
" Assalamualaikum, umi, abah, Anto pulang"
jawab Anto dibalik pintu, kemudian semua berhamburan keluar, termasuk Dya.
Mereka menyambut kepulangan Anto, dengan suka cita. Mereka berpelukan.
Umi dan abah bahagia melihat kedatangan Anto.
Nera, yang sedari tadi di dapur, tak berani menyambut Anto.
Pikirannya mulai kacau, tingkahnya mulai hilang arah, sampai tangannya sedikit teriris oleh pisau. Keringat dingin mulai bercucuran.
Dia mulai kebingungan , apa yang harus ia lakukan terhadap Anto, sambutan apa yang bisa dia lakukan? tersenyum kah, menyapakah, atau apa?
Itu semua membuatnya stres.
Dya menghampiri Nera ke dapur.
Dan memeluknya dari belakang,
" De, masaknya sudah dulu. Yuk sambut Anto dulu, biar abang kenalin istri abang yang cantik ini ke Anto. Biar abang sama Anto enggak diledekin terus jomblo. Sekarang, abang yang puas ledekin dia masih jomblo! "
Nera semakin salah tingkah, mendengar suaminya berceloteh, yang ingin membanggakan dirinya pada Anto.
Nera semakin tak nyaman, andai saja saat ini dia bisa menghilang dia ingin menghilang.
" Ayo dek, biarin saja masaknya, biar nanti bi Imah yang menyelesaikannya " manja Dya, bergelayut di pundak Nera sambil melingkarkan tangannya dipinggang Nera.
Wajah Nera semakin pucat pasi, menelan ludahnya untuk menghilangkan stress di otaknya.
Melepas celemek, dan bersiap mengikuti suaminya.
Diruang keluarga semua berkumpul, menyambut kedatangan Anto bercengkerama satu sama lain.
Tibalah kemunculan Nera yang digandeng tangannya oleh Dya.
" To, nih istri abang, kenalin. abang sudah gak jomblo lagi " Kata Dya dengan bangga.
Anto menghampiri dan memeluk dia, sambil tersenyum dan mengatakan,
" Alhamdulillah bang, sekarang abang enggak jomblo lagi "
" Ini Nera yah bang, ini teman Anto pas ditaekwondo, kita suka latihan bareng, betulkan Ner? " tanya Anto memencingan mata.
" ouuh kalian sudah saling kenal? " tanya Dya ke Anto dan Nera.
" Kenapa enggak cerita de?" tanya Dya pada Nera.
" Yaa, ngapain nyeritain orang yang enggak penting bang, lagian waktu itu siapa saya? cuman teman latihan saja, iya kan Ner, eh teh? " pungkas Anto menyindir Nera.
__ADS_1
Nera, menunduk dalam gugup tak berani menatap Anto.
Wajah putihnya memerah, pucat seakan menyimpan kesalahan.
" De, dikira abang kamu enggak kenal sama Anto, berarti sama Yaser kamu sudah kenal juga ya " tanya Dya pada Nera.
Nera menunduk sambil menganggukkan kepalanya.
" Apaa, sama bang Anto kan teh Nera sama suka ketemu disaw.. " Yaser menutup mulut Idam dengan sigap. Dan mengajak Idam naek ke atas. " Dam, kita main PS di kamar, abang punya kaset baru, mau coba? " ujar Yaser mengamankan Idam ke atas.
" Ouh, iyah, Nera sering show turnamen bareng sama aku bang, Nera suka menang dalam kejuaraan, kita suka ketemu untuk perwakilan sekolah masing-masing " pungkas Anto menghindari kecurigaan abangnya.
" Wuih, istriku ternyata pandai beladiri juga, ishh kenapa punya prestasi membanggakan gini, enggak pernah cerita sih de ? Bener-bener kamu itu menyimpan banyak kejutan yang abang belum tahu " puji Dya sambil mengalungkan tangannya di pundak Nera dengan bangga.
" Betul sekali bang, teh Nera itu menyimpan banyak kejutan-kejutan yang belum abang ketahui, betulkan teh? " sindir Anto pada Nera menyeringai.
" Kenapa, teh Nera dari tadi diam saja? teh Nera lagi sakit? " Tanya Anto menelisik.
" Ahh, tidak. Saya... ssss -sa- sa- ya tadi lagi memikirkan masakan saya, takut enggak enak, jadi maaf saya kurang fokus " bantah Nera terbata-bata.
" Ya sudah, Anto istirahat dulu sana geh, kan kamu masih capek na! Habis itu, mandi ya, bauu " kata Umi Syifa.
Akhirnya mereka semua berpencar, dan Nera kembali ke dapur untuk menyiapkan makan malam.
*************
Bi Imah lagi ke warung, sedang Umi lagi memijit kaki abah dulu.
Tiba-tiba Anto ke dapur, dan mengambil gelas .
Melihat Anto yang ke dapur, berdetak cepat jantung Nera ,mulai pucat dan berkeringat dingin kembali.
Anto membuka kulkas dan mengambil botol air es.
"Eh, kakak ipar, apa kabarnya? " kata Anto terduduk di meja makan yang jaraknya tak jauh dari perapian memasak.
Anto meneguk air minumnya.
" Bagaimana kabarnya selama ini? pernikahannya menyenangkan, bukan? "
Lalu Anto berdiri di belakang Nera ,tanpa tersadar Nera berbalik dan akhirnya mereka berhadap-hadapan. Nera meringsutkan tubuhnya ketepi tembok kompor.
" Apa kabar, Neraku? "
kata Anto dengan pandangan Nanar.
Nera terkejut,
" Ba ... ba.. baik abang" jawabnya langsung menundukan pandangan.
__ADS_1
Anto, memeluk Nera dengan penuh makna.
Nera terkejut saat, Anto memeluknya.
Anto menangis lirih memeluk Nera.
" Abang, jangan seperti ini, dosa abang! saya takut bang Dya marah " kata Nera menolak penuh khawatir dan meronta.
" Sebentar saja, ini yang pertama dan terakhir, please! "
pungkas Anto memelas.
Nera tanpa sadar, ikut memeluk tubuh lelaki itu dengan lunglai.
Tak dipungkiri, selama ini dia merindukan kehangatan lelaki ini.
Air mata tak terasa memenuhi kedua bola mata mereka.
Menangisi kebodohan satu sama lain.
Semakin erat mereka saling memeluk, tak peduli dengan situasi.
Mereka hanya mencurahkan apa yang ada dihati mereka.
Rasa kangen yang memuncah mungkin ditambah penasaran.
Tanpa tersadar, Anto mengambil wajah dan dagu Nera menengadah ke arahnya. Diciumlah bibir wanita itu dengan lembut.
Nera pun dengan pasrah menerima dan membalas setiap kecupan laki-laki yang ia cintai sudah lama itu.
Mereka membuncah kan semua gelora rindu dan cintanya di dapur.
Entah setan mana yang menggoda pikiran dan iman mereka?
Mereka sudah tidak peduli sekitar, yang ada mereka satu sama lain berkabung dalam suasana yang tak bisa dibenarkan oleh apapun.
Sesekali, Nera mendorong Anto untuk menyudahi itu semua.
Tapi tidak untuk Anto, dia terus memaksa Nera berciuman.
Nera khawatir umi atau bi Imah melihat semua adegan itu, yang paling berbahaya abah atau Dya yang melihatnya.
" Abang, saya mohon hentikan abang, hentikan. Ini dosa abang, sudah, sudah! "
Pinta Nera sambil menangis.
bersambung
*********
__ADS_1