Berjanji Dan Merajut Asa

Berjanji Dan Merajut Asa
86. Cemburu buta 2


__ADS_3

Hari ini Nera, sudah berbenah.


Semua kebutuhannya yang ada di kamar Dya sudah dikemas.


Nera, begitu berat melangkah dari kamar terindah nya.


Tak ada hal terindah selain dikamarnya ini.


Membayangkan lamunan dahulu, semasa Dya masih hidup.


Mengawali saling pandang satu sama lain, dan saling berbagi rasa dengan Dya.


Pov Nera


Seandainya waktu bisa terulang, aku ingin mencintainya .


Aku tak akan mengizinkan dia pergi ke sana.


Kan ku pertahankan semuanya.


Seandainya , aku lebih percaya pada suamiku. Mungkin dia tak akan terluka sampai harus mengejar-ngejar aku.


Aku ingin memeluknya Allah.


Aku ingin menciumnya dan ku tumpahkan rasa kangen ku.


Abang, muncullah dalam mimpi walau sejenak.


Tak kuat aku menahan rindu.


Kan ku umum kan pada dunia, heii kalian yang masih bersuami, sayangilah suami mu dikala sehat dan masih hidup.


Kalian tahu rasanya jadi aku?


Aku merana kesepian tanpa belaian dia lagi.


Suamiku ternyata manusia terbaik dibanding seribu laki-laki di dunia ini.


Aku merasakan luka yang menganga besar.


Aku merasakan rindu yang tak terperi.


Aku mersakan penyesalan tanpa akhir.


Aku , membutuhkan sandaran


Sandaran yang paling aku rindukan adalah suamiku.


Aku baru menyadarinya, kalau suamiku adalah laki-laki terhebat yang ku miliki.


Saat ini aku meragukan laki-laki lain , aku khawatir laki-laki lain tak bisa mengalah dengan diriku.


Aku khawatir laki-laki lain tak sebaik suamiku.


Aku khawatir, aku akan banyak terluka dengan laki-laki lain.


Aku yang selalu salah faham padanya, sedang suamiku selalu berlaku baik.


Suamiku manusia, dia bukan iblis. Sekali aku ditamparnya itu disebabkan aku yg terlalu buta tak mendengar titahnya.


Aku sering berburuk sangka padanya, tapi dia selalu memaafkan.


Aku tak tahu, akankah ada pengganti yg lebih baik darinya?


Atau kah ku dapat yang lebih buruk darinya?


Bang Dya, maafkan lah salahku padamu.


Benar kata orang, selagi ada sayangi setelah tiada baru terasa dan akhirnya penuh penyesalan.


〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️


Pov Author


Lamunan Nera buyar setelah Laras berdiri di hadapannya.


Wajahnya memerah dan kedua tangannya disimpan dipinggangnya.


Laras melempar semua bingkisan dan surat-surat cinta yang Anto punya.


Laras melemparkan buku diary Anto ke tubuh Nera.


" Brugh"


Nera yang sedang terduduk, terkejut dengan perilaku yg dilakukan Laras. Yang menurutnya tak sopan dan keterlaluan, apalagi melempar semua kado dikasur dan melempar buku diari Anto , kalau sedikit saja Nera menghindar, mingkin diari itu mengenai muka Nera.


Nera berdiri dan mempertanyakan .

__ADS_1


" Ada apa ini Laras? kenapa kamu seperti ini pada ku?"


" Kamu mau pergi dari rumah ini, karena mau bebas selingkuh sama suami aku?" jawab Laras murka.


" Apa maksud kamu, sih ?" jawab Nera kesal.


" Sudah berapa lama kamu selingkuh dari suami kamu dengan suamiku?" Tuduh Laras berapi-api.


" Wanita tamak, munafik, sok alim, najis !!" Cerocos Laras penuh emosi pada Nera.


" Tangisan mu tangisan buaya ketika suami kamu sekarat, padahal kamu senang kan?kalau Bang Dya mati, iiih dasar wanita laknat !!" kesal Laras pada Nera.


" Jaga ucapan kamu, Laras !"


" Plaaakk" jawab Nera kesal sambil menampar wajah Laras.


Laras tak terima, kemudian menampar balik wajah Nera. " Plakk"


Laras kembali mengumpat Nera.


" Kau pikir aku tidak tahu, selama ini kamu masih berhubungan gila dengan suamiku. Padahal kamu status istri orang. Kau masih sempat di cium laki-laki yang bukan makhram. Cuuh, najis. Pantas saja suamiku selalu bangun pagi hanya sekedar melihat menyajikan sarapan. Pantas saja, dia tak pernah menyentuhku, karena dia masih ada rasa sama kamu"


" Seorang lelaki mana yang kuat tak menyentuh istrinya? ooooh jangan-jangan kalian main dibelakangku, kamu servis dia? Dasar janda gataaaal " kesal Laras menuduh Nera.


Nera melangkah mau keluar kamar, namun Laras menarik ujung kerudung Nera sehingga kepala Nera terdorong ke belakang dan krudungnya terbuka. Rambut Nera terlihat dan kebetulan Anto tiba-tiba datang dan melihat pertengkaran mereka.


Tanpa disengaja Anto melihat kepala Nera yang nampak tak memakai kerudung.


Nera berbalik ke arah Anto.


Namun Nera langsung terduduk berusaha menutupi kepalanya dengan tangan dan pahanya.


Anto langsung berbalik untuk tidak melihatnya, namun Laras dengan masih emosi menggusur Nera keluar tanpa kerudung.


Nera terkejut, kenapa Laras sampai kalap seperti ini?


" Astagfirullah, Laras aku tak berkrudung. Laras !!" ucap Nera memelas.


Karena didepan pintu ada Anto, Nera memberanikan diri berdiri saat Nera digusur Laras.


Di berasa mengambil krudungnya, hanya saja Laras malah menjabak rambut Nera sampai kesakitan.


Anto dengan terpaksa melerai kedua perempuan itu.


Dan terpaksa rambut Nera pun harus terlihat Anto, Yaser, dan Kiai Hasan.


Nera mengambil krudungnya lagi dan memakainya.


Anto melihat wajah Nera yang putih terlihat bekas tamparan tangan Laras yg terlihat jelas di wajah Nera.


Sedangkan tamparan Nera pada Laras tak sebertenaga Laras pada Nera, jadi tak ada bekas di muka Laras.


Diujung bibir Nera, dekat pipi yang ada bekas tamparan Laras sedikit mengeluarkan darah.


" Ada apa ini?" tanya kiai Hasan kesal.


Mereka berdua masih diam.


" Dia menggoda suamiku!" tuduh Laras pada Nera.


Nera melotot ke arah Laras menggambarkan dia sedang marah.


" Dan suamiku selingkuh dengan janda laknat itu!" tuduh Laras lagi.


" Laras, jaga kata-kata kamu! Istighfar!" pungkas Anto.


" Harusnya kamu yang istighfar, bukan aku! Hina kalian berdua, najis aku melihat kemunafikan kalian. Kurangnya aku apa, Anto?" pekik Laras kecewa.


" Apa ini, kata-katamu kenapa tak beradab seperti ini , Laras?" ujar Kiai Hasan seraya meminta penjelasan dari omongan yang Lars keluarkan.


" Abah, selama menikah Bang Anto tak pernah menyentuh saya. Saya seperti tak berarti dimata dia. Apa layak seorang suami memperlakukan seorang istri seperti ini?" ratap Laras mengadu kepada Kiai Hasan.


" Benar itu Anto?" tanya Kiai Hasan pada Anto.


Anto mengangguk perlahan tanpa pembelaan.


" Kenapa? kau tahu itu dosa? Anto?" tanya Kiai Hasan lagi pada Anto.


" Benarkah kamu dan Nera berselingkuh " tambah Kiai Hasan lagi.


Anto menggelengkan kepalanya.


Laras kecewa dengan gerakan kepala Anto, dia langsung bersuara kembali.


" Bohong Abah, Anto sudah berselingkuh sejak Nera masih jadi istrinya almarhum Bang Dya. Dan dia pun pernah mencium Nera ketika masih bersuamikan Bang Dya, Bang Anto selingkuh. Entahlah kematian Bang Dya pun mungkin sudah mereka rencanakan!" tuduh Laras pada Nera dan Anto.


" Kamu sakit, Laras! Sebejat itu kah kami didepan mata mu, hingga kau tuduh aku menjadi wanita rendahan? Bang Anto jelaskan! kepada istri tercinta mu ini!" ucap Nera kecewa .

__ADS_1


" Kenapa begitu bencinya kepada kami , Laras? kami tak pernah berselingkuh. Kalau aku mencintai Nera memang benar Abah !" jawab Anto nekad memberikan pernyataan.


" Anto!" bentak Abah kesal.


" Biar Anto jelaskan Abah. Memang sebelum bang Dya melamar Nera, Anto yang lebih dulu mencintai dan menjalin janji dengan Nera. Tapi Anto masih belum berani mengungkapkan pada Abah. Hingga akhirnya Bang Dya dan Nera menikah" jelas Anto tertunduk.


" Anto, dari awal tidak akan dulu menikah sampai Anto rasa mencintai Nera hilang dari hati. Agar apa, Anto bisa mencintai istri Anto secara total, tanpa harus ada cinta yang lain. Kelemahan Anto selama ini, tak bisa bilang tidak ke Abah dan ke Umi. Tapi Anto berpikir ketika saat itu, semua kuputusan Abah dan Umi adalah hal terbaik, dan Anto meyakini bisa melupakan Nera, karean Bang Dya sudah pulang. Tapi apa yang terjadi setelah kesempatan itu sudah tertutup untuk melupakan Nera, Bang Dya di panggil Allah.


Anto tak tahan melihat kondisi Nera yang semakin terpuruk, tanpa sadar Anto ingin melindungi dan rasa cinta itu tak pernah hilang. Sedang pada Laras, walau Anto memaksakannya untuk mencoba mencintainya, tapu Anto tetap tak bisa Abah" kembali menjelaskan.


" Tapi aku tidak. Dan tak akan menjadi benalu diantara hubungan siapapun. Dan aku tak mau menyakiti hati siapapun. Bahagialah bersama istrimu, dan aku akan bahagia dengan ceritaku. Aku akan mengubur kisah menyedihkan ini, dan aku akan mengenang hal-hal indah saja . Lepaskan aku dan berbahagialah dengan wanita pilihan Allah untukmu!"


"Abah sepertinya Nera akan berangkat hari ini, Nera sudah putuskan, untuk tidak tinggal di rumah ini lagi, lebih cepat lebih baik. Permisi Abah, Nera mau ke bawah menemui Umi " Ucap Nera melangkah menuruni tangga.


Anto , kiai Hasan , Laras , dan Yaser masih berdiri mematung.


" Jadi, apa yang kamu mau sekarang dari aku, Laras?" tanya Anto tegas.


" Emmh.. aku ingin kamu memperlakukan aku seperti istrimu " jawab Laras .


" Abah, Anto izin ke kamar mandi dulu" ucap Anto berlalu meninggalkan Laras.


Kiai Hasan menarik dan membuang nafas nya. Tanpa berkata apa-apa pada Laras dan pergi meninggalkan Laras, di ikuti Yaser dari belakang.


〰️〰️〰️〰️


" Umi, Nera izin pergi. Insyaa Allah Nera akan menengok Umi. Do'akan , Umi ya!"


Nera memeluk Umi Syifa.


" Maaf atas kejadian keributan tadi, jangan diambil hati. Mungkin Laras sedang cemburu. Tolong di maklumi!" pinta Umi Syifa.


Nera mengangguk memaafkan Laras.


Nera baru tersadar, kenapa pada waktu itu dirinya ditampar Dya, saat menyiram Sarah.


Dirinya tersadar, dan mengingat kemabali akan dirinya salah dan Dya menamparnya, Dya bukan sekedar menampar tanpa alasan.


Tapi memberikan kesadaran, bahwa hal yang Nera perbuat adalah suatu kekeliruan.


Baiknya pada saat itu, harusnya dia menanyakan dulu dan mendengar penjelasan Sarah atau Dya.


Nera menangis pilu akan sikapnya terdahulu, persis kesetanan seperti Laras. Yang tak mau mencari tahu dulu, tiba-tiba cemburu dan meluapkan amarah.


" Umi, aku kangen Bang Dya!" lirih Nera terisak dipelukan Umi Syifa.


" Sabar sayang ,ya !" nasehat Umi Syifa.


Di belakang Nera berdiri Anto.


" Umi saya izin bicara dengan Teh Nera" ujar Anto pada ibunya.


Nera yg terisak mencoba berbalik ke arah Anto dan menyeka air matanya.


" Teteh, maafkan kesalahan istri saya. Teteh tolong jaga silahturahmi kita. Anto dan kami semua, berharap sikahturahmi ini tetap berjalan seirama. Walau bang Dya sudah tiada. Teteh, maaf dari hati yang paling dalan!" ucap Anti sambil menahan tangis dihadapan Nera.


" Maafkan saya juga, gara-gara Nera. Istri Abang salah faham. Cintai dia, dia yang lebih berhak di cintai daripada saya. Saya sudah melepas Bang Anto dan Bang Anto harus rela melepas saya" jawab Nera.


" Umi sampai kan pada semua, Nera mengucapkan terima kasih atas kasih sayang kalian pada Nera. Sebenernya Nera berat pergi meninggalkan kalian, tapi jika tidak pergi , fitnah akan berdatangan pada kita satu sama lain. Titip salam buat Laras juga. Umi, dan Bang Anto . Nera izin pergi "


ucap Nera pamit. Ada kiai Hasan dan Yaser.


Nera sudah salim ke kiai Hasan. Barang-barang Nera sudah tertata didalam mobil.


Akhirnya Nera keluar dari rumah kiai Hasan.


〰️〰️〰️〰️〰️


Maaf ya readers saya bisa up sekarang gak bisa seperti biasanya. Karena kerjaan kantor lagi numpuk-numpuknya.


Terima kasih masih setia membaca karya saya.


Jangan lupa untuk klik love , like, koment dan vote.


Biar saya naik lagi peringkatnya ke no 7.


Karena saya turun lagi ke nomer 8..


hahaha..


See u..


Masih adan 13 bab lagi..


Ditunggu saja ya ya reader .


Jika masih berkenan.

__ADS_1


__ADS_2