Akhirnya, Nera di bawa ke psikolog.
Kata dokternya, Nera sangat bersedih terlalu dalam , disebabkan kehilangan seseorang yang dia cintai.
Pada dasarnya, Nera hanya ingin menyampaikan kata maaf dan cintanya pada sang suami.
Itu penyesalan , hal yang tak bisa dia lakukan sampai ajal suaminya menjelang.
Kata dokter pula, Nera akan di coba memakai hypnoterapi agar melupakan rasa menyesalnya kepada sang suami atau orang-orang yang sangat dicintainya.
Akhirnya, dengan izin Allah. Setelah mengikuti hypnoterapi tersebut, Nera kembali pulih seperti sedia kala.
〰️〰️〰️〰️〰️
back now
Pagi-pagi Nera sudah cerah ceria, segar dengan krudung pasmina sepaha. Taburan bedak tipis.
Nera menyiapkan sarapan di meja, dibantu Bi Minah.
Umi bahagia melihat kemajuan Nera.
" Wahh, sudah bangun Nera?" tanya Umi Syifa sambil memeluk menantunya itu, sambil mencium pipi Nera.
" Umi, pagi!" jawab Nera sumringah.
Anto turun berbarengan dengan Laras.
Melihat Nera yang sudah segar, dan cantik.
Anto tak berhenti mengucapkan syukur, melihat senyum cerah di wajah Nera, membuat Anto semangat untuk hidup lagi.
" Wuiih, Teteh yang masak?" sapa Anto dengan khas senyuman manisnya.
Nera mengangguk sambil tersenyum ke arah Anto.
" Di makan ya mbak Laras, kalau enggak enak , bilang ya?" salam perkenalan Nera, karena hampir ketika dia depresi , Nera tak pernah menyapa Laras.
Laras tersenyum ramah.
" Maaf, Laras kesiangan turunnya, jadi enggak ikut bantu-bantu nyiapin sarapan " ucap Laras tersipu malu.
" Biasa, kalau pengantin baru mah gitu, betul kan Mi?" jawab Nera menggoda sambil meminta persetujuan ibu mertuanya itu.
Umi memeluk lagi Nera, sambil berkata
" hahahah tahu saja!"
Air muka Anto, seketika berubah mendengar ucapan Nera. Ada rasa kesal menyelimuti hatinya pada Nera.
〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️
" Mau kemana Nera?" tanya Umi Syifa.
" Nera mau ke kampus, enggak enak sudah empat puluh hari cuti. Terus habis dari kampus mau ke kantornya Bang Dya. Mau membereskan barang-barang bang Dya yang masih ada disana. Lagian sudah lama, Nera enggak keluar " jawab Nera sambil melangkah kan kaki.
__ADS_1
" Mau di anter?" tanya Anto mengajukan diri.
" Enggak perlu Bang, Makasih. Ajak jalan istrinya, ke Kebun binatang , atau ke Taman Hutan Raya Bandung, kan masih masa pacaran . Selamat menikmati masa-masa pacarannya " goda Nera pad Anto sambil berlalu.
Entah, air wajah Anto tidak suka jika Nera meledeki dirinya dengan istrinya seperti itu.
Anto kembali lagi ke dalam, dan menaiki tangga menuju kamarnya.
Di lihatnya Laras, sedang bersolek tanpa memgenakan krudung dan memakai baju seksi.
" Abang !" sapa Laras. Kemudian Laras menghampirinya dan bergelayut di lengan Anto.
" Abang, mau Laras pijitin?" Ucap Laras menawari .
Anto masih diam membisu, dan menjatuhkan tubuhnya di kasur.
Terdengar isakan Laras di sudut kamar Anto.
" Kenapa Laras?" tanya Anto terbangun dan kemudiam memghampiri Laras.
" Abang selama hampir dua bulan ini, Abang ke Laras kaya ke wanita yang bukan makhram. Kalau tengah malam , Abang tidur di bawah kasur, di lantai memisahkan diri dari Laras. Laras menjijikan ya, Bang? hik..hik..hik" protes Laras pada Anto terisak.
Anto mendengar ocehan istrinya, menggaruk kepalanya yang tak gatal.
" Bukan begitu! Abang bukan jijik. Tapi Abang masih beradaptasi. Kita masih proses pembiasaan Laras, jangan salah faham!" jelas Anto pads Laras.
" Pada hakikatnya , Abang takut menyakitimu. Abang lagi menata hati dulu, agar Abang layak jadi seorang suami" Lirih Anto menjelaskan.
" Kenapa, kalau Abanh belum layak jadi suami, mau menikah sama aku? Aku cari suami yang sudah siap jadi suami aku, bukan latihan jadi suami. Apalagi membiarkan istrinya tak disentuh oleh suaminya" bentak Laras pada Anto.
" Kok, suara kamu meninggi gitu si, Ras?" lirih Anto mencoba menenangkan.
" Biar semua orang tahu, kalau kamu memperlakukan aku buruk!!" ancam Laras sambil melotot ke arah Anto.
" Beri aku kesempatan, aku sedang mencoba Laras,yaa?!" kata Anto lembut.
" Aku bukan wanita, yang suka di dikte! Sebetulnya kamu mencintai aku atau tidak sih?" bentak Laras teriak lagi.
Umi mau menghampiri, tapi sama Kiai Hasan dilaramg dan disuruh duduk kembali.
" Aku mau pulang! Aku tak ridho kamu perlakukan aku seperti ini. Banyak tahu orang yang ingin menikahi aku!!" teriak Laras.
Dan menjatuhkan tubuhmya sendiri, ke atas kasur. Sambil menangis.
〰️〰️〰️〰️〰️〰️
Anto turun dari kamarnya, dan pergi ke taman.
Pov Anto.
Ada ya, wanita sekasar itu?
Mungkin aku yang salah juga, tak memperlakukannya bak istri.
Malam pertama kata orang pun aku tak berselera.
Aku tak mau sekasur dengannya.
Walau sudah aku memaksakan diri, tapi tubuhku tak mau.
Sempat dia menggodaku dengan meraba-raba tubuhku.
Aku bukannya bernafsu, malah aku jijik.
Makanya aku lebih baik tidur di bawah, daripada sekasur dengannya.
Awal bertemu dia begitu lugu dan lembut.
Sekarang tajinya maa syaa Allah.
Bodoh.
__ADS_1
Pagi ini, Nera cerah dan begitu cantik.
Karisma keibuanya sedari dulu terpancar.
Ramah dan santunnya pada Umi.
Pantas saja, Umi selalu menyayangi Nera dan tak boleh pulang ke rumah orang tuanya.
Hemmm, jika boleh berandai.
Jika Abah tak menjodohkan ku dengan Laras, mungkin setelah beres masa iddahnya, aku yang akan mengajukan lamaran untuk Nera.
Aku yakin, Nera bukan tipikal wanita yang menolak di madu. Tapi dia selalu mengaku aku tak pernah membenci syari'atnya. Tapi aku belum mampu melaksanakan syari'at itu. Karena aku pecemburu.
Nera , bayanganmu menempel di otakku, inhin menghapusnya dengan wajah Laras, tapi tak pernah bisa.
〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️
Malam
Nera membawa beberapa bungkusan, Nera diantar pulang Rudi.
Karena khawatir, akhirnya Rudi memutuskan untuk mengantarkan Nera pulang.
Dia lelaki mapan, hanya saja selalu mengatakan sudah punya istri. Padahal bujang tulen.
Rudi, tipikal laki-laki pilih-pilih, makanya sulit mendapatkan jodoh yang sesuai kriterianya.
Wajahnya tidak jelek, dia tampan tapi memiliki sikap datar kepada perempuan. Beda kepada Nera , sedari awal dia selalu hangat karena menghargai bahwa Nera istri dari sahabatnya.
" Terima kasih Bang Rudi, sudah mau direpotkan dengan barang-barang punya Bang Dya" kata Nera tersenyum.
" Ah enggak apa-apa. Saya pulang langsung, titip salam ke Umi sama ke Abah, assalamu'alaikum" jawab Rudi sambil masuk ke mobil dan berlalu.
Sesampainya di kamar, Nera mendengar ribut Anto dan Laras lagi.
Di pertengkaran itu, Nera tak mendengar suara Anto tapi suara lantang Laras yang mendominasi.
" Aku ingin pulang, besok antarkan aku !!" rengek Laras pada Anto sambil teriak.
Nera terkejut dengan sikap Laras pada Anto.
Khwatir Anto memukulnya, tapi kembali Ners mengurungkan niatnya. Karena itu urusan keluarga Anto.
Walau kedengaran mengganggu, tapi mau bagaimana lagi?
Kemudian ada suara gerak kaki melangkah, dan kemudiam mengetuk kamar Nera.
" Teh, Teh Nera" ucap Laras sambil ketuk pintu.
Nera dikejutkan suara Laras , mengetuk pintu.
Nera langsung terkejut,
" Haduuuh, ada apa ini ? kok Laras mengetuk pintu kamar aku?"
bersambung
〰️〰️〰️〰️〰️〰️
Hii Readers ,
assalamu'alaikum.
Jangan lupa klik love,like dan koment jangan lupa vote ya.
Nah untuk, para reader.
Maaf novel saya buka karya request permintaan seperti apa yang dimau para readernya. Tolong bedakan novel dengan request di saluran radiao, yakni sesuai pesanan.
Cerita ini kisah nyata, walau harus dialogenya kami rubah dan tambahi.
__ADS_1
Mohon maaf, jika mengkritisi itu harus membangun.