Bojomu Semangatku

Bojomu Semangatku
Cukup Ajejeng!


__ADS_3

Suami: Dear, gue udah sampe, lagi apa?


Ajeng jingkrak-jingkrak mendapatkan pesan dari Arya, sejak tadi dia menunggu sampai jenuh kapan suaminya itu akan memberi kabar, tentu saja bukan sekadar info biasa, tapi ada foto di sana.


Unit apartemen yang bisa dikatakan mewah isiannya di mata Ajeng, prianya itu sudah berbaring santai di sana, mengambil foto penuh senyuman, menampilkan ketampanan yang tiada tara.


Penggaris sampai tidak bisa mengukur ketampanan Arya di mata Ajeng, mendadak malu, terbayang kalau di kamar biasanya ngapain, belum lagi Arya tak memakai kaos dan membiarkan dadanya terekspos tanpa celah.


Istrimu: Mas, bawa obat masuk angin kan ya, jangan lupa diminum biar nggak mual muntah!


"Ahahahahah, dikira lagi di mana gue sampe kedinginan, orang di dalam rumah hangat!" Arya hubungi istrinya itu, memamerkan fasilitas yang ada di unitnya, memang dulu dia dapatkan sempurna karena masa lalunya harus membuat para wanita nyaman, sekarang mau dia ubah agar menjadi kenangan baru bersama Ajeng, otaknya mulai berpikir keras sambil menunggu Ajeng menjawab panggilan videonya. "Dear, dear!!"


Kan, sudah seperti anak kecilnya Ajeng, kalah anak panti kalau menyapa Ajeng begini, wajah Arya senang tidak karuan, tidak tahu kalau tadi Ajeng menahan mati-matian pecah tangisnya hanya karena rindu, mau jalan sehari saja rasanya sesak.


"Kamu udah mandi? Udah sholat?"


Arya mengangguk, dia menyelesaikan itu semua setibanya tadi, baru mengabari Ajeng.


"Kok nggak pake baju itu kenapa? Bikin Ajeng panas dingin aja!"


"Aaaarrrrgghhhhh, paling bisa lo bikin gue edan!" Arya tergelak. "Kamar ini mau gue renov, Dear. Biar ada kenangan baru, jadi waktu lo ke sini udah beda!"


Ajeng manggut-manggut. "Aku di rumahnya mas Hikam ini, tapi nanti ke rumah ibu mau ikut ke peternak, Mas."


"Ke peternak, ngapain?"


"Nggak tahu, bapak yang ajak. Nggak apa kan kalau Ajeng ikut?"


"Hem, boleh, pokoknya ya sama mereka aja, inget pake cincin kawinnya, awas!"


Ajeng tunjukkan jari manis kanan itu, membuat Arya melayang karena saking senangnya, besok dia harus mulai datang pada dua tempat di mana rumah sakit yang sudah menunggunya dan kantor pak Darma di sini, beberapa rekan dan temannya sudah menunggu, apalagi calon ayah baru si Rian, kompak sudah mau menjamunya.

__ADS_1


"Nggak ada minuman keras dan wanita, gue jamin, dia cuman mau sama lo, Dear. Sumpah!" Arya bahkan menunjukkan pusakanya pada Ajeng, mendengar suara Ajeng saja sudah cukup menjadi alasan si burung kocok itu bangun. "Gue janji, doain ya besok daftar dan pemeriksaannya lancar!"


"Iya, aku doain biar cepat pulih dan balik, aku kangen sama kamu, Mas." malu-malu Ajeng mengatakannya, dia bahkan menunduk, mau menangis kok terlihat cengeng di depan Arya, dia harus memberikan dukungan penting sekarang. "Mas, kamu kenapa?"


"Pingsan denger lo bilang kangen, mau dimanja sekarang."


"Hush, kamu ini, sukanya kok itu aja!"


"Ahahahahahahah, lo terlalu enak buat dilupain, terus nggak ada hentinya, mantap!" Arya sudah memasang kuda-kuda, menunjukkan si burung kocok masih perkasa. "Besok dia jadi pepes bentar lagi, Dear. Tapi, waktu pulang ketemu lo, siap hajar pokoknya, panen bibit yang banyak!" dia tergelak sekali lagi.


Ini yang Ajeng rindukan, kocak dan sintingnya Arya, di rumah dan kamar itu jadi sepi tanpa Arya, walaupun kerjanya ganggu saja setiap ada kesempatan bersama.


Huh, Ajeng dekap ponselnya, tidak lama kok satu bulan itu, dia harus mencari kesibukan setelah ini.


"Arya udah kabarin, Jeng?"


"Udah, Mas Hikam. Dia udah mau ke kantor katanya, terus ke rumah sakit."


***


Gilaaaaa!


Mata Rian mau copot melihat pesona demit yang sudah menikah ini, baru datang saja sudah membuat para pekerja wanita spot jantung, belum lagi kalau disentak habis, bakal susah jalan mereka.


Plak!


"Gue nggak suka begitu lagi, mana yang mau lo tanyain?" Arya sadarkan temannya.


"Oh iya, gue lupa kalau di kepala lo sekarang cuman Ajejeng aja. Kenapa nggak lo ajak?" balas Rian sambil mencarikan dokumen yang mau dia tanyakan pada Arya. "Dia males anterin lo ke sini buat operasi, Ya'?"


Arya bergeleng, dia teguk air mineral yang dia bawa sendiri, ini bentuk antisipasi sebelum terjadi hal-hal yang tak dia inginkan, tentu saja nanti bisa menyakiti hati Ajengnya.

__ADS_1


"Lo takut dia digoda temen lo di sini?"


"Lebih tepatnya, gue nggak mau ganggu dia yang lagi seneng-senengnya kerja, biro konsul di kelurahan kayak nyawa buat dia, jadi gue minta dia di rumah." jelas Arya, wajahnya terlihat sangat bijak, dia gerah di sini karena banyak pekerja wanita, Rian satu ruangan dengan banyak pekerja wanita meskipun sudah mau jadi bapak. "Juna bakal anterin gue besok, hari ini sendirian, jadi pacaran sama siapa dia?"


Ada gadis yang mau mendekat pada Arya, menjatuhkan berkasnya di dekat kaki Arya agar saat dia membungkuk, Arya bisa mengukur puncak bukit yang bisa Arya daki.


Sayang sekali, Arya memutar kursinya, dia takut, takut tegang karena mengingat milik Ajeng, seluruh darahnya hanya mengenal Ajeng sekarang, tidak mungkin dia pulang dan memboyong istrinya.


"Yan, ke ruangan lain aja, gue bisa jelasin masalah lo ini, yok!"


Beberapa pekerja wanita di sana mendesis, bahkan mereka belum mendapatkan jabat tangan atau senyuman Arya, sudah ditinggal, tidak tahu kah Arya kalau ada yang siap menerima pusakanya meskipun baru mencium aroma parfum saja, mempesona.


"Ajejeng nggak takut lo selingkuh di sini?"


"Emang kapan gue selingkuh, gue cuman suka ganti-ganti temen tidur, nggak ada ikatan. Lo bahas dia, jadi pengen pulang gue!" Arya pukul Rian kencang, sampai temannya itu mengaduh. "Buruan, dengerin yang bener!"


Rian manggut-manggut minta ampun, sumpah demi apapun sekalinya disebut nama Ajeng, sudah bergetar seluruh tubuh Arya, mau Ajengnya ke sini, mau dia peluk dan mengikutinya, tapi lagi-lagi dia tak mau menjadi suami yang egois.


Suamiku: Dear, lagi apa?


Terus saja Arya ulang itu disetiap waktu ada kesempatan menghubungi Ajeng.


Istrimu: Baru makan sama ibu, Mas. Aku di rumahmu ini, eheheheh, tapi nanti aku pindah-pindah. Kamu lagi kerja?


Suamiku: Iya, si Rian rese bahas lo terus, bikin kangen pengen pulang!


Istrimu: Nanti pulang kalau si burung kocok sembuh ya, Mas.


Arya mengulas senyum, dia tak sadar dari belakangnya si Rian mengintip, berbeda dari hubungannya dengan Ellin, tak seperti Arya, hubungan mereka jadi datar dan hanya hangat kalau butuh olahraga malam, selebihnya jangankan tanya kabar dan lagi apa, salam saja tidak.


Suamiku: Love you, Dear. Habis ini gue ke rumah sakit.

__ADS_1


"Iyaaaaaaa, semangat ya!" voice note Ajeng menggelegar.


__ADS_2