Berjanji Dan Merajut Asa

Berjanji Dan Merajut Asa
46. sandaran kasih


__ADS_3

Rapat sudah selesai ngebahas pernikahan Dya dan Nera.


Tak pernah di bayangkan oleh Nera, bahwa pernikahannya akan seperti apa yang di gambarkan dalam rapat keluarga.


Nera berpikir akan biasa-biasa saja, alakadarnya. Ternyata tidak. Nera baru tahu kalau besannya kiai Hasan dari suami teh Marya adalah seorang tokoh ulama dan kiai yang memiliki pesantren yang terkenal dan besar di daerahnya.


Begitupun dengan istri bang Musa, adalah seorang anak ulama tersohor dan pemilik pesantren terbesar di Banten.


Dikamar, sembari bergelayut di dada suaminya yang asyik membaca di kasur.


Nera berceloteh,


" Abang, Nera malu. Ternyata pernikahannya bisa besar sih bang, itu baru gambaran tadi rapat, enggak tahu pas hari H nya. Di hotel lagi, bayarnya bagaimana, bapak dan ibu Nera belum punya uang deh buat patungannya? "


Dya hanya mengusap kepala istrinya, dan senyum simpul mendengar celotehan sang istri walau dirinya masih asyik membaca.


" Abang mah, lagi enggak fokus, enggak mau dengerin ah. Ya sudah Nera tidur ya? " ancam Nera sambil merubah posisi kepalanya yang semula di dada Dya kemudian pindah ke bantal.


" Isk, jangan tidur dulu, sehalaman lagi ya" pinta Dya memelas pada Nera.


Nera acuh tak peduli pura-pura memejamkan matanya.


" Ade, marah ya, ya sudah abang tidur di luar saja ya? " ancam balik Dya pada Nera.


Nera masih tak berkutik, Dya pura-pura sudah memegang pintu,


" Abang tidur di bawah ya, nih abah sudah pegang gagang pintu nih" ancam Dya.


" Ya sudah, jangan lupa ditutup ya pintunya! " sahut Nera menantang.


Nera tak bergeming dengan ancaman suaminya.


Akhirnya Dya merasa gemas melihat punggung Nera, akhirnya Dya mulai menggoda Nera dengan menggelitik tubuh Nera, sampai Nera terpingkal-pingkal kegelian.


Suara tertawaan lirih bahagianya Dya dan Nera terdengar sayup-sayup ke kamar Anto.


Anto yang asalnya mulai terpejam, mendengar gelak tawa Dya dan Nera, membuat Anto sulit lagi memejamkan matanya.


Apalagi sepanjang rapat, Anto melihat adegan abangnya menciumi tangan Nera.


Dan Nera selalu menempelkan jari-jari lentiknya di sela-sela jari tangan sang kakak.


Emosi nya belum stabil melihat semua sikap romantis mereka berdua.


Anto membuka laci belajarnya, dan menemukan walkman yang sudah mulai berdebu.


Namun masih bagus untuk digunakan.


Lalu mengeraskan musiknya, agar suara tawa bahagia Nera tak terdengar. Walau keras suaranya toh yang dengar hanya diri nya sendiri, menggunakan headset.


Akhirnya, Anto berhasil tertidur dengan walkman ditelinga.


*****


Dikamar Dya.


" Ade, jatah abang de. Sebulan enggak nemu. Sayangku ayoolah, cantik, sayangku " Goda Dya pada Nera.

__ADS_1


"Ayoo, kan kita buat dede kecil, ayooo sayang " kata Dya merengek pada Nera.


Namun Nera masih tak bergeming.


Akhirny Dya malah semakin usil menggoda Nera. Dya masuk ke dalam selimut Nera, dan mulai menggerayangi tubuh Nera.


Nera terbahak kegelian.


********


Subuh.


Anak laki-laki kiai Hasan wajib salatnya di mesjid.


Keluar dari kamar, terburu-buru.


" Dih, dingin gini mandi? " seloroh Yaser pada Dya.


Dya hanya tersenyum malu.


" Owh, habis tempur ya bang ?" ledek Yaser pada Dya sambil cengengesan.


Wajah Anto semakin menukik sebal. Setalah mendengar celotehan Yaser.


Ditambah rambut Dya yang basah, membuat otak Anto berpikir tak karuan.


Kepalanya sudah hampir seperti ceret yang isinya air mendidih.


Sepanjang jalan menuju ke mesjid wajah Anto pagi itu tertekuk tak seperti biasanya.


Kiai Hasan melihat Anto tak seperti biasanya.


" Emhh enggak bah, lagi kurang mood saja "jawab Anto loyo.


" Pengen nikah bah! " sahut Yaser menggoda Anto. Yaser sedari tadi sedang saling bercanda di jalan dengan Dya.


" Dya, kamu punya kenalan tidak? " sahut kiai Hasan bertanya pada Dya.


" Dirumah entar bah, heheheh " jawab Dya.


*************


Sehabis pulang dari mesjid.


Anto melihat baju Nera yang basah, dibalik krudung itu sepertinya habis keramas rambut Nera.


Wajah Nera sudah segar pagi-pagi buta, dengan riasan wajah dan lipstik pink membuat wajah Nera semakin segar pagi itu.


Anto melihat Nera mengambil tangan Dya dan mencium nya.


Kemudian Dya bergelayut di punggung Nera dan melingkarkan tangannya di pinggang Nera.


Sesekali, Nera meminta melepaskan karena malu dan risih dilihat oleh keluarga Dya. Tapi Dya belum rela melepas pelukan dirinya dari Nera.


Sesekali pandangan Nera dan Anto beradu bersitatap. Yang menambah rasa risih pada apa yang dilakukan suaminya terhadapnya.


Nera pun ingin menjaga hati Anto, Nera khawatir Anto cemburu lagi. Dan entahlah dia akan berdamai dengan kondisi atau dia akan merana karena cemburu buta?

__ADS_1


Anto pergi, entahlah.


Nera, maryam, dan Umi lagi mempersiapkan untuk sarapan. Nera tak bisa melihag lagi Anto, entahlah dia dimana.


Nera kembali melanjutkan membantu mertuanya memyiapkan sarapan.


" Nera, tolong ambilin lap-lap yang dijemuran, umi lupa! " pinta umi Syifa pada Nera.


Nera menganggukkan mengiyakan. Nera pergi ke ke belakang tempat jemuran, disana dia melihat Anto yang sedang duduk di bangku taman, sambil terduduk dan membisu.


Nera mencoba menghampirinya .


" Abang, kok disini? Ayo sarapan sudah siap, enggak baik orang-orang sedang kumpul abang menyendiri disini! " Ajak Nera pada Anto.


Anto mengangkat wajahnya dan memelas,


" kamu mau maafin aku ?" tanya Anto kepada Nera.


" Abang, sudah berlalu sudah, ayo kita sarapan! " Ajaknya Nera.


Anto berdiri dan melangkahkan kakinya, mendekati Nera.


Dan mengambil pinggang Nera mendadak.


Nera pun terpeluk sehingga tubuhnya terapit ke tubuh Anto.


" Segila inikah jatuh cinta? dan aku gila sama kamu Nera " ucapnya sembari mengecup bibir pink Nera dan kemudian berlalu dan pergi.


Nera hanya terpaku dan mematung, dengan kejadian yang begitu singkat dan cepat.


Haruskah dirinya marah, emosi, atau menuntut?


Jika seperti itu, apa yang akan terjadi?


Nera sesekali menampar dan mencubit pipinya, berharap ini mimpi tapi ternyata bukan.


Anto memang mengecup bibirnya, tapi bak kilat dan seolah-olah itu mimpi bagi Nera.


Tapi kenyataan nya Anto memang menciumnya.


Degupan dada nya masih berdetak kencang, khawatir Dya melihatnya.


Menghindar pada saat itu, tidak akan bisa, karena terkejut dan mati gaya ketika Anto sudah ada di depan mata.


Nera putuskan untuk diam saja, agar kedamaian di rumah masih damai dan tidak ribut.


Pas akan melangkah masuk ke rumah, Maryam memegang tangan Nera.


" Jangan memberi harapan pada Anto, teteh dari kemarin sudah ngasih tahu" kata Maryam mengingatkan sambil berbicara berbisik.


Nera mengangguk mengiyakan apa yang di ucapkan kakak iparnya tersebut.


Nera tahu, Maryam paham benar dengan Anto yang masih begitu berharap banyak Nera menjadi istri nya.


Ditambah lagi, setiap hari berjumpa dan akrab. Semakin Anto tak bisa melepas Nera.


" Anto, dunia belum ridha kita bersama "

__ADS_1


lirih Nera dalam hatinya.


bersambung


__ADS_2