
malam ini keluarga kiai Hasan berkumpul, kecuali menantu-menantunya.
Karena memang sudah dikonsep sedari awal, acara khusus keluarga kiai Hasan saja.
Diruang keluarga, mereka semua bercanda dan bersenda gurau.
Bi Minah, menghampiri ke ruang keluarga.
" Umi, punten ada tamu" kata Bi Minah.
" Nuhun, Min" jawab Umi Syifa sambil berjalan menuju ruang tamu.
" Eh Rudi sama Sarah, ayo duduk-duduk " sapa Umi Syifa ramah.
" Ada Dya, umi? " tanya Rudi lirih.
" Dya.. Dya ada Rudi! " panggil umi pada Dya.
Dya yang asyik sedang bercanda dengan saudara-saudara langsung bergegas setelah mendengar seruan dari ibunya itu.
" Eh, Rudi, wuiih tumben malam-malam ke Bandung. Kangen ya ? hahahahah" goda Dya pada Rudi sambil gaya peluk laki-laki.
Kemudian tersenyum simpul pada Sarah.
Umi Syifa berlalu lagi ke ruang keluarga.
Dya , Rudi dan Sarah mulai mengobrol.
" Ini ayahnya Sarah, lagi sakit sekarang ada di rumah sakit. Tapi ayah Sarah itu minta kamu yang kelola pabrik garment nya yang ada di Bandung. Untuk lebih jelasnya, aku diminta bawa kamu ke rumah sakit " kata Rudi menjelaskan.
" Lho kok aku? kan bisa sama Sarah? aku tahu apa masalah garment? " jawab Dya.
" Makanya kamu ikut dulu ke rumah sakit, temuin dia saja " ajak Rudi.
" Aku izin dulu sama keluarga aku dulu ya? " kata Dya.
" Ajak juga abah, soalnya ayahnya Sarah pengen curhat masalah agama, sama kiai Hasan"
Dya melangkah menuju ruang keluarga dan menghampiri kiai Hasan. Kiai Hasan mulai memperhatikan Dya.
__ADS_1
" baiklah, ayo kita berangkat! " ajaknya.
Akhirnya,mereka berangkat ke rumah sakit.
*************
Sesampai di di rumah sakit,
mereka melihat pak Salim dengan infus yang terpasang di tangannya.
Pak Salim terbangun dan menyapa mereka yang datang.
Sarah mencoba berlari menuju ayahnya itu.
" Ayah, kiai Hasan dan Dya sudah datang"
" Kiai Hasan, perkenalkan saya Salim. Maaf sudah merepotkan kiai sudah rela datang kesini " kata Pak Salim terduduk di kasur.
" Ah, tidak merepotkan, ini adalah melaksanakan sunnat dan hak sesama muslim. Ada beberapa hak yang harus dipenuhi seorang muslim terhadap muslim yang lain, satu jika ada yg mengucapkan salam wajib di jawab salamnya, kedua jika ada yang minta nasehat maka berilah nasehat, ketiga jika sakit maka jenguklah, ke empat jika bersin do'akanlah, ke lima jika meninggal urusilah, dan ada lagi " jawab kiai Hasan.
" Terima kasih kiai, saya sudah lama mengidap penyakit kanker getah bening, saya sudah mulai sakit-sakitan. Saya ingin fokus beribadah dan tanpa memikirkan perusahaan. Begitu pun saya ingin sekali menikahkan Sarah terlebih dahulu, supaya ada yang menjaganya ketika saya ke rumah sakit dan fokus berobat"
Dya dan Rudi terduduk di sofa sambil mendengarkan obrolan kiai Hasan dan pak Salim.
Sarah sejak pak Salim berbicara dengan kiai Hasan dari tadi keluar.
" Tinggal dinikahkan saja kan, kalau sudah ada calonnya mah, jangan di nanti-nanti. Ada beberapa hal yang harus segerakan, satu bayar hutang, shalat, menguburkan mayat dan menikahkan jika sudah dinilai siap" jawab kiai Hasan.
" Calon nya mah sudah ada, hanya saja saya masih takut, laki-lakinya menolak " sendu pak Salim.
Dya sudah melirik ke arah pak Salim, khawatir jika laki-laki yang akan dijadikan suami anaknya itu dirinya.
" Pak Salim, tadi kata Rudi pak Salim ada kabar yang ingin disampaikan kepada saya, apa ya pak Salim? " pungkas Dya.
Sambil menghampiri pak Salim sambil mencari bangku untuk duduk di sebelahnya.
" Ouh, saya di Bandung ada perusahaan garment, karena saya sekarang saya harus fokus berobat dan yaa sudah tua pula. Ingin sekali ada yang menggantikan saya mengurusi perusahaan. Kalau bisa ya kamu Dya, karena kelihatannya kamu bisa bantu saya. Saya perlu orang jujur dan fokus seperti kamu" puji pak Salim.
" Maaf pak, tapi itu bukan di bidang saya. Saya memang sedikit faham. karena abah memang memiliki beberapa toko kitab, toko oleh-oleh haji yang tersebar di Bandung dan Jakarta,cuman kan itu beda banget sistemnya. Terus seminggu lagi saya akan berangkat ke Maroko" jawab Dya.
__ADS_1
Tiba - tiba Sarah datang dan menghampiri kiai sambil tersedu dan duduk bersimpuh di kaki pak kiai.
" Kalau begitu, saya meminta pak haji untuk menikahkan saya denga Dya, saya mohon, saya rela dijadikan yang kedua untuk Dya. Saya berharap kiai Hasan mau merestui kami "
Melihat Sarah yang bersimpuh mereka yang ada dikamar itu kaget.
" Sarah, haram kamu seperti itu. Berdiri! " perintah kiai Hasan.
" Sarah! " kata Dya.
Sarah berdiri sambil berderai,
" hinakah saya jika meminang laki-laki untuk menikahi saya? saya jujur begitu berharap Dya menjadi suami saya, sejak lama kiai. Tapi saya bersedih saat di menikahi wanita lain . Saya menyukai Dia semenjak awal dia pulang semesteran daru Maroko dan saya pada saat itu ada di rumah bulek di Jakarta, dimana pada saat itu Dya sedang bermain dengan Rudi. Semoga Kiai dan Dya tidak menolak saya" kata Sarah penuh harap.
" Saya sudah beristri, dan saya mencintai istri saya, bagaimana mungkin kamu mau berpolygami dengan saya. Kamu cantik, pinter dan berkelas. Kamu pun pasti banyak yang mau, carilah yang sama-sama masih sendiri. Aku taku jika aku menyetujui permintaanmu aku tak bisa adil dalam masalah hati dan perhatian . Maaf kan aku . Aku tidak bisa, Nera akan bersedih dan aku tak akan tega jika harus mengatakan akan poligami"
Ucap Dya bersedih.
" Kiai, bukankah poligami diperbolehkan, dan tak perlu minta izin istri pertama? " tanya Sarah pada kiai Hasan.
" Memang, tapi tetap ada adabnya, tidak sesuka hati seperti itu. Apalagi ini menikah kedua belah pihak keluarga harus tahu dan masyarakat harus tahu, makanya pernikahan itu wajib semua orang tahu biar tidak ada fitnah. Kalau diam-diam seperti ini, memang nya neng Sarah sanggup? Apalagi Dya mencintai Nera" jawab Kiai Hasan tegas.
" Saya rela kiai, dan saya sudah bilang serta minta izin ke ayah, dan ayah pun meridhoinya. Kiai Hasan saya moho, bujuklah Dya untuk menikahi saya " harap Sarah memelas pada kiai Hasan.
" Jangan gila Sarah, akan ada hati yang terluka. Kamu tidak berpikir kesana, kamu sama-sama perempuan! kamu Dya berikan ketegasan, aku faham dan cukup mengenali dirimu, yang selalu sulit mengatakan tidak dan terlalu banyak iba, tolak lah dengan tegas jika kamu memang tidak menginginkanya, pikirkanlah " pungkas Rudi yang sedari tadi gemas.
" Dya, terimalah anak saya, Sarah. Yang saya percaya sekarang, laki-laki yang tepat untuk anak saya adalah kamu. Saya sudah penyakitan dan tak bisa berbuat banyak apalagi menjaga anak saya, saya mohon, jadikan anak saya istri kamu. Walaupun anakku dipoligami, tak mengapa, dia sudah siap menanggung resikonya. Pada hakikatnya setelah dia bilang tak mengapa dipoligami juga, saya pun bersedih. Tapi jika sudah keputusan Sarah seperti itu, saya pun ikut rela, saya faham betul anak saya, dia pasti sudah mempertimbangkan sebelum melakukan keputusan ini, Dya nikahilah anak saya " peluh pak Salim terbatuk.
" Om, kaya yang enggak ada laki-laki lain saja. Kiai bukankah Dya punya adik laki-laki, Anto? dia masih lajang bukan? bagaimana kalau Anto sajalah" usul Rudi sudah mulai kesal.
Dya membulatkan matanya, begitu pun kiai Hasan.
" Iya Sarah, Anto pun lebih tampan dan dia masih sendiri, dia pun cerdas, nanti om Salim dan Sarah kita kenalkan pada Anto"
kata Rudi.
Namun, setelah mendengar usulan Rudi , Sarah terduduk dan menangis tersedu
" Semudah itukah cinta dan memilih suami, dalam hitungan detik bisa berubah haluan?" isaknya.
__ADS_1
bersambung