Bojomu Semangatku

Bojomu Semangatku
Menu Buka dan Sahur 1


__ADS_3

Mata Ajeng membulat sempurna, benar-benar apa yang dilarang Dewi tadi terjadi, dia pun tak bisa menolak atau memberontak pada Arya, pemuda ini, si burung kocok ini sudah menjadi suaminya, Arya berhak mencium atau apa saja.


Tapi, masalahnya mereka sedang ditunggu warga dan keluarga, mau foto bersama.


Masa bodoh urusan sanggul yang lepas dan bulu mata yang copot, di telinga Ajeng hanya terdengar decapan bibir atas dan bawah Arya yang tak mau melepas pagutannya, padahal Ajeng hanya bisa diam seperti patung, dia tidak tahu membalasnya bagaimana.


"Duh!" pekiknya.


Arya gigit bibir bawah Ajeng, lidahnya melesak masuk, membuat Ajeng mual saja, tapi sekali lagi dia tak bisa lepas dari belitan Arya, lidahnya pun diajak menari di sana sampai dia ikut memejamkan mata


Arya tersenyum tipis, jelas dia handal dalam hal ini, pengalamannya jangan ditanyakan, membuat Ajeng melayang sudah seperti membalikkan telapak tangan saja.


Ck,


"Ajeng mau mati, Mas!" protesnya, kibas-kibas tangan ke depan mulut yang diyakini basah karena decapan Arya. "Heh, tunggu, oksigennya habis, mati loh aku nanti!"


"Mas Aryaaaaaaa!" rengeknya sambil menahan dada Arya. "Bebek kalah loh sama kamu!"


"Ahahahahah," Arya tergelak kencang, kedua bahunya sampai terguncang. "Nahan lama tahu nyium lo, Dear!" mau mendekat lagi, tapi Ajeng tahan. "Jauhin tangannya, mau cium lagi!"


Ajeng mendengus, cium saja bisa lama begini, apalagi kalau nanti mereka melakukan hubungan suami istri, belum apa-apa lutut Ajeng gemetaran, bisa jadi baling-baling bambu dia.


Sekali lagi, dia biarkan sampai akhirnya bibir Arya yang berganti warna, mau tidak mau Ajeng perbaiki riasannya sendiri sebisanya.


"Tunggu, sini jangan deket-deket, Ajeng mau siap-siap dulu!"


Arya mengangguk, baru saja dia bantu memasang bulu mata itu lagi, dia pernah melihat biduan memakainya sebelum show, jadi dia paham.


Setelah semua ritual di kamar mereka selesaikan, wajah Arya yang sama basahnya seperti kemeja putih itu, membuat Ajeng berkedip genit.


"Coba tobat dari dulu, pasti guanteng!"


"Kalau dari dulu ya nggak ketemu lo!" balas Arya, dia kecup lagi pipi Ajeng. "Awas kecentilan di depan!"


"Nggak bakal, Mas Arya. Di depan itu ada ceramah, sholat berjamaah, masa iya aku jogetan terus sorak-sorak sih, ayo!"


Arya gandeng tangan gadis yang sudah sah menjadi istrinya itu, sesekali dia angkat tangan Ajeng dan dia kecup, tak lama dia senyum sendiri seperti orang gila.


Sementara Ajeng hanya membalas senyuman itu dengan cengiran khasnya, bukan membawa apa dan apa, hanya kotak mukenah dan sajadah, nanti mereka mau tarawih bersama di sini.

__ADS_1


"Ini loh pengantinnya!" seru bude Lastri.


Uhuk!


Pak Kyai sampai terbatuk melihat Ajeng, ada warga di kampung seberang yang kerap main sama Ajeng, adu ayam, tahu dia polahnya bagaimana, tapi begitu ke luar di samping Arya, seolah citra sang tukang adu ayam itu hilang.


Ajeng jadi anak gadis baik-baik.


"Mas, aku kok takut ya," ujarnya berbisik.


"Ngapain takut, ada gue di sini, hah?"


"Heh, nggak takut digodain cowok, jangan cemburuan gitu!" Ajeng cubit lengan Arya. "Aku itu takut sama orang-orang yang dateng, nggak pede aja aku ini, welek gini nikah loh aku, Mas!"


"Jelek, tapi gue suka!" tegas Arya, pipi Ajeng sontak merona, dia cubit dan tarik sedikit sampai Ajeng mengaku.


Bukan seperti acara pernikahan pada umumnya, walau yang datang banyak, mereka seperti sedang ada acara syukuran desa saja, kumpul dan makan jadi satu, bercengkrama dan mengambil foto bagi yang mau.


Acara ini memang diniatkan berbagi, setidaknya menjadi doa bagi keduanya agar berbahagia setelah ini, kuat dalam menapaki ujian rumah tangga.


"Mas, ada Ellin loh!"


"Eh, ya jangan di sini, tanda tangan buku nikahnya dulu, ayo!"


Arya cemberut, tidak mau berdiri, mogok kalau belum dapat janji.


"Iya, nanti begitu kita masuk kamar, mau nyium model uler keket ya boleh, Ajeng nggak nolak, sekarang urus buku nikahnya dulu, nanti kamu kabur!"


Baru Arya mau berdiri, dia tetap mau tangannya digandeng, sekali pak penghulu ikut lirik, dia balas lirikan tajam.


Lah, temen anakku adu ayam. batin pak penghulu.


Ajeng yang juga kenal hanya tersenyum tipis, dia tahu burung kocoknya ini bisa marah kalau dia berlebihan, tahu sendiri sekarang sensitif bin posesif padanya.


"Jeng, Mas kan belum foto sama kamu, ayo!" ajak Hikam, Dewi dan kedua anaknya sudah siap, bahkan bu Tiwi dan bude Lastri.


Ya ampun, sampai Ajeng belum sungkem pada mereka semua, dia ajak Arya untuk melakukan semua itu hingga ada foto mereka berdua yang ala-ala artis go internasional itu.


Arya gendong, sontak membuat Ajeng menjerit dan tertawa, tepat saat itu, waktu mulut Ajeng tertawa, terbuka lebar, kang jepret memainkan aksinya.

__ADS_1


Cekrik!


Eheheheheh, pose terbaiiikkk!!


***


"Dear, kita langsung ke rumah papa kan ini?" tanya Arya, tidak mungkin dia di rumah Hikam.


Ajeng mengangguk, dia sedang mengemasi barangnya, satu tas untuk hari-hari pertamanya di rumah Arya.


"Jangan malem-malem, keburu sahur nanti, Dear!" Arya pikir untuk membawa Ajeng terbang bersamanya tak cukup waktu singkat, dia pasti mau lagi dan lagi.


"Emangnya Mas Arya mau apa kok udah mikir sahur?"


"Ya nidurin lo lah," jawab Arya dengan ringannya.


Ajeng terbelalak, suara Arya kencang loh tadi, bisa malu dia didengar orang-orang yang sedang berkumpul di dekat kamar ini.


Tapi, Arya tak pernah peduli itu, begitu Ajeng selesai merapikan tasnya, belum berdiri tegak, Arya sudah memeluknya dari belakang, menjatuhkan dagunya di bahu kiri Ajeng, lalu kepalanya miring hingga dia bisa mengecup leher coklat itu.


"Asin!" ujarnya sambil menjauhkan wajah.


"Makanya, sabar ... Ajeng ini lagi repot, keringetan, Mas Arya. Jadi, jilat keringet kan, rasain!"


Tak kurang akal, Arya lepas untuk mengambil tisu, lalu dia berjalan mendekat lagi, dia peluk dan usap leher Ajeng, baru tidak asin di bibirnya.


Kedua tangannya tak tinggal diam, meraba naik sampai ke bagian menyembul di balik balutan baju tebal itu, Arya tekan sedikit.


"Mas Arya, heh!" Ajeng menoleh, mau mengomel, malah bibirnya dikecup. "Jangan di sini loh, ini rumahnya mas Hikam!"


Arya terkekeh, dia pun berbisik, "Buruan kalau gitu, udah siap aku jadi tim sepak bola, Dear!"


"Terus, Ajeng jadi apanya?"


"Penjaga gawang!"


"Jadi, boleh loh ya kalau Ajeng nolak bola yang mau masuk, Mas Arya, ehehehehehehe-"


"Nggak boleh dong, buruan, mau masuk!" rengek Arya, belum dapat menu buka puasa, jangan sampai keburu sahur.

__ADS_1


__ADS_2