Berjanji Dan Merajut Asa

Berjanji Dan Merajut Asa
61. Aku mulai muak


__ADS_3

Pulang dari tempat kuliah, Nera tidak muuod ke rumah mertua nya.


Nera sedang tidak bersemangat.


Ia ingin menyendiri sejenak.


Dari Dya yang sudah dua hari belum ada kabar, atau mengabari dirinya.


Sesekali Nera merutuki hatinya yang rapuh dan kecewa.


Astuti semenjak keluar dari jam kampus, merasakan Nera sedang galau dan tak bersemangat.


Sesekali dia menghibur, tapi Nera bak bunga yang layu.


Akhirnya Nera memutuskan akan turun di depan mesjid TPA yang sering dia ngajar.


Dari arah mesjid ke sebelah utara adalah jalan menuju perumahan tempat tinggal Astuti dan Kiai Hasan. Sedang sebelah barat adalah menuju jalan perkampungan ke rumah ibunya Nera tinggal.


Sehabis turun dari mobil Astuti, Nera melangkah jalan lalu menuju ke rumah orang tuanya, sekita 15 menit jika dengan jalan kaki .


Nera sesekali melihat layar hape nya, berharap dia menghubunginya.


Tapi harapan itu kosong, air matanya mulai menetes di sela-sela emosinya yang belum bisa dia luapkan.


Entah ada angin apa, Nera tiba-tiba teringat kertas yang bertuliskan angka.


Nera mencoba mengambilnya di dompet didalam tas kampusnya.


Dipinggir jalan dia mencoba menelpon nomer di atas kertas tersebut.


Niat hati coba-coba, dan ternyata nomer itu terhubung.


Sambil melangkah menuju rumah ibunya, Nera menelpon nomer tersebut.


" Hallo, assalamualaikum" sapa Nera kepada si yang punya nomer itu.


" Wa'alaikumussalam " jawab nya.


" Iyah, ini dengan siapa ya? " Sapa orang itu pada Nera.


Nera termenung sejenak, ternyata nomor yang ia hubungi adalah nomer telepon seorang perempuan muda.


"Ouh boleh saya bertanya dulu, ini dengan ibu atau mbak siapa ya? " tanya Nera kepada si pemilik nomer itu.


" Ouh, saya Sarah, ada yang bisa saya bantu? " jawab Sarah.


" Ouh maaf mbak, saya salah sambung terimakasih " jawab Nera langsung menutup teleponnya.


Nera kembali menumpahkan air matanya, sepanjang jalan.


Entah kenapa hapenya dia matikan.


Nera semakin merutuki nasih pernikahnnya.


Pov Nera.


Bang, Dya kenapa harus menyimpan nomer Sarah?


Ah bodoh, kenapa tak sekalian aku tanya dengan bros yang aku temukan disaku baju bang Dya?


Apa itu miliknya, dan siapa yang ia temui pada malam itu?


Kenapa malam-malam dia mandi?


Kenapa dia begitu kelelahan dan tertidur dengan pulas?


Ah, aku benci bang Dya. Sebetulnya kalau kamu terbuka apapun itu, aku akan siap menerima.


Tapi seperti ini, banyak misteri dan aku tak kenal siapa suami aku?


Aku pun benci, kenapa dia tak memeperkenalkan semua tentang dirinya kepadaku.


Aku istrimu Dya, tapi sedikit sakit dengan bros yang aku temukan disaku baju mu, bang ?


πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„


Pov Author


Sudah sampai di rumah orang tua Nera.


" Tumben, kamu pulang ke rumah ibu Teh? " tanya Ibu.


" Enggak boleh gitu bu? " jawab Nera.


" Laah, cuman nanya, kok bawa hati sih? haid apa ngidam kamu tuh, sensitif!?" jawab ibu.

__ADS_1


" Nera beberapa minggu mau disini dulu ya? " pinta Nera merajuk.


" Mau seumur hidup kamu juga enggak apa-apa, yang penting suami kamu ridho! " jawab Ibu.


" Suami????! " jawab Nera malas.


" Ada apa, lagi marahan sama suami mu? " tanya ibu.


" Boro-boro marahan bu, sms saja enggak pernah dibalas, telpon enggak pernah di angkat, ahh sebel pokoknya. Emang gitu ya kalau menikah, katanya pasangan pengantin muda itu indah? aku mah boro. Punya suami teh, ahh sudahlah, aku ke kamar ya bu, lagi enggak enak badan " Nera bergumam sambil pergi berlalu.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Dikamar


" Teh, kenapa sih. Tumben nginep di rumah sederhana punya ibu? " tanya Nisa.


" Dari brojol juga teteh sudah dirumah ini pan? lagian lebih nyaman di rumah ibu, dari pada di rumah orang kaya, walau luas tapi sepi "


jawab Nera curhat.


" Cie... lagi kangen bang Dya atau bang Anto? " tanya Nisa polos.


" Huuuh, dasar sok tahu.. ! bukan urusan bocah bau ompol" jawab Nera sebal sambil menutup matanya karena habis dari jam 5 lebih Nera sampai rumah, makan dan habis adzan isya Nera mulai mengantuk.


Jam sepuluh malam hape Nera berdering beberapa kali, walau begitu Nera sudah tak peduli dengan hapenya.


Mau Dya atau siapa pun, Nera sudah tak mau peduli.


Sekarang dia tak mau merusak moodnya.


Nera lagi fokus untuk menata hatinya supaya mood positif nya kembali normal.


Nera, tidur dengan pulasnya, walau Nisa ya g tidur disampingnya beberapa kali mencoba membangunkan.


🌢🌢🌢🌢🌢🌢


Pagi hari.


Nera masih bermalas-malasan.


" Kamu enggak ke kampus Ner ?" tanya Ibu.


" Nanti siang, bu. Dosennya datang sore cuman satu mata kuliah kok " jawab Nera tiduran di sofa sambil nonton televisi.


" Ouh iya, tadi malam bang Dya terus nelepon kamu Teh, Nisa sudah bangunin Teteh, tapi tetehnya enggak peduli" seloroh Nisa sambil memakaikan kakinya sepatu, segera berangkat sekolah.


" Nisa berangkat dulu ya, bu. Tuh kayaknya Teh Nera lagi marahan ya Bu sama bang Dya, hah percintaan orang dewasa memang complicated, jijik lihatnya. Assalamualaikum " goda Nisa nyeletuk ngobrol pada Ibunya untuk menyindir Nera. Berlalu keluar dari pintu.


" Yeeeeeey bocah, sok tahu, huuuuuuuu! " tanggap Nera sebal.


πŸ•πŸ•πŸ•πŸ•πŸ•πŸ•πŸ•


Suara hape Nera berbunyi, Nera tak bergeming untuk mengangkatnya.


Nera sudah jengah, menurutnya buat apa ada hape, kalau tak ada manfaatnya untuk dia?


" Itu ada yang telepon! " kata ibu mengingatkan.


" Hemmmh" jawab Nera tak peduli.


Ibu mengambil dan memberikan hape itu pada Nera.


" Suamimu! " kata Ibu melihat nama si pemanggil. Dan kemudia memberikannya pada Nera.


Lalu tanpa melihat layar hapenya, Nera mematikan hapenya. Dan kembali fokus ke layar televisi.


Ibu melihat kelakuan anaknya, mulai gemas dan kesal.


" Kamu itu kenapa sih? , itu Dya takutnya ada yang penting , jauh-jauh dari Maroko ngehubungin kamu, sama kamu malah di rejeck. Pulsa itu mahal Nera, jangan mubajir, apalagi suami kamu itu mahasiswa perlu berhemat anggaran disana tuh, jangan ke kanak-kanakan !" dumel ibu pada Nera.


" Iya, bu. Nera mandi dulu ya, mau siap-siap berangkat ke kampus, dah ibu " jawaba Nera berlalu seolah-olah tak ada masalah apa-apa.


🍫🍫🍫🍫🍫🍫🍫🍫🍫


Kali ini Dya mengirim sms


Assalamualaikum sayangku.


Sehatkah?


Sudah makan belum?


Abang kangen sama adek.


Adek kangen sama abang enggak?

__ADS_1


Atau adek lagi marah sama abang, gegara smsnya enggak dibales?


Sayang, angkat ya teleponnya, da cantik.


Nera membacanya dengan muka datar tanpa ekspresi.


Kemudian hapenya pun berdering, tertulis my hubby.


Nera menganggkatnya.


" Assalamualaikum, sayang " sapa Dya di balik telepon.


" 'Alaikumussalam" jawab Nera datar.


" Adek, apa kabar?" sapa Dya lagi pada Nera.


" Alhamdulillah, baik" jawabnya singkat.


" Ade marah ke abang? " tanya Dya.


" Enggak, biasa saja sih. Ada apa abang telepon Nera, tumben? " seloroh Nera dingin.


" Adek lagi PMS, kok sensi amat sama abang? " goda Dya.


" Enggak, sudah kok! , ada apa abang telepon Nera, kayaknya ada yang urgent? " selidik Nera judes.


" Iya, kemarin Umi , nelpon Adej tapi enggak di angkat melulu, akhirnya sms abang. Umi khawatir sama adek, takut gimana-gimana" jawab Dya lembut.


" Apa abang, Umi sms ke abang, dan abang langsung baca, terus telepon Nera? " jawab Nera dengan nada tinggi.


" Iya, abang khawatir Umi kepikiran, takut entar Umi sakit gara-gara mikirin adek, pergi tanpa izin ke Umi" jelas Dya mencoba menenangkan.


Dengan menahan emosi yang memuncak, Nera sudah tidak mau lagi ocehan suaminya, Nera ingin menangis gegara Dya mengkhawatirkan Uminya daripada istrinya.


Ketika Uminya yang sms, Dya langsung reaksi tapi jika dirinya sampai kapanpun mungkin tak akan pernah di balas.


Dengan suara yang mulai berat, Nera mengakhiri percakapan dengan suaminya " wassalamualaikum " Nera langsung menghentikan sambungan teleponnya.


Nera langsung mejatuhkan tubuhnya ke kasur, menangis sedih, karena suaminya sudah tak adil memeperlakukan dirinya dengan orang tuanya.


Suara bunyi hape tanda ada yang kirim sms.


Nera mencoba membukanya,


Sedosa apa abang sampai istri sendiri sampai hati menutup telepon dari suaminya?


Itukah cara istri sholihah memperlakukan suaminya?


Jagalah tatakrama, walau mau pergi kemanapun , jika suami tak ridho maka Allah pun tak ridho.


W alau itu hanya ke rumah orang tua sendiri.


Apa adek marah gara-gara abang tak segera balas sms?


Jangan ke kanak-kanakan, disini abang sedang mencari ilmu, bukan sedang liburan.


Hubungan itu didasari kepercayaan, bukan kecurigaan.


Membaca sms dari Dya, Nera bukannya melunak tapi Nera langsung membalasnya dengan telak,


Hohohoho


Yang ingin dijaga tatakrama, tapi memperlakukan istri seperti bukan ke manusia.


Aku pun punya rasa, rindu pada suami sendiri, ingin diperhatikan , salahkah?


Dosakah saya meminta kabar suami TERCINTA?


Hohoho tolong Syeikh, katakan pada suami saya, tolong sampaikan, " sebaik-baik manusia adalah yang paling baik terhadap Istrinya". Apa kau sudah baik? aku pun disini belum tahau siapa kamu. Bisa jadi kamau disana punya selingkuhan? iyaaaaa kaaan? "


Dya membaca itu, dia mulai terbakar emosi, lalu dibalas lagi oleh pasangan muda yang sedang marahan dan egonya masih pada tinggi..


bersambung..


β˜•β˜•β˜•β˜•β˜•β˜•β˜•β˜•β˜•β˜•β˜•β˜•


πŸ˜πŸ™


Reader maaf telat upnya, habisnya sudah mulai kerja.


Ok Reader berharap like dan krisannya ya..


Biar author rajin upnya, yaah please..


ajak teman-teman yang lain untuk like dan koment juga, kan author semangat tuh kalau para reader berbaik. hati memberikan like dan votenya..

__ADS_1


Alhamdulillah , jazakumullah khairan katsiran 😍😍😍


__ADS_2