Berjanji Dan Merajut Asa

Berjanji Dan Merajut Asa
78. Mulai menjelaskan kebenaran


__ADS_3

Daun-daun berjatuhan oleh angin dari pohon-pohon besar yang berjejer di sekitaran rumah sakit dan kafe. Bintang bertaburan diatas langit cerah yang terang benderang di balik gelapnya langit. Musim kemarau tiba.


Nera mengencangkan jaketnya, yang membuat kulitnya tertusuk angin semilir udara kemarau yang begitu dingin.


Di sebuah cafe, Nera berdiri mematung mencari Rudi dan Sarah.


Mata itu tertuju, pada bangku yang berkerumun dengan dua laki-laki dan satu perempuan berhijab, membelakangi pintu utama cafe itu.


Dari sosok wajahnya Nera mengenalinya.


Rudi yang sedang bercengkrama dengan orang yang semeja dengan nya.


Nera pastikan yang berhijab kruudung segitiga sepunggung itu Sarah.


Nera mulai memberanikan diri untuk menghampiri meja yang disinyalir itu adalah meja wanita yang pernah ia siram wajah dan tubuhnya dengan air.


Rasanya Nera ingin sekali berlari jauh dan tak mau menemui mereka.


Namun titik baliknya, jika kebodohan itu terjadi, salah faham dan salah sangka, menurutnya tak akan pernah selesai.


" Assalamu'alaikum " sapa Nera berdiri di belakang Sarah yang sedang terduduk di kursi.


" Wa' alaikumussalaam" jawab tiga orang itu secara bersamaan. Dan menoleh ke arah suara tersebut.


" Nera " sapa Sarah.


" Ayo, duduk!" Sarah berdiri dan menyilakan tempat duduknya kepada Nera dan Sarah berpindah dekat dengan Rudi.


Neranpun terduduk dengan menundukkan kepalanya.


" Sarah " ucap Nera terhenti.


" Perlukah dua mata ngobrolnya?" tanya Rudi.


" Tidak, saya perlu anda juga disini. Tolong jadi penengah bagi saya" Cegah Nera pada Rudi.


" Baiklah" ucap Rudi menyetujui.


" Aku saja yang pergi" kata seorang laki-laki berkulit putih dan bermata sipit.


" Tidak, jangan pergi. Karena saya perlu saksi dari yang lain juga " kata Nera lirih.


" Baiklah" ucap laki-laki bermata sipit itu.


Nera memulai pembicaraan itu dengan serius.


" Saya minta maaf, atas perbuatan lancang saya tempo hari !" ucap Nera tertunduk.


" Saya cemburu" ucapnya lagi sambil menyodorkan tangannya kepada Sarah.


" Saya faham" jawab Sarah sambil bersalaman.


" Mungkin kamu marah, saat melihat saya , ditiup mata oleh Dya. Saya memang mengejar Dya . Saya memang tergila-gila sama Dya, saya memang mencintai Dya" jawab Sarah mencoba menjelaskan.


" Tapi kenapa harus suami saya, tak ada lelaki lain kah yang membuat kamu jatuh cinta selain laki-laki beristri?" jawab Nera memotong ucapan dan penjelasan Sarah.


" Nera, bisakah kamu mendengar sejenak penjelasanku padamu. Jangan kamu potong dengan seenak hatimu. Cobalah dengarkan !" jawab Sarah kesal dengan intonasi yang sedikit tinggi.


Braaak..


Nera menggebrak meja dengan wajah merag padam menahan cemburu dan geram.


Kedua lelaki itu siap-siap untuk menenangkan kedua belah pihak.


" Dulu, aku pernah kirim surat banyak pada Dya. Sebelum kamu menjadi istrinya.


flshback


Sarah dan Dya.


Tiga tahun yang lalu.


Saat Dya berteman dengan Rudi.


Sarah tinggal dengan Rudi, karena ibunya Sarah sudah meninggal dunia dan akhirnya Sarah satu susuan dengan Rudi.


Rudi sering memuji kepintaran Dya pada Sarah.

__ADS_1


Sarah mulai tertarik pada Dya.


Pikir Rudi orang pintar sama orang pintar harus dicomblangin.


Namun sayangnya, Dya tipikal laki-laki dingin yang tak begitu mementingkan cinta.


Sesekali mereka pergi ke perpustakaan bertiga.


Namun Dya tak pernah menganggap Sarah ada dan tak pernah mengajak Sarah sekedar mengobrol saja pun tidak.


Padahal Nera selalu belikan makanan kesukaan Dya dan memberikanya hadiah.


Namun Dya tak ada respon sedikitpun padanya.


Hadiah yang ia beri pada Dya nyaris tanpa ucapan terima kasih atau berbalas hadiah.


Dya dingin sekali.


Kepergian Sarah ke Jerman, tak membuatnya lupa pada lelaki dingin itu.


Sarah selalu mengiriminya surat namun nihil, surat itu tak pernah terbalaskan.


Kadang saking rindunya, Sarah suka menelpon Rudi untuk menanyakan kabar Dya dan menitip salam sayang untuknya.


Tapi tetap saja, Dya tanpa respon.


Sarah tak pernah patah arang, dia semakin menjadi-jadi pada Dya.


Semakin tambah cinta dan penasaran.


Wanita seperti apa yang ia suka, akhirnya Sarah memutuskan berjilbab.


Kepulangan Dya dan Rudi dari Maroko, membuat Sarah berkorban banyak lagi.


Dia rrla cuti untuk bisa bertemu dengan Dya.


Ini semua ada andil Rudi di dalamnya, bukan hanya kebetulan, tapi memang sengaja direncanakan.


Karena Rudi pun berharap Sarah bisa menikah akhirnya dengan Dya.


Namun dengan sikap acuh tak acuh Dya, membuat Rudi dan Sarah habis ide.


" Surat-surat saya yang saya kirim tempo itu, sudah Bang Dya baca?" tanya Sarah lirih.


" Sudah" jawab Dya sambil membaca buku , dingin dengan nada ketus, tanpa memperlihatkan ekspresi.


" Jadi, bagaimana?" tanya Sarah lagi.


" Saya belum siap nikah, saya masih fokus belajar " jawab Dya judes.


" Saya akan menunggu, sampai kamu siap menikah" jawab Sarah percaya diri.


" Terserah!" jawab Dya sambil berlalu.


Tahun ke dua.


Liburan kembali terjadi,


Rudi pun merencanakan agar Dya dan Sarah bisa ta'aruf tapi bukan ta'arufan untuk jenjang pernikahan.


Rudi, sebagai teman dekat. Belum pernah mendengar Dya curhat tentang rasanya jatuh cinta, suka wanita seperti apa, atau tentang perasaannya pada wanita.


Yang Dya bahas, hanya seputar buku, kitab, dan prestasi.


Pernah Syeikh kami di Maroko ingin menjodohkan dia dengan anaknya.


Tapi Dya menolak dengan halus, dia memang belum siap menikah.


Lalu pernah di nyeletuk dalam obrolan makan siang, bahwa Dya akan menikahi wanita yang sudah disediakan orangtuanya di waktu yang tepat.


Entah waktu yang tepat menurut Dya itu seperti apa?


Dya terkenal puitis, kritis dan pemikir ulung.


Dya terkenal dengan sebutan perpustakaan berjalan .


Pantas saja, para Syeikh begitu terobsesi menawarkan anak-anak perempuannya di jodohkan pada Dya.

__ADS_1


Pada hakikatnya, kelemahan Dya adalah tidak percaya diri, khawatir Dya tidak bisa membahagiakan wanita yang diamanahi kepadanya.


Dikarenakan penyakit jantung bawaan lahirnya yang tiba-tiba suka kambuh pada saat terlalu kecapean atau pikiran.


Semenjak dirinya koma, waktu di Maroko.


Dokter sudah mengatakan bahwa Dya akan mandul. Dya diminta dokter agar tidak terlalu banyak aktifitas dan selalu beristirahat dengan cukup.


Setelah analisa dokter disampaikan pada Dya, dia sudah tak berniat lagi untuk menikah .


Dya hanya akan fokus pada pendidikannya dan toko-tokonya yang yang ada di beberapa tempat di Maroko .


Namun, Dya diminta Umi dan Abah untuk pulang sejenak, karena ada hal yang ingin di bahas, menyangkut sebuah sekolah yang akan diresmikan oleh abahnya.


Akhirnya Dia pulang berbarengan dengan Anto.


〰️〰️〰️〰️〰️〰️


Sekarang di meja ini, kembali Nera meminta kejujuran Sarah dan masih setia walau sekarang sudah jam sepuluh malam.


cafe itu memang buka 24 jam.


Karena menampung keluarga pasien rumah sakit yang perlu kopi, makan dan camilan.


" Saya memang memohon pada Dya untuk menikahi saya, walau di jadikan yang kedua saya ridho. Tapi Dya selalu menjaga perasaan saya dari awal. Tak pernah menolak tak pernah mengiyakan. Dya selalu memperlihatkan kekurangannya pada saya. Semakin Dya menunjukkan kekurangannya , malah pada saat itu, saya semakin bersedih. Saya justru ingin bertanya , tahu kah kamu dengan kondisinya?


Sebagai wanita yang baik, istri yang sangat dia sanjung, kenapa kamu tak pernah menanyakan kesehatannya? apa yang dia suka? apa yang dia butuhkan? kamu tahu Nera saat aku ijab kabul, dengan Mr. Chang Dya pingsan dan dia terjatuh pada minuman serta cake yang ada didepannya. Dya benar-benar memperjuangkan aku, walau aku sudah ditolaknya. Dya masih mencarikan calon imam yang baik, seorang mualaf dan sekaligus teman dia " jelas Sarah kesal dengan kecemburuan Nera yang tak pernah dia coba tanyakan pada Dya.


" Apa? jatuh pingsan?pada saat akad?" tanya Nera lirih membuat matanya membulat terkejut.


" Iya, saya suami Sarah. Sebelum Dya berangkat ke Maroko Dya yang menjadi penghulu kami, kami menikah secara sirri dulu waktu itu. Karena pada saat kami menikah, Sarah meminta Dya yang menjadi penghulunya. Mungkin karena Dya kecapekan, jadi Dya pingsan, dan setelah itu bajunya kami cuci, dan memakai parfum saya, kebetulan saya suka parfum wangi bunga, wangi yang soft" jawab Mr Chang


" Tadinya kami akan mengantar Dya pulang, hanya saja dia menolak untuk kami antar, tapi pada saat itu karena saya khawatir pada Dya. Saya mengikuti Dya dari belakang mobilnya" pungkas Rudi menambahkan.


Nera semakin menekan dadanya sakit, bersedih, terluka, dan yang paling dia benci adalah menyesal.


Pov Nera


Lirih dalam hatinya.


Jadi, waktu di hotel itu, Dya sakit dan kemudian pingsan?


Bajunya kotor, dan kemudian bajunya di cuci dan memakai parfum Mr.Chang.


Sebodoh dan sesempit itukah, aku?


Dia mandi, karena keringat yang terus mengucur. Dan aku, aku masih menggerutu di dalam hati, kenapa dia begitu dingin padaku malam itu?


Padahal, padahal suamiku sedang sakit?


Ahh, kenapa aku tak mendengarkan Umi ketika membahas Dya yang pernah koma akibat kelainan jantungnya?


Kenapa aku menjadi cemburu buta, atau mungkin aku posesif?


Pov Author.


Nera menanyakan satu lagi, hal yang ia pendam.


" Kenapa kamu ikut Dya ke Maroko?" tanya Nera sambil terisak.


" Aku tak mengikuti Dya, tapi suamiku? Chang . Dya memang sedang joint bisnis travelnya dengan sahabat-sahabat Dya disana. Dya akan mengenalkan Chang pada sahabat-sahabat nya, dan aku diminta ikut oleh Chang kesana untuk berbulan madu. Sekali dua pulau terlampui, aku pun sambil belajar disana bagaimana bisnis dengan benar. Chang menyewa kantor di Maroko,dan kami selalu berkumpul disana ngebahas kerjaan. Jadi maaf , aku tak pernah berdua an dengan Dya dalam satu ruangan, lagian Dya pun akan menolak dan merasa risih. Ayolah Nera, suami mu itu sangat baaaik!" jawab Sarah kesal.


bersambung


〰️〰️〰️〰️


🙏 maaf jika lama gantung, karena author sendiri memiliki kesibukan ,salah satunya mencari uang dan memiliki kehidupan.


Yang tak mungkin, sebebas waktunya seperti para readers.


Cukup di baca saja ,dan tunggu. Hihihi itupun jika masih berminat membaca.


Karena setiap menulis beberapa bab pun kami harus makan, dan makan itu pakai uang, sedang uang di cari harus kerja dulu, enggak mungkin author terus setia menyuguhkan para readers sedang perut author enggak makan, enggak kerja. hahaha


Saling menghargai waktu.


Saling menghargai kesulitan orang lain, jadilah reader yang smart.

__ADS_1


Cukup bersabar nunggu upan atau memberi like , vote dan koment yang membangun.


Terima kasih readers.


__ADS_2