
Nera masih sibuk di dapur, karena sore ini bi Minah harus pulang, karena suaminya sakit.
Sedangkan Umi Syifa , sejak kejadian tadi siang merasa kurang enak badan, jadi Umi Syifa rebahan dulu di kamar.
Nisa dari tadi sudah pulang .
Nera dari tadi berbenah mengurusi persiapan apa-apa saja yang suaminya butuhkan.
Sedari tadi Dya masih asyik bertelepon ria.
Ada saja orang menghubungi nya, terkadang suara bunyi tanda sms pun, terus berbunyi.
Nera hanya sesekali, memperhatikan suaminya yang sibuk sedari tadi meneeima telepon dan berkirim balas sms.
Nera tak mau mengganggunya, kadang wajah Dya menunjukkan gelisah dan setelah menerima telepon ceria kembali.
Ketika tangan nya mengetik di keypad hape, terkadang dia memasang muka masam dan terkadang kembali senyum atau datar.
Nera fokus dengan persiapan barang-barang yang Dya bawa.
" Abang, sebentar lagi magrib, persiapan ke mesjid ya, ini koko dan sarungnya " kata Nera memberikan pakaian untuk shalat buat Dya.
Dya menerimanya sambil tersenyum hangat,
" terimakasih " jawabnya.
" Abang mau izin dulu, abang ada pertemuan di hotel **** , habis magrib abang perginya. Paling pulang tengah malam atau pagi sedikit, adek jangan nunggu, takut nanti ade kantuk, tidur saja duluan ya! " kata Dya lagi.
" Abang kan , jam empat pagi sudah harus otw Jakarta, ke Bandara, Abang tidak kangen-kangennan dulu dengan Adek? " Kata Nera sambil memeluk Dya dengan manja.
" Kan sudah, malam kemaren, nanti kalau sudah ketemuan sama temannya, kita lanjutkan ya, kasihan takut beliau nunggu kelamaan?" jawab Dya memelas.
Dya melepas pelukan Nera dan segera beranjak pergi.
************
Sehabis shalat isya Umi Syifa , Abah, Maryam, Yaser, Idam dan Anto berkumpul.
" Mana Dya, Neng? " tanya kiai Hasan pada Nera.
" Abang, pergi dulu abah, mau ketemuan dulu sama kawannya, sebentar lagi juga pulang" jawab Nera.
" Nera, dengar-dengar Rudi mau buat cabang travel di Maroko, yang pegang Dya" sahut Maryam.
" Ouh ya? Nera enggak tahu, bang Dya enggak pernah cerita" jawab Nera terkejut Maryam lebih tahu tentang suaminya dibanding dirinya.
" Mungkin belum Teh, nanti juga cerita kok, dia lupa pastinya " bela Anto untuk Dya pada Nera.
" Teteh, izin duluan mau tidur ya, alnya besok harus anter dua jagoan teteh ke bandara, nyubuh" sahut nya sambil berlalu ke lantai atas.
Di ikuti Yaser dan Idam. Tinggal lah kiai Hasan, Anto dan Nera.
" Teh, sana istirahat, besok kan harus bangun pagi" kata Anto berseloroh.
" Nunggu bang Dya, takut enggak ada yang bukain pintu " jawab Nera lirih.
__ADS_1
" Abah duluan, tunduh ( ngantuk) " kata Kiai Hasan sambil berlalu.
Tinggal lah Anto dan Nera.
Televisi masih menyala, di ruang keluarga yang cukup luas itu hanya ada Nera dan Anto.
Nera duduk berhadapan dengan Anto, adalah jarak 2 meter mereka berjauhan.
" Abang, fii amanillah" kata Nera pada Anto lirih.
" Hemm, insyaa Allah, aamiin " jawabnya sambil senyum simpul dan kembali lagi menonton televisi.
" Abang, maaf tadi, Nisa keceplosan " kata Nera lagi.
" Qadarullah, mungkin memang harusnya Umi tahu, tapi taqdir tahunya hari ini, bagaimana dong? " jawab Anto.
" Terus Umi nanyain? " tanya Nera penasaran.
" Nanyain apa? " jawab Anto bingung.
" Kita pernah saling suka? " jawab Nera penasaran lagi
" pernah? kenapa harus pernah? maaf teh pernah itu adalah kata yang subtansi nya kaya yang enggak akan suka lagi " jawab Anto kesal.
Nera mulai kalut,
" Bukan itu maksudku abang, dan kita pernah ada hubungan? " jawab Nera lagi.
" Memang sekarang, kita enggak punya hubungan teh? kita ada hubungan kekeluargaan , iya kan teh? '' jawab Anto.
" Teh, kalau entar Umi tanya tentang kita jawab saja sebenarnya, toh Anto sudah bilang yang sebenarnya " kata Anto berseloroh.
" Abang bilang apa saja sama Umi? " tanya Nera penasaran penuh ke khawatiran.
"Kisah kita dulu, tapi abang sudah pastikan sama Umi kalau kita tidak ada hubungan lagi asmara, jadi jika Umi nanyain jawab saja dengan jujur, ya! " kata Anto menjelaskan.
" Abang istirahat duluan ya, sudah jam 11 malam, Bang Dya belum pulang juga ya? "
Nera menjawab manyun dan menggelengkan kepala.
" Ya sudah, abang duluan ya, wilujeng wengi " kata Anto sambil pergi menuju kamarnya.
*************************
Sudah pukul satu pagi , Dya baru kembali.
Nera terperanjat dan langsung terbangun dari kursi ruang keluarga.
" Abang sudah pulang? " kata Nera menyambut suaminya sambil sun tangan.
Dya berjalan terus menuju kamarnya dengan muka sudah kelihatan capek sekali.
Nera mengikutinya dari belakang.
Sesampainya dikamar, Dya langsung ke kamar mandi. Keluar dari kamar mandi Dya sudah terlihat segar karena sudah mandi .
__ADS_1
" Abang tumben, mandi jam pagi buta begini? " tanya Nera aneh.
" Iyah, tubuh abang banjir keringat ,kecapean di jalam macet Dek, terus tubuh abang bau, abang cape biar nanti pas berangkat ke bandara abang enggak usah mandi lagi, abang mau tidur dulu ya" kata Dya langsung mengambil selimut dan tertidur.
Nera merasa ada sesuatu yang kurang dari perlakuan suaminya.
Kenapa suaminya begitu selelah itu?
Apa dia sedang sakit?
Padahal besok dia mau berangkat, kenapa tak melakukan sesuatu layaknya suami istri, apalagi dengan waktu yang cukup lama, dia akan berjauhan dengan istrinya itu ?
Mungkin, memang dia kecapean dan tak bisa melakukannya, karena lelah dan sibuk.
Nera akhirnya bisa berdamai dengan hatinya.
Walau terkadang banyak hal yang ingin dia tanyakan kepada suaminya.
Tapi sudahlah, Nera tidak mau suasana kepergian suaminya besok adalah hal yang menyebalkan.
Nera pun ikut tidur disamping suaminya.
************************
Pagi ini, Dya masih sibuk dengan teleponnya.
Padahal semua keluarga sudah bersiap masuk mobil.
Koper milik Dya sudah Nera masukkan ke dalam bagasi mobil.
Nera sesekali, berharap suaminya tidak fokus dulu pada handphone nya.
Sesekali Nera memanggil suaminya, Dya hanya membalas senyuman, dan telapak tangannya menandakan untuk menyetop Nera, supaya Nera tidak bertanya dulu.
Anto pun melihat tindak tanduk kakaknya itu pada Nera ikut merasa geram.
Bagaimana bisa Nera dari tadi sibuk kesana kemari menyiapkan keperluan dirinya.
Tapi Dya masih tak peduli dengan Nera.
Anto yang melihat Nera sibuk, dia iba dan membantu Nera memasuk-masukan barang Dya ke bagasi.
Dya sesekali, bermuka masam saat Anto membantu istrinya dengan disuguhi senyum simpul khas Anto pada Nera.
Semua perlengkapan Anto dan Dya sudah masuk bagasi.
Tinggal menunggu Dya menyelesaikan teleponnya.
" Sibuk amat kamu Dya, ditelpon presiden ya? istri ngangkut barang punya dirinya di biarin, iskk jadi laki kok gitu ? " ledek Maryam sebal pada adiknya.
" Dek, kamu capek, istirahat ya nanti habis nganterin abang " sahut Dya pada Nera yang kebetulan duduk di bangku mobil barisan ke dua dengan Maryam.
" Ouh iya bang, terimakasih " jawab Nera sambil tersenyum.
" Ouuh, gitu doang, Dya? kok malah Nera sih yang bilang terima kasih, astagfirullah, adabnya dong pakai kamu itu Dya! "
__ADS_1
kesal Maryam berang.
bersambung