Berjanji Dan Merajut Asa

Berjanji Dan Merajut Asa
84. Tujuan Nera


__ADS_3

Nera membuka kunci pintu kamarnya, dan tiba-tiba Laras masuk begitu saja.


Nera terkejut, wajah Laras sembab.


Duduk di kasur sambil terisak.


Laras, kembali meracau.


" Sebetulnya, biar laki-laki nafsu sama kita , harus bagaimana Teh?"


" Kok, aku tuh gemes sama Anto. Selama kami menikah sama sekali aku tidak disentuhnya. Tidur pun memisahkan diri. Ini sudah dua bulan dan aku masih perawan" kata Laras begitu cablaknya.


Mendengar itu, Nera terkejut.


"Tak mungkin Anto seperti itu, tapi tak mungkin Laras bohong ?!" gumam Nera dalam hati.


Nera menghampiri Laras dan duduk di sampingnya.


" Sudah dibicarakan, belum, dengan Bang Anto?" tanya Nera pada Laras.


" Sudah, tapi dia bilang , beri kesempatan untuk bisa mencintai Laras. Kalau belum mencintai, kenapa harus menikahi?" jawab Laras kesal.


" Kalau menurut saya, betul kata Bang Anto. Proses, jangan terburu-buru. Dulu saya ke bang Dya pun begitu, tanpa mencintai. Tapi fungsi ta'aruf halal secara kaffah dalam islam hakikatnya adalah saat beres akad dalam pernikahan. Berilah waktu pasangan kita, untuk memulai . Memulai seseorang yang dulu pernah dicintainya mungkin? menata hati untuk yang terbaik buat istrinya nanti? Bersabarlah dengan masalah hati, terburu-buru itu setan. Taklukan hatinya, dengan kesabaran dan kebaikan. Bang Anto laki-laki baik, insyaa Allah dia tidak akan mengecewakan wanita. Yaa , jika mba Laras mencintainya lakukan jurus-jurusnya, jangan malu, karena dia hak mba, ada pahala untuk menaklukkannya" nasehat Nera pada Laras.


Anto di balik tembok kamar Nera mendengar semua percakapan mereka.


Anto merasa perih, saat Nera menasehati Laras agar berjuang mendapatkan cintanya.


Anto, berlinang mengucurkan air mata saat mendengarkan semua obrolan mereka.


Anto lunglay, entah apa yang dia rasa.


Kembali ke kamarnya dan kemudian membaringkan tubuhnya dikasur dengan luapan kecewa terhada Nera.


Pintu kamar Anto terbuka.


Laras beranjak menghampiri Anto, dan mencium kening Anto.


" Sayang jangan marah, aku akan sabar menunggu. Enggak apa-apalah disebut wanita murahan sama suami sendiri. Jangan marah lagi ya?" ucap Laras lemah lembut.


Laras tidur disampingnya.


Kemudian tak terduga Anto menghadapkan mukanya ke arah Laras.


" Abang?" kata Laras terkejut membulatkan matanya.


" Apa yang kamu mau dari aku?" tanya Anto lirih dengan muka kesal.


" Abang, wajahnya menakutkan!" rengek Laras.


Anto mencoba mengecup bibir Laras yang sedang manyun.

__ADS_1


" cup "


" Abang,,,,, Abang mau?" tanya Laras Sumringah.


Laras mencium bibir Anto, tapi setelah di cium Laras, Anto malah membelakangi Laras kembali.


Laras mencoba agresif, tapi tetap Anto mematung diam . Pada saat Laras berlebihan,


" Tidurlah, sudah malam !" perintah Anto pada Laras tegas, sambil menyelimuti tubuhnya .


Laras mematung diam, kecewa.


〰️〰️〰️〰️


Pov Anto.


Aku mencium Laras, tapi pas di cium aku teringat Nera.


Aku hentikan karena itu tidak boleh.


Laras begitu agresif padaku, tapi aku kenapa tak ada reaksi apapun.


Setiap memandang wajahnya, kenapa harus wajah Nera yang muncul.


Kalau seperti ini, dan memaksakan diri, justru malah aku akan lebih menyakiti Laras.


Pov Author


Nera selalu tampil lebih baik dari ke hari.


Nera bercanda ria dengan mertua nya.


Pagi ini, Nera ingin menyampaikan sesuatu pada kedua mertuanya.


" Umi dan Abah, Nera mau minta izin. Sebaiknya Nera pulang ke rumah ibu dan bapak. Nera janda, sedang disini semua adik bang Dya laki-laki. Nera sudah izin sama ibu dan bapak, untuk kembali ke rumah. Kiranya Umi dan Abah, mengizinkan. Dalam islam mertua adalah tetap makhram kita, dan akan tetap menjadi orang tua kita. Hanya saja, untuk menjauhi fitnah, Nera izin pamit" ucap Nera dengan berat.


" Abah, dari sebelum kamu meminta mau bagiinhak waris kamu. Dulu Dya sebelum ke Maroko ngasihin data-data usahanya, yang sekarang di urus sama kawan-kawannya, Abah juga mau jual toko-toko Dya yang disana, walau kecil lumayan lah. Uang nya Abah simpan di Bank. Tadinya daripada kamu pulang ke rumah ibu dan bapakmu, Abah berniat hak waris milik kamu dari Dya mau dibeliin rumah dan kendaraan. Terus buat biaya kuliah kamu sampai beres" jawab Abah.


" Jangan sekarang perginya, belikan saja rumah ya, biar tak perlu tinggal dengan ayah dan ibu kamu. Lagian Umi akan selalu kangen , jika kamu enggak ada di rumah. Umi sayang kamu " ucap Umi Syifa memeluk Nera dan meneteskan air mata.


〰️〰️〰️〰️


Nera duduk dibangku taman rumah.


Pikirannya melayang jauh, setahun kemarin Nera menikmati masa-masa bahagia dan sulit dengan keluarga ini.


Tak ada cela baginya keluarga kiai Hasan, menurutnya keluarga suaminya itu memperkenalkan kaidah-kaidah agamanya, walau masalah ta'aruf di zamannya sudah di kenal sejak zaman dahulu, tanpa proses pacaran sebelum menikah.


Toh mereka pada langgeng pernikahannya.


Metode perjodohan ini persis seperti ta'aruf terlepas dari positif dan negatif di balik itu semua. Semua tergantung bagaimana kita menilai.

__ADS_1


Yang Nera fahami, keluarga Kiai Hasan lebih mengedepankan mashalat yang banyak dan khawatir mudharat . Walau banyak sekali yang sangsi tentang perjodohan anak-anaknya di dasari tak saling cinta.


Tapi, yang tak berhasilnya hanya sedikit dibanding berhasilnya lebih banyak dijodoh-jodohkan oleh orang tua itu lebih banyak yang langgeng ketimbang pisah.


Segala situasi pasti ada baik dan buruknya.


Nera memutuskan untuk tak tinggal lagi, setelah kiai Hasan mendapatkan rumah buat Nera, agar Nera tak merepotkan lagi bu Siwi dan pak Edo.


Tiba -tiba muncul Anto, dengan menyunggingkan senyumannya.


" Eh, bang Anto, duduk bang . Masih panjang kok kursinya!" ucap Nera menyilakan duduk di sebelah nya dengan jarak yang sedikit berjauhan.


Anto duduk .


" Sehat?" kata Anto.


" Isk, Nera enggak gila, Abang! Nera dinyatakan sembuh setelah terakhir kemarin konsultasi dengan dokter. Nera sudah mulai baikan setelah diterapi beberapa kali. Dokter menyarankan , selalu bahagia jika ingat orang yang kita cintai. Entahlah setelah kata-kata itu terngiang , setiap mengingat bang Dya , jiwaku kembali menjadi semangat. Lupakan yang menyakitkan, entahlah apa yang telah menyakitiku? Tapi setiap mengingatnya, aku semangat dan semangat" jawab Nera sambil memandang kedepan.


" Rencana mau nikah lagi, enggak?" goda Anto pada Nera.


" Abang, mau nikah lagi?" Nera balik menggoda dan tertawa terbahak.


" Hemmhh...meledek!"


" Bagaimana, kamu sudah tahu, Teh Maryam mau jodohin kamu sama suaminya. Jadi madunya?" tanya Anto serius.


" Oooh. Uminya juga sudah bilang, tapi Nera sudah menolaknya. Tidak mungkin Nera menjadi duri di dalam rumah tangga Teh Maryam. Nera takut, sayang kami nanti berubah benci walau Teh Maryam memintanya sendiri. Nera akan mengejar mimpi Nera dan Bang Dya, memajukan TPA sore dan Sekolah Islam Terpadu full day. Nera mau fokus dengan pendidikan Nera, mungkin melanjutkan S2, mungkin Profesor, karena Bang Dya sudah menabung uang untuk pendidikan Nera dan Abah mau membiayai Nera kuliah. Nera tidak mau mengecewakan Abah apalagi Bang Dya. Untuk saat ini, Nera akan menyibukan diri dulu dan fokus" jawab Nera lirih .


" Apa, aku punya kesempatan?" tanya Anto serius perlahan.


Nera berbalik memandang ke arah Anto.


" Abang, Nera tak mau menjadi duri dalam rumah tangga manapun. Bahagiakan Laras! "


" Aku belum melakukannya dengan dia !" lirih Anto.


" Bukan urusan Nera! Seharusnya Abang rahasiakan ini . Tidak baik Abang, kalau posisi Nera jadi Laras. Nera akan marah !" jawab Nera tegas.


" Jika kamu posisi Laras, saat mencium itu berubah jadi wajah kamu, salahkah aku tak menjamahnya?" ucap Anto sambil berlalu.


" Tunggu !" cegah Nera, dan Anto pun menghentikan langkahnya.


" Masihkah rasa itu?" tanya Nera perlahan .


" Hanya orang bodoh, yang tak faham!" jawab Anto melangkahkan kaki dengan pasti.


bersambung...


〰️〰️〰️〰️〰️〰️


Biasakan like, love, koment positif daaaan vote.

__ADS_1


Jazakumullah khairan katsir untuk semua readers , yang masih setia membaca novel ini.


Love u All 😘😍


__ADS_2