
Masih di rumah Anto, tapi bukan itu.
Nera dipanggil umi syifa atas permintaan kiayi Hasan.
" Begini mba atau neng Nera, abah minta manggilin neng kerumah, ada hal yang aharus di bicarakan dengan segera " jelas umi syifa memasangkan sebuah foto disebuah pigura kecil.
Hatinya bergerutu lemah .
Mendengar itu, dadaku berdetak keras.
Mungkinkah Anto sudah bilang pada Abahnya tentang meminangku?
Aahh, benarkah? kenapa begith cepat?
kalau iyah mungkin aku akan langsung menerima pinangannya dan bilang sama bapa sekarang.
kemudian kiayi Hasan muncul dengan sarungan, berkoko dan bersorban plus kopeah berwarna putih.
Nera menganggukkan, dan mengucapkan assalamualaikum .
" Ini mi, neng Nera teh ?" tanya kiayai Hasan pada umi syifa.
" Iya abah, ini Neng Nera yang ngajarin Idam ngaji, di mesjid dekat perumahan " jawab umi syifa.
" Ouh ya neng, kamu teh dah ngajar di mesjid Al-Musthofa itu sudah berapa tahun? " tanya kiayi Hasan menelisiknya.
" Hampir 4 tahun ,pak kiayi " jawab Nera nervous.
" Uuuh gening lila nya ( ouh lama juga) ? begini sebentar lagi anak abah pulang dari Maroko, qadarullah abah di mesjid depan itu DKM. Rencana TPA sore kita akan jadikan formal. Nanti yang ngurus dan di bantu sama yang lainnya. Mau di formalkan saja gitu, bukan hanya tempat ngaji, tapi semua kegiatannya, nanti bakal Dya yang kokrdinasi "
__ADS_1
" Mohon maaf, Dya itu siapa, kiayi? " tanya Nera penasaran.
Umi syifa, masih membereskn dan menempelkan foto-foto ke pigura " Dya anak kami yang ke tiga, sekarang Dya lagi belajar di Maroko .Nih fotonya! " bantu jawab kiayi Hasan sembari menunjukkan foto Dya.
" dan ini Anto, baru tadi pagi suratnya nyampe, qadarullah kirim foto juga, ini fotonya, dia kuliah di Mesir. Do'akan ya biar anak - anak pada berhasil dan sholeh "
jawab ummi syifa penuh harap, menaham kerinduan.
Melihat foto Anto, Nera berdebar.
seandainya jika boleh, aku ingin memintanya. Surat? adakah surat untuk dirinya dari Anto? Hati Nera meracau.
Nera terperanjat saat pak kiayi bertanya bagaimana pendapat nya.
" Bagaimana neng Nera siap jadi pengajar tetap? "
" Insyaa Allah ,pak kiayi. Semoga Allah mudahkan"
" Kita akan bermusyawarah bulan depan dengan warga dan yang lainnya. Insyaa Allah Dya dan Anto akan pulang libur semester "
Jawab kiayi, mengagetkan ku.
Haah Anto pulang, hati Nera senang mendengar Anto akan pulang.
" Dari abah mah gitu aja, mudah-mudahan neng Nera istiqamah " kata kiayi Hasan.
__ADS_1
Nera berpamit izin pulang, karena obrolannya dengan kiayi Hasan sudah berakhir.
*****
Tiba di rumah ibu Siwi sibuk menulis sambil berdialog dengan pak Edo.
" Lagi apa bu, pak? " tanya Nera menghampiri ibu, bapaknya yang lagi asyik berdiskusi.
"Ini wat nikahan nya Lesti ,kan dua bulan lagi acaranya. Ner, kiayi Hasan bisa enggak ya jadi khotbah nikah dan saksi pernikahan Lesti? " tanya Bapa ke arahku.
" Kayanya mah mau, pak. Tapi coba bapak ketemu saja langsung dimesjid. Beliyau kan suka ngimamin shalat berjama'ah di mesjid " sahut Nera.
Bapa mengangguk mengerti.
Dikamar ,Nera menjatuhkan tubuhnya . Dia berguling-guling senang.
Haha dia sudah kaya cacing kepanasan.
Senyum - senyum sendiri ,bahwa sebulan lagi dia akan bertemu dengan Anto.
Hal yang selalu ditunggu Nera, karena hampir mau 2 tahun dia menahan rindu pada Anto.
Anto kedatangan mu selalu ku tunggu.
Anto aku kangeeeeeeeeen.
Teriak hati Nera bergejolak.
*******next
__ADS_1