
Umi Syifa menyambut kedatangan suami dan anaknya.
Dia memeluk ibu dan sun tangan.
" Dya izin langsung ke kamar ya mi! " izin Dya pada Ibunya yang sibuk memberikan minum pada Kiai Hasan.
Dya memasuki kamarnya,
ternyata ada istrinya sedang tertidur pulas.
Dya langsung teringat handphonenya, dirogoh disaku celana dan tasnya tak ada.
Kemudian Dya turun lagi dari kamarnya menuju mobil. Dicarinya pun tak ada.
" Lagi nyari apa, Ya? " kata kiai Hasan pada Dya.
" Nyari handphone, bah. Hilang, entah dimana tadi? " jawab Dya kebingungan.
" Telepon Rudi, sapa tahu dia masih dirumah sakit sekarang " jawab Kiai Hasan.
" Besok lagi saja , Dya sudah lelah bah, Dya izin tidur duluan ya bah" jawab Dya lemas.
" Sabar, semua akan baik-baik saja " nasehat kiai Hasan.
" Terima kasih ,bah " jawab Dya lirih.
**************
Dya masuk kamar, terlihat Nera yang sudah terbangun dari tadi ketika Dya sibuk mencari handphone nya.
" Bang Dya , sudah pulang? " sapa Nera bahagia.
" Eh, ade. Kaget abang, dikira masih tidur, sudah dek, adek sehat? " sapa Dya dan menghampiri Nera dan mengecup keningnya.
" Maaf, Ade tadi kena air sop panas di paha dan di kaki, jadi sekarang cuman bisa tiduran dulu dikasur, enggak apa-apa kan bang ?" tanya Nera pada Dya.
Dya terkejut dan langsung membuka pelan sarung yang dipakai Nera.
" Coba dek, abang lihat, kenapa adek enggak bilang, sih dek? "
" Dek, besar sekali dek luka bakarnya, sudah ke dokter belum? kapan terjadinya?" tanya Dya cemas.
Nera memeluk suami nya sambil menangis,
" Abang, marah sama Nera. Kenapa hampir dua malam abang enggak mengabari Nera. Mohon maaf, Nera menyusul abang kesini. Jika Nera punya salah, abang seharusnya katakan. Biar Nera introspeksi. Bukankah ridho suami adalah Ridho Allah juga bagi para istri. Abang, Nera kangen, Nera khawatir, Nera sayang sama Abang "
Mendengar rintihan istrinya, Dya merepas sprei kasur. Dya menyalahkan dirinya, dia memeluk istrinya dengan kuat.
Dipelukan istrinya, tak terasa meneteskan air mata, tak ada kata lagi yang bisa terucap.
Dya mengusap punggung istrinya tanpa berkata-kata.
__ADS_1
" Abang, kenapa sms yang adek kirim, abang tak balas? Telepon adek kenapa enggak diangkat? Abang marah sama adek? Adek takut disana abang kenapa-kenapa? Abang jawab Adek? " tanya Nera sambil berusaha melepaskan pelukkannya namun Dya masih memeluk nya dengan kuat.
" Abang, menangiskah? Apa terjadi sesuatu dengan abang? Abang kecewa dengan Adek? " Nera terus meracau.
Dya melepas pelukannya dan mencium kening istrinya.
"Maafkan abang, sudah bikin adek khawatir, abang nengok pamannya Rudi. Alhamdulillah abah juga dipinta untuk ikut.
Hape abang ketinggalan di Jakarta, insyaa Allah sekalian berangkat, minggu depan ke Bandara, nanti sama Rudi di bawakan. Kalau disini abang bisa pakai telepon rumah. Maaf, kemarin abang buru-buru berangkat. Jadi lupa mengabari, dikira abang sebentar cuman nengok doang, eh ternyata ada obrolan bisnisan, tapi itu bisa dilanjut nanti kalau abang sudah di Maroko. Ouh iya, nanti Rudi mau ngajakin kamu dan abah gabung di travelnya. Kan sekalian promosi di majlis taklim abah dan orang tua santri anak-anak TPA sore. Entar Rudi juga akan ngadain rapat sama abah, abang izinin selama abang di Maroko kamu boleh punya banyak kegiatan, biar pas nunggu abang enggak kerasa, sudah setahun saja, ouh iya besok kita ke dokter ya, abang takut nanti kamu demam dan infeksi, apalagi itu lukanya besar begitu" jelas Dya menenangkan Nera.
" Abang, abang cape? sudah makan? " tanya Nera lembut.
" Abang pengen tidur dek, abang lelah seharian dijalan, macet, enggak apa-apa,kan abang langsung terlelap sambil peluk adek? "
kata Dya sambil tertidur di pinggir tubuh Nera.
" Iya, bang. Selamat malam ya abang, semoga mimpi yang indah" jawabnya penuh kebahagiaan.
Dya, memastikan Nera pun sudah tertidur.
Hanya saja, tubuh lelahnya sulit sekali memejamkan mata.
Sesekali Dya melihat wajah polos istrinya, yang mulai beranjak ke alam mimpi.
Ada kekhawatiran dan kebingungan di kepala Dya.
Wajah istri yang ia pandangi, tak kalah cantik dari Sarah.
pov Dya.
Nera, kau istri terindah yang Allah berikan dikala aku sedang putus asa dari cinta.
Kamu wanita impianku, semua yang laki-laki mau dari seorang wanita ada di kamu.
Pantas saja Anto begitu menggilai mu,
Maaf, surat Anto aku baca, pada saat aku bersih-bersih kamar kita di rumah ibumu.
Rasa kecewa ku ada padamu, istri cantikku.
Setelah Dito yang berkirim surat. Ternyata Anto adikku diam-diam berharap menjadikanmu istrinya.
Nera, aku begitu bangga, kenapa kau bisa langsung mau menerima ku jadi suamimu?
Aku jadi besar kepala, jika terus didekatmu.
Tapi aku pun terkadang, kikuk jika harus bermesraan didepan Anto.
Nera, ku berjanji tak akan melepasmu, sekalipun kau meminta cerai padaku.
Kamu wanita pertamaku, aku akan pertahankan kamu sampai titik darah penghabisanku.
__ADS_1
Nera, semoga kau selalu setia padaku sampai maut memisahkan kita.
*****************
pov Author
Tangan Nera diremas pelan oleh Dya, lalu menciumi punggung tangan istrinya.
Mencoba menyingkirkan rambut yang menutupi matanya.
Dya mengecup kening istrinya lagi.
Nera masih terlelap.
Dya turun dari ranjang, dan melihat luka bakar Nera.
Dya, memberikan vase*** obat bakar atau perawatan kulit. Dengan hati-hati dan lembut, sehingga Nera pun tak terasa sedang diobati oleh Dya.
Dya turun dari kamar, melihat umi dan abahnya belum tertidur masih berkumpul diruang keluarga.
" Eh Dya, belum tidur kamu toh le? " kata Umi Syifa denfan logat Jawanya.
" Kunaon, Dya acan sare ? ( kenapa kamu belum tidur?), lin tadi ngomong cape, cenah? " tanya Kiai Hasan.
" Enggak, bah. Lagi mikirin bentar lagi ke Maroko. Sementara Nera di Indonesia, kadang saya suka khawatir Mi, Bah. Takut Nera kesepian atau mungkin jenuh. Tapi Dya juga khawatir kalau dia ikut, mesannya bersatu dengan anak-anak ikhwan. Sedang sewa. apartemen atau rumah, belum tentu Nera siap " curhat Dya pada kedua orang tuanya.
Kiai Hasan melihat kebingungan besar di wajah sang anak.
Umi Syifa ada banyak ke anehan terhadap Nera dan Dya.
" Ada apa, seharian ini Umi melihat Nera seperti lagi banyak pikiran? Terus Dya, kamu toh lee, kasih kabar istrimu jika perg kemana pun, biar istrimu itu tenang hatinya. Mungkin kalau kamu tuh ngasih kabar, enggak akan kejadian tubuh Nera kena tumpahan sop panas" Nasehat Umi Syifa pada Dya.
" Waduh, ada Nera toh? bagaimana luka kena air sup nya, tidak parahkan? " tanya Kiai Hasan terkejut.
Dya, merasa tercekat pita suaranya mendengar nasehat ibunya itu.
Nera, begitu mengkhawatirkannya. Dya mengusap wajahnya dan sesekali menggaruk kepalanya menandakan kebingungan yang teramat berat, dia rasakan.
" Abah, Umi . Dya izin tidur duluan ya? " Kata Dya berlalu dan kembali memasuku kamar tidurnya.
Melihat istrinya, kembali rasa menyesal itu menyeruak didalam dadanya.
Dya ingin mengajak ikut serta istrinya itu kemanapun ia pergi.
Tapi, itu akan membuat semua cita-cita istrinya terbengkalai.
Lagian di Maroko, Dya hanya satu tahun.
Keputusan yang akan begitu bodoh jika Dya memutuskan hanya demi egonya saja.
bersambung
__ADS_1