Bojomu Semangatku

Bojomu Semangatku
Tidak Kurang Akal


__ADS_3

"Sakit tahu, Jeng. Sialan lo!" Arya remat jaketnya, satu lemparan dari Ajeng berhasil membuatnya tunduk.


Tidak kurang akal, tangan dan kaki tidak bisa menggapai Arya, Ajeng ambil bongkaran tanah liat, lalu dia lemparkan tepat pada sasaran, sontak Arya menjerit lalu bergulung.


"Rasain, makanya jadi orang itu yang bener sedikit kenapa. Mas Arya itu loh terkenal seantero raya, tapi busuk!" Ajeng selalu ringan mengatakan apapun. "Masa terkenal karena keluar masuk penjara, suka sewa hotel, kasihan loh yang jadi orang tuanya Mas Arya, nanggung malu, lah anaknya nggak tahu malu sama sekali. Emangnya burungmu itu sebagus apa sampe jadi idama biduan, hah?"


Arya sembunyikan lagi, dia berbalik membelakangi Ajeng, tidak mau salah sasaran lagi, bisa rusak masa depan. Walau dia nakal, dia juga ingin mempunyai pasangan dan anak nantinya, tapi kenakalannya di masa muda ini memang tidak bisa dia bendung.


"Kenapa Mas Arya doyan begitu, enaknya apa?"


"Ya enaklah, lo nggak pernah sih ngerasain!"


"Bukan itunya, untungnya buat Mas Arya apa? Terus, kepikiran begitu itu dari mana, kamu nonton film dewasa terus ya, jangan-jangan?!" tuduh Ajeng.


Benar, Arya mengangguk.


Sialan, Ajeng tersingkap melihat wajah polos dan santai Arya menjawab pertanyaannya, bukannya malu, malah mengakui dengan gamblangnya.


"Lo pengen lihat film dewasa bareng gue?"


"Heh, setan!" Ajeng langsung berdiri. "Mas Arya ini loh ya ampuuunnn, maksudnya Ajeng itu mbok kamu berubah, jangan lihat atau praktek begitu, nikah sana, biar kamu bebas sama istrimu begitu. Lagian, kemarin pak Darma sama Bu Ratih udah mau kenalin kamu sama mbak Kartika, si cantik desa sebelah, kok kamu nolak, kan enak bisa sama dia tanpa digrebek warga!"


"Nggak doyan gue hidup sama cewek cantik, palingan cuman mau duit doang. Tahu bokap gue kaya, jadi dia mau, coba nggak, kabur dia. Gue nakal gini, pengen istri yang ngerti, nggak cuman di ranjang doang!"


"Lah, kamu ya sadar gitu loh pengen yang ngerti, sekarang bayangkan, coba Mas Arya pikirkan, gimana dapat yang ngerti wong kamu celap-celup terus, berhenti, kasihan orang tuamu!" Ajeng jadi biro konsul sungguhan malam ini.


Arya menyeringai tipis, baginya tak ada wanita yang akan mengerti dia, susah menerima dia yang apa adanya, sekalinya tahu dia anak nakal dan bukan anak orang kaya, dijamin kabur, selama ini mereka mau ya karena pak Darma masih hidup.


Dua orang tua itu terkejut mendapati Ajeng dengan baju kerjanya mengantar Arya pulang, bukan dengan mobil mewah, melainkan sepeda pasar dan Arya diboncengan Ajeng.


Bu Ratih buru-buru ke luar, menoleh ke semua arah memastikan tak ada yang melihat keduanya, nanti dikira ada apa.


"Jeng, Arya, kalian dari mana kok sampe malem?" bu Ratih tampak cemas.

__ADS_1


Ajeng tahan sebentar, dia buka ikatan tangan Arya, pria itu mau memberontak dan tak mau pulang tadinya, mau tidak mau Ajeng ikat saja kaki dan tangan Arya di sepeda, biar tidak bisa kabur.


"Mas Arya bikin ulah, tapi berhasil dibekuk, Bu Ratih tenang saja!" jawab Ajeng, dia biarkan Arya berdiri, pria itu endak berjalan melewati ibunya tanpa menyapa.


Dengan cepat tangan Ajeng menarik dan memukul kepala Arya kencang, pria itu pun mengaduh kencang.


"Bego, sakit!"


"Makanya, sini dulu!" Ajeng tarik, dia lingkarkan tangannya ke lengan Arya.


Pemandangan yang membuat bu Ratih sontak menganga, pasalnya selama ini anaknya selalu melawan, entah Ajeng sekuat apa sampai Arya tak bisa memberontak.


"Bilang salam sama Bu Ratih!"


"Ogah!"


"Bilang salam atau mau aku remet burung kocokmu!" ancam Ajeng berbisik.


Mau tidak mau Arya raih tangan bu Ratih dan mengucapkan salam, senyum bu Ratih pun melebar, dia bahkan membalas dengan doa.


Jleb,


Arya sontak menoleh pada Ajeng, ini pengakuan pedih loh, tapi tidak ada jejak air mata di wajah Ajeng.


"Ngapain lihat Ajeng gitu, naksir?"


"Cih, edan apa naksir lo!" Arya lepaskan tangan Ajeng, dia melangkah masuk tanpa menoleh lagi.


Sedang, di depan pintu ada pak Darma, sempat Arya berhenti di depan papanya itu, dia mengucap salam lirih, sampai pak Darma membalas tersendat, jantungnya seolah dipaksa berhenti mendadak melihat perubahan anaknya.


"Ajeng pamit pulang dulu, Bu Ratih sama Pak Darma jangan kuatir dia buat masalah lagi, panggil Ajeng. Sekarang, Ajeng jadi biro konsul yang dibuka pak Kades, jadi apapun masalahnya, silakan lapor ke Ajeng, saya pulang dulu!"


Bu Ratih mengangguk, tak lupa dia menarik tangan Ajeng dan memeluknya.

__ADS_1


"Jangan bilang kamu nggak punya ibu, Jeng. Kamu bisa anggep Ibu ini ibu kamu!"


***


Hikam menganga tidak percaya, semudah itu Ajeng membuat Arya bertekuk lutut, bahkan mau pulang dan memberi salam pada kedua orang tuanya.


"Kamu dijamin lolos uji kerja pertama, kalau pak Kades tahu kamu bisa tenangin Arya, dia pasti kasih kamu hadiah, pusing sudah dari dulu nama desa ini tercemar karena dia, nggak ada hentinya. Sekarang, kamu makan bekal ini, jangan telat makan!"


"Loh, Mas Hikam nggak makan?"


"Mbak Dewi lupa kalau ini kamis dan Mas puasa, jadi tetap Mas bawa, cuman kamu yang makan ya, jangan bilang dia!"


"Waah, berkah ya buat puasanya Mas Hikam, aku juga bakal belajar puasa, biar dapet yang doyan puasa kayak Mas Hikam!" soraknya, lalu memakan lahap bekal Hikam.


Bohong, Hikam tidak berpuasa hari ini, bahkan sebelum ke luar ruangan, dia sempat minum susu.


Tapi, tadi pagi dia melihat Ajeng mau membungkus makanan, salah satu anak panti datang padanya bilang kalau makanan di panti enak dan mereka kurang, mau lagi juga masih lapar.


Ajeng berikan makanan itu, dari pagi sampai siang ini Ajeng belum makan, itu lebih dari puasa bagi Hikam.


"Kamu ngapain ke sini? Buat ulah lagi?" Ajeng hampir tersedak mendadak Arya duduk di depannya.


Arya ke luarkan bungkusan berisi makanan.


"Buat apa?"


"Temenin gue makan!"


"Tapi, Ajeng udah makan, Mas Arya." baru saja dia habiskan bekal Hikam.


"Yaudah, kalau lo nggak mau, gue bakal ajak bid-"


Ajeng duduk lagi, "Iya, sini makan, jangan bahas biduan lagi, makan sekarang!" dia lipat kembali lengan kemejanya. "Siapa yang masak?"

__ADS_1


"Nyokap."


"Widih, enak banget daun pepayanya, Mas!" hap dan hap, hap.


__ADS_2