
Suasana ruangan salah satu rumah sakit itu, hening. Hanya isakan tangis Sarah yang terdengar sayup.
" Sekarang, aku meminta jawaban bang Dya. kamu menolak atau menerima ku? " tanya Sarah.
" Aku perlu waktu ,Sar? " jawab Dya.
" Apa kamu masih meragukan aku benar-benar rela untuk kamu poligami? terlepas kamu mau izin atau tidak pada Nera. Aku akan tetap memaksa. Sudilah kamu menikahi aku! " isak Sarah memelas.
Rudi yang sedari tadi melihat apa yang dilakukan Sarah merasa muak. Rudi berlalu dan keluar dari ruangan dengan menutup pintu dengan kesal.
" jeblaaaag".
Kini hanya kiai Hasan, Dya, pak Salim dan Sarah yang berada diruangan itu.
Melihat apa yang dilakukan Sarah pada Dya, kiai Hasan bertindak.
" Dya, kamu menyukainya? " tanya kiai Hasan.
" Sama menyukainya, sebatas teman abah" jawab Dya cepat.
" Bukan kah, setelah menikah rasa suka dan cinta akan muncul seiring kebersamaan? " tanya Sarah lirih.
Dya mulai mengerutkan dahinya kesal.
" Kenapa kamu masih bersikukuh ingin menikah dengan aku? padahal aku tak pernah kenal kamu? " tanya Dya emosi.
" Toh kamu sendiri dengan istrimu dijodohkan? apa bedanya dengan aku yang menawarkan diri, bang Dya? " tanya Sarah lagi memelas dengan meneteskan air mata.
Dya menelan salivanya penuh kesal terhadap Sarah.
" Apa abang tega, didepan ayah saya yang sakit, abang berbicara seperti itu? Abang aku mengemis cinta" peluhnya sambil menangis pilu.
" Sarah, istighfar. Masih banyak laki-laki yang baik yang mau menikahi kamu , jodoh tak bisa dipaksakan! " ujar kiai Hasan.
" Bagaimana mungkin bisa berjodoh, kalau bang Dya tidak mencoba menikahi saya, kiai? Toh yang menikah saja ada cerainya ?" pungkas Sarah.
" Sarah, istighfar! saya bukan laki-laki baik, dan saya tidak mencintai kamu " tegas Dya pada Sarah.
" Laki-laki baik banyak bang Dya di dunia ini. Saya tidak perlu itu sebetulnya, Abang sekarang tidak mencintai saya, karena abang belum mencoba, tapi jika abang menikahi saya, saya yakin akan mencintai saya. Kenapa abang, saya tidak mengajak bermaksiat kepada Allah, tapi seolah-olah ini dosa besar? " kata Sarah mulai meracau.
" Kiai, salah kah anak saya mengemis cinta kepada anak kiai? Saya seorang ayah dan anda pun seorang ayah, apakah ini menentamg syari'at agama, toh tadi anda bilang ada hal-hal yang harus disegerakan, yakni menikah, apa ada cerita dalam peenikahan itu si kedua mempelai harus saling mencintai terlebih dahulu? apakah sebuah jaminan, jika menikah diwajibkan harus saling cinta terlebih dahulu? " tanya pak Salim pada kiai Hasan.
Kiai Hasan menarik napas panjang bingung, karena memang apa yang dilakukan Sarah tidak bertentangan dalam agama, hanya saja ada adab yang kurang pantas dilakukan seorang wanita kepada laki-laki.
Kiai Hasan memang salut dengan keberanian Sarah yang langsung meminang Dya pada dirinya, begitupun ayahnya.
Dya, semakin tak enak dengan situasi seperti ini. Apalagi sikap tidak enakan dan sulit menolaknya Dya, membuat dia gundah dan bingung.
Dya hanya terdiam saja , sesekali melihat Sarah yang menangis terisak. Memohon, cinta dirinya diterima.
Pada dasarnya dia sudah mulai luluh dengan sikap Sarah. Yang begitu bersemangat mengungkapkan perasaannya, dan menginginkan pernikahan dengan nya.
__ADS_1
Iba seorang Dya mulai memasuki relung-relung hatinya.
Melihat air mata yang mengalir dari mata Sarah, Dya sudah tak tega.
" Dya, saya harap kamu menerima Sarah dengan segala kekurangannya. Dia wanita setia, aku tahu itu. Sarah sudah menunggumu lama, sudah ada beberapa orang yang ingin meminangnya. Tapi dia menolak, yang dia inginkan cuman kamu. Ini ikhtiar Sarah yang terakhir. Dia rela malu mengemis cinta kepada laki-laki. Tolonglah Kiai ridhoi anak saya menikah dengan anak anda, kasihan anak saya" lirih pak Salim memelas.
" Saya mah akan meridhoi sebagi orang tua, tapi saya akan kembalikan lagi ke Dya, karena keputusan menikah itu urusan Dya sendiri" jawab Kiai Hasan.
Dya, begitu terharu melihat perjuangan Sarah untuk berikhtiar menikah dengannya.
Pengorbanannya dalam menanti, membuat hatinya terkoyak.
Tahukan, rasanya menanti bertahun-tahun tapi hasil akhirnya mengecewakan. Untuk sekelas orang lain mungkin sudah menyerah, tapi untuk Sarah malah siap menanggung resiko.
Menanggung cinta, menanggung rindu, menanggung menahan rasa, menanggung cemburu, menanggung marah dan kecewa melihat orang yang dicintainya akhirnya menikahi orang lain bukan dirinya.
Dya sudah mulai berdecak kagum.
Laki-laki mana yang tidak tersanjung, dirinya di istimewakan?
Laki-laki mana, yang tidak bahagia di nanti seorang wanita?
Laki-laki mana tidak senang, jika dicemburui?
Laki-laki mana tidak merasa mahluk beruntung, ada seorang wanita setia dan siap menanggung resiko apapun untuk dirinya ?
Dya berjalan menuju sofa, dan terduduk, sedikit merenung.
Masih dengan keheningan diruangan itu.
Semua menunggu keputusan Dya.
*********
Dirumah ibunya Nera, Nera ingin menemui suaminya.
Yang sedari tadi siang belum pulang.
Ini sudah menunjukkan jam 02 pagi, tapi dilihat hape tak ada sms atau telepon yang datang.
Nera akan putuskan, besok subuh sambil joging pagi menuju mertuanya itu.
Walau sekampung tapi beda RT dan RW.
*****************
" Assalamualaikum" Nera masuk ke rumah mertuanya .
" Wa'alaikumussalam, eh neng Nera" kata bi Minah.
" Eh, menantu umi yang cantik, baru datang. Maaf ya kemarin umi lupa ngasih kabar, kalau bang Dya enggak pulang! " kata umi Syifa.
__ADS_1
Nera mulai kebingungan,
" Emang, abang pergi kemana? "
" Sama abah perginya, ke Jakarta neng. Ada orangtua temennya sakit, pengen ketemu sama abah dan Dya" jawab Umi Syifa.
" Bang Dya, kayaknya lupa juga, enggak ngabarin Nera. Makanya Nera kesini, hehehe. Apa habis pulsa ya mi, belum diisi? " tanya Nera berbaik sangka.
" Mungkin, tapi abah mah sms umi kok, katanya paling sore atau besok pulangnya, enggak apa-apa kan? " tanya umi Syifa pada Nera.
Nera mengangguk.
Tiba-tiba Anto muncul,
" wiiiih teteh ipar, habis joging teteh " goda Anto.
" Iya, bang. Sekalian mau nemuin bang Anto, eh bang Dya " kata Nera salah sebut nama.
" Iskkk, nama yang pertama itu lebih jujur, betulkan mi?" canda Anto pada Nera sambil nyolek pundak ibunya.
Umi Syifa tertawa mendengar kelakuan anaknya menggoda kakak iparnya.
" Sudah sana, mandi. Sarapan sudah akan siap. Nera tolong bantuin umi dan bi Minah untuk menyiapkan sarapan" kata Umi Syifa.
" Hey, Nera!" kata Maryam merangkul Nera yang sedang membantu mertuanya.
" Nyari Dya ya? belum pulang, tadi Dya nge sms, pulangnya antara malam atau besokkan" ujar nya lagi.
Nera sedikit menahan marah,
" Kenapa ke kakaknya dia memberikan kabar, sedang pada diriku tidak? apa dia sedang marah? apa pas berangkat bareng bang Anto, bang Anto membicarakan diriku pada bang Anto? aku harus ngomong sama bang Anto" gumamnya dalam hati.
Dibalik jendela dapur, Nera melihat Anto sedang bermain samsak, menendang samsak.
Nera minta izin ke mertuanya untuk ke belakang dulu menemui Anto.
" Bang Anto" sapa Nera pada Anto yang sedang berjibaku dengan samsaknya.
" Apa sayaaang! " goda Anto.
" Ada yang ingin aku pertanyakan ke abang" tanya Nera lirih.
" Tenang, cintaku ke kamu gak akan pudar walau ditelan waktu " goda Dya lagi.
" Isk itu mah lagu Ita purnamasari atuh, tapi bukan itu. Kemaren abang sama bang Dya enggak ada Nera , ngobrolin Nera enggak?"
tanya Nera penasaran.
" Jawab jangan yaaa? ok kalau pengen jawabannya, temenin saya latihan tarung, gimana? " pinta Anto menggoda.
" Siap, tapi habis itu saya minta abang jujur ya! " kata Nera pasrah.
__ADS_1
bersambung