
Pov Nera
Malam ini, adalah malam kelabu.
Kami masih disebut pengantin baru walau sudah berbulan-bulan aku lewati biduk bersama suamiku.
Ya, walau harus lewat telepon dan beda tempat serta jarak yang memisahkan kita.
Malam ini dadaku sesak, hatiku remuk, jiwaku tak berdaya.
Aku kangen suami ku, aku ingin bercerita padanya, dan aku ingin kita berpelukkan.
Dya, cintaku.
Aku ingin pelukkan hangatmu.
Aku ingin bercerita peluhku.
Aku sadar, proses percintaan kita begitu singkat. Dan akhirnya kita menikah.
Kamu tidak salah sayang.
Aku yang begitu pecemburu.
Sedari awal, kamu selalu memintaku untuk bertanya langsung padamu.
Hanya saja, aku dibutakan pandanganku sendiri, tanpa bertanya padamu.
Sehingga aku bersu'udzon padamu.
Dya, semoga besok kau sudah bangun, dan memberikan senyuman manismu.
Aku akan meminta maaf dan berjanji akan selalu percaya padamu.
Dya, banyak sekali sembilu diri ini terhadap mu.
Dan aku ingin kita bahagia, walau kata dokter kamu dinyatakan mandul.
Aku tak mengapa, kita berdo'a saja, semoga Allah meridhoi kita punya anak.
Dya, rindu ku sudah diujung penantian.
〰️〰️〰️〰️
Pov author
Jejak langkahnya, menepi didepan ruang ICU.
Nera melihat di kaca, didalam ruangan itu suaminya tak ada.
Nera terkejut, " ada apa lagi dengan suamiku?" gumam hatinya.
Nera merogoh saku jaketnya, dan mengambil gawai kecil itu.
" Hallo, teteh dimana? Dya kemana?"
" Dya ada si ruang operasi, cepatlah kesini!" jawab Maryam.
Nera menutup gawainya, dan langsung berlari ke ruang operasi.
Sesampai diruang operasi, ada Anto dan Maryam berjaga didepan pintu ruang operasi.
" Bang Dya , mana , Teh ?" tanya Nera ngos-ngosan.
" Di dalam, sedang dioperasi!" jawab Maryam.
__ADS_1
" Kenapa dioperasi sekarang, bukannya besok?" tanya Nera lirih.
" Keadaan Dya, kritis. Tadi pas aku konsultasi dengan dokternya, Dya harus segera dioperasi. Ada beberapa faktor yang menyebabkan koma, nanti Teh Nera bisa konfirmasi dokternya langsung, supaya lebih jelas" jawab Anto pada Nera.
" Berapa jam operasinya? " tanya Nera lagi.
" Antara 4-5 jam , Teh" jawab Anto.
Dua jam berlalu, Umi dan Abah berdatangan .
Di balik pintu luar semua berdiri, menunggu hasil dan kabar kondisi Dya
Nera terduduk di kursi besi panjang di dekat , begitupun Anto, abah dan Umi.
Sedang Maryam, pergi tidur sejenak di mushala rumah sakit.
Umi memegang tangan Nera, sambil mengucapkan kata-kata menguatkan.
" Sabar dan do'akan!"
Nera berbalik memegang tangan mertuanya itu, dengan melelehkan butiran-butiran pilu di pipinya.
Empat jam berlalu, Nera dipinta Umi untuk mengantarkannya ke mushala.
" Sebentar lagi subuh, Bah. Abah dan Anto silakan siap-siap, nanti kita gantian , Umi ditemani sama Nera "
Nera, masih kelihatan pucat pasi.
Semenjak dia berangkat pulang dan datang ke rumah sakit tak ada makanan dan minuman yang masuk.
Bibir kecilnya terlihat kering, tubuhnya kuyu dan matanya nanar perih dari tadi menangis saja.
Nera menahan kantuknya, dengan pandangan kosong. Sesekali Nera menguap panjang, menahan kantuk yang tak bisa lagi dia tahan.
Umi membiarkan menantunya itu, tertidur sambil terduduk dan tertunduk . Umi mencoba mengambil tubuh Nera dan menidurkan tubuhnya , berbantalkan paha sang mertua.
〰️〰️〰️〰️〰️
Lampu pintu operasi mati, menandakan operasi sudah selesai.
Dibangku panjang itu semula ada Umi dan Nera. Sekarang hanya ada Mayam, Anto dan Abah.
Sementara Nera dan Umi masih di mushola.
Dya keluar dari ruang operasi, kemudian Abah segera mendatangi dokter yang menangani Dya.
" Bagaimana Dok?" tanya kiayi Hasan.
" Operasinya lancar, cuman ada beberapa hal yang perlu kami tinjau untuk beberapa jam kedepan, do'akan saja. Setidaknya kita semua sudah berusaha. Semua keputusan dan taqdir ini milik Allah. Tapi dari proses kesembuhan paling 50:50, karena kerusakan jantung di bilik kanan sudah lumayan ada pembengkakan. Bersabar ya pak, mari saya izin istirahat. Permisi" Jawab sang dokter dan kemudian berlalu.
Sementara Maryam dan Anto mengantar Dya bersama suster ke ruangan CICU.
Nera dan Umi kembali ke ruangan operasi untungnya masih ada abah menunggu.
"Dya sudah ada di ruang CICU" jawab Abah sambil mengajak Nera dan Umi mengikuti langkahnya menuju CICU.
" Maaf pak, bu. Kami harapkan supaya pasien bisa beristirahat dengan baik mohon bergantian masuk ke dalamnya hanya dua orang saja tidak boleh lebih. Karena pasien tahap observasi pemulihan. Terima kasih" ucap salah satu perawat memberi himbauan.
Nera, Abah, dan Umi mengangguk, paham.
" Kata dokter apa , Bah?" tanya Umi pada Kiayi Hasan.
" Untuk sembuh 50:50 , karena jantung Dya di bilik kanan nya sudah ada pembengkakan, ini kalau masih belum sadar-sadar saja, kemungkinan harus transpalasi jantung. Dan untuk transpalasi jantung kita enggak tahu harus kemana, dan kemungkinan tidak di Indonesia. Yah, akibat jantung bawaan rata-rata seperti ini ,Mi. Do'akan yang terbaik dan bersabarlah !" jawab Kiai Hasan.
Nera mendengar penjelasan ayah mertuanya begitu lemas.
__ADS_1
Tubuhnya lunglai , kepala Nera berkunang-kunang seperti ada bintang dan kemudian redup. Tiba-tiba gelap, dan tak ada cahaya lagi.
" gudubrag"
Suara Nera terjatuh ke lantai, pingsan.
Umi dan Abah langsung membopong Nera kepelukan ibu mertuanya, dan terduduk bersandar di dada ibu mertuanya.
" Nera...Nera..Neraaaa... bangun sayang !" ucap ibu mertuanya sambil menepuk-nepuk pipinya.
Maryam dari dalam ruangan Dya ,keluar dan membantu orangtuanya menyadarkan Nera.
Membawa Nera duduk di bangku di dalam pelukan ibunya.
Lalu suster yang berjaga melintas. Kemudian susterpun ikut membantu, dan mengecek tensi darah Nera.
" Darahnya kurang, ini dia pucat. Kayaknya kurang cairan deh bu. Tapi tidak begitu parah, nanti kalau sadar langsung kasih minuman isotonik atau teh manis hangat, dan makan yang cukup " kata Suster dan kemudian berlalu.
〰️〰️〰️〰️〰️
Nera baru tersadar ternyata yang memeluknya saat ini adalah ibu Siwi, ya, ibundanya Nera. Pada saat Nera pingsan 15 menit yang lalu, Bu Siwi dan Pak Edo tiba.
Dan akhirnya Kiayi Hasan dan Umi Syifa pulang dulu. Karena khawatir jikalau Umi Syifa kecapean, alih-alih khawatir pada anak, Umi Syifa pun bisa-bisa kambuh lagi.
" Ibu? kenapa Nera?" Tanya Nera tersadar.
" Tadi kamu pingsan, ini nak minum. Ibu btadi beli teh manis, dan ini roti, makanlah" jawab Bu Siwi.
" Yang sabar, jaga istirahat dan makan. Kalau kamu seperti ini, bagaimana menjaga suamimu?" nasehat Bu Siwi pada Nera.
Kembali lagi mata Nera berkaca-kaca, dan masih saja suaminya belum sadar.
Setelah meminum tehnya, Nera minta gantian dengan Anto,yang menjaga Dya adalah dirinya.
Nera meminta Teh Maryam dan Anto lebih baik pulang dulu, istirahat dulu. Nera hanya ingin Dya dirinya yang menjaga.
Akhirnya Anto dan Maryam pulang, begitupun dengan orangtuanya, Nera memintanya untuk ikut pulang juga dengan Anto sekalian. Lagian orang tuanya ke rumah sakit menggunakan kendaraan umum.
〰️〰️〰️〰️
Dua hari berlalu.
Di dalam ruangan berdua dengan Dya, setelah ambil wudhu. Nera mengaji lirih didekat suaminya.
Sesekali Nera mengecup kening suaminya dengan lelehan air mata yang bergulir dipipinya.
Nera ,membisikkan kata-kata cinta, berharap suaminya segera sadar, dan sehat kembali.
" Abang, sadarlah lihat Adek ada disini, menanti Abang!"
Nera mengelap wajah suaminya, tangannya, dan kakinya.
Masih saja , Dya belum tersadar.
Nera terkejut dengan gerakan kecil di telunjuk kanan suaminya.
Nera terkejut, berharap suaminya hari ini terjadi.
Bersambung...
〰️〰️〰️〰️〰️
Jangan lupa klik tanda love merah, klik like dan jangan lupa vote dan koment.
Insyaa Allah , up lagi nanti malam.
__ADS_1
Dadah para reader..😘