
Setahun berlalu.
Kini Nera memutuskan berniqab.
Alasannya banyak sekali, di mulai dari banyaknya laki-laki yang ingin mengajaknya menikah.
Apalagi ketika Nera pergi ke Mekkah saat umrah.
Ada beberapa pemuda dan dewasa yang mengajak untuk menikah.
Body kecil bak remaja, membuat Nera dianggap gadis dan remaja.
Ketika sudah rapat dengan pemilik hotel yang travel Rudi ada kerja sama pun.
Direktur hotel tersebut menanyakan tentang Nera sudah menikah atau belum?
Nera terkadang tak berkutik, untuk menjawab pertanyaan receh seperti itu.
Sebagai pemegang saham suaminya di travel Rudi. Nera selalu di ajak oleh Rudi untuk menghadiri beberapa rapat dengan klien yang bekerja sama dengan travel yang kami miliki.
Walau berjilbab syar'i, Nera selalu berpenampilan yang cantik dan rapi. Kesan jilbaber zaman itu adalah jilbab dua layer segitiga yang di gabungkan.
Kita mempresentasikan dengan bahasa Arab, banyak orang yang terpukau dengan pemafaran dia.
Si direktur ini, mulai tergoda dengan Nera.
Untuk itu, Rudi di minta oleh kliennya untuk datang ke rumahnya , besok dengan Nera.
Nera mulai bingung.
Dia terpikiran, apa yang telah seorang syeikh menasehatinya waktu di Maroko.
Akhirnya, Nera memutuskan saat rapat kali ini dia memakai niqab saja. Agar Klien pemilik hotel yang akan diajak kerja sama oleh perusahaan travel kami tidak tergoda lagi pada Nera.
Rudi masih menunggu di lobi hotel.
Karena Nera masih belum juga turun menunjukkan batang hidungnya.
Rudi dari tadi sebentar-sebentar melihat jam tangannya.
Rudi kembali menyeruput kopi dan membaca koran lagi.
Tiba-tiba Nera muncul dengan abaya plus niqab yang ia kenakan.
Rudi memandang tanpa berkedip ke arah Nera.
Begitupun Kiai Hasan,
" Kamu serius mau pakai niqab? awas pakai niqab itu jangan dilakukan karena sebab-sebab kepentingan pribadi. Niatkan saja untuk ibadah biar dapat pahala." nasehat kiai Hasan pada Nera.
Umi Syifa menyertai Nera, sebagai makhramnya ketika Melaksanakan umrah.
Kegiatan umrah sebetulnya sudah berlalu. Cuman hari ini para peserta umrah diajak jalan-jalan dulu oleh karywan Rudi yang ditugaskan di bagian pemandu jamaah.
__ADS_1
Rudi, Nera , Kiai Hasan dan Umi Syifa ikut membersamai mereka.
Di dalam mobil, Rudi curi-curi pandang lewat kaca spion yg tergantung didepan kemudi.
Terlihat tidak sengaja oleh delikan mata kiai Hasan apa yang tengah dilakukan Rudi.
" Nera, awas di niqab pun kau malah banyak mengundang fitnah. Lebih baik cari jodoh, menikahlah. Bagaimana kalau bos besar pemilik hotel Arab itu, malah mau mempersunting kamu, tak usah kau bimbang masalah poligami. Dijadikan yang ke dua atau ketiga pun siap saja. Kalau memang lelakinya mapan, taat, dan berpunya. Apalagi? "nasehat Kiai Hasan tegas.
" Kenapa harus memilih dipoligami? padahal lelaki bujang apalagi lapuk seperti saya ini masih banyak yang mau mendapatkan cinta wanita, Kiai. Padahal jika laki-laki yang sudah beristri, mau poligami mending nikahkan para bujangan yang ingin nikah tapi tak punya modal. Modalin dong ! Ini masih ada bujang lapuk, di katain laki-laki enggak ada niat. Semua lelaki normal, hakikatnya ingin menikah kiai. Tapi sayang, mereka masih bingung, wanita baik itu seperti apa?" pungkas Rudi dengan suara lirih.
" Maneh, hayang ka si Nera ? ( kamu, mau sama si Nera ? "
" Kode tah Nera, si Rudi oge naksir. Gera atuh! bisi dipiheulaan ku batur! ( cepatan atuh! entar di duluin orang lain!)" pungkas Kiai Hasan .
Nera terdiam bersitatap dengan mertuanya.
Nera tidak nyaman dengan nasehat kiai Hasan yang nyeletuk .
〰️〰️〰️〰️
Sudah sampai di rumah partner Rudi .
Syeikh Syamil Abdurahman.
Di negri sana , Syeikh itu bukan berarti dia seorang ulama. Tapi sebutan Syeikh itu lebih ke bahasa penghormatan. Seperti tuanku.
Syeikh Syamil, mempersilahkan masuk mereka.
Mereka di jamu makan dan mengobrol ria.
Setelah itu. Di ruang kerja, di dalam rumahnya. Mereka membahas ini itu perihal kerja sama nya.
Di saat, rapat berlangsung. Nera mempresentasikan di depan team syeikh Syamil.
Syeikh Syamil tak berkedip melihat terus ke arah Nera.
Nera merasa tidak nyaman, karena mata hijau itu terus menatapnya.
Nera mengakui ketampanan Syeikh Syamil, yang sedikit mirip dengan wajah Dya . Hanya saja Dya memiliki fostur tubuh yang kecil, tak sekekar Syeikh Syamil.
Nera faham, dia sudah beristri. Tapi tak dipungkiri ketampanannya dan kekayaannya cukup mempesona setiap hati para wanita.
Selesai rapat, Syeikh Syamil langsung mendatangi mertua Nera. Tepatnya Kiai Hasan mereka mengobrol ria disana, cukup lama, setengah jaman.
Kami bercerita-cerita dengan para team Syeikh Syamil dengan jamuan yang beraneka ragam di meja panjang.
Nera di temani Umi, karena perempuan hanya Nera dan Umi Syifa selebihnya laki-laki semua.
Kiai Hasan dan Syeikh Syamil keluar menemui kami.
Syeikh Syamil berpelukkan dengan Kiai Hasan.
Dan berpamitan pulang disusul dengan kami.
〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️
Tibalah di Indonesia.
__ADS_1
Kejadian setahun yang lalu membuat Nera penasaran apa yang di bicarakan antara Kiai Hasan dan Syeikh Syamil.
Namun, sampai detik ini Syeikh Syamil lempeng saja.
Nera tak berani menanyakan, Nera yakin, jika Rudi mengetahuinya. Tapi Nera pun tak mau menanyakan sesuatu yang bukan kapasitasnya.
Dua hari lagi Nisa dan Yaser menikah.
Nera belum bertemu Anto semenjak dia sering pergi touring.
Anto kabarnya akan pulang hari ini, untuk mempersiapkan acara pernikahan adik mereka.
Dirumah bu Siwi, Nera , Lesti, dan Nisa sibuk mempersiapkan apa saja yang akan di bawa di hotel untuk acara akad dan walimahan.
Keluarga besar tumplek di rumah bu Siwi.
Lesti tampak sibuk sekali yang sedang menyusui anaknya yang berusia satu tahun seteangah.
Anak Lesti menjadi rebutan kegemasan keluarga pak Edo,karena cucu pertama dan baru satu-satunya.
Nisa masih perawatan wajah dengan menggunakan masker.
Nera membantu sang ibu mengurus ini itu.
Tiba-tiba muncul pak Edo menghampiri Nera yang sedang berjibaku dengan segala keriwehannya.
" Nera, itu ada tamu. Katanya nyari kamu, dia bilang teman kamu waktu di SMA." kata pak Edo.
" Dia nunggu di luar. Diajak ke dalam, malah di luar terus. Sana geh, samperin dulu. Kasihan menunggu!" tambah pak Edo lagi.
Nera segera keluar dan menghampirinya.
Dilihatnya, seorang laki-laki tegap, kelimis, dengan setelan yang rapi.
Sosok itu, seperti pernah ia temui. Namun entahlah, siapa ia?
Nera menghampiri dan menyapa lelaki yang membelakanginya.
" Assalamu'alaikum." sapa Nera dan kemudian berdehem satu kali.
" Siapa ya?" tanya Nera lirih.
Lelaki itu tersenyum sebelum berbalik ke arah Nera.
" Wa'alaikumussalam. Apa kabar Nera?" kata si pria yang kini telah berhadapan dengan Nera.
Nera membulatkan matanya, terkejut. Tangannya diangkat seolah-olah menutupi mulutnya yang tertutupi kain penutup wajah.
Bersambung..
〰️〰️〰️〰️〰️
Yeee terima kasih reader, jangan lupa like, love, vote and coment.
Saya sangat bersyukur, jikan readers semua memberikan komenn dan krisannya sesuai PUEBI dan aturan kepenulisan.
Biar saya bisa memperbaiki tulisan-tulisan saya kedepannya.
__ADS_1
Terima kasih semuanya.