Berjanji Dan Merajut Asa

Berjanji Dan Merajut Asa
34. pergi dan kembali


__ADS_3

pov author


Nera dan Dya sedang mengemas pakaian dan kebutuhan suaminya buat nanti di Mekkah.


" Siang ini abang terbang dek, hati-hati dan jaga diri. Kalau kangen telpon saja, kalau telponnya enggak ke angkat, berarti abang lagi guide jama'ah "


Jelas Dya berseloroh kepada Nera.


" Abang bakal kangen adek, hemmmhh " memeluk istrinya.


" Hati-hati abang disana, jaga makan. Disini abang makannya sedikit, nanti di sana jaga asupan nya ya, Nera takut abang sakit" jawab Nera lirih.


" Mau nambah jatah enggak, tadi malam adek puas? " goda Dya pada Nera.


" Ihh, abang apaan sih? " jawab Nera malu.


" Mudah-mudahan pas abang pulang, Abang dapat kabar baik. Adek positif hamil. insyaAllah " canda Dya kembali.


" Dya, mau berangkat kapan? itu abah nunggu di bawah " sahut umi Syifa di balik pintu kamar Dya.


" Iya mi, sekarang Dya turun. Sudah siap kok mi" jawab nya.


Mereka turun, dan semua ikut mengantar Dya ke bandara.


Tadinya Dya mau berangkat dengan kawannya saja, tapi berhubung Anto pulang juga, ya sambil sekalian nunggu disana.


Menurut jadwal kepulangan Anto turun di Airport hampir berbarengan dengan penerbangannya Dya.


Jadi keluarga sekalian saja ikut semua, dan akan beristirahat dulu di rumah anak kiayi Hasan yang kedua, bang Musa karena dia tinggal di Jakarta.


Sesampainya di Airport.


Nera bersedih melepas kepergian suaminya itu. Baru kali ini lagi dia merindu saat orang-orang yang dia sayangi sebelum pergi.


Dya memeluk istrinya dan mencium kepala Nera dengan penuh haru.


Pelukan mereka berakhir saat suara pemberitahuan tentang jadwal pemberangkatan .


Dya melepaskan lambaian perpisahan sementara. Dengan haru meninggalkan pertama kali istrinya setelah menikah.


Di restoran bandara, kami menunggu kedatangan Anto.


Kiayi Hasan dan Yaser pergi untuk melihat jadwal kedatangan pesawat dari Mesir, ada satu jam lagi.


Idam sudah mulai jenuh dan bosan dengan sekitar airport.


" Umi, ayo pulang. Aku bosen, pengen tidur "


" Sabar, sebentar lagi abang sampai, abah lagi nunggu di pintu kedatangan. Idam disini saja ya sabar!" nasehat umi Syifa pada Idam.


Idam mangut-mangut faham.


" Umi itu bang Anto sama abah, yeee bang Anto pulang " Kata Idam terkejut dengan kedatangan kakaknya.


Anto menghampiri ibu dan memeluknya. Begitupun Idam langsung memeluk Anto dengan suka cita.


Mata itu beradu lagi, Nera tak sanggup dengan buncahan detak jantungya yang hebat.

__ADS_1


Anto mengucapkan salam dan menempelkan tangan salam di dadanya tanpa bersalaman atau bersentuhan dengan tangan Nera .


Nera membalas hal yang serupa.


*******


🚘 Di dalam mobil Yaser , Anto dan Idam asyik berceloteh dan tertawa bersama. Sedang Nera diam seribu bahasa,


" Neng , kenapa. Sakit lagi? " tanya umi Syifa


" Enggak umi, cuman ngantuk saja, tapi enggak bisa mejamin matanya" jawab Nera.


" Ouh mungkin berisik , hey anak-anak itu kakak kalian mau tidur. Sudah dulu bercandanya !" jawab umi sambil meminta anak-anaknya supaya berhenti sejenak bercandanya.


Mendengar kalimat yang mertuanya katakan, Nera kaget, " ahh enggak apa-apa kok, sok saja kalau mau bercanda mah, saya mah emang begini kalau naik mobil " kata Nera tidak enak.


Tapi apa yang disampaikan oleh Nera sia-sia, mereka sudah terlanjur nurut pada ibu mereka. Mereka pun tertidur.


Sampailah di rumah abang Musa.


Setelah sudah cukup beristirahat di rumah bang Musa, keluarga kiayi Hasan melanjutkan lagi perjalanan pulang menuju Bandung .


*******


🏠🏡


Sudah seminggu ini Anto dirumah, tiap hari dia mengurung di kamar, sesekali dia keluar untuk pergi mencari udara segar.


Selama seminggu, Anto tak pernah menegur atau menyapa Nera. Entah di meja makan atau pun berpapasan.


Sekedar tersenyum simpul seperti dulu pun tak ada.


pov Nera.


Hampir seminggu dia tak pernah menyapa ku dan tersenyum seperti dulu.


Atau sekedar menggodaku.


Kenapa melihat ini semua aku yang sakit ?


Dia lebih banyak mengurung di kamar, ketika makan di meja makan dia fokus dengan makanannya.


Tak ada senyum dia waktu dulu.


Ahhh aku mulai tamak.


Aku mulai rindu.


Bukan rindu pada Dya suamiku,


Tapi Anto yang dulu, yang hangat padaku.


Apalagi bang Anto semakin tampan saja, bagaimana ini?


ku


__ADS_1


Sedikit pun dia masih membisu, sapa aku seperti dulu!


Tidak dosa kan sekedar menyapa atau sedikit senyuman saja pada ku?


Jujur aku menyesal pernikahan ini terjadi, kalau toh umi dan abah akan jadi mertuaku akhir nya.


Astagfirullah, betapa jahatnya aku, menduakan dan menghianati kepercayaan suami ku.


Tapi apa daya, ini kenyataannya.


Aku sakit melihat Anto sedingin es padaku.


Ku kira walau sudah menjadi kakak nyas, kehangatan sebagai adik atau kakak atau mungkin sahabat itu akan lebih baik.


Tapi ternyata tidak.


Pov Author


Nera di dapur dan Anto sedang nonton televisi di ruang keluarga.


Umi dan Abah lagi pergi ke undangan tetangga.


Anto haus dan mengambil minum ke dapur.


" Nera, maksudku teh Nera, apa yang teteh sampaikan ke umi dan abah, tentang Astuti?" tanya Anto penuh ketegasan pada Nera.


Nera kembali di kejutkan dengan pertanyaan yag tak pernah dia harapkan.


" A.. apa, memangya? " jawab Nera gelagapan.


" Kenapa enggak jawab jujur saja, kenapa harus berbohong? " jelas Anto sedikit emosi.


" Jujur, aapaa abang ?" tanya Nera pura-pura lupa.


" Jujur saja, kalau surat itu untuk teteh dari aku. Jujur saja kalau teteh pernah nerima surat dari aku dan teteh tolak aku. Sudah selesai. Kalau gini ceritanya! Tapi kalau di dramatisir, ceritanya akan berubah. Ayolah bersikap dewasa! apalagi umi deket dengan keluarga Astuti. Jangan menutupi kebohongan dengan kebohongan yang lain"


Kata Anto kesal dan melempar gelas kelantai sampai hancur berhamburan dan pergi berlalu begitu saja tanpa mendengar kan penjelasan Nera.


Melihat situasi Nera terkejut dan takut.


Nera tersadar pada saat Dya bertanya kenapa sampai Nera ketemuan sama Anto disawah.


Nera menjawab bahwa, Anto menyukai Astuti, dan Nera di mintai menjadi mak coblangnya.


Nera mengutarakan itu semua pada makan dan kumpul di meja makan.


Kita semua tahu, Umi akan melarang anaknya pacaran.


Untuk mencegah itu, Umi akan siap-siap meminta wanita yang disukainya untuk mau dilamar anaknya.


Dan yang Anto khawatirkan, umi akan bersifat sama kepada Astuti apalagi ibunya Astuti sahabat karib sekaligus tetangga ui Syifa. Yakni menjodohkan dan kemudian menikahan.


Nera menyadari kebodohan dan kecerobohannya. Sebetulnya dia ingin keluarga ini damai. Jika dia jujur bahwa Anto menyukainya, akan banyka hati yag terluka dan kecewa.


Makanya ia putuskan, dengan mengatakan bahwa Anto menyukai Astuti.


" Maafkan aku, bang Anto " ucapnya lirih sambil membereskan serpihan beling yang ada di lantai dan menangis terisak.

__ADS_1


__ADS_2