
Pov Author.
Hari ini Nera dan Nisa memutuskan pulang ke rumah bu Siwi.
Karena bu Siwi sudah mewanti-wanti, untuk Nera pulang.
Sesampainya dirumah. Dengan tidak sabarnya bu Siwi terus mencehcar Nera dengan berbagai pertanyaan.
" Eh, Nera. Kamu itu sekarang lagi punya calon suamikah?" tanya bu Siwi penasaran.
" Apa sih Bu? Baru juga datang. Langsung ditembak mati kaya gini?" jawab Nera sambil menyandarkan punggung di sofa.
" Hahaha, ibu enggak sabar mungkin? Pengen teteh duluan yang nikah daripada aku. Takut nya teteh dilangkahin lagi sama adik!" seloroh Nisa meledek.
" Hahahaha, bener juga! Ibu Nera masih menikmati masa-masa sendiri dulu. Bang Dya belum bisa terganti. Belum ya. Bu!" ucap Nera menggoda ibunya.
" Ih. Begini Ibu itu lagi enggak enak. Si laki-laki itu, ngasih pinjaman modal cuma-cuma ke bapa buat meluaskan dagangnya. Tanpa bunga, tanpa jaminan." jelas ibu Siwi.
Nera dan Nisa terkejut dan saling pandang,
" maksudnya, apa, Bu?" Nera bertanya.
" Iya, katanya lelaki itu temannya Dya dulu. Dya juga joint usaha sama Dya, dulu sewaktu Dya masih hidup. Ibu juga lihat foto-fotonya waktu Dya di maroko bareng laki-laki itu. Dia masih bujang, ganteng, mapan." jelas ibu memceritakan.
" Terus apa hubungannya dengan Nera?" tanya Nera.
" Ada. Dia ingin mempersuntingmu!" jelas Ibu.
" Lah kok. Nera? Emang, siapa orangnya?" kata Nera penasaran dan terkejut.
Suara telepon Nera berbunyi.
" Assalamu'alaikum, iya Abang"
"..........."
" Astagfirullah, Nera lupa. Sekarang Ners berangkat ya Bang"
"..........."
" Wa' alaikumussalaam warahmatullahi wabarakatuh "
Nera menutup teleponnya,
" Bu. Nera izin berangkat dulu, Bang Rudi mau ngajak rapat sama teamnya. Nera di ajak untuk paham bagaimana program dan penjelasan tentang travel umrah dan hajinya. Karena Abah meminta Nera untuk mendatangi rapat juga, karena dulu Dya investor di travel punya bang Rudi. Nanti pulang dari kantor, Nera pulang kesini. Kampus masih masa tenang karena sebentar lagi mau ujian. "
Nera berangkat dengan naik motor matic yang baru di luncurkan.
Memakai matic lebih gampang dipakai, daripada pakai motor gigi atau kopling.
Nera sudah lihai menggunakan motor tersebut. Kiai Hasan sudah berencana membelikan mobil, cuman Nera masih belum bisa menyetir. Jadi di tunda dulu beli mobilnya.
〰️〰️〰️〰️〰️
Sampai di kantor, Nera menyapa semuanya.
Ada senyuman kecil dari wanita cantik yang sedang hamil besar.
Nera menyapanya, " Sarah. Sehat ?"
Sarah, " sehat dong, alhamdulillah. Iiih maa syaa Allah. Nera kamu tambah cantik. Sudah ada calon belum?" goda Sarah pada Nera.
" Masa idah saya sebulan lagi. Enggak mungkin lah, Sar. Saya masih terkenang Bang Dya" jawabnya lirih.
" Percaya, tapi kalau sudah masa idah, bisa kan membuka diri?" ujar Sarah menggoda lagi.
" Sepertinya saya fokus ke travel, sekolah SDIT , SMPIT serta SMAIT dan pengajian sore anak-anak. Mudah-mudahan bisa jadi boarding. Karena itu harapan Bang Dya kalau pondok Qur'an ini, ada mondokmya.Aamiin."
" Ohh iya, mungkin saya juga harus ambil master, seperti apa yang diharapkan Dya dari dulu, dari saya" ucap Nera berkaca-kaca.
" Saya faham. Maafkan saya. Saya sekedar mencairkan suasana." ucap Sarah.
" Eh. Nera. Sudah datang. Ayo. Kita mulai rapatnya!" sapa Rudi.
Sore rapat telah usai. Rudi mengajak makan pada Nera. Namun Nera harus segera pulang, karena urusan dengan ibunya belum selesai.
" Abang maaf ya. Nera ditunggu ibu. Jadi Nera buru-buru. Lagian enggak enak kalau nanti pulang kemalaman juga. Nera bawa motor, kan kalau kemalaman takut ada begal, apalagi Nera wanita" ujar Nera menjelaskan pada Rudi.
" Abang, anterin saja. Kan satu arah" ajak Rudi.
" Hahaha satu arah bagaimana Abang? Abang ke tol aku belok kiri. Terima kasih atas ajakannya. Saya janda, meminimalisir fitnah dan ocehan tetangga. Mari Bang. Nera duluan." Ucap Nera sambil berlalu meninggalkan kantor.
〰️〰️〰️〰️〰️
__ADS_1
" Umi. Anto izin mau pergi menjelajah beberapa tempat yang belum terlalu ramai di kunjungi orang. Untuk kerjaan juga sih. " kata Anto yang belum selesai berbicara dan kemudian di potong Laras.
" Mau honeymoon. Umi. Laras juga ikut, ke Flores, Umi" pungkas Laras sambil bergelayut ditangan Anto.
" Besok Anto berangkat sama Laras. Karena Anto dan team menjelajah. Kemungkinan Anto disana hampir mau dua bulanan. Insyaa Allah nanti Umi akan Anto selalu kabari deh " ucap Anto pada ibunya yang duduk di sofa panjang, di ruang keluarga.
" Asma mu, tak akan kambuh? Umi khawatir, kalau kamu kecapean, takut jantungmu kenapa-kenapa? Kamu mau pergi kemanapun Umi mah enggak apa-apa. Yang jadi masalah kalau kamu kecapean dan banyak pikiran. Ditambah rumah yang besar ini jadi begitu sepi. Yaser sudah berangkat pergi pendidikan militer. Nera pergi, hemm sedih Umi teh." Keluh Umi Syifa.
" Anto batalin saja gitu? Anto enggak enak kalau Umi sedih begini. " kata Anto yang dipotong lagi oleh Laras.
" Enggak mau ah, Laras itu pengen honeymoon sama Abang, semenjak kita resepsi, Laras belum pernah pergi honeymoon. Umi. Izinin kita dong, Mi. Kan sudah biasa orang tua selalu ditimggalkan anaknya. Laras pun meninggalkan rumah Abi, Abi biasa saja. Umi, ya. Kan enggak lama. Ya?" rajuk Laras pada mertuanya.
Umi Syifa, pada dasarnya gemas pada Laras yang terkadang kurang sopan santunnya dan terlalu kekanak-kanakan.
Tapi, Umi Syifa selalu menahan rasa kesalnya pada sang menantu.
Di mata Umi Syifa, bukan berniat membeda-bedakan. Memang Nera lah, yang selalu ramah, rendah hati, dan selalu nurut apa yang di minta Umi Syifa. Makanya Umi Syifa begitu menyayangi Nera.
〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️
Sesampainya di rumah, Nera mendapati hapenya bersuara.
Nyatanya ada pesan yang masuk.
Anto
Nera, dua bulan kedepan. Abang pergi dulu ke pulau Flores. Jangan kangen ya. Hehehe
Nera membalasnya,
Fi amanillah. Abang.
Semoga lancar bulan madunya.
Nera, do'akan, pas pulang ada kabar baik.
Laras hamil. Aamiin.
Anto membalas,
Apa? Nera mau jadi istri ke dua Abang.
Insyaa Allah, pulang Abang khitbah. Hahahaha.
Nera membalas,
Nera, duduk di sofa, dihampiri pak Edo.
" Gimana, ibu sudah bilang kalau ada yang datang akan melamarmu?"
" Iya, sudah. Tapi kan, Nera masih masa iddah. Tinggal satu bulanan lagi. Tapi enggak mungkin juga Nera langsung menerima laki-laki lain" jawab lirih Nera.
" Janda itu rentan, fitnahnya banyak. Apalagi kamu, masih muda, usia masih kepala dua. Mapan, anak kuliahan, janda dari seorang terpelajar dan menantu ustad ternama. Ngantri Nera yang mau sama kamu. Bapak pusing. Cuman yang berani datang baru satu orang, yang kemarin itu" ujar pak Edo.
" Siapa emangnya yang bakalan besok datang?" selidik Nera pada bapaknya.
" Besok dia kesini, tapi tidak sama keluarganya sekarang mah. Kemarin mah kebetulan lagi ada acara keluarga, jadi sekalian memperkenalkan keluarganya, dan bukan acara khitbah juga." jelas pak Edo.
" Nera pastikan ke bapak saja dari sekarang. Nera belum ada niatan menikah. Habis wisuda nanti Nera mau lanjut S2. Karena harapan bang Dya ingin Nera itu cerdas dan memiliki pengetahuan yang banyak. Nera juga mau fokus ke sekolah yang bang Dya kelola bersama Nera, apalagi Abah ingin sekolah yang kita kelola menjadi boarding school. Nera belum kepikiran untuk menikah, pa." Jelas Nera menegaskan dengan lirih.
Pak Edo hanya menganggukan saja memahami apa yang di ucapkan putrinya.
〰️〰️〰️〰️〰️
" Bah, Umi mah pengen Nera itu nikah sama anak kita" celoteh Umi Syifa pada kiai Hasan.
" Dinikahin ke Idam gitu?" jawab Kiai Hasan sambil fokus membaca dengan kaca mata sudah melorot ke bawah.
" Issh, kalau Anto menceraikan Laras bagaimana?" ujar Umi Syifa.
" Oalaaaah, kumaha cenah indung teh? lin mah di du'aken sing manjang tur bagja. Ieu kalah ngadu'aken cerai, boa teu eling mah! ( bagaimana ini seorang ibu teh? bukannya di do'akan langgeng dan bahagia. Ini malah ngedo'ain cerai, giila , apa?" pungkas Kiai Hasan.
" Apa atuh Abah? kan lagi ngayal Umi mah" Umi Syifa membela diri.
" Mudah-mudahan masih ada jodoh" gumam Umi Syifa pelan.
〰️〰️〰️〰️〰️〰️
Jam dinding, menunjukkan pukul 10 pagi.
Ini hari Sabtu.
Tak ada jadwal kuliah, Astuti mengirimkan pesan pendek nya .
__ADS_1
Nera aku main kerumahmu ya?
Nera membalas.
Aku dirumah ibu. Sini saja, kita buat rujak.
Astuti membalas lagi.
Ok. Sepuluh menit nyampe deh.
Pengen di bawain apa?
Nera membalas.
Tumben, biasanya lempeng saja. Malah diriku yang selalu dimintai jajanan. Hahahaha.
Astuti membalas.
Oh. Gak ikhlas nih ceritanya? hiks
Nera membalas.
Kalau enggak ikhlas, gak mungkin sering, wee.
Astuti membalas.
Aku beli buah-buahan buat dibikin rujaknya saja, ya?
Kamu siapin bumbunya. ok?
Nera membalas.
ok.
Selang beberapa lama. Ucapan salam menggema di depan rumah yang kebetulan pintunya terbuka.
" Assalamu'alaikum" sahut Astuti.
" Wa' alaikumussalam" jawab Nera yang sedari tadi menunggu kedatangan Astuti.
" Astu..ti.." sapa Nera yang terbata ketika melihat ternyata ada Dimas.
" Hai" sapa Astuti sambil tersenyum ke arah Nera.
" Masuk" Nera mempersilakan Astuti dan Dimas.
Mereka terduduk, kemudian ibu menghampiri ke ruang tamu.
" Alaaah geuning Ujang! Sama Astuti ?" kata ibu seolah-olah sudah pernah bertemu dengan kakaknya Astuti, padahal Dimas lama sudah jarang wara wiri di Bandung. Karena pekerjaannya.
" Oh, iya. Kemarin Astuti tidak ikut. Saya ajak nenek dan Kakek, serta bibi saya kesini. Karena kebetulan ada acara keluarga" ucap Dimas menjelaskan.
Nera, mencoba mencocokkan puzle yang mulai terhubung. Dari obrolan antara ibunya dan Dimas.
" Apa Dimas, yang laki-laki akan mengkhitbahku?" desir dalam hatinya.
Nera memandang ke arah Astuti.
Astuti gerak cepat untuk memulai pembicaraan. Dia takut sahabatnya berpikir macam-macam tentangnya dan abangnya yang datang hari ini ke rumah Nera.
" Begini-begini. Nera sebetulnya aku tadinya berniat memang akan main sama kamu. Aku enggak tahu, kalau abang aku pernah kesini. Tapi beneran rencana aku kesini sendirian enggak sama abang aku. Cuman pas mau berangkat doi sudah rapi banget, dia nanya sama aku " mau kemana?", ya aku jawab " ke rumah Nera". Di bales lagi " ya udah, bareng!" Aku kira ya udah bareng itu, se jalur gitu sama jalan yang di laluinya. Ternyata bukan hanya sejalur, serumah dan satu tujuan." Jelas Astuti yang mulai penasarannya juga dengan abangnya.
" Ok. Begini, kemarin saya memang kesini sama eyang juga bulek. Nah, sekalian gitu biar eyang tahu wanita yang ingin Dimas nikahi. Walau mungkin Nera belum tentu nerima Dimas. Sebagai laki-laki saya modal berani saja dulu, masalah di tolak itu sudah makanan biasa untuk para laki-laki." jelas Dimas.
" Saya, naksir sama Nera sejak Nera SMA. Ingat toh, foto yang kamu sampai nangis-nangis gara-gara entah siapa yang sobekin? Itu mas Astuti!" jelas Dimas lagi mengakui.
" Setelah bertahun-tahun tak bertemu, ada kabar anak tetangga menikah dengan Nera. Mas cuman bilang, mungkin bukan jodoh!"
" Tapi ketika mendengar anak tetangga kita meninggal, berarti Nera sudah jadi janda. Mas tidak mau kecolongan dua kali. Jadi Nera, memang Mas sengaja kesini untuk mengutarakan hati Mas ke kamu. Mas tidak meminta jawabannya sekarang. Karena mas tahu masa idahmu hampir empat mingguan lagi lah. Tapi setidaknya Mas sudah mengutarakannya karena dua hari lagi mas akan pergi berlayar lagi. Mas akan tunggu jawaban kamu, jika kamu bersedia enam bulan sekali Mas pulang dan Mas akan mengkhitbah kamu" Begitulah pernyataan Dimas pada Nera.
Nera terkejut dengan pernyataan Dimas yang secara tiba-tiba. Nera kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan dan menjelaskannya. Nera merasa tak enak hati kepada Astuti.
Nera takut Astuti tersinggung karena Dimas adalah kakaknya.
Nera, masih diam seribu bahasa.
Nera sedikit tak menyangka, laki-laki metroseksual begini, apalagi kerja dipelayaran.
Nera hanya terpaku, melihat wajah Dimas yang selalu klimis namun masih berjibaku dirimu.
bersambung
〰️〰️〰️〰️
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, komen, dan love .
Love u readers , terima kasih atas semua dukungannya.