Berjanji Dan Merajut Asa

Berjanji Dan Merajut Asa
70. Rasa Suami istri


__ADS_3

Sudah empat bulan Nera disibukkan dengan rutinitasnya di TPA dan kuliahnya.


Yaser, sudah beres ujian tinggal menunggu kelulusan.


Anto, sibuk dengan tempat kuliah barunya dan kegiatan fotografer sebagai jurnalis di sebuah percetakan majalah islami.


Terkadang, menjadi model foto jepretannya .


Anto sekarang tak terlalu menjauh dari Nera.


Anto jarang di rumah, kadang dia pergi keluar kota, kadang dia naik gunung untuk mendapatkan jepretan yang bagus atau ke tempat-tempat alami agar koleksi foto-fotonya semakin beragam.


Sudah Empat bulan Nera masih belum mendapatkan jawaban antara Sarah dan Dya.


Karena Nera bertekad akan menanyakan nya jika Dya pulang nanti.


Karena Nera khawatir kalau di telepon, bukan mendapatkan solusi, tapi malah mendapatkan masalah baru karena miskomunikasi .


Dya, semakin hari semakin berubah.


Ketika Nera sms , Dya akan segera membalasa atau menelpon balik.


Selalu membuat ceria Nera dan semakin hari semakin hangat hubungan mereka .


*************************************


" Anto sekarang, semenjak di Indonesia sabtu minggu enggak pernah di rumah, pasti saja keluar kota, mau di ajak ke rumah teman Umi sekalian mengenalkan anaknya , sapa tahu jodoh kan?" kata Umi Syifa ceriwis di pagi hari.


" Biarin saja, dia kan laki-laki, mau pergi kemana pun bebas. Tak usah di khawatirkan. Kalaupun pengen nikah, dia pasti minta sendiri. Matak kitu oge, acan hayang kawin , budak teh, tong sok di adu-adukeun wae, da budak teh geus gede.( makanya begitu juga, belum ingin nikah, anak itu, jangan di jodoh-jodohkan melulu. Biarin saja, tuh anak sudah besar ini) " jawab Kiai Hasan sambil membaca koran di ruang keluarga duduk di sofa panjang.


" Yaser, kamu rencana mau jadi ikut daftar ke AKABRI ?" tanya Kiai Hasan pada Yaser.


Yaser terkejut saat abahnya, bertanya tiba-tiba sedang dirinya fokus pada acara salah satu statsiun televisi.


" Insyaa Allah Abah kalau diterima, kalau enggak diterima mau coba daftar ke LIPIA, kalau enggak diterima mau coba ke UIN, atau kalau enggak bisa juga mau ke Al-IMARAT." jawab Yaser asal.


"Aneh, dari AKABRI langsung ilmu agama, hemm otakmu itu dimana sih , Ser?" seloroh Kiai Hasan.


" Nera, jangan di KB yah, nanti pas pulang Dya. Ketuan nanti kamu punya anak, jangan sibuk terus, pas pulang Dya. Pilih salarg satu dulu yang harus diprioritaskan, TPA di handle dulu sama orang lain, biar kamu lebih banyak dirumah daripada keluyuran. Abah dari kemarin langka lihat kamu di rumah, jangan biasakan seperti itu. Sudah harus mulai program kegiatan , biar dirumah terurus, suami terurus, kalau mau karier, jangan kebabblasan, di gondol wanita lain lakinya, baru mewek nanti" nasehat Kiai Hasan pada Nera.


Nera, kena juga pagi ini dinasehati mertuanya.


Nera menelan roti sambil menganggukkan apa yang dinasehatin oleh Kiai Hasan.


"Umi berhenti, ngumpulin foto anak gadis orang untuk dijadikan pilihan Anto, khawatirnya Anto sering pergi dari rumah itu gara-gara Umi yang sering suruh Anto segera menikah, Urus saja Idam, prioritaskan dia, Idam masih kecil, sebentar lagi apa mau di daftarin ke SMP atau mondok saja. Sudahlah Abah pusing dikamar foto-foto anak gadis orang berserakan. Nanti Abah sendiri yang tanya ke Anto, sudah siap nikah atau belum?" ketus Kiai Hasan sambil asik membolak balik koran yang akan dibacanya.


Semua orang yang berada di ruangan itu terdiam mendengarkan semua nasehat Kiai Hasan. Tak ada yang berani bersuara atau menjawab ketika Kiai Hasan berbicara.


Dirasa sudah beres membacanya, Kiai Hasan berdiri dan berjalan dengan tongkat khasnya.


Beliyau pergi berlalu, karena hari ini beliyau akan pengecekkan ke toko-toko miliknya .


Jadwal Kiai Hasan kadang, pergi ke pondok miliknya di Banten beberapa hari, dan mengecek toko-toko serta perternakannya.


Begitulah kegiatan beliyau.


🍱🍱🍱🍱🍱🍱🍱🍱🍱

__ADS_1


Anto baru pulang, dengan kantong kemping yang menjulang di balik punggungnya.


Wajah putihnya, sudah berubah mulai kecoklat-coklatan hampir senada dengan mata coklatnya.


Pertama yang ia dapati di dalam rumahnya adalah Nera dengan baju piyama dan jilbab kaos instannya.


" Abang, pulang?" kata Nera sambil tersenyum ke arah Anto.


" Eh, Teteh" sapa Anto pada Nera.


Anto duduk di sofa panjang, setelah melepas sepatu dan ransel yang besarnya itu.


" Abang tunggu, kebetulan Nera tadi buat bajigur, sama goreng ubi dan goreng pisang." kata Nera sambil berlalu mengambil kudapan ke dapur.


Anto setia menunggu, Nera pun datang.


" Taraaaaaaa, semoga suka" kata Nera menyajikan.


" Makasih, Teteh. Baik banget, serasa punya istri, gini kali ya kalau punya istri, pulang lansung disuguhin senyuman, terus di kasih kudapan, hemmmh terus ada yang pijitin ?" Ucap Anto sambil mengambil goreng pisang.


" Nikah makanya?" ledek Nera.


" Yakin rela , Abang nikah sama wanita lain?" jawab Anto datar . Anto berhenti memakan pisang goreng dan hendak beranjak dari duduknya.


" Lho, Abang, kenapa disimpen lagi, enggak enak pisang gorengnya?" Tanya Nera melihat Anto beranjak dari tempat duduknya.


" Abang, tersinggung dengan ucapana Nera yang tadi? Nera minta maaf, Nera bercanda Abang" sesal Nera memaksa Anto untuk duduk kembali dan memakan kudapan yang telah dirinta sajikan.


" Enggak, Abang mau mandi dulu. Enggak enak lengket dari kemarin belum mandi, nanti Abang kasih unjuk hasil jepretannya, ok" jawab Anto meyakinkan Nera.


Anto beranjak ke kamarnya.


***********************************


Hampir empat bulan ini, dia ingin menjauhi Nera supaya bisa melupakan kisah dengannya lebih cepat.


Tapi, hampir setiap pulang kuliah dan dari manapun dia bepergian, dirumah selalu Nera yang menyapa, menyambut dan menyiapkan makanan, dan selalu menanyakan setiap kegiatannya.


Pov Anto.


Rencana hati ingin menjauhi kamu Nera, tapi kamu bak istri yang selalu menunggu kedatangan suaminya.


Dan aku terbawa situasi itu.


Kadang kamu minta maaf, kadang kamu cemberut, kadang kamu marah, terus baikan lagi.


Iya, kayak aku yang suami kamu.


Dan aku terbuai, seperti aku suami kamu.


Dan bodohnya , aku menikmati situasi ini.


Walau tak sampai melakukan hal gila, naudzubillahimindzalik.


Nera, aku pergi jauh pun seperti ada tanggung jawab , raga ini untuk pulang, seolah-olah aku laki-laki yang sudah berkeluarga.


Padahal bisa saja, aku tak pulang berhari-hari, tapi telah aku coba. Justru aku tak nyaman. Sehari tak berjumpa dengan kamu.

__ADS_1


Pov Author


Anto mengusap mukanya kasar dan menggaruk kepalanya lagi dan lagi padahal tak gatal.


Makan malam sudah tersaji, semua anak turun dari kamarnya masing-masing.


" Anto, kapan pulang?" tanya Kiai Hasan.


" Tadi sore, Bah " jawab Anto lembut.


" Main itu boleh, tapi jangan sampai melalaikan yang fardhu. Jangan berleha-leha dalam memmubazirkan waktu, sekiranya banyak mudharat hentikan, dan jika memang membawa manfaat untuk semua, lanjutkan!" tegas Kiai Hasan. Anto menundukkan kepalanya, tanpa berkata apapun.


Meja makan kembali senyap.


Karena tradisi keluarga, kalau di meja makan ramai penuh gelak tawa, berarti tak ada masalah sehingga Abah tak perlu angkat bicara, tapi ketika ada satu kesalahan, maka Abah akan menasehati anak-anaknya sebelum makan, dan mereka tak akan ada yang bercanda, tetapi mereka diam menandakan sedang mentafakuri kesalahan, dan memikirkan salah satu diantara mereka pun melakuna hal sama. Dan di wajibkan untuk segera memperbaiki kesalahanya atau kekeliruannya supaya besok dan besok nya lagi tak melakukan hal yang sama.


Karena muslim yang baik iti adalah


dimana hari ini lebih baik dari hari kemarin.


Dan jika hari ini lebih buruk dari hari kemarin maka manusia itu adalah orang yang merugi.


Dan Kiai Hasan akan terus mengkritisi anak-anaknya sampai anaknya sekira sudah mulai menunjukkan perubahan ke arah yang lebih baik.


***************************************


" Kemarin kemana?" tanya Umi Syifa menghampiri anaknya yang sedang terduduk di bangku panjang taman.


" Kemarin , Anto ke gunung Bromo, Anto ada kerjaan disana Mi, maaf Anto enggak bilang dulu ke Umi. Tapi Anto izinnya kerja saja, hehehe , maaf ya Mi !" lirih Anto sbil memegang kedua tangan Uminya itu.


Umi Syifa mengusap kepala anaknya, dan berkata, " Menikahlah, biar ada yang ngurus. Umi enggak enak Nera yang selalu menyiapkan makanan terus buat kamu, Umi khawatir kamu khilaf nak"


Anto , melirik sekejap pada ibunya itu.


Benar sekali, ibu itu sangat faham dengan anak-anaknya. Tak perlu bicara semua tingkah anaknya terbaca.


Anto masih terdiam dengan pinta ibunya.


" Abah, menyuruh Umi untuk membuang semua foto-foto anak gadis teman Umi, yang akan Umi ajukan ke kamu, tapi Abah melarang Umi. Kalau kamu punya calon, kenalkan pada Umi, ya!"


" Calonnya sudah di ambil orang, Anto lagi menetralisir hati dulu Mi, kasihan istri Anto, kalau hati Anto belum mengosongkan hati ini dari nama itu. Umi tahu sendirikan orangnya, kecuali bang Dya mau nikah sama wanita lain, Nera di cerai, biar Anto yang jadi suaminya Nera, hehehehe " goda Anto pada Uminya.


Umi Syifa langsung memukul pelan bahu anaknya itu.


" Astagfirullah, nih anak, belum move on . istighfar, itu istri abang kamu " kata Umi Syifa.


Anto terkekeh menertawakan reaski Umi nya mendengar candaannya.


" Bercanda Umi" jawab Anto sambil memeluk ibunya.


bersambung


🙏🙏


Reader yang budiman , jangan pelit votenya ya..


Apalagi like dan komentnya..

__ADS_1


Terima kasih sudah baca ya , love u all..


__ADS_2