
Nera bangkit, dan mengusap darahnya. Nera menghampiri si lelaki yang tak lain tak bukan kakaknya Laras. Nera dengan sigap mengambil bahu kanan kiri kakak Laras dengan kedua tangannya, perut si
laki-laki itu Nera hantam dengan lututnya , terus dagunya Nera beri pukulan siku.
Si kakak Laras kaget, melihat aksi balasan Nera pada dirinya. Mulut kakaknya Laras berdarah dan dia merintih kesakitan, jatuh meringis dilantai.
" Laki-laki ringan tangan, bedebah! emang enggak bisa ya enggak pakai otot? Dikira saya akan takut?" kata Nera emosi.
" Kamu Laras, kamu gila apa? tiba-tiba datang bukannya salaman, malah menghadang di rumah orang, gak tahu sopan santun. Di baikin ngelunjak kamu! " tambah Nera dengan tatapan emosi.
" Bodyguard kamu, bukan tandingan aku. Dia cemen. Sana aku usir kalian dari rumahku !" ucap Nera sarkas pada mereka berdua.
Laras terkejut dengan sikap Nera yang berani melawan dan membela diri. Laras membantu kakaknya berdiri.
Tiba-tiba Anto datang ke rumah Nera, di teras rumah Anto melihat istri dan kakak iparnya.
Melihat kakak iparnya yang berdarah di mulut nya, Anto menghampiri mereka.
" Kenapa, kak Ali berdarah Laras?"
" Selingkuhan kamu!" jawab kak Ali sambil mengusap darah dengan sapu tangan.
" Selingkuhan?" lirih Anto terkejut dengan ucapan kakak iparnya.
Nera keluar sambil membawa es batu untuk menolong luka lelaki yang berani menamparnya.
Nera menyimpan bongkahan es dan handuk untuk dijadikan kompres.
" Najissss!" ucap Laras sambil melempar es itu ke lantai.
" Kalau najis, silakan angkat kaki dari rumah saya, jangan lupa nanti mandinya pakai tanah sekali ke seluruh tubuh!!!" jawab Nera kesal.
" Lihat Bang, cewek yang kamu bela-belain ternyata liar, enggak tahu tatak rama, dan sopan santun bagaimana menyambut hangat seorang tamu!" dengus Laras memperkeruh suasana.
Nera berdiri sambil menyimpan kedua tangannya dipinggang.
" Aku lupa. Anjing itu kalau di tolong malah balik gigit!"
" Sana pergi, enggak ridho. Datang-datang bertamu, malam-malam, terus gampar yang punya rumah. Terus sekarang disebut najis?" sahut Nera gemas.
" Laras! aku kasih tahu, ya! watek kamu itu ancur banget. Pengen dapetin Anto, tapi watak kaya anak kecil, manja parah. Sana ambil Anto, makan sekalian!"
" Sudah tahu najis, masih aja ada disini. Pengen sekalian makan disini, gua buatin!" ucap Nera masih kesal.
Anto yang melihat tingkah Nera yang sedang emosi, malah tergelitik ingin tertawa.
Anto melihat Nera yang uring-uringan terhadap ocehan Laras.
Ali masih menatap benci pada Anto.
" Brengsek kamu ya! Adik gua lu dua'in. Kurang adik gua apa?" tanya Ali sambil mengangkat kerah baju Anto.
Anto masih membaca situasi ini," kenapa bisa-bisanya Laras membawa bang Ali?
__ADS_1
Laras pasti mengadu yang tidak-tidak, dan Bang Ali terbawa emosi !" gumam dalam hati Anto.
" Abang, tabayun dong! jangan sepihak begini. Ini sama saja nuduh tanpa bukti?" jelas Anto.
" Gua ada buktinya. Lo tunggu saja, Umi dan Kiai Hasan akan segera kesini. Dan gua sudah kasih lu pada kejutan, makanya gua sudah enggak sabar, bikin kamu mengakui kebusukan kamu dengan perempuan sok suci itu!" ucap Ali puas.
" Duh, pengen aku hantam lagi ya kamu!" kesal Nera pada Ali.
" Abang, kenapa aku diribetin sama keluarga istri kamu? aku tahan diri sama kelakuan dia sama aku, sekarang perlu aku hantam juga!" keluh Nera jengkel.
" Bang, Ali! bisa enggak sih tabayun dulu, jangan bisanya grasak-grusuk. Emang Anto sudah melakukan apa dengan Nera?" ucap Anto kesal pada Ali.
" Kumpul kebo! dibalik niqab. Itu sudah merendahkan syari'at! sok alim dibalik cashing. Cuuh !" dengus Ali.
Nera terkejut sontak tangannya reflex meninju mulut Ali.
Ali kembali kesakitan, memegang mulutnya, satu gigi bagian depan patah, dan keluarlah darah.
Ali ingin membalasa Nera, tapi Ali di tahan oleh Anto.
Laras menjambak kerudung Nera, dan ingin membalas pukulan Nera yang memukul Abangnya sampai berdarah.
Nera langsung mengambil tangsn Laras dan membantingnya ke lantai.
Laras meringis dan mengaduh kesakitan.
Tampak di luar berdatangan warga komplek, di ikuti pak RT.
Ali langsung berlari menuju pak RT.
Sontak Nera terkejut dengan ucapan Ali, dia membulatkan matanya kesal.
Ingin rasanya Nera hantam lagi.
Anto berkacak pinggang, dan menggelengkan kepalanya.
Laras pun berlari ke arah kerumunan warga.
" Lelakinya suami saya, dia berselingkuh dengan iparnya. Malah sekarang kami akan bercerai gara-gara wanita itu. Dasar wanita binal, bersembunyi dibalik baju suci. Dasar memalukan!" timpal Laras.
" Laras!!!" teriak Anto kesal.
Kemudian ada seorang warga yang melimpari batu ke arah Nera.
" bletak"
suara batu mengenai pelipis Nera, dan keluarlah darah segar.
" Aww" Nera pelipisnya.
Anto menghampiri Nera,
" Kalian gila apa? Tabayun dulu! "
__ADS_1
ucapa Anto lantang.
Tiba-tiba Umi Syifa dan Kiai Hasan datang dan melerai warga.
" Ada apa ini?" tegas kiai Hasan memepertanyakan.
" Tuh, anak kiai seperti anak yang gak punya agama. Masih mending anak saya, enggak berjilbab dan saya sebagai bapak Alhamdulillah masih bisa ngepantau anak" celetuk salah seorang warga .
Anto dan Nera tertunduk malu, mau menjelaskan tapi toh sudah terlanjur kena fitnah.
Umi Syifa berlari menuju ke Nera tanpa menyapa Laras terlebih dahulu.
Dia memeluk Laras.
Melihat perilaku Umi Syifa kepada Nera, Laras panas hati.
" Sebagai hukumannya, kita arak saja para pelaku kumpul kebo ini, ke komplek. Kita amankan ke kantor desa " provokasi Laras pada warga.
Kiai Hasan tak kuasa melihat Laras yang penuh emosi ketika berorasi.
Kiai Hasan paham betul, Laras sedang membalas cinta yang tak terbalas oleh Anto .
Kiai Hasan, mencoba menenangkan warga kembali.
" Apa buktinya, jika Anto sering datang ke rumah Nera?" tanya nya.
" Kemarin malam, dia keluar dari rumah janda itu, larut malam. Sedang janda itu, dirumahnya tak ada siapa-siapa melainkan hanya dia sendiri. " ucap seorang warga.
Anto mengusap mukanya yang semakin kebingungan atas fitnah yang di hadapinya.
Nera menahan emosinya, dipelukkan mertuanya itu.
" Betul Anto, tadi malam kamu kesini, sampai larut malam?" tanya Kiai Hasan pada Anto dengan suara lantangnya.
" Betul. Abah! Tapi pada saat itu, Nera ada di rumah ibunya, dan aku nunggu diteras. Nera akhirnya datang jam 9 malam, dan aku mencoba ngobrol dan pylang jam 11 malam.
Tapi kami tidak melakukan apa-apa." sangkal Anto menjelaskan.
" Yaa, mana mungkin maling kacang, ngaku !" pungkas Ali memprovokasi kembali.
" Ya, ayo arak saja ke kantor desa. Biar jadi pelajaran buat warga komplek ini, agar tidak berani yang kumpul kebo lagi " ucap lagi dari seorang warga menimpali setiap provokasian.
" Laras ! maksud kamu nelpon Umu tadi hanya untuk kami melihat bahwa Anto dan Nera kumpul kebo? Sudah terbuktikah mereka kumpul kebo?" tanya Umi Syifa marah kepada Laras.
〰️〰️〰️〰️〰️
Jangan lupa vote, like, komen, dan love.
Maafkan anak saya masih sakit. Semoga saya bisa up sering, untuk segera menamatkan ceritanya.
Terima kasih.
Harap memberika koment itu, perkara ilmu dalam kaidah kepenulisannya. Agar setiap novel yang saya up, akan terus ada perbaikannya.
__ADS_1
Koment-koment jahat, akan saya komen lebih jahat lagi.