
"Aku cantik, aku baik, aku manis, aku pintar dan aku memang berhati baik!" sorak Ajeng sambil mengepalkan kedua tangannya.
Pujian banyak dia dapatkan dari Hikam, seolah dia telah sukses menjadi perempuan yang berhak mendapatkan pasangan seperti Hikam, walau belum dia temukan yang pas, dia yakin setelah ini akan datang pria yang mau menerima dia apa adanya.
Dia mantan tukang adu ayam, dia yang tak jelas anaknya siapa, dan dia yang sejak kecil hanya dididik sederhana di panti, sudah kebal dengan berbagai macam ledekan dan umpatan orang, tebal sudah mukanya merasai hal itu, bahkan dia bisa membalas jauh lebih hebat, tentunya dengan hal baik.
Arya?
Dia tidak peduli, pria itu juga sudah mau menikah dengan wanita lain, setidaknya Ajemg sudah menjalankan tugasnya sebagai sesama manusia di mana dia membawa Arya pada titik balik yang baik hingga menemukan wanita yang tepat.
Artinya dia akan menemukan yang tepat juga, Arya saja bisa yang mantan celup-celup, apalagi dia yang tidak pernah dicelup.
Eh!
"Jeng, kamu kerja jam berapa?"
"Loh, Bude Lastri ini ngelindur atau apa, kan ini hari minggu, aku capek buka biro konsul seminggu penuh!" Ajeng usap-usap kepala ayamnya.
"Terus, kamu mau adu ayam?"
"Enggak loh, hari ini ada sesi tanya jawab sama mas Hikam dan mbak Dewi, aku dapat tugas buat jagain anak-anaknya, terus bawa makanan juga buat dibagi, aku udah resmi jadi timnya mas Hikam, Bude!"
"Ayammu gimana nasibnya?"
"Mau aku sembelih kalau udah lebaran haji, lumayan ini gemuk-gemuk!" dia tidak akan adu ayam lagi setelah lebaran haji seperti yang dia katakan, berhenti total karena ayamnya akan dia kurbankan, terus kandang-kandang yang sudah dia foto cetak itu akan dia jual, hasilnya akan dia sumbangkan ke panti.
Hilang semua kenangan soal dedemit itu, sekalian saja supaya Ajeng tak ingat kalau mereka pernah bersama dalam satu ikatan kontrak dan bibirnya pernah dicium Arya, dia mau menghilangkan itu semua.
Bude Lastri sempat cemas, masalah ini pernah dia bahas bersama bu Tiwi, tapi ya tetap tak ada solusi, mereka hanya tidak mau kalau Ajeng kembali ke mode yang lama di mana dia merasa suka sendiri.
"Bilang sama mas Hikam buat terus pantau Ajeng, gimanapun Ajeng itu bangkitnya ya karena Hikam, jadi kamu ajak ngomong suami istri itu!" usul bu Tiwi.
__ADS_1
"Aku sih siap, Bu Tiwi. Nanti, aku bakal ke mas Hikam, ngobrol masalah ini, Ajeng emang berubah jadi lebih baik dan cantik, tapi kalau dia diam itu loh, aku kok nggak rela, lebih baik rame tiap malem kejarin ayam, ruang belakang jadi sepi kalau nggak ada ayamnya!"
"Iya, terus kalau nggak ada ayam, kita nggak bisa bangun pagi loh, Tri!" Bu Tiwi jadi cemas sendiri.
Tunggu, bude Lastri akan menemui Hikam untuk membicarakan hal ini, kehilangan mulut dan ocehan Ajeng seolah mati panti ini. Belum lagi kalau ayamnya disembelih, bisa semakin pedih dan sepi.
Di kamarnya, Ajeng memilih sibuk sendiri dengan mencatat banyak sumber bacaan, dia rangkum sambil mengeja bahasa asing agar dia bisa mengikuti perkembangan jaman yang ada, kiatnya sangat tinggi dan kuat, susah payah dia lafalkan, sampai lidahnya berbelit-belit.
"Aaarrreee yyoowuu suwer?" benar tidak, dia ulang lagi rekaman Hikam.
Are you sure?
"Oh, bukan. Aryusur, gitu!"
Plak!
Bude Lastri ikut membelitkan lidahnya, apa yang suwer dan sur? Video syur?
***
"Ajeng, Ajeng, Aaaaaajeeeeng!"
Swit, swiiittttt!!
Ajeng lambaikan tangannya, dia berikan kecupan jauh untuk semua fans garis kerasnya di ladang adu ayam, dia resmi ke luar dan tak menjawab sebagai ketua lagi, suami bu Desi sampai menangis terseduh-seduh.
Sudah cukup, dia mau belajar di rumah Hikam, kebetulan Dewi bisa mengajarinya dalam berbagai mata pelajaran tambahan.
Sekolah Ajeng dulu?
Halah, sudah jangan dibahas, dia sendiri tidak yakin sekolahnya itu masih ada atau tidak, terakhir muridnya hanya 20 orang, terus tidak tahu lagi.
__ADS_1
Hanya tinggal ijazah yang dia simpan, menginap di lemari sampai hampir dimakan rayap, baru ke luar saat dia melamar di kelurahan.
"Mbak Dewi, aku udah siap, kemarin itu aku belajar seharian, akhir pekan aku buat belajar, sampe bude Lastri sama bu Tiwi ngira aku ini depresi loh," ungkapnya memancing tawa.
Ocehan Ajeng masih belum serasi dengan penampilannya yang mulai feminim seperti Dewi, seharusnya senyum-senyum dan tak banyak bicara, tapi Ajeng belum satu menit sudah lebih dari seratus kata.
Dewi berikan lembar tugasnya, dia ingin Ajeng bisa lancar komputer dan bahasa asing, setidaknya inggris dan mandarin, itu sangat dibutuhkan, sekalipun Ajeng mau usaha online, keahlian itu dibutuhkan untuk promo yang cerdas dan menembak pasar luar negeri.
Mulai hari ini, mimpi itu dicetuskan.
"Mbak Dewi, apa dulu mas Hikam itu tertarik karena Mbak Dewi bisa banyak bahasa?"
"Nggak juga, tapi bisa jadi salah satunya. Kita jadi cewek harus pinter juga, sekolah pertama anak kita ya di kita, kalau kita nggak punya bekal, gimana mereka mau berkembang nanti," jawab Dewi.
Ajeng manggut-manggut, "Aku kira itu yang dinilai pokok sama mas Hikam, kalau jadi penilaian pokok, ya susah loh aku ikutinnya, Mbak Dewi belajar dari jaman kecil, otaknya masih seger, lah aku udah bongkotan begini!"
"Ahahahah, nggak ada yang susah kalau mau belajar dan nggak ada kata terlambat. Kamu pasti bisa, masih tetap idaman sama mas Hikam atau udah beda haluan?"
"Loh, ya masih sama, bojomu semangatku, Mbak Dewi!" sorak-sorak hore, tiba dibuka lembar bahasa inggris, hidungnya langsung berair, ingin menangis dan undur diri.
Ajeng bolak-balik buku kamus tebal di depannya, pernah dulu waktu sekolah ya pinjam sekolah, tapi dia tidak paham isinya.
"Waktu ujian itu gimana?"
Ajeng tepuk dadanya, dia tunjuk kancing baju. "Ngapain kok susah, aku tinggal mainin kancing, mana yang terakhir, mulai lagu kebangsaan sampe lagu pop masa kini, aku mainkan semua, buktinya ya aku lulus loh!"
"Ahahahahahahah, ya ampun, aku bisa angkat tangan jadi guru kamu, bisa kebetulan rejeki kamu ya, Jeng!" Dewi tidak kuat melawan Ajeng.
"Mbak Dewi nggak perlu syok gitu, malah anak nomor satu di kelasku itu, nyontek aku kok. Dia 25 soal itu satu jam, lah aku bisa 15 menit ...."
Astaga, Dewi patahkan alat mengajarnya, belum apa-apa dia sudah dibuat kalah oleh muridnya ini.
__ADS_1
Kalau ada kancing, lalu apa gunanya mereka saling belajar sekarang.
Benernya aku ini guru apa? Dewi.