
Pak RT sudah pergi.
Kini Laras, memeluk tangan Anto, seakan-akan tak boleh lepas.
Nera masih terduduk dengan tertunduk di hadapan kedua orangtua dan mertuanya.
Ali kikuk, bingung harus melakukan apa didepan besannya itu.
" Sudah, mau terus pelukkan seperti sampai pagi. Dikira kami patung apa, yang harus menunggu drama kalian usai ?" ujar Kiai Hasan sudah nampak kesal dan lelah pada Anto dan Laras.
" Anto, Laras. Besok kita akan lanjutkan. Ini sudah jam 11 malam. Kita sudah lelah. Mari pulang, Nak!" nasihat Umi Syifa.
" Ali. Mari menginap saja, dirumah. Umi khawatir kalau langsung ke Banten, nanti kecapean. Istirahat dirumah kami. Iya kan, Bah ?" Ajak Umi Syifa pada Ali di susul anggukkan kiai Hasan.
" Baiklah besan, saya pamit dulu. Besok kita akan islahkan lagi bagaimana baiknya. Mari semua, Abah duluan !" Pamit Kiai Hasan, sambil mengaping Umi Syifa di sebelah kirinya.
Laras melerai pelukkannya dari tangan Anto.
Mereka beranjak bersama untuk pulang.
Yaser dan Nisa ikut ke rumah pak Edo.
Sedang Ali, Anto, dan Laras ikut ke rumah kiai Hasan.
Kejadian itu membuat Nera syok, kembali dengan kesunyian hati.
Menggulingkan diri di kasur dan melempar kerudungnya ke sembarang arah.
Terlentang dan menarik napas panjang.
Butiran bening mengalir deras. Mengusap muka yang memerah dengan ingus yang mengiringi tangisan.
" Bang Dya. Apa ini balasan dosa dari Allah untukku, bagaimana aku pada saat itu pergi tanpa izin. Tanpa mendengar penjelasanmu?
Bang Dya. Aku baru menyadari, dosaku terlalu banyak padamu. Bagaimana dituduh orang berzina, padahal tidak? Dan aku pun pernah menuduhmu seperti itu. Bang Dya, kenapa aku menjadi seorang istri yang tak bersyukur, memiliki suami sesempurna dirimu?"
gejolak hati Nera.
" Betul kata orang, bersuami itu tak mudah. Bercerai atau menjanda itu tidak gampang. Wajar jika suami itu marah atau kecewa, karena dia masih manusia. Yang di takutkan adalah kita bercerai atau menjanda belum tentu mendapatkan penggantinya akan sebaik suami yang dulu-dulu. Aku takut Bang Dya!" lirih hatinya berceloteh.
Suara gawai di atas bantal berbunyi.
Nera langsung tersadar dari ratapannya.
Dito call
Nera mengangkat teleponnya.
" Assalamu'alaikum "
"..............."
" Enggak, ada apa-apa. Salah faham saja. Sudah beres kok"
" ............."
" Terima kasih, atas do'anya."
Saat hendak ditutup, ternyata ada pesan dari Rudi.
Saya lagi enggak enak hati.
Maaf, bukan mikirin kamu.
Kalau saya mendatangi orang tua kamu, bolehkah?
Saya tak tahu, jika kamu khawatir berkhalwat?
Saya akan minta Anto menjadi Pak comblannya, via Umi Syifa.
__ADS_1
Jujur, saya ingin mempersuntingmu segera.
Tapi, itu hanya sekedar niatan hati ini saja.
Selebihnya, kamu yang menentukkan.
Dari bujang lapuk.
Nera mengusap mukanya lagi.
Menatap layar hape yang berisi pesan dari Rudi.
Menghela napasnya dalam, sudah ada hati setiap beradu pandang.
Sudah mulai kikuk saat bersama dengan kawan-kawan.
Lelaki setampan Rudi dan semapan itu kenapa tak ada wanita yang mendekatinya?
Rudi memang selalu menutup diri dari perempuan.
Dia memiliki kriteria yang sangat sempurna.
Sesekali, Rudi selalu memimpikan Nera.
Sekalipun dimimpi dewasanya.
Nera masih selalu bimbang, padahal memang hakikatnya dia perlu sentuhan, belaian, dan perlindungan dari seorang suami.
Sambil terbaring di kasur, Nera sudah mulai ngantuk sambil mengetik tanpa sadar dan mengetik huruf tanpa kendali dan sadar.
Nera membalas sms Rudi,
I Love U..
Balasan itu sudah diterima oleh Rudi.
Nera ternyata suka juga padanya?
Dia kemudian membalas chattan Nera.
U 2
〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️
Nera sudah mandi dan memasak sarapannya sendiri.
Sehabis sarapan dia akan menemui Yaser dan Nisa. Mereka akan pergi ke pulau seribu, karena ada hadiah pernikahan dari Rudi. Yang jauh-jauh haru sudah Rudi persiapkan untuk mereka berdua.
Nera bersegera menuju rumah ke dua orang tuanya.
Disana sudah ada kiai Hasan dan Umi Syifa.
Berikut Anto.
Nera, memberi salam kepada mereka semua.
Yaser dan Nisa sudah siap untuk berangkat.
Keluarga besar, ikut merasakan kebahagian atas pernikahan Nisa dan Yaser.
Setelah keberangkatan Nisa dan Yaser, kedua keluarga berkumpul di ruang tengah.
Kiai Hasan ingin mendengarkan kelanjutan pristiwa tadi malam.
" Gimana Anto, jadinya? Kamu itu cerai atau lanjut?" tanya Kiai Hasan.
" Anto, sih ingin cerai. Tapi Anto bingung cara menghadapi Laras. Hakikatnya dia baik, Bah. Hanya saja sikap manja dan arogannya " jawab Anto.
" Nera. Kamu masih cinta sama Anto?" tiba-tiba kiai Hasan bertanya pada Nera.
__ADS_1
Nera mendengar pertanyaan itu, membulatkan mata ke arah Kiai Hasan karena terkejut.
Nera kembali tertunduk.
Anto memandang ke arah Nera. Banyak harapan dari pandangan Anto pada Nera. Namun sepertinya, Anto sendiri sudah merasakan keraguan, jika kesempatan untuk memiliki Nera pudar, dengan seiring masalah yang muncul.
" Abah. Anto harap, biarkan Nera dengan kesendiriannya. Anto pun sudah tidak memaksa Nera untuk menerima Anto lagi!" pungkas Anto menjawab disela-sela Nera masih terdiam menjawab pertanyaan Kiai Hasan.
" Hal bodoh ini jangan sampai terulang kembali. Dan menyakiti banyak orang. Seharusnya satu sama lain dewasa dan menghindari rasa-rasa yang akan menjerumuskan kita kedalam kemaksiatan. Abah tidak mau lagi, kalian memercikan perasaan keliru lagi. Ipar itu maut, berbahaya!"
Nasihat Kiai Hasan.
" Nera, kamu bukankah mencintai Anto? Saat mau menikah dengan Dya kamu masih memikirkan Anto?" tandas Bu Siwi.
Nera masih membisu. Nera bingung. Dulu memang rasa itu ada. Tapi semakin dewasa, semakin paham apa arti cinta itu? apa makna sayang? apa makna ingin bersama?
Dulu masa muda bergejolak rasa memiliki itu besar. Tak mau berjauhan. Tak ingin kehilangan dan tak ingin melepaskan.
Semakin dewasa, justru semakin mencari yang sama-sama dewasa. Tidak lagi ada drama.
Nera sudah tidak mau lagi, berumah tangga hanya melulu cinta bocah yang sedikit-sedikit dipermasalahkan.
" Nak Nera, cobalah beri kami keputusan. Biar Anto pun tak pernah oleng lagi dengan setiap keputusannya. Umi memahami Anto, memang sikap memiliki dan setianya itu adalah sifatnya.
Hanya saja, Anto kurang berani seperti yang lainnya. Watak Anak umi yang satu ini, sering mengalah dalam hal apapun. Nera, beri Anto keputusan. " Pinta Umi Syifa pada Nera.
" Jika pun toh dilanjutkan dengan Laras, Umi khawatir Laras tidak bisa sabar dalam mengahadapi Anto. Apalagi Laras dengan leluasa mengumbar aib Anto sampai semua orang tahu. Itu sudah tidak sehat dan tak layak lagi dilanjutkan!" tambah Umi Syifa mencoba membantu Anto menjelaskan.
" Umi, Abah, Ibu. Maaf, karena Nera kalian jadi di repotkan. Jujur hati ini sudah cape, masalah saya terjadi memang pasti berhubungan dengan Bang Anto. Dulu memang saya ingin bersama Bang Anto. Tapi untuk saat ini, tak mungkin saya menjawab pertanyaan kalian, semua tentang hati saya dengan bang Anto. Saya wanita, Laras wanita. Saya ingin dicintai tapi saya bukan istrinya Bang Anto, sedang Laras sama ingin di cintai Bang Anto, dan dia lebih berhak daripada Nera. Nera sarankan, jangan ceraikan Laras, dia pasti akan berubah. Sebetulnya dia wanita yang baik, hanya saja dia kecewa sama Abang dan saya. Terima lagi Laras, dia pasti berubah. Maaf, Nera bukan cinta pelarian Bang Anto jika nanti kelak Bang Anto bercerai lalu menikahi Nera. Maaf, Nera masih manusia yang punya hati, Nera tak terbayang rasa sakit Laras jika dia tahu, sehabis dia cerai sama Abang. Abang menikahi Nera. Nera lebih baik menjanda atau menikah dengan laki-laki lain saja. Daripada bahagia diatas orang lain" jawab Nera tegas.
" Bukankah, setiap kebahagian manusia memang akan selalu ada yang manusia lain yang tersakiti? Tapi bukan berarti kita yang jahat atau kita mengecewakannya? Kalau dia yang merasa kecewa, terus-terusan merasa tersakiti oleh kita yang bahagia. Berarti bukan kita yang jahatnya, tapi dia yang egois, bersedih diatas kebahagiaan orang yang sedang bahagia." Ujar Anto kesal dengan pernyataan Nera.
" Sudahlah Abah, hal ini adalah ranah Anto. Anto hanya mau memastikan jangan paksakan Nera untuk mencintai Anto atau bertanya apa Anto mau ceraikan Laras? Anto permisi undur diri. Yang jelas disini Anto berdiri untuk klarifikasi tak ada kumpul kebo atau perzinahan dengan Nera ."
" Anto permisi mau kerja habis itu mau ke kampus. Paling Anto pulang malam ." Ucap Anto akan berlalu.
" Laras, masih dirumah?" tanya Umi Syifa.
" Iya, siang nanti dia mau pulang sama Bang Ali." Jawab Anto yang hendak pergi di balik pintu.
Beberapa lama kemudian diausul Kiai Hasan, Umi Syifa dan Idam untuk pulang ke rumah nya.
〰️〰️〰️〰️〰️〰️
Nera menyalakan hapenya yang sejak malam yang mati.
Banyak notif dan pesan yang masuk.
Nera membuka satu-satu pesan yang masuk.
Mata Nera membulat dan kebakaran jengot.
" Apaaaaaa? I love u? kok bisa ?" teriaknya spontan.
" aaargggghhhhhhhhh, bagaimana iniiiii?" mulai menggaruk kepalanya yang tak gatal.
bersambung
〰️〰️〰️〰️〰️〰️
Maaf ya reader, insyaa Allah nanti malam akan up lagi.
Alhamdulillah saya sudah mendingan.
Cuman yaa begitu kalau lihat hape lama-lama suka sakit kepala.
Jangan lupa like, vote, dan love.
Terima kasih semuanya..
__ADS_1