
"Kok bisa, Mas?!" Ajeng histeris sambil memegangi perutnya. "Mana mungkin Ajeng hamil, kan kamu itu baru sembuh. Kalau Ajeng hamil, Mas. Masa iya sama ayam?"
What!
Mata Arya mau melompat dari rongganya, punya istri satu dahsyat minta ampun, entah dari mana pola pikir itu, mana mungkin juga ayam yang kerjanya bertelur bisa membuat Ajeng hamil, ada-ada saja.
Kedua tangannya menggapai pinggang Ajeng, menarik dan lantas memeluknya sambil sesenggukan, dia akan jadi ayah kalau benar istrinya itu hamil, dia memasuki tahap hidup kedua, sumpah Arya masa bodoh dengan pemahaman Ajeng yang lambat.
Dalam hati Ajeng pun menjerit tertahan, bukan dia tak mau hamil atau apa, dia mau dan sangat mau segera memberikan suaminya yang mesum minta ampun itu keturunan agar benar-benar berhenti nakal, tapi dia syok, antara benar atau tidak, sebagai wanita akan ada rasa terheran-heran begitu.
"Emuah, kita ke dokter aja yuk, biar jelas!" Arya cium bibir Ajeng, sekali lagi Ajeng merasa aneh, bingung dan tidak tahu harus menjawab apa. "Lo percaya ke gue, kan? Kalau percaya, udah pegang tangan gue dan kita bakal lewatin bersama, ganti baju terus ke dokter, oke!"
Ajeng mengangguk tertahan, dia menggenggam tangan Arya, bahkan baju yang dia pakai itu pilihan Arya, berbeda dari hari lalu di mana dia yang selalu menyiapkan pakaian Arya, kali ini Arya lah yang menyiapkan bajunya dan semua yang Ajeng butuhkan, sungguh dia pasrah karena jujur saja otaknya tengah berusaha memproses cepat akan kehamilan.
"Mam, Pap, ikut Arya ke rumah sakit nggak?"
Oh, jangan salah sangka, kedua orang tua Arya sudah siap dengan baju dinasnya, bersiap ikut ke rumah sakit untuk melihat jejak sang calon cucu pertama keluarga ini dari anak pertama dan tunggal.
Menurut testpack yang baru saja Ajeng pakai dibantu bu Ratih, menandakan dua garis samar di sana, keyakinan penuh sebagai wanita yang berpengalaman, bu Ratih percaya kalau menantunya itu tengah hamil, mengandung cucu yang dia nantikan.
"Ya', nyupirnya ati-ati, kamu nggak bawa orang tua aja ini, tapi ada bakal anak kamu, jadi pikirin dan fokus!" pak Darma sudah memperingati dari awal.
Arya mengangguk, dia pastikan Ajeng tenang di belakang bersama ibunya, dia sedikit memberi kehangatan pada tangan Ajeng yang dingin, wanita itu sepertinya mau menangis, tapi benar-benar ditahan.
Dear, gue janji nggak akan ngecewain loh!
Mobil Arya melesat hati-hati menuju rumah sakit langganan keluarga mereka, beberapa orang juga mengenal Arya, apalagi dokter jiwa, ingin sekali mengganti jiwa Arya dengan jiwa arwah penasaran.
Sesampainya di rumah sakit, dua orang menyambut pak Darma, ada peran ketika pak Darma menjadi pak Kades di desa besar itu, mereka bisa menjadi anggota dari rumah sakit itu dan menetap tanpa risau dengan kontrak yang ada.
__ADS_1
Dipastikan kalau mereka akan aman, maka saat ini adalah waktu yang tepat bagi mereka membalas budi yang telah mereka terima.
"Mau ke dokter kandungan, Pak?" jantung mau copot mendengar itu. "Mas Arya hamilin siapa?"
Plak!
"Siapa lagi kalau bukan istrinya, lah emang kamu nggak saya undang waktu dia nikah?"
Keduanya bergeleng, itu artinya mereka berdua telat akan info Arya, dan sekarang harus mendapatkan gamparan karena membuat Ajeng bad mood, merasa Arya mempermainkan wanita selain dia.
***
Ajeng lebarkan tangannya, semua yang ada di kamar Arya adalah milik Ajeng, laki-laki itu hanya menyewa pada Ajeng, sejak dia menikah, itulah maharnya, semua yang dia punya adalah milik Ajeng.
"Dear, anaknya kan kangen sama papanya, sini biar papanya lih-"
"Nggak, Ajeng mau tidur sendiri di kamar ini, Mas. Males sama kamu, Mas, nggak seneng sekamar sama kamu!"
Tidak, Ajeng menutup semua akses yang ada agar Arya tak bisa sama sekali mendekati dia, ranjang itu penuh dengan tubuhnya, berguling ke kanan dan kiri.
Kalau sudah begini, Arya mau menyesal saja benihnya langsung jadi, dia masih belum puas main setiap hari bersama Ajeng, memanaskan ranjang yang kini dingin.
Kedua kaki Arya sudah gemetaran, burung kocoknya on, malam itu sudah menjadi kebiasannya bermain bersama Ajeng.
"Dear, plis, jangan biarin gue marah!"
"Ajeng nggak peduli, Mas. Aku sama anak ini nggak mau!"
Anak ini? Wtf... itu kan anak Arya dan Ajeng, seharusnya Ajeng mengatakan 'aku sama anak kita', bukan 'anak ini'.
__ADS_1
Arya kehilangan kesabaran, sebelum dia memaki dan mengumpat di kamar itu lantas menyakiti hati ibu hamil muda.
Arya memilih ke luar kamar, berlalu ke dapur di mana kedua orang tuanya berkumpul, belum kembali ke kamar, sibuk ghibah.
"Mam, Pap... ada solusi nggak biar Ajeng mau deketan sama aku?"
"Kenapa emangnya sama Ajeng?" bu Ratih menoleh, dia tawarkan bakwan goreng pada Arya, anaknya menolak. "Kenapa sama istri kamu?"
Arya raup wajahnya yang frustrasi. "Aku pengen sama dia, Mam. Nggak bisa dong kalau aku tidur di luar, Mam... dia ngusir aku loh, anak ku kan ya mau deketan sama pap-"
"Lah, kalau dia nolak, ibunya nolak ya anaknya nolak, kan mereka itu satu tubuh!" bu Ratih membalas dan memotong ucapan anaknya sambil kunyah-kunyah bakwan. "Kamu yang sabar, Papamu aja dulu betah lima bulan nggak sekamar sama Mama, Ya'. Hamil kamu itu, makanya kamu nggak nurut sama Papamu sama sekali, baru setelah tahunan kamu nurut!"
Heuh?
Pantas saja Ajeng menolak kedatangannya, waktu hamil Arya pun sama ada penolakan, kini dia yang akan mengalami hal yang sama.
Oh, No!
Arya tatap sengit pak Darma yang menanggapi semua itu dengan santai, menghabiskan semua yang ada tanpa ada beban, melirik Arya yang memerah karena menahan kesal.
"Papa batin apa sampe nular ke aku juga?"
"Heh, kamu seharusnya tanya ke Mamamu, kenapa dulu sampe lima bulan nggak mau deketan, padahal Papa enakan kalau main!"
Bu Ratih cubit pipi pak Darma. "Enakan apa, Papamu ini egois kalau main, mau cari enakan sendiri aja!"
Otak Arya seketika paham akan apa yang ibunya bahas, egois dalam ranjang itu jelas mengarah pada kenikmatan yang hanya dicapai satu orang saja.
"Aku nggak kayak gitu, Mam, Pap... nggak pernah egois masalah itu, selalu bisa muasin, sampe dia gemeter, masa kurang gemeter, Mam, Pap... apa sampe tulangnya copot?"
__ADS_1
Bu Ratih menjawab santai. "Dipaksa puas kali, Ya'!"
What!