Berjanji Dan Merajut Asa

Berjanji Dan Merajut Asa
18. Saat melepas semua mimpi


__ADS_3

Mendengar pak Edo mengumumkan pernikahan pada hari itu juga, bukan hanya Nera yg terkejut, bu Siwi dan Dya serta orang-orang yang ada di acara tersebut merasakan kaget dan terkejut .


Kalau lihat Umi Syifa dan saudara - saudara Dya yang lain sudah tidak aneh dengan ayah mereka. Mariam dan Musa pun langsung akad selesai lamaran, tanpa walimah yang besar - besaran. Nanti saja nyusul setelah anak-anaknya pada sudah halal.


Yang menjadi penghulu pak kiai Hasan sendiri dan yang jadi wali nikah pak Edo,dan dua orang tamu dari pihak mempelai wanita dan mempelai laki-laki sebagai saksi.


Nera, sudah tidak bisa apa - apa selain menerima semua keputusan orang tuanya.


Dia sadar jodoh, mati, dan rizki sudah diatur oleh Allah.


Bukan pasrah, tapi dia lebih memilih menjaga hati kedua orangtuanya yang mungkin selama ini lelah dengan cibiran orang kepada Nera.


Gayung bersambut bak mendapat durian runtuh, ketika kiai Hasan mengunjungi rumah pak Edo. Yang berharap bisa meminang Nera untuk anak laki-laki ke tiganya, Dya.


Bagaimana bisa pak Edo menolak, dipikirnya Nera akan sangat beruntung mendapatkan suami yg cerdas, berpendidikan, dari keluarga kalangan berada dan terpandang baik.


Pak Edo tanpa pikir panjang menerima tawaran perjodohan itu.


Toh bapak mana yang tidak menginginkan Dya?


Akhirnya tanpa pikir panjang,meminta Nera untuk menerima pinangan Dya.

__ADS_1


Pak Edo memohon - mohon pada Nera untuk bersedia dia di jodohkan.


Pak Edo tidak ingin anaknya dipergunjingkan lagi. Pada zaman 90 dan 2000 an wanita yang lebih dari usia 20 tahun belum menikah akan disebut perawan tua atau perawan lapuk. Apalagi sampai dilangkahi adik perempuan nya menikah . Sudah dipastikan didaerah itu akan mencap si gadis dengan perawan tak laku.


Nera, beranggapan tak seperti itu, dia merasa dirinya baik - baik saja. Walau harus dilangkahi oleh sang adik.


Tapi apa daya, ternyata orang tuanya lah yang lebih memikirkan dirinya dan mereka lah yang paling terluka atas apa yang terjadi pada anaknya itu.


Nera tak pernah menjawab ataupun menolak, dia diam tanpa menjelaskan apa-apa.


Dia ingin menjelaskan tentang Anto, Nera sendiri masih ragu pada Anto. Apakah Anto akan pasti menikahi nya, seperti apa yang dikatakannya pada tempo hari ?


Nera masih ragu, dia berusaha shalat istikharah meminta Allah memberikan jalan mana yang terbaik untuk dirinya dan keluarga besarnya.


Tak disangka pas ketukan ibunya memanggil dirinya untuk segera menemui para tamu. Nera membulatkan hati untuk menerima Dya.


Walau, tanpa dipungkiri ketakutan dan ke khawatirkan akan sosok Anto yang akan hadir pada kehidupan antara Nera dan Dya.


Apalagi Dya adalah kakaknya, kemungkinan apa yang akan terjadi jika Dya tahu tentang hal percintaan Nera dan adiknya, Anto?


Dan akankah Anto menerima semua keputusan ini?

__ADS_1


Apa pun yang terjadi, Nera sudah putuskan untuk memandang kedepan.


Toh masalah terus akan ada selama nyawa kita dikandung badan.


Terserah lah mau bermasalah dengan siapapun? Toh dunia memang tempatnya masalah, dan toh kita bisa menyelesaikan masalah itu walaupun harus dengan derai air mata, kebencian atau mungkin suka cita.


Nera berharap dengan keputusan kali ini akan membuat nya semakin dewasa.


Nera berharap kedepannya Nera bisa menerima keberadaan Dya sebagi calon suaminya. Yang intinya bisa mencintai Dya dengan setulus hati dan berbakti padanya.


Anto, mungkin hari ini, Nera akan berusaha mulai melupakan kisah dan asa yang pernah di rajut dulu.


Penantian ini, entahlah.


Nera sudah meyakinkan bahwa dirinya bukan untuk Anto.


Nera memutuskan memasukkan semua pemberian - pemberian Anto pada kotak hitam. berharap bisa segera melupakan hal - hal indah dengan Anto secepatnya.


" Anto, maafkan aku "


lirih Nera memeluk surat pengakuan pertama yang diberikan Anto padanya waktu itu.

__ADS_1


*********


next


__ADS_2