Berjanji Dan Merajut Asa

Berjanji Dan Merajut Asa
81. Melepas semua harapan ke 2


__ADS_3

Pov Nera


Aku terbangun dari tidur ku yang lelap.


Ku kira semua yang terjadi adalah memang betulan . Bang Dya sudah sadar, Bang Dya memeluk aku, Bang Dya sudah memaafkan aku, dan Bang Dya sedang menasihati aku.


Aku begitu bahagia dan sumringah.


Tak ada pristiwa yang paling menyenangkan dan membahagiakan selain Bang Dya tersadar dari masa komanya. Dan kemudian memelukku dengan suka cita.


Tapi sekujur tubuhku lemas, mataku yang begitu berat aku buka, telingaku di sibukan dengan gaduhnya beberapa suster dan dokter yang mendekati Bang Dya.


Kupikir aku sedang bermimpi, tapi ku coba menyadarkan diri. Dan mencoba memaksa diri ini tersadar.


Ku samperin perawat, perawat bilang Bang Dya kolaps, detak jantungnya hilang.


Mulutnya dimasukkin alat bantu pernapasan yang berupa selang. Entah apa itu namanya.


Ada tetesan air mata yang mengalir diujung sela-sela mata Dya.


Suara mengorok yang keluar dari mulut Dya yang sedang kritis.


Suster dan dokter sibuk menempelkan semua alat pada tubuh Dya dan mulutnya.


Nera mematung, apakah tadi mimpi aku dipeluk dan dia memaafkan semua kesalahanku?


Aku merasakan canda tawanya benar-benar seperti nyata.


Dia memaafkan ku dan berkata lirih untuk selalu aku jujur padanya, apapun itu.


Aku melihat matanya diberi kapas berbentuk kotak. Kelopak matanya sudah terlihat berwarna kuning, alasan kata susternya efek semua hatinya , dia komplikasi hati juga, karena selama ini dia tak makan dan hanya terus obat.


Aku mencoba membuka kapas itu, kelopak matanya terbuka sedikit, dan terlihat warna putih bola matanya itu sudah berubah kekuning-kuningan.


Setelah kedekati keningnya, mulutnya sudah berbau.


Dan ku lihat hanya tangan kananya bergerak seperti terkena setrum.


Aku tak berdaya.


Kenapa seperti ini?


Abang sehat, ku lihat alat monitor tanda kehidupan itu.


Sesekali dia , diagram garisnya menunjukkan lurus, kemudian lanjut lagi.


Hari ini aku coba telepon umi, bahwa bang Dya kembali kritis.


Kondisinya lebih parah.


Bang Dya, kamu akan tega membiarkan aku menanggung dosa, belum mendapatkan maafmu?


Kamu beneran masih marah sama aku, sampai akhir kamu tak mau buka mata, sekedar untuk menyapa aku?


Bang Dya, bangun!!


Sambil aku menciumi punggung tangan suamiku.


Bang Dya, ngobrol dulu bang Dya!

__ADS_1


Bang, Abang. Abaaaaang hiks.


Aku merasakan dada yang teramat sakit, menangis lagi aku.


Aku terduduk lagi dibawah ranjangnya.


Aku sujud , dan memaksa pada Allah, untuk menyadarkan suami dan sehatkan dia kembali.


Aku tidak tahan, tidak kuat menyaksikan suami ku terbaring dengan semua alat yang menempel ditubuhnya.


Aku sekarang sudah merasa aku tak berarti lagi.


Aku terus memaksa kepada Allah untuk segera menyadarkan Dya dan membuat sehat lagi.


Semua penyesalan terhadap suamiku mukai berdatangan pada otakku.


Aku sering melakukan kesalahan padanya, jarang bersama dengannya. Tidak mengurusi dirinya dengan baik, tak pernah berkhusnudzon padanya, sampai pada Allah aku tak akan mengulanginya. Jika Allah mengabulkan do'anya.


Suster datang lagi,


aku mencoba bertanya padanya kenapa tanganya bergerak seperti orang kesetrum gitu?


" Itu, biasanya efek alat bantu pernafasan. Jadi tangan bapak ini bergerak. Karena dia sudah koma" jawab si suster sedikit menenangkan.


Terus kenapa matanya di tutup oleh kapas?


" kan itu matanya , matanya efek penyakit kuning, karena organ hatinya terganggu" ucap suster itu ragu untuk mengelabui aku ( mungkin ).


Beruntunglah umi datang dan menghampiri kami.


Umi bertanya ada apa dengan semua ini, kondisi Dya bagaiman sampai harus pasang selang ke mulutnya sebagai alat bantu pernapasan, sampai Dya terlihat mangap?


Apalagi, pas melihat mata Dya, tidak seperti biasanya, bergerak ke kanan atau ke kiri secara perlahan dengan lambat.


Aku sudah kelu.


〰️〰️〰️〰️〰️


Pov Author


Umi datang, beliyau dengan raut wajahnya tersirat menahan rasa sedih yang mendalam.


Melihat kondisi anaknya.


Umi terlihat tak terima anaknya hanya membisu dengan semua alat kesehatan yang tertempel di tubuhnya.


Umi meminta dokter untuk datang ke sini, sebetulnya apa yang sedang terjadi dengan Dya saat ini?


" Suster, anak saya kalau di cabut alat-alat ini bagaimana kondisi kesehatannya?" tanya Umi Syifa.


" Maaf , ibu. Saya cari teman saya dulu, karena kami kalau sendiri yang ngomong takut ibunya tidak percaya. Saya cari teman saya dulu" kata susternya ragu dan kemudian berbalik tubuhnya untuk segera berlalu. Namun Nera memberikan pertanyaan nya lagi.


" Suster, aku dari tadi memegang kakinya kenapa begitu dingin, pun dengan punggung tangannya?" tanya Nera pada suster, di ikuti Umi yang langsung menyisir kulit kaki Dya dan telapak tangannya.


" Sebentar ya bu, saya tinggal dulu. Saya segera kembali bersama teman dan dokter. Maaf ya bu, permisi!" jawab nya lembut dan sekarang benar-benar melangkah .


Nera dan umi merasa aneh, kenapa tangan kanan dia , bergerak teeangka ke atas kebawah seperti terkena setrum.


Kenapa kakinya sekarang begitu dingin, akhirnya Nera putuskan mematikan AC, Nera mengusap-ngusap punggung tangan suaminya.

__ADS_1


Tapi masih tetap tangan dingin.


Akhirnya ada tiga suster yang sering berjaga dan dokter yang menangani Dya.


Dokter itu bicara pada kami berdua dan menjelaskannya.


" Ibu, Pasien atas nama Dya ini, memang pada saat ini, hidupnya di bantu alat. Kami tidak tahu, apa yang terjadi jika alat ini dilepas? Tapi tergantung pihak keluarga, kami selaku tenaga medis sudah melakukan banyak upaya untuk pasien atas pak Dya ini sehat kembali. Tapi kita sudah berikhtiar, dan kembali lagi Tuhan yang menentukan. Mangga kalau ibu memutuskan ingin melepas alatnya, tolong ditanda tangani. Saya harapkan ibu membesarkan hati. Apapun yang terjadi sudah ketentuanNya. Setiap yang bernyawa pasti akan meninggal" jelas dokter pria berkacamata itu.


" Iya dok, saya lebih baik alat-alatnya dilepas saja. Saya sudah siap menerima hal terburuk sekalipun" jawab Umi sambil menandatangani berkas yang dipegang oleh suster.


Nera masih berharap ada mukzijat , dan Dya kembali sehat.


Suster - suster itu dengan telaten mencabut alat pernapasan yang selangnya begitu panjang dimasukkan ke tenggorokan bang Dya. Begitupun alat-alat yang lain.


Entahlah author tidak tahu jelas apa itu namanya, tapi mungki para reader ada yang tahu mungkin.


Setelah semua alat dilepas, terkecuali alat deteksi kabel di jepitan jari telunjuk, dan infusan.


Beberapa saat setelah semua alat-alat itu dilepas.


Monitor kehidupan itu, berubah tidak menunjukkan pergerakan garis naik turun. Tapi lurus memanjang datar.


" Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit"


Kemudian suster yang masih diruangan pun melihat jam ditangannya , kemudian menuliskan di buku laporannya. Dan langsung menutup tubuh suami dari Nera dan anak dari Umi Syifa.


Nera mematung lagi dengan mata nanar, spontan Nera berteriak ,


" Abaaaaaaaaaaaang!!!!" terduduk dan kemudian menangis.


Maryam yang ada di luar mendengar teriakan Nera , dengan cepat spontan memasuki ruangan Dya.


Maryam melihat Umi Syifa yang sedang memeluk jenazah Dya yang sudah tertutupi oleh selimut putih pasien. Melihat Nera dengan histeris menyebut nama Dya sambil menangis terduduk di lantai.


Maryam pun lemas dipojokan sudut kamar pasien.


Bagai disambar petir, tubuh Maryam pun tak berdaya dengan tatapan mata kosong, terduduk pula di lantai, memandang jenazah sang adik tercinta.


Maryam, mengenang dalam lamunannya, bagaimana waktu kecil Dya, saat merengek padanya. Curhatan Dya, dan kejadian-kejadian yang membahagiakan semasa hidupnya terekam jelas dipelupuk mata Maryam.


Maryam pun menangis sejadi-jadinya, mengenang Dya yang selalu menjadi panutan di keluarga kiai Hasan.


Maryam mengambil gawainya.


" Assalamu'alaikum, Abah"


" ................."


" Dya sudah enggak ada, Dya meninggal !"


katanya sambil menangis terisak dan menutup telepon.


Bersambung..


〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️


Jangan lupa klik love, like ,koment dan vote.


Terus pantau sampai ending ya.

__ADS_1


Semoga terhibur.


Jazakumullah khairan katsiiran , readers 😘😘😘😍


__ADS_2