Bojomu Semangatku

Bojomu Semangatku
Takut Dijebak


__ADS_3

"Pokoknya, gue nggak mau tahu, lo bukan babu di sini, jadi urusan bersih-bersih dan misal ada yang suruh, sekalipun mereka salah paham kamu siapa, ngira kamu maid, bilang kalau kamu Ajeng istrinya Arya, oke, Dear!" Arya tegaskan sekali lagi.


Tapi, Ajeng yang jelas sudah terbiasa akan kata bantu-bantu itu mengaku kesulitan, dia tak pernah berlaga selayaknya tuan rumah besar, apapun itu akan dia kerjakan.


Masalahnya ini semua keluarga Arya kumpul, tahu sendiri mereka punya kualitas wajah yang mendekati permata dan berlian, tidak bisa dibandingkan dengan Ajeng, kemungkinan akan banyak yang salah mengira.


"Mas-"


"Mau ngeyel, gue nggak terima!" Arya berbalik membelakanginya.


Ajeng melangkah mendekat, menjadi istri memang tak seperti saat masih sendiri, bebas melakukan apapun, di sini dia pun harus menjaga nama baik suaminya, yang dia lakukan pun juga atas izin suaminya, jangan sampai Arya kesal.


"Kalau lo nggak nurut gue, udah nggak usah ngomong sama gue, sanaan aja!"


Hilo,


"Jangan gitu, kan ya nggak mungkin ngomong sama ayam, cuman ngomong sama kamu sekarang!" Ajeng memeluk Arya dari belakang, dia tempelkan pipinya di punggung itu. "Ajeng nurut sama kamu, iya, nanti bakal gabung sama yang lain, nggak pegang pekerjaannya maid, Mas."


"Nggak, lo suka bohong!"


"Loh, nggak, kali ini aku beneran kok. Aku ya nggak mau sia-siain waktu ngelayani kamu, kan kamu mau jauh, jadi biar maid aja yang ngurus ini itu, aku tinggal cek kayak ibu," jelas Ajeng.


Helaan nafas sedikit berat terdengar, Arya tarik dan pindahkan posisi Ajeng hingga ke depannya, menakup wajah berkilau karena suka panas-panas di kandang ayam, lalu menunduk dan menyatukan bibir mereka.


Apapun yang ada di Ajeng bagai berlian untuknya, lagipula sekarang Ajeng rajin sikat gigi dan memberi tubuhnya minyak wangi, Arya semakin menempel.


Bisa Arya dengarkan degub jantung keras istrinya itu, setiap dia cium akan sama seperti ini, berdebar, Ajeng seperti ikut lomba lari meskipun mereka sudah sering menghabiskan malam bersama.


"Arya, Ajeng mana ini, pada mau ketemu!" suara bu Ratih sambil mengetuk pintu kamar. "Kalau udah, ajak turun!"


Arya lepas pagutan bibirnya, salah satu sudut bibirnya terangkat, sementara Ajeng menunduk menyembunyikan pipinya yang berubah warna.


Bugh!


"Duh!"


"Kamu kalau marahan gitu bikin aku takut loh," aku Ajeng.


"Takut kenapa?"

__ADS_1


"Takut kamu tinggal, kan Ajeng ini suka ngelawan, nanti kamu kesel terus tinggalin Ajeng."


"Nggak akan, wek!" Arya julurkan lidahnya. "Enak aja main tinggal, yang nemuin lo kayak nemu berlian, nggak rela gue, sampe mati ya sama gue!"


"Heheheheh, nggak marah lagi kan ya?" Ajeng menatap manik menggoda Arya.


Arya gelengkan kepalanya, dia tidak pernah marah dengan Ajeng, hanya saja seperti ini memang cara dia memberitahu istrinya yang super banyak tingkah dan ide itu.


Ajeng kalau tidak diimbangi dengan model Arya seperti ini, dia akan terus merasa rendah dan pantas dibedakan. Sedang, tak ada hal seperti itu, Ajeng adalah istri Arya, kedudukannya sama dan tak perlu merendah, atau sampai ada yang merendahkan, sekalipun itu kerabat sendiri.


"Mas, katanya ngajak ke luar, ayo!"


"Lo pake dress gitu, cantik."


"Heeeem, coba Ajeng nggak datang bulan, bisa berapa putaran buat bayar pujian itu, hah?"


Arya terkekeh, dia peluk sebentar sebelum membebaskan Ajeng bertemu semua keluarga besar Arya, ada rasa tak rela, baju-baju manis itu inginnya hanya Arya yang melihat, memuja di setiap malam yang ada.


"Dear, inget loh ya!" Arya melirik sinis.


"Iya, Mas, Ajeng janji."


***


Berat, hari ini dia harus meninggalkan Ajeng demi mengurus masa depan yang akan dia banggakan.


Impiannya mempunyai anak bersama Ajeng mewajibkannya menjalani operasi itu, semua barang yang akan dia bawa sudah Ajeng siapkan, walau dia tahu Ajeng pun harus membagi waktu di biro konsul.


"Nggak kerasa udah mau pergi, gue masih pengen sama lo."


Bila dihitung, sebentar lagi haid itu selesai, tapi Arya sudah tidak di rumah.


"Kangen? Rela?"


"Siapa yang nggak kangen sama suaminya, istri ya jelas kangen. Ajeng ya nggak rela kalau kamu tinggal, tapi kalau nggak kamu tinggal ke sana, gimana Ajeng bisa punya anak, jadi harus berjuang dulu, ya nggak?"


"Tumben pinter."


Ajeng sendiri berat karena dia belum memutuskan akan memberi Arya kejutan atau tidak di sana, dia rasa uangnya kurang, uang Arya harus dia simpan, inginnya terus memuncak, dia ingin selalu ada.

__ADS_1


Tak pernah Ajeng sampai memeluk Arya sedekat ini, lebih sering Arya yang memeluk lebih dulu.


"Dear, lo nangis?"


"Nggak, cuman mau nembang."


"Eheheeh," tawa Arya, dia angkat dan mendudukkan Ajeng ke pangkuannya. "Burung kocok ketekan dikit, nggak masalah, dia kuat!"


"Kamu ini!"


"Dear, kan nangis beneran, hayo!" benci Arya kalau melihat Ajeng menangis meskipun itu berurusan dengan dia. "Nggak deh, gue nggak suka sebelum pergi lihat lo nangis, nggak asik deh!"


Ajeng sembunyikan wajahnya, dia ya campur aduk rasanya, takut juga Arya kecolongan bertemu yang semodel dengan Ellin, nanti ada Ellin jilid dua, jelas orang sana tak bisa dibandingkan dengan Ajeng yang pas-pasan.


Bayangan ditinggal suami seperti sinetron mulai mengisi kepalanya, dia pun berulang kali mengelak, tapi tetap saja muncul dan menguasai pikirannya.


"Dear, udaaaaaah ... gue nyakitin lo?"


Ajeng bergeleng, dia menunduk menatap pangkal paha Arya ada yang mengembang sesak, lalu dia usap, jelas saja Arya langsung mengerang.


"Dia nggak akan cari jalan tol lain kan ya?"


Mata Arya sontak terbuka, dia tatap tajam istrinya itu.


"Nggak, Dear. Nggak akan." Arya takup wajah Ajeng. "Lo nangis karena takut gue main cewek di sana?"


Ajeng mengangguk, bibirnya bergetar kembali, dia tak pernah merasa setakut ini bersama siapapun, cukup tak tahu bagaimana orang tuanya, dia tidak mau ada masalah besar yang menyangkut Arya di sana.


"Ikut gue kalau lo khawatir, hem?" Arya kejar bola mata yang terus menghindar itu. "Gue cinta sama lo, percaya, kan Dear?"


Ajeng mengangguk lagi.


"Oke, kalau percaya, nggak akan terjadi kayak git-"


"Nanti kalau ada yang jebak kamu gimana? Kan, udah trend itu Mas Arya, kasih apa obat tidur gitu, terus kamu main sama cewek." bibir Ajeng bergetar lagi.


"Dear, di sana nanti burung kocok gue di buntel model pepes, sekalian sama telurnya, nggak ada yang bakal mau jebak, lihat aja males. Kecuali, kalau lo di sana, nggak perlu bantuan dokter buat ganti perban, lo yang buka tutup perbannya, bebas lo mau apain nih pusaka!"


"Pepes?" Ajeng fokus di sana. "Pepes burung, telur burung?

__ADS_1


__ADS_2