Berjanji Dan Merajut Asa

Berjanji Dan Merajut Asa
ku58. Mereka pergi dan terbang


__ADS_3

pov Nera


Hari ini aku terbunuh dengan prasangka ku, hari ini aku menahan sembilu.


Dari kemarin rona wajah suami ku seperti menggambarkan lelah dan sakit.


Tapi anehnya, dia tak mengaduh atau meratap padaku.


Yang ku benci, dari kepergian hari ini, waktu bersama diriku cepat kilat.


Dia habiskan dengan bertemu kawan di hotel lah. Menjenguk orang sakit lah, sampai dia lupa meminta ijin dan restu kepada orang tuaku.


Entahlah apa yang ada dalam isi kepalanya?


Dia tak bercerita banyak, sesekali sempat ku mengganggu dia sedang menelpon.


Wajah gusar agar aku tak mendekatinya, sebetulnya siapa yang dia telepon atau siapa yang menelepon suami ku itu?


Sejujurnya pada saat itu, ingin ku buncahkan emosiku kepadanya.


Ingin ku lontarkan egoku, bukan, cemburu ya cemburu.


Aku cemburu pada hape itu, tiap waktu dipegang dan dilepas saat shalat, tidur dan di carge.


Aku?


Aku tak tahu kapan terakhir dia memegangku, memeluk dan membelaiku?


Hahaha secemburu inikah seorang istri kepada hape?


Hari ini, jadwal keberangkatan suamiku.


Pagi ini, semenjak bangun dan berangkat naik mobil, dia belum memeluk dan mencium keningku.


Apalagi sekarang duduk kami berjauhan, aku di jok belakang yang pertama, dan dia ada didepan bersama abah yang sedang mengemudikan mobil.


Tak ada obrolan intens denganku, padahal aku sedang ingin berceloteh dan bermanja dengannya.


Dia akan pergi menjauh dariku selama satu tahun. Apa dia tidak akan kangen padaku? Dia sia-siakan waktu bersamaku? sedang sebelum dia pergi aku sudah kangen. Hiks.


Dya, suamiku.


Aku malu jika harus menagih kecupanmu.


Aku malu jika harus meminta dipeluk hangat sebelum kau pergi.


Aku ingin berglendot di tangan mu.


Aku ingin kita bercanda dulu.


Ya, walau hanya sejenak.


Kenapa harus sesingkat ini, mobil ini terparkir di bandara?


************************

__ADS_1


pov Author


Kami sekeluarga membawa mobil dua,


satu ditumpangi rombongan Anto dan bang Musa sekeluarga , dan yang satu lagi ditumpangi Nera dan Dya abah sekeluarga plus teh Maryam dan kedua anaknya.


Panggilan untuk jadwal penerbangan ke Mesir akan segera berangkat. Anto bersalaman dengan keluarganya, tak ada tangisan yang berlebihan karena bulan depanpun Anto akan pulang lagi, karena hanya akan mengurusi surat kepindahan jurusan atau perkuliahan dari Mesir ke Indonesia .


Entahlah Nera pun menitikkan air mata saat dia, hanya terlihat punggungnya saja.


Dan Nera pun, merasa kehilangan orang yang selalu membuat dirinya bersalah dan tersalah.


Anto selalu membuatnya tenang, terkadang kesal dan marah.


Tapi, tak dipungkiri Anto lah tempat dia bercerita dan menenangkan hati.


Nera mengusap air matanya.


Dipintu masuk itu ada sepasang manusia menghampiri, kami semua bertemu dengan Rudi dan Sarah.


" Eh, nak Rudi, mau kemana ini? " tanya Umi Syifa basa basi menyapa.


" Ini nganterin adik sepupu, mau berangkat ke Maroko juga, kaya Dya " jawab Rudi sambil sun tangan kepada Kiai Hasan.


Rudi menghampiri Dya,


" Dya, ini kayanya chek yang dia berikan, ini tanda terima kasihnya ke kamu " sambil memberikan amplop coklat. Sarah menghampiri Dya, dan menyapanya,


" Bang Dya, tadi malam tidak apa-apa? "


Didepan Nera Dya menjawab sapaan Sarah dengan senyuman simpul,


Sarah tersenyum, sambil menundukkan kepalanya.


"Sar, maaf ya saya tinggal dulu" kata Dya sambil menggandeng tangan Nera ke tepian menjauh dari orang-orang.


" Dek, kita buka bareng-bareng ya Amplopnya" ajak Dya pada istrinya.


Nera mengangguk antusias.


Amplop itu dibukanya,


" Waah, Dek. Cek " kata Dya.


" Woow, maa syaa Allah Rp. 10.000.000,-. Ini hadiah dari Mr. Chang " katanya lagi.


" Hadiah apa, sih bang? " tanya Nera penasaran.


" Hadiah pernikahan kita, dia itu bos travel asal Singapura, yang joint pakai jasa abang sebagai Guide umrahnya. Dia kenalan Rudi dan Sarah. Dia pernah satu almamater dengan Sarah " kata Dya menjelaskan pada Nera.


" Abang kenal sama Sarah? , betulan Sarah sepupunya Rudi? " selidik Nera.


" Iskk, tanya saja sama adek ke Rudi, sepupunya atau istrinya? " tantang Dya pada Nera.


" Kan sepupu juga bukan makhram bang, masa pergi berduaan enggak di ikuti mahramnya? " selidik Nera curiga.

__ADS_1


" Diiih, kayak yang belum pernah saja, pergi tanpa mahram " pungkas Dya pada Nera.


Mendengar itu , Nera cemberut.


Dya melihat Nera cemberut, merasa lucu dan kembali menggoda Nera.


" Dek, cemberut sayang nih, uang Rp. 10.000.000 ,- melayang" goda Dya memasukkan cek nya ke dalam tas.


" Yah, sok saja, enggak butuh ini, bisa nyari kalau abang di Maroko mah " jawab Nera cuek.


" Iya atuh iya, ini buat adek semuanya" sambil memberikan amplop yang berisikan cek.


" Uang semesteran sudah abang bayar buat satu tahun, awas jangan lalai kuliahnya, mencari ilmu itu wajib bagi seorang muslim. Jika lalai kuliahnya, abang marah ya, abang enggak mau nanti di akhirat, abang kena hisab karena enggak mendidik istri dengan baik "Jelas Dya sambil memeluk Nera.


" Abang, malu ih di depan orang lain. Sudah. Abang jaga kesehatan, makan, istirahat, dan yang utama jangan nakal, kalau nakal Nera akan bersedih " Ancam Nera manja sambil memencet hidung suaminya.


" De, sekarang jadwal keberangkatan abang, jangan bersedih, jaga shalatnya, jangan lupa tilawahnya, salamin ke ibu sama ke bapak, maaf abang tidak sempat pamit pada mereka, insyaa Allah kalau sudah sampai disana abang telepon ibu dan bapak, ya" kata Dya berharap Nera memakluminya.


Nera mengangguk mendengar kata-kata suaminya itu.


" Abang berangkat dulu ya, sampai ketemu lagi, jaga amanat dan kepercayaan suami ya. Jaga ijjah dan kehormatan keluarga yang kita bangun. Abang sayang adek " nasehat suami kepada sang istri.


Nera mulai mengucurkan air mata, dipeluknya lagi, dan Nera tak mau melepaskan.


" Abang, Nera kangen, ajak Nera abang, Nera enggak mau abang pergi "


" Dek, nanti akan Abang ajak Adek ke Maroko suati saat nanti, biar tahu disana itu ada tempat indah, Dek maafkan Abang ya, Abang harus berangkat . Assalamualaikum sampai jumpa kembali" ucap Dya sambil mengecup kening istrinya itu.


Nera menatap lagi punggung lelaki yang sangat di cintai hari ini.


Pergi dan tak terlihat lagi.


Hanya suata pesawat yang terbang landas yang bersahutan.


bersambung.


****************


Hi reader, author seneng kalau reader sudah main sangka-sangkaan dengan cerita author.


Jangan sampai nyesel enggak mau baca lagi.


Kalau bisa sampai tamat bacanya.


Karena justru gantung, kalau penasaran kan.


Yuk, reader jangan lupa koment, vote dan likenya.


aku seneng sekali kalau dalam satu hari dapat like an hampir 100 lebih, mudah-mudahan besok bisa dapet likean 200 per hari.


Biar Author itu semangat sehari dua kali upnya.


Yaa, please yang rajin like, vote dan komennya biar aku semangat.


Terimakasih team readernya lily's..

__ADS_1


aku love pada kalian Semua.


Jazakumullah khairan katsiir


__ADS_2