
Pagi ini, setalah sarapan nera memohon izin untuk berangkat kuliah pada Umi dan kiayi Hasan.
Keluar dari pintu, Nera mendapati Anto sedang duduk di kursi taman.
Melihat matahari yang sedang berkilau hangat mengenai tubuh tegapnya.
Nera, menyapanya bak sehangat matahari yang bersinat dipagi hari ini.
" Berjemur, abang! " sapa Nera berjalan melewati Anto.
" Mau kemana, sudah cantik? " puji Anto pada Nera. bu
" Hahaha, jadi kemaren aku belum cantik? kalau bilang sudah, berarti nanti enggak cantik lagi? " jawab Nera menggoda.
" Issk, kakak ipar tawanya bikin adek ipar kembali sehat " Goda Anto pada Nera.
" Sudah ah, ngegombal mulu. Daaaah adek ipar, kakak ipar berangkat dulu. Assalamualaikum " kata Nera sambil berlalu.
Anto menatap terus punggung Nera yang hampir menghilang dari pandangannya.
Ada rona bahagia di hatinya, dia tak pernah tahu, kelak jika Dya pulang, apakah dirinya dan Nera bisa se akrab itu lagi?
Di depan pintu rumah, ternyata sedari tadi Maryam memperhatikan mereka.
__ADS_1
Maryam menghampiri adiknya, dan menepuk punggung sang adik.
Tepukan Maryam, membuyarkan lamunan Anto.
" Jangan piktor ( pikiran kotor) , Nera istri orang, sudah cari wanita lain! " ucap Maryam pada Anto.
" Yaaa, siapa yang bilang, Nera istri setan? issk teteh itu suka ngedumel di waktu yang kurang tepat" jawab Anto.
" Ada kabar gembira, buat kamu! " kata Maryam.
" Apa? " tanya Anto.
" Umi minta sama temannya, tuuuh anak sebelah, tetangga kita. Supaya anak gadisnya mau sama kamu,dijodohin!" kata Maryam.
" Maksud teteh sama Astuti? " tanya Anto membulatka matanya.
Anto mengacak rambutnya, dengan penuh kesal.
**************
Mekkah
" Dya, keluarga ku lagi buat anak cabang travel di Bandung, bokap nyaro yang bisa ngurus yang di Bandung. Tapi kalau aku yang urus, gak bakalan kuat. Tadinya mau ngajuin kamu, kalau kamu minat nanti aku bilangin ke ayah, supaya kamu bisa jadi rekomendasian yang bagus buat di Bandung " obrol Rudi pada Dya.
__ADS_1
" Bukan, nolak sih Rud, tapi untuk saat ini habis pulang dari sini, aku harus ke Maroko. Satu tahun lagi, takut nya kalau aku direkomendasikan bakal ngehambat, coba cari yang lain. Tapi kalau di butuh kan buat guide lagi, dan waktunya memungkinkan insya Allah siap kok aku bantu lagi "
jawab Dya menolak halus.
" Kalau aku sih sudah percaya sama kamu, ke yang lain aku masih ragu. Ngomong-ngomong om Salim kemarin ke kamu , ngomong apa? " tanya Rudi penasaran.
Dya hanya tersenyum simpul.
" Dya, aku tuh mau minta maaf, Sarah emang sudah suka sama kamu sebelum kamu nikah. Dia kuliah di Jerman. Dia pintarnya maa syaa Allah, dia juga supel tapi wataknya keras, kalau sudah suka ya suka" Rudi memaparkan tentang Sarah pada Dya.
" Tunggu, sudah suka sama aku sebelum aku nikah? Kamu tahu darimana Rud? aku ketemui dia juga baru kemaren" pungkas Dya.
" Sarah sepupu aku, kamu kalau lagi liburan kuliah kan suka nginep di rumah aku, habis itu pulang ke rumah teteh kamu. Sarah waktu itu juga ada di rumah aku, kamu nya saja kalau sudah nunduk gak pernah lihat kanan kiri, apalagi kalau sudah baca buku, dicopet juga kagak kerasa. Sarah titip salam buat kamu sebelum berangkat lagi ke Jerman, setelah aku sampaikan ke kamu, kamu bilang hemh aja, kamu siiih fokus ke buku, cuek habiiiis. Aku kira kamu gak suka perempuan suka nya buku" canda Rudi pada Dya. Dya mendengar ocehan Rudi, terkekeh.
" Sarah, dulu sempat curhat. Kepengen punya laki, tapi lakinya kaya kamu. Cowok cool plus otaknya encer kaya kamu " Rudi berceloteh lagi.
" Bilangin saja, aku sudah beristri, insyaa Allah dia akan faham " jawab Dya datar.
" Boro-boro, sudah di bilangin juga dia mah malah nantang jadi yang kedua " pungkas Rudi.
" Bapaknya juga, pas lihat kamu langsung setuju, malah menyetujui. Mereka ikut umrah juga pengen kenal dekat sama kamu, sekaligus pengen pe de ka te an sama kamu. hemmmh " gerutu Rudi bersungut.
Dya hanya senyum mesem tanpa ekspresi mendengar obrolan Rudi tentang Sarah.
__ADS_1
Baginya, Nera adalah wanita satu-satu nya saat ini tak ada wanita lain, dan dia berharap dia tak pernah tergoda wanita mana pun.
bersambung.