Berjanji Dan Merajut Asa

Berjanji Dan Merajut Asa
74. cemburu buta


__ADS_3

Pagi ini mereka berempat yakni Hanum menuju bandara Soekarno Hatta, kalau tidak macet semoga bisa lebih cepat sampai.


Sehingga Nera , Idam dan Anto bisa mengantarkan tamu bang Musa ke pondok Kiai Mahmud.


Tamu berasal dari Maroko di beri undangan untuk melihat pondok pesantren yang dikelola Abah dan Kiai Mahfud.


Tamu yang berasal dari Maroko itu rencana untuk mengisi Tausyiah pelepasan santri di pondok pesantren.


Nera duduk di depan dengan Anto, sementara Hanum dan Idam di belakang.


" Teh, sehatkan?" tanya Anto bertanya pada Nera.


" Itu ada roti di kresek sama susu, di makan ya , nanti masuk angin" nasehat Anto pada Nera sambil nyetir.


Nera menempelkan punggung dan kepalanya ke kursi, dia menggelengkan kepalanya.


Wajah Nera sedikit pucat, dengan mata sedikit bengkak. Di akibatkan semalaman Nera tak bisa tidur dan bergadang sambil nangis.


Giliran di dalam mobil, Nera mengantuk.


Anto melihat tubuh Nera semakin kurus, entahlah apa Nera sedang diet atau memang sedang banyak pikiran atau mungkin kecapean?


Anto melihat, tubuh berisi Nera saat di SMA dulu berbeda. Pipi tembem Nera semakin tirus, bahu Nera yang semakin terlihat kurus.


Ada sedikit luka, dihati Anto melihat keadaan tubuh Nera akhir-akhir ini.


Apalagi setelah kepulangannya dari Mesir waktu bulan-bulan kemarin.


Dia disediakan Nera yang sedang tertidur dikamar dirinya sambil memegang diari miliknya .


Nera, sering mengeluhkan Dya dan kadang bergadang dirumah dan tertidur di sofa ruang televisi.


Mungkin benar Nera kesepian, Nera perlu orang yang di cintainya.


Nera akhirnya tertidur, dan cukup pulas.


Suasana hening di dalam mobil, karena Hanum dan Idam pun tertidur pulas, pula.


Anto berencana akan menanyakan perihal Sarah dan Dya kepada Rudi dan Maryam.


Tapi, Anto berencana menanyakan kepada Dya langsung lewat telepon. Atau Anto sengaja ke Maroko, dengan alasana mau nengok atau wisata kesana.


Anto tak rela kekasih hatinya terus tersiksa oleh pikirannya sendiri.


Anto ingin membuat Nera tenang kalau Dya memang baik-baik disana.


Anto meyakini, efek kurus kakak iparnya ini adalah pikiran dan terlalu lelah dia dalam berkegiatan.


Belum ngajar TPA dan kuliah, ngerjain tugas kuliah kadang bergadang.


Tahu-tahu Nera ketiduran di dapur , di sofa, dan kadang di taman.


Mau ngajak ngobrol yang lain, Nera cukup tahu diri untuk tak sering-sering ngobrol dengan Anto.


〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️


🚘 Di Bandara Soekaeno Hatta


" Teh, teteh bangun.. sudah sampai " Anto membangunkan Nera.


Mendengar suara Anto, Hanum dan Nera pun bangun. Disusul Idam sambil mengucek-ngucek matanya.


" Ayo turun, kita sudah sampai" Anto membuka pintu mobilnya.


Sambil memakai kacamata hitam.


Disusul Nera dengan gamis potongan ala-ala melayu, dengam menggunakan krudung seperut segitiga.


Anto berjalan sambil menuntun Idam, sedang Nera dan Hanum berjalan sambil ngobrol masuk kedalam.

__ADS_1


Mereka menunggu dari arah pintu kedatangan, ternyata pesawat dari Maroko nanti sampainya jam 1 siangan. Sekarang masih jam 12 berarti mereka harus menunggu satu jam, dan mereka mencari mushalla untuk shalat terlebih dahulu.


Nera telah selesai Shalat, dan Anto masih di toilet karena Idam kebelet.


Sedang Hanum juga sama dia pergi ke toilet.


Nera duluan menuju tempat tunggu ke datangan.


Sambil menunggu Nera ngemil cemilan yang di kasih Anto padanya.


Karena Nera, dari pagi belum makan sama sekali. Dan hanya air kemasan botol terus ia pegang.


Waktu sudah menunjukkan jam satu , pintu kedatangan mulai berdatangan orang-orang yang baru turun dari pesawat.


Nera masih terdiam dan mencari-cari, siapa orangnya?


Kalau Anto dan Hanum sudah tahu wajah si tamu yang akan datang kepondoknya.


Disudut jauh itu ada seseorang yang datang membawa troli berjalan. Nera mengucek matanya beberapa kali, dan mencubit pipinya.


Dilihat di pintu kedatangan ada Dya .


Dya berjalan sendirian , sekali lagi dia mengucek lagi matanya, ternyata memang suaminya.


Kemeja yang dipakainya , Nera tahu jelas, itu suaminya.


Nera antusias, Nera bahagia, Nera ingin segera berlari menujunya.


Nera mengambil cermin kecil disaku dompetnya, melihat krudung atau apalah yang di wajah dan krudung nya, entah itu ada yang kotor atau yang kusut atau mungkin krudungnya menyong.


Nera mencoba, memakai lips balm dulu.


Nera ingin menjadikan moment itu kejutan bagi suaminya.


Nera sudah siap, dan berlari menuju suaminya.


Cuman baru saja berjalan menuju ke arah Dya, yang sedari tadi Dya tak menyadari kalau istrinya sudah ada sejak dari tadi memperhatikanya.


" Bang Dya tunggu" teriak Sarah sambil kucek-kucek matanya dan mendekati Dya.


Sarah mendekati Dya, dan membuka kan satu matanya untuk ditiup Dya begitupun dengan mata selanjutnya Dya meniupnya lagi


Sarah kemudian tertawa tertawa simpul mengatakan terima kasih.


Entah apa yang di obrolkan mereka, lalu Dya mengambil tas Sarah dan menyimpannya di troli.


Melihat adegan itu, seketika tubuh Nera memanas.


Nera memacu jalannya menuju arah Dya dengan langkah yang lebar penuh amarah.


Wajahnya merah padam, sangat kontras terlihat di wajah putihnya.


Sesekali Nera menelan salivanya, mulutnya kering menahan emosi.


Beberapa langkah lagi Nera, sampai ke arah Dya.


Tapi Dya tak menyadari di depannya ada istri yang sedang di bakar cemburu.


Nera mengepal botol air mineral itu dengan kesal, Nera memutar tutup botol air itu.


Selangkah lagi menuju Sarah dan Dya,


" Byuuuuuur "


Nera menyiramkan air di botol itu ke kepala Sarah dengan kasar, sehingga air itu membasahi kepala dan mengucur ke mukanya Sarah.


Sarah terkaget, dan syok dengan apa yang dilakukan Nera padanya.


Dya tambah lagi terkejut, Dya menatap Nera dengan nanar dan menyebut nama Nera.

__ADS_1


" Neraaaaaa "


Nera dengan emosinya, mengata-ngatai Sarah,


"Dasar wanita penggoda suami orang !!"


" Plaaaaak "


Mendengar perkataan Nera yang ditujukan ke Sarah, dengan refleks tangan Dya menampar pipi Nera dengan keras.


Nera memegang pipinya yang panas akibat tamparan suaminya itu.


Dibelakang Anto terkejut melihat Nera ditampar, jiplakan tangan Dya sungguh terlihat membekas di kulit muka putihnya Nera.


Nera meneteskan air mata, tanpa ada kata apapun Nera langsung berlari meninggalkan Dya dan Sarah.


Entah mengapa Dya mematung tanpa kata sembari melihat tangan kanan yang sudah menampar wajah cantik istrinya.


Anto mencoba mengejar Nera dan menitipkan Idam kepada Hanum.


Pristiwa tadi banyak orang yang memperhatikan.


Hanum sendiri pun terkejut, ketika Dya menampar Nera di depan umum.


Begitupun Sarah harus basah kuyup jilbab dan bajunya akibat disiram oleh Nera.


Anto masih berlari, dan terus memanggil nama Nera,


" Nera, tunggu, Nera "


Nera masih tetap berlari dan tak bergeming.


Sembari menutup tapak tamparan suaminya.


Nera menangis, Anto kehilangan jejak Nera.


〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️


Nera masih berlari tanpa henti.


Dunianya runtuh, saat Dya menampar wajahnya didepan umum.


Nera merasa sesak yang terperi, cemburu yang menggila.


Nera menghentika sebuah taksi, dan masuk kedalam.


Di dalam taksi Nera menangis histeris,


" Haaaaaaaaaaaawhhh" sambil memegang pipinya.


" Kemana bu?" tanya sopir taksi.


" Ke statsion kereta api, yang terdekat pak "


" Iya "


bersambung


〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️


Budayakan vote, like , dan koment yang positif.


Maaf, jika bertele-tele namaya juga novel, saya selalu bilang kalau pengen cepet selesai ceritanya, munngkin bisa buat sendiri atau baca cerita pendek.


Author alhamdulillah bukan pengangguran jadi enggak bisa mengetik bebas . Author bisa up kalau tugas mencari uang di alam nyata sudah rampung.


hahahha..


Terimakasih yang selalu memeberika nasehat dan krisan yang positif.

__ADS_1


love u all


__ADS_2