
Umi sudah ada di ruang UGD, dari tadi Umi belum menunjukkan kesadarannya.
Abah yang ada di Banten hari ini, segera menuju pulang ke Bandung.
Di rumah sakit hanya ada Yaser dan Anto, sementara Nera memutuskan dirumah menemani Idam.
Nera memutuskan memberi kabar tentang Umi kepada Dya.
Nera menelpon Dya,
" Assalamu'alaikum warah matullahi wa barakatuh" suara Nera
" 'Alaikumussalam warahmatullah" jawab Dya.
" Abang, maaf hanya sekedar memberi kabar, Umi sekarang di Rumah Sakit. Umi pingsan tadi pukul setengah delapan isya waktu Indonesia bagian barat"
" Innalillahi wa innailaihi raji'un, sakit apa Umi , Dek?" tanya Dya.
" Nera, belum dikasih tahu Bang Anto, karena Nera di rumah jaga Idam. Nera takut Abang " isak Nera.
" Takut kenapa sayang? berdoa, Allah yang maha pemegang segala kehidupan , pasrahkan sama Allah, dan jangan lupa ikhtiar" nasehat Dya.
" Abang, Nera mau ngakuin sesuatu, tapi Abang jangan marah. Umi mungkin pingsan karena ada obrolan sebelumnya di dapur dengan Bang Anto. Bang Anto enggak mau nikah gara-gara , Bang Anto masih .." kata Nera terputus karena batre hapenya habis.
" Heeeeeh , batre nya habis, baru juga mau jujur-jujuran. Siapa tahu, Bang Dya mau jujur ke aku. Tentang Sarah mungkin atau apa ya, sebetulnya aku merasa Bang Dya baik-baik saja, tak ada gelagat dia punya istri dua. Tapi mesteri saja, kok farpum itu bau nya berubah? hotel? ahh , bikin parno lagi" gerutu Nera.
Sms dari Anto,
Teh, Umi masuk ruang ICU, Umi kritis .
Minta do'anya , tolong jaga Idam.
Nera mengirim jawaban sms pada Anto.
Innalillahi wa innailaihi raji'un. Iya saya akan jaga Idam.
Kabari terus kabar Umi terbaru.
*************************************
Pov Dya
Maroko.
Umi sakit.
Anto bilang Umi dirawat di ICU, Umi kritis.
Hemh, padahal tinggal kurang lebih tinggal 7 bulan lagi menyeleseaikan semua.
Tapi, kok hati mulai enggak enak begini.
Terpikir dan jadi kangen Umi.
Besok mending saya pesen tiket untuk pulang.
Apalah arti gelar, jika harus kehilangan ibu.
Astagfirullah, Umi panjang umur, insyaa Allah.
Nera, tadi menelpon sepertinya habis pulsa. Hahahaha aku akan kasih kejutan, buat Nera. Mungkin lusa aku sampai, aku tak akan bilang ke siapa pun kalau aku besok pulang. Sampai Umi sehat, baru ke Maroko lagi.
Pov Author.
__ADS_1
Dya akan pulang, tanpa bilang keluarganya.
Karena Dya faham,keluarganya sedang ada kesulitan.
Lebih baik pulangnya, sendiri saja, biar tidak merepotkan. Karena saudara-saudaranya sedang sibuk jagain Uminya di Rumah sakit.
Malam tiba.
Tiba-tiba Anto dan Yaser pulang.
Yaser dan Anto terduduk di sofa dengan wajah lelah.
" Sudah makan? kabar Umi bagaimana?" Tanya Nera.
" Belum Teh" jawab Yaser. Anto sudah terkulai di Sofa dengan selonjoran mengahabiskan sepanjang sofa.
Nera segera pergi ke dapur, dan menyiapka makanan untuk mereka.
" Yaser dan Bang Anto, makanan sudah siap. Oh iya, Umi siapa yang jagain?" tanya Nera lagi
" Abah sama Teh maryam" jawab Yaser sambil menyinduk nasi.
" Paling besok Bang Musa sama istrinya?" timpal Anto sambil menyinduk nasi pula ke piringnya.
" Nera saja , ya Bang ?" usul Nera memandamg kedua anak tersebut.
" Siapa yang anter, Aku mau latihan " jawab Yaser.
" Teteh bisa naik angkot atau bis" sahut Nera.
Anto tak peduli, dia fokus makan makanan yang ada di hadapannya.
Padahal mata Yaser , sudah menatap ke Arah Anto, hanya Anto pura-pura tak bergeming.
Dengan sikap cueknya Anto pada Nera, Anto membuka obrolan dengan Yaser.
Dan seolah-olah menganggap Nera tidak ada di ruangan itu.
" Ser, tahu enggak, foto-foto calon istri Abang, ada yang layak untuk Abang enggak?" tanya Anto sambil menyuapkan makanan.
Nera , yang sedari tadi duduk membahas Umi, Anto menutup obrolan itu dengan membahas calon-calon istrinya pada Yaser.
" Diiih, Abang minat juga?" cela Yaser.
" Iyalah, dari pada di langkahin adik, sakit daan yang jelas gengsi, daripada nunggu yang enggak pasti, mending nunggu yang pasti-pasti saja " seloroh Anto sambil menyuapkan lagi makanan ke mulut.
" Nah, gitu dong brother. Ada yang cantik lho, maa syaa Allah, hafidzah juga lho Bang " tambah Yaser memanas-manasi Nera sekongkol dengan Anto.
" Bungkus satu buat Abang, Ser!" kata Anto tertawa.
" Hahaha, dikira nasi padang, hahahahah" jawab Yaser tertawa senang.
Nera mulai kesal, seolah-olah dirinya tak ada, dengan muka kesal, Nera bangkit dari duduknya, dan pergi berlalu ke kamar tanpa berkata-kata.
Anto mendelik ke arah Nera yang sedang berlalu menuju kamarnya.
Anto tertawa senang melihat Nera cemberut sambil pergi.
Yaser, merasa tidak enak hati melihat kakak iparnya , berlalu dengan kekesalannya kepada mereka.
*********************************
Pagi yang cerah, burung-burung bersahutan.
__ADS_1
Nera sudah merapikan diri, dan menyiapkan makanan untuk adik-adik iparnya. Dibantu Bi Minah asisten Umi di rumah.
Nera sudah segar dan ceria, tiba-tiba Anto muncul.
" Bi Minah sarapan sama apa nih?" tanya Anto sumringah.
" Duka ( enggak tahu ) atuh , Jang. Da Neng Nera nu ( yang ) masaknya" jawab Bi Minah bercanda.
Anto masih tahan harga untuk menyapa Nera.
Tak sengaja Nera dan Anto bersitatap. Nera langsung pakai wajah judes, dan melengos.
Dalam hati Anto terkekeh lucu, melihat Nera pasang wajah judes.
" hahahaha, kena " gumam hati Anto bersorak.
Idam berlari, dan memeluk kakak iparnya,
" Teteh, mau kemana, sudah cantik, Idam sendirian nanti di rumah?" rengek Idam pada Nera.
" Idam mau ikut, Teteh mau ke Rumah sakit , jenguk Umi?" tanya Nera sambil mengelus kepala Idam. Idam mengangguk.
Nera menyuruh Idam mandi dulu, dan Nera menunggu di sofa ruang televisi.
Anto, menjeda makannya dulu, pergi untuk memanaskan mobil. Dan kemudian kembali ke meja makan , dan lanjut makan lagi.
Nera sesekali melihat ke arah meja makan, siapa tahu Anto akan menyapa nya.
Anta mendelik dengan ekor matanya. Melihat kelakuan Nera yang dari tadi curi-curi pandang ke arahnya.
Beberapa saat kemudian, Idam sudah siap dan ganteng.
" Teteh, naik mobil Bang Anto. Idam enggak mau pake angkot atau bus. Ya!" pinta Idam manja.
" Bang Anto mau berangkat kuliah, entar ganggu! " Jawab Nera ketus dengan nada keras berharap Anto mendengarnya.
Anto terkekeh dalam hatinya, Anto semakin merasa senang membuat Nera kesal.
" Dam, hayo naik Dam !" sambil berlalu membawa kunci mobil dan merangkul Idam.
" Teteh, hayuuuuuu ikut " ajak Idam sambil memegang tangan kakak iparnya.
Mereka akhirnya masuk ke dalam mobil, Nera di kursi belakang supir. Biasanya Nera suka duduk di depan, untuk saat ini posisi berubah.
bersambung
******×***************
Hiii reader maaf ya saya masih belum bisa up terlalu banyak, dikarenakan kesibukan author dialam nyata.
Karena menulis itu, lumayan cukup menyita waktu.
Jazakumullah khairan katsir, bagi teman-teman yang sering dan sudah berbagi point di grup.
Terus like dan komentnya, serta tidak lupa vote novel ini ya.😍
Insyaa Allah dalam novel ini saya tidak akan sampai panjaaaaaaang banget partnya.
Mudah-mudahan di dalam novel ini, para reader bisa mengambil manfaatnya.
Ok reader, tunggu lagi part selanjutnya.
Lagi dalam proses edit..mudah-mudahan malam ini bisa up..
__ADS_1
love u semua..