Berjanji Dan Merajut Asa

Berjanji Dan Merajut Asa
17. Hari bersejarah buat Dya 2


__ADS_3

Nera, berdiri dari tempat duduk riasnya dan merapikan dandanannya.


Dia menarik napas panjang. Dan memeluk ibunya,


"Maaf kan Nera, atas kekanak-kanakan Nera. Nera akan menerimanya Bu. Nera enggak akan kecewakan bapak dan ibu "


Ibu menepuk pundak anaknya dengan simpulan senyum.


Nera dan ibu muncul, duduk di kursi berhadap-hadapan dengan keluarga besar kiai Hasan.


Seorang wanita berjilbab bercadar,menghampiri Nera


" Kenalkan, saya mariam anak pertama abah sekaligus kakak nya Dya" ramah Mariam.


Nera mengangguk sambil cipika cipiki pada Mariam.


Kemudian di susul umi Syifa,


" Eneng..." sambil memeluk Nera.


Disudut sana Dya memandang penuh pada Nera yang sedang terduduk menunduk.


Kiai Hasan berdiri memulai acara lamaran,

__ADS_1


" Gimana nih, kedatangan abah kesini sama bapak neng Nera diterima enggak? abah kesini dengan keluarga besar ada niatan mau meminta neng Nera buat dijadikan calon mantu, calon istri Muhammad Abdullah Saidi, yang suka dipanggil Dya sama keluarga, yaa nama kesayangan lah"


" Alhamdulillah, suatu kehormatan bagi keluarga kami, kiai sudah berkenan mau melamarkan anaknya untuk anak saya. Kami sekeluarga menyerahkan jawabannya pada anak kami langsung. Biar afdhol gitu kiai" jawab pak Edo.


" Dya, silakan kamu yang meminta pada wali nya calon yang akan dilamar, jangan abah. dikira entar abah yang melamar Nera. Umi mu bisa marah ini sama abah, hahahaha " goda kiai Hasan pada Dya, mendengar candaan dari kiai Hasan semua orang yang diacara tersebut riuh dengan gelak tawa.


Dya, memberanikan diri berbicara meminta izin dan menanyakan diterima tidaknya dia melamar Nera.


" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bismillah.


Bersyukur kehadirat Allah subhanahu wata'ala yang telah banyak memberikan kenikmatan salah satunya berkumpulnya kita semua disini. shalawat dan salam tak lupa kita haturkan kepada Nabi kita semua Muhammad salallahu'alaihi wassalam.


dengan segala hormat dari ananda kepada kedua orang tua kami,abah dan umi yang sudi mengantarkan anaknya ini untuk melamar anak gadis orang. hihihi. Untuk pak Edo izinkan saya,


diacara tersebut tertawa riuh menertawakan candaan Dya dihadapan para tamu.


" Bagaimana Nera, diterima tidak lamaran anak saya, Dya? " tanya kiai Hasan pada Nera sahutnya.


Dengan tertunduk malu, dengan berat hati dia mengangguk mengiyakan lamaran Dya.


Walau hati berat melepas Anto ,entah lah apa yang akan Nera hadapi jika bertemu Anto kelak. Apa yang harus dia katakan, bagaimana menjelaskan nya.


Apakah umi Syifa sudah memberitahunya?

__ADS_1


Kalau sudah, kenapa dia pasrah saja?


Apakah Anto, membicarakan dirinya, bahwa Anto pun mencintai Nera?


Sungguh taqdir ini begitu membuatku terluka,tapi aku menerima pasti ada hikmah dibalik ini semua.


Nera menangis.


Tapi iya usap lagi air matanya, dan orang-orang menganggap air mata Nera adalah air mata haru.


Kiai Hasan dan pak Edo pergi keluar, diluar mereka sedang asyik berdiskusi serius.


Terlihat bagaimana kerutan dahi pak Edo berkerut lama, dan menyimpan jari - jari tangannya antara dagu dan mulut.


Kiayi masih memberikan penjelasan panjang lebar. Sedang pak Edo masih mematung mendengarkan semua ucapan kiayi Hasan.


Kemudian pak Edo mengangguk seperti mengiyakan dan memahami apa - apa yang di ucapkan kiai Hasan padanya.


" Baiklah, setelah berdiskusi cukup alot, saya dan kiai Hasan sudah memutuskan, acara akad pernikahan akan dilaksanakan detik ini juga " jelas pak Edo memberikan pengumuman pada semua orang yang ada di acara.


*************


next

__ADS_1


__ADS_2